Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Ratu Kegelapan


__ADS_3

"Mas, kamu mau kemana?" Tanya Mami pada Papi.


"Aku ... Aku mau keluar sebentar Sayang. Bolehkan?"


"Kemana? Mau jalan-jalan sendirian gitu?" ujar Mami memasang wajah cemberut.


"Aku ada urusan Sayang, setelah urusan selesai aku ajak kamu jalan-jalan deh," ujarnya mencoba memberikan pengertian.


"Emang urusan apa sih? Tumben aja kamu pergi, urusan di kantor?" tanya Mami.


"I-iya Sayang, ada yang belum aku tandatangani. Jadi aku harus ke Perusahaan sekarang," ujarnya.


"Yaudah aku ikut aja, gak tau kenapa perasaanku gak enak," ucap Mami dengan cemas.


"Kamu istirahat aja deh, aku sebentar doang kok. Setelah urusan selesai aku langsung pulang,"


"Benar ya ke Perusahaan? Kalau ada apa-apa segera kabari aku atau anak-anak," ujar Mami lagi.


"Iya Sayang," sahutnya dengan lembut.


Papi segera berpamitan dan pergi meninggalkan Mmai di kamar. Entah kenapa perasaan Mami tidak enak. Rasanya seperti akan terjadi sesuatu tapi entah apa itu. Mamintaknbisa istirahat, sejak tadi hanya mondar mandir di kamar.


"Ya Tuhan, lindungi suamiku. Aku merasa takut dengan dia pergi sekarang. Padahal biasanya aku tidak seperti ini.l," gumam Mami.


Mami berusaha mengalihkan perhatiannya agar tidak terlalu cemas. Ia pergi ke bawah menyalakan televisi untuk menghibur hatinya yang sedang gundah.


"Bu, disini rupanya ...!" ujar Mamah Irene.


"Iya Bu. Gak istirahat?" tanya Mami saat melihat kedatangan Mamah Irene.


"Gak bisa tidur, daripada bingung maiu ngapaij di kamar lebih baik saya turun. Eh terus lihat ada Ibu disini, kebetulan sekali ...!" ujarnya.


"Hahah ...! Iya Bu saya juga gak bisa istirahat. Mana Papinya anak-anak malah pergi. Yaudah saya kesini aja deh," celetuknya.


Sementara itu,


Setibanya di Perusahaan, Chandra segera beegegas masuk ke Perusahaan. Meja kerja Vannya kosong, mungkin Vannya sedang makan siang begitu pikirnya. Chandra langsung ke ruangannya dan memilih duduk di sofa dekat jendela.


Ia sejenak mengisitirahatkan badannya yang sejak tadi tidak bisa duduk dengan tenang menunggu waktu untuk bisa melihat apa yang dia mau. Setidaknya apa yang tuju bisa tercapai meski hanya melihat dari jauh.


"Ternyata benar itu Nyonya Erika, wanita yang sudah membunuh Ibu mertua. Dan membuat keluarga Papi di rundung banyak masalah dulunya,"


"Sepertinya ... meski dia sudah tak berdaya di atas kursi roda. Tapi dia masih banyak tenaga dan otak jahat yang siap untuk melakukan apa saja," gumamnya berkata dengan dirinya sendiri.


tutt ... tuuut ... tuuut ...!


*Obrolan di Telepon


"*Hallo ...!"


"Hallo Vin, apa aku mengganggumu?" tanya Chandra.


"Gak Kak ... Gimana? Ada apa?" tanya Vin.


"Aku baru saja pergi ke rumah Aura. Aku hany ingin memastikan apakah benar Aura adalah putri dari Nyonya Erika," ucapnya.

__ADS_1


"Lalu? Apakah itu benar?"


"Ya, itu benar ...!" ujar Chandra.


"Hmm, lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya Kak?" tanya Vin.


"Kita tunggu dulu pergerakan dari mereka. Setidaknya kita harus was-was. Karena sepertinya musuh kita bukan orang sembarangan, dia adalah orang yang sangat berambisius,"


"Baiklah, aku ikut saja apa kata Kakak," ucapnya*.


Di sisi lain ...


"Pak, cepat ...!" bentaknya yang sudah duduk di dalam mobil.


"Ba-baik Nyonya ...!" sahutnya lari terbirit-terbirit.


"Lamban banget sih, apa aku menggajimu untuk selamban ini?"


"Ma-maaf Nyonya ...! Tai perut saya sakit," jawabnya gugup.


"Alasan saja. Sudah cepat jalankan mobilnya,"


Mobil segera pergi meninggalkan area rumahnya. Di samping kursinya terdapat map berwarna hijau yang sudah ia siapkan sejak kemarin. Ya itu adalah map berisi selembar kertas yang sudah Vin bubuhi tanda tangan kemarin.


