
"Tidak perlu, aku lagi sama Mbak Eni kok," uajr Vannya.
"Kamu yakin?" tanya Arsen.
"Hmm, tentu saja ...! Yaudah aku mau keluar, udah waktunya makan siang. Kakak jangan melewatkan makan siang ya," ucapnya.
"Iya Sayang, makan yang banyak. Biar anak kita cepat besar," celetuknya.
"Aihh, mana bisa begitu. Yaudah ya Kak,"
Telepon terputus, Vannya terdiam untuk beberapa saat mengambil nafas panjang dan menenangkan dirinya, menghasilkan rasa takut yang saat ini berkecamuk di dalam hatinya.
"Mbak, makan yuk ...!" ajak Vannya.
"Kamu gak apa-apa kan?" tanya Mbak Eni.
"Gak apa-apa Mbak. Aku tadi cuma kaget dan sedikit teringat dengan kejadian beberapa hari yang lalu. Tapi aku udah gak apa-apa. Sekarang Ilham sudah tenang disana, aku sudah memaafkannya," ujar Vannya dengan tulus.
"Entah terbuat dari apa hatimu Van. Yang pasti aku selalu merasa bangga atas apa yang kamu lakukan saat ini," puji Mbak Eni dengan bangga.
"Jangan memujiku Mbak, nanti aku jadi takabur," ujar Vannya.
"Haihh ...! Yaudah yuk Makan ...!"
Mereka segera meninggalkan gedung lantai 7 untuk makan siang.
_____
Alina Klinik
Sejak pagi tadi, pasien yang datang dan oergichamour tidak ada jeda. Untung saja mereka sudah terlatih, meski sesekali mereka menepuk jidat sekalipun. Apalagi saat mereka baru saja duduk dan ada saja oasien yang datang.
"Astaga ...! Emua orang lagi kenapa? Tumben sekali hari ini banyak yang datang.
Tiba-tiba ada pasien datang dengan nafas yang tersengal. Alina segera memintanya untuk naik ke atas bed dan segera di berikan terapi Oksigen 5 liter permenit.
Setelah keadaan pasien jauh lebih baik, barulah Alina melakukan anamnesa untuk mencari tau apa yang menjadi pemicu sehingga pasien datang dengan kondisi seperti ini.
"Bagaimana Pak? Sudah jauh lebih baik?" tanya Alina dengan lembut.
"Iya Dok, sudah lebih enakan," jawabnya dengan pelan.
"Baik, kalau begitu saya akan melakukan anamnesa. Beberapa pertanyaan akan saya tanyakan pada Bapak, Bapak cukup menjawab iya atau tidak jika Bapak tidka bisa menjawab dengan panjang. Bagaimana Pak?" tanya Alina.
"I-iya Dok," jawabnya.
"Baik Pak. Kalau boleh tau, siapa nama Bapak?" tanya Alian seraya melihat kartu identitas yang baru saja di serahkan.
"Hari Santoso Dok," jawabnya.
"Hmm, berapa usia Bapak saat ini?" tanyanya lagi.
"55 tahun Dok,"
"Maaf kalau boleh tau apa yang membuat Bapak seperti sekarang ini?" jawabnya.
"Obat saya kebetulan habis Dok, lalu saya mendpaat kabar yang kurang baik. Jadi asma saya kambuh," ujarnya.
__ADS_1
"Sejak kapan Bapak di diagnosa asma?"
"Sudah hampir 5 tahun Dok, kebetulan Ayah saya juga ada asma dulunya. Dan menurunnya ke saya,"
"Baik kalau begitu, setelah ini saya akan memberikan terapi nebilizer ya Pak," ujar Alina.
"Iya Dok,"
Alina segera mengatur posisi pasien senyaman mungkin sebelum di lakukan terpai nebulizer untuk melancarkan pernafasan. Dengan cepat, Alina segera mengambil obat, dan alat yang akan di pergunakan.
Setelah obat di masukkan ke dalam alat, dan menambahkan satu botol aquabides. Alina segera menyambungkan masker oksigen dengan alat nebulizer.
Setelah tersambung, Alina segera menekan tombol on dan memastikan keluar asap dari sungkup oksigen. Setelah terlihat beberapa saat asap yang keluar, ia segera memasangkan sungkup menutupi hidung pasien.
Sambil menunggu terapi nebu selesai, Alina kembalicke ruang jaga untuk melakukan dokumentasi terhadap pasien. Dengan cekatan, ia menuliskan beberapa resep dan hasil anamnesa yang baru saja ia dapatkan dari pasien.
"Bagaimana Sus? masih semangat?" tanya Alina.
"Masih Dok, harus semangat ...!" jawabnya dengan tegas.
"Bagus kalau begitu, kita memang sudah yerlatih untuk tetap kuat," ujarnya.
"Yang pasien baru diagnosanya apa Dok?"
"Asma bronkhitis, sudah selama 5 tahun. Saat ini sedang saya berikan terapi nebu," jawabnya.
"Hmm, baik Dok,"
_______
Sementara itu, setibanya di Perusahaan, Dewi segera menemui Vin untuk melaporkan hasil belanjanya siang ini.
"Sudah Pak, saya beli minicooper sebagai hadiah untuk Madav, dan jam tangan couple untuk Pak Arsem juga Bu Tyas. Selain itu, saya juga membeli miniatur kahas Ibukota untuk mereka," ujar Dewi.
