Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Rahasia


__ADS_3

"Huh! Kemana mereka? Semoga saja Pak Chandra segera kembali, Pak ingat Kak Nana di rumah. Dia isteri Bapak. Wanita itu tidak apa-apanya di bandingkan Kak Nana," gumamnya seraya menyandarkan kepalanya pada kursi.


Tring!


"Ha-hallo," jawab Vannya tanpa melihat nama siapa yang tertulis di layar ponselnya.


________


"Sayang, kamu kenapa? Apa kamu baik-baik saja? Atau kamu melihat ada hantu?" tanya Vin di ujung telepon.


"Eh Kakak, Ti-tidak ... aku tadi ketiduran, jadi kaget pas ada telepon, ada apa Kak?" ujarnya mencari alasan.


"Kamu ketiduran? Inikah waktunya makan siang, apa kamu bemu makan? Mau makan apa biar nanti aku pesankan makanan untukmu," ujarnya cemas.


"Astaga, aku salah bicara ... ." batinnya menepuk kepalanya sendiri.


"Bukan gitu, aku udah makan barusan sama Mbak Eni. Makanya aku jadi ngantuk karena kekenyangan Kak," ujarnya berusaha menjelaskan.


"Hmm, begitu ya. Tapi Kak Chandra gak memarahi isteriku kan?"


"Heh? Mana pernah Pak Chandra memarahi staffnya. Kecuali kalau mereka melakukan kesalahan, dan aku tidak melakukan kesalahan kok. Eumm, Kakak udah makan?" tanya Vannya berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Udah Sayang, nanti setelah dari rumah Papah sama Mamah kita mampir ke rumah Papi Mami yuk," ajaknya.


"Oh, Okey Kak! Dengan senang hati, ya udah aku lanjut kerja ya. Kakak semangat kerjanya,"


"Iya, kamu juga. Love you," ucapnya membuat Vannya malu-malu mendengarnya.


"Love you too Kak, Bye ... ." menutup teleponnya.


"Astaga Van! Perasaan macam apa ini, kau bahkan sudah menikah dengan Kak Vin. Tapi dengar dia bilang love aja hatimu langsung berdebar kaya anak ABeGeh," gumamnya tak habis pikir.


Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki mendekat. Vannya langsung terdiam tak berani bergeming, dia takut Pak Chandra yang datang bersmaa wanita itu lagi.


"Ya Tuhan, semoga dugaanku salah. Jangan biarkan wanita itu ikut kembali sama Pak Chandra. Aku mohon," batinnya entah untuk keberapa kalinya.

__ADS_1


Dan saat muncul sosok Pak Chandra yang datang seorang diri, Vannya menghela nafas panjang. Dan segera menundukkan kepalanya untuk memberinya hormat.


"Ada yang kita bicarakan," ujarnya tanpa basa-basi.


Vannya mengangguk dan segera mengikuti Pak Chandra dari belakang masuk ke ruang kerjanya. Sejenak mereka terdiam, membuat Vannya panas dingin menunggu apa yang akan di bicarakan Pak Chandra kepadanya.


"Apa yang terjadi tadi pagi tidak seperti yang kamu lihat," ucapnya menghela nafas panjang.


"Ma-maksud Bapak?" tanyanya dengan gugup.


"Aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya,"


"Aku tidak tau Bapak sedang berkata jujur atau bohong. Tapi semoga apa yang aku dengar sekarang itulah yang sebenarnya Pak," batinnya.


"Kenapa kamu diam?" ujarnya membuyarkan lamunanya.


"Ti-tidak apa Pak, saya tidak tau mau berkata apa," jawabnya gugup.


"Tolong kamu jangan cerita ke siapapun tentang apa yang kamu lihat pagi ini. Termasuk suamimu, aku tidak ingin ada salah paham antara aku dengan isteriku," ujarnya.


"Iya Pak, saya tidak akan menceritakan kepada siapapun. Tapi ... kalau boleh saya tau, siapa wanita itu? Ma-maaf kalau saya lancang," ujarnya menggigit bibir bawahnya.


"Dia saudara kembar mantan kekasihku yang sudah tiada. Sejak dulu dia memang berambisi untuk mendekatiku, bahkan saat saudarinya masih ada," jawabnya mulai menjelaskan.


"La-lalu sekarang ... apakah dia akan melakukan hal yang sama?" tanya Vannya semakin penasaran.