Hari ini Nyonya Erika berencana untuk pergi ke Perusahaan mengusir Vin dengan cara yang tidak terhormat. Sudah tak sabar ia ingin melihat ekspresi putra kesayangan dari pria yang sudah menjebloskan dirinya ke dalam penjara.


Sesampainya di Perusahaan, dengan bantuan sopir Nyonya Erika segera berpindah ke kursi roda dan meminta sopir untuk mengantarnya ke dalam.


"Apakah CEO ada? Saya ingin bertemu," ujarnya.


"Heh ...! Apa aku juga harus melakukan tindakan bo*oh itu," sahutnya ketus.


"Maaf Nyonya, ini sudah menjadi SOP dari Perusahaan jika ada yang hendak bertemu dengan Pak Vin kecuali kepuarga inti," uajrnya berusaha menjelaskan.


"Ah! Malas ...! Hey, ayo kita lanjut saja. Hanya membuang waktu saja disini,"


"Ba-baik Nyonya ...!"


"Nyonya tunggu,"


Nyonya Erika tak memperdulikannya, resepsionis segera menghubungi Dewi untuk memberitahukan ada wanita paruhbaya yang hendak menemui Pak Vin tanpa ada janji dengannya. Dewipun segera memberitahu Pak Vin.


Tokk ... tokkk ...!


"Masuk ...!"


"Maaf Pak kalau mengganggu," ujarnya.


"Ada apa Wi?" tanya Vin yang sedang mengecek laporan.


"Baru saja resepsionis menghubungi saya, jika di bawah ada seorang wanita pruhbaya yang hendak menemui Bapak. Tapi tidak ada janji temu dengan Bapak," ujarnya.


"Siapa dia?" gumamnya.


"Ka-kata resepsionis, wanita itu ...!" ucapnya terpotong.

__ADS_1


"Apakabar Vin ...!" ujarnya yang sudah berada di depan pintu ruangannya.


"Ta-tante ...!" ucapnya terkejut.


"Kamu sudah tau siapa aku? Wah ...!" ujarnya tersenyum masam.


"Silakan masuk Tante ...! Wi hubungi OB untuk buatkan minum ya," ujar Pak Vin.


"Ba-baik Pak ...!" jawab Dewi.


Dewi segera bergegas keluar dan kembali ke meja kerjanya untuk menghubungi OB minta dibuatkan minum untuk tamu tak diundang. Dewi merasa seperti ada yang tidak beres. Apalagi saat dia berdekatan dengan wanita itu.


"Huh! Sudah duduk diatas kursi roda saja masih galak, astaga ...!" gumam Dewi.


"Bu, minumannya ...!" ujar OB yang sudah datang.


"Haiss! Bapak mengagetkanku saja. tolong antar masuk ya Pak, aku takut ...!" ujarnya.


Tak berapa lama kemudian OB sudah keluar dengan wajah yang tegang. Membuat Dewi penasaran aoa yang terjadi padanya.


"Bapak kenapa?" tanyanya penasaran.


Semnetara itu di dalam ...


"Selamat datang Tante," sapa Vim dengan ramah meski dalam hatinya merasa gundah melihat siapa yang datang.


"Hmm," sahutnya tanpa menoleh ke arah Vin.


"Ada perlu apa Tante kemari?" tanyanya dengan ramah.


"Aku hanya ingin mengatakan, mulai besok kamu tidka perlu datang ke Perusahaan ini lagi," ujarnya.


"Loh, kenapa Tante? Ini kan Perusahaan Papi saya," ujarnya berpura-pura tak mengerti.


"Ah benarkah? Hmm kalau gitu, biar Aura kesini juga. Sebentar ya Tante," ujarnya dengan tenang.


Di balik pintu Ruang Vin


"Ibu tau siapa yang di dalam?" ujarnya.


"Tidak, tapi aku merasa dia seperti ratu kegelapan ...!" celetuk Dewi.


"Dia adalah Nyonya Erika, musuh Pak Rendy," ucapnya.


"Be-benarkah? Astaga ...! Seharusnya aku menahannya untuk tidak menemui Pak Vin, bagaimana ini ...!" ujarnya dengan panik.


"Ibu hubungi Pak Revan dan Pak Haris saja, mereka kan sahabat Pak Rendy. Agar mereka melindungi Pak Vin darinya," ucapnya.


"Oh iya, baiklah ...! Makasih info dan sarannya ya Pak ...! Kalau begitu aku ke ruang Pak Revan aja deh sekarang," ucapnya.


*Tring ...!


"Ha-hallo Pak ...!" sahut Dewi dengan gugup.


"Wi, tolong panggilkan Aura untuk datang kesini ya," ucapnya dengan tenang*.

__ADS_1


__ADS_2