"Wah, bagus Wi ...! Makasih ya ...!" ujarnya.
"Sama-sama Pak, apa ada yang lain lagi yang harus saya beli Pak?" tanya Dewi.
"Hmm, tidak ada Wi. Ini udah cukup, kamu udah makan siang?" tanya Vin.
"Udah, maaf kalau boleh. Saya dan Rico ingin izin keluar untuk takziah Pak. Kebetulan baru saja kami dapat kabar, teman kamu meninggal ...!" ujar Dewi.
"Oh, silakan. Tapi sebelum jam pulang kalian sudha kembali ya," jawabnya.
"Baik, Pak. Terimakasih atas izinnya," ujar Dewi.
Dewi segera keluar, dan bergegas pergi. Sebelumnya dia sudah mengabari Rico jika Pak Vin sudah memberikan izin pada mereka. Dengan cepat Rico bergegas meninggalkan meja kerjanya.
"Sebelum jam pulang, kita dah sampai Perusahaan ya Ric," pinta Dewi.
"Okay, emang ada apa Wi?" tanya Rico.
"Aku di minta Pak Vin untuk bantu Vannya di rumah. Kebetulan malam nanti mereka akan mengundang Pak Arsen dan keluarga untuk makan malam di rumahnya," jawab Dewi.
"Oh, begitu," sahutnya.
"Eh iya. Kamu udah kabari Aura belum?" tanya Dewi mengingatkan Rico.
__ADS_1
"Untuk apa? Kan baru saja kami bertemu tadi pagi," ujarnya.
"Eh? Mana bisa begitu? Kamu harus kabarin dia, tanya kabar dah makan apa belum, terus kamu juga bilang sekarang mau kemana, ngapain, sama siapa ...!" ujar Dewi.
"Haruskah?"
"Harus ...! Cewek akan senang akan senang kalau dpaat kabar dari pacarnya. Apalagi kalau pacar selalu izin kemana dia akan pergi,"
"Ribet juga punya pacar," celetuknya.
"Emang kamu nelum pernah pacaran?" tanya Dewi.
"Belum ...!" jawabna singkat.
"Beneran?" tanyanya tak percaya.
"Astaga ...! Apa ada tampang buaya di wajahku Wi? aku tidak berani main hati," jawabnya.
"Ah syukurlah. Kamu harus bisa jaga perasaan Aura ya Ric, dia sebenarnya baik. Hanya saja maslaah yang bikin dia seperti itu,"
"Kamu beruntung, pertama kali pacaran sama cewek yang kamu sukai selama ini," ujarnya lagi.
"Emang dulu kamu pacaran sama cowok yang gak cinta sama kamu? Kamu maksa cowok buat suka sama kamu?" tanyanya.
"Aiihh ..! Mana pernah aku maksa orang," gumamnaya.
"Terus, kenapa kamu mgomong kaya gitu tadi?" tanya Rico.
"Dulu aku pernah pacaran sama orang, dia baik sekali Ric. Saking baiknya aku langsung bisa peecaya gitu aja sama dia, sampai pada akhirnya dia hilang gak ada kabar. Satu bulan kemudian, dia muncul dan bilang mau nikah sama orang lain," ujarnya tersenyum masam di sudut bibirnya.
"Terus kamu gak perjuangin cinta kamu?" tanya Rico.
"Percuma Ric, mereka sudah berhubungan sangat jauh. Bahkan katanya, saat mereka menikah. Ceweknya sednag hamil 3 bulan. Selama kami pacaran 6 bulan, dia main dibelakang. Entah aku yang orangcketiga atau cewek itu," gumamnya.
"Sabar ya Wi, dia yang rugi karena udah ninggalin kamu gitu aja," ujar Rico.
"Heh ...! Mana mungkin rugi, isterinya jauh lebih cantik dariku Ric, pantaslah aku yang di buang,"
"Cantik tidak menjamin kebahagiaan dalam sebuah hubungan Wi. Percuma cantik, tapi pasangan hasil merebut ...!"
"Eh iya ...! Kamu sampai sekarang belum tertarik sama pria lain?" tanya Rico.
"Ada ... tapi ya gitu. Udahlah ...! Jangan di bahas," ujar Dewi.
"Emang siapa sih cowok itu? Mau aku bantu biar dia respon kamu?" ujar Rico.
"Kamu Ric, sejak beberapa waktu yang lalu. Aku mulai menyukaimu, tapi aku sadar hatimu cuma buat Aura ...! Dan aku yakin kebahagiaanmu hanya bersama Aura bukan denganku," batin Dewi.
"Wi, kenapa kamu diam?" tanya Rico.
"A-aku tidak apa Ric, cinta bukan untuk saling memiliki, tapi berani berkorban untuk kebahagiaan orang yang kita sayang," ujar Dewi.
"Terus sampai kapan kamu akan berkorban? Mengalah demi orang lain? Kamu juga berhak bahagia, dapetin apa yang pantas kamu dapatkan," ujarnya.
"Aku gak tau, dia pantas untukku atau tidak. Yang jelas aku bisa bahagia melihay dia bahagia saat ini Ric," jawab Dewi.
"Semangat ya Wi. Kalau kamu butuh apa-apa bilang aja sama aku, aku siap kok bantuin kamu. Kita kan teman," ujar Rico.
__ADS_1
"Hmm, makasih ya Ric,"