"Ya, aku pikir begitu ... ." jawabnya menyandarkan diri di meja kerjanya.


"Apakah dia tidak tau kalau Bapak sudah menikah?"


"Aku rasa belum, tapi jangan sampai dia tau. Aku tidak ingin dia mencelakai isteriku. Dia adalah wanita yang penuh dengan ambisi. Aku takut dia akan berbuat nekat dan akan membahayakan isteri juga bayi yang ada dalam kandungannya," ujarnya mengehela nafas panjang.


"Lalu apa yang akan Bapak lakukan untuk kedepannya? Sampai kapan Bapak akan terus menyembunyikan status Bapak?" celetuk Vannya seolah lupa jika saat ini yang di hadapannya adalah Pak Chandra.


"Dia bilang disini hanya sebentar, dan dia ada permintaan untuk aku menemaninya selama dia disini," jawabnya.

__ADS_1


Suasana semakin hening, tidak ada suara sedikitpun saat ini. Hanya hembusan nafas antar keduanya yang terdengar, Vannya tidak bisa berkata apa-apa. Dia sendiri bingung apa yang bisa dia lakukan untuk membantunya.


"Apakah Bapak percaya dengan perkataannya?" tanya Vannya sekali lagi.


"Entahlah, aku tidak tau. Kalaupun dia berbohong, aku harus melakukan cara kedua ... ."


"Hmm, saya berharap masalah ini akan cepat selesai Pak. Saya takut cepat atau lambat Kak Nana akan tau tentang masalah ini meski saya tidak mengatakannya," ucap Vannya menyampaikan pendapatnya.


"Ya, akan aku usahakan. Untuk itu aku mohon bantuanmu untuk jaga rahasia ini. Hanya kita berdua yang tau," pintanya penuh harap.


"Ba-baik Pak, akan saya usahakan. Kalau begitu saya permisi,"


"Hmm, silakan. Terimakasih ya Van,"


"Sama-sama Pak,"


Vannya segera bergegas keluar dari ruangan Pak Chandra. Sesampainya di meja kerjanya, ia segera duduk dan menyandarkan badannya. Di raihnya gelas berisi air di atas mejanya dan segera meneguknya untuk membasahi kerongkongannya yang kering.


"Huh! Van, kamu hampir saja salah paham kan. Apa yang kamu takutkan tidak terjadi. Meski tidak 100% meleset sih,"


"Dan sekarang kamu harus berhati-hati Van. Jangan sampai mulutmu membuka suara kepada siapapun. Termasuk Kak Vin, ingat itu. Atau kau akan dalam masalah besar kalau Pak Chandra tau," batinnya berusaha menenangkan dirinya sendiri.


"Astaga! Apa-apaan ini. Kenapa jadi rumit sih, semoga Pak Chandra bisa menyelesaikan masalah ini secepatnya. Atau aku akan jadi gi*a karena memikirkan masalah yang sebenarnya bukan masalahku," ucapnya berbicara dengan dirinya sendiri.


Vannya kembali menyalakan layar monitor, melanjutkan pekerjaannya sebelum meeting di mulai. Ia berusaha melupakan kejadian hari ini, karena sebetulnya tidak ada masalah yang perlu di khawatirkan.


...CHANDRA POV...


"Vannya benar, aku segera menyelesaikan masalah ini. Dna setidaknya menyiapkan cara kedua jika Erlina tidak menepati janjinya. Dan aku rasa memang tidak mungkin Erlina berubah secepat itu, meski sudah lewat 5 tahun,"


"Dan, dia bilang kedua orangtuanya sakit dalam waktu bersamaan. Benarkah? Sakit apa? Kenapa tidak ada yang mengabariku? Setidaknya ada yang bilang jika Om Frans dan Tante Olivia sudah tiada. Mungkin mereka tidak sempat atau keadaan tidak memungkinkan," ujarku berkata pada diriku sendiri.


Aku merasa sedikit lega, setidaknya Vannya yang melihat tadi. Bukan orang lain, mungkin kalau oranglain keadaannya akan berbeda. Mereka akan berfikir yang tidak-tidak dan bisa merusak reputasiku.


_________________

__ADS_1


"Percayalah, di balik alur yang berantakan/tidak nyambung. Disitulah Author sedang di fase bingung (kepala sudah berasap) 🤭 ... ."


Happy reading, jangan lupa like di setiap episodenya. Terimakasih yang sudah mampir 😘🥰🥰


__ADS_2