Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Code Blue


__ADS_3

Dalam waktu 1 jam pertemuan telah selesai, di tambah waktu 30 menit untuk saling bercengkerama karena sudah lama mereka tidak berjumpa. Tiba waktunya mereka berpisah, makan siang sebentar lagi akan tiba. Dan Chandra sudah janjian dengan Vin.


Setelah mengantar Pak Rian sampai parkiran, dan memastikan mobilya sudah pergi Chandra segera berbalik kembali masuk ke sana sambil menunggu adik iparnya yang mungkin sedang dalam perjalanan.


"Kak ...!" panggil Vin.


"Kau sudah datang?" ujarnya seraya berbalik badan.


"Selamat ya Vin ...!" ucapnya mengulurkan tangan pada Vin.


"Selamat untuk apa?" tanyanya bingung.


"Selamat karena sebentar lagi kamu akan menjadi seorang Ayah," ujar Chandra menepuk pundak Vin dengan pelan.


"Hmm, makasih Kak! Darimana Kakak tau?" tanya Vin.


"Tentu saja dari Stef dan Vannya ...!" jawabnya.


Mereka segera masuk dan memilih private room untuk berdua menikmati makan siang.


"Kata Vannya, Mami sama Papi di tempat kalian. Bagaimana kabarnya mereka Kak?" tanya Vin.


"Mami sama Papi baik-baik saja Vin ...! Mereka bahagia saat mendengar kabar kehamilan Vannya. Kamu harus menjaganya dengan baik," ujar Chandra.


"Iya Kak ...! Aku pasti akan menjaganya. Tapi masalah Aura ...!" ucap Vin sedikit bingung.


"Ah ya, aku hampir lupa. Aku tau sekarang kenapa Nyonya Mayang mengincarmu," jawabnya.


"Mengincarku? Maksud Kakak bagaimana?" tanya Vin yang semakin bingung.


"Astaga ...! Kamu ini, Aura hanya berpura-pura saja di jodohkan dengan pria lain. Sebenarnya benar sih, tapi pria yang dia maksud adalah kamu bukan orang lain," tutur Chandra berusaha menjelaskan sejelas-jelasnya.


"Aiish ...! Kenapa aku bodoh sekali," gumamnya.


"Makanlah dulu, nanti akan aku jelaskan lagi apa yang terjadi sebenarnya ...!"


Makanan yang mereka pesan sudah datang, Vin dan Chandra menghentikan pembicaraan dan mulai menyantap makanan yang masih hangat dan fresh. Dua porsi Teriyaki Steak Rice Bowl dan dua gelas mineral juga dua cangkir kopi yang masih panas telah terhidang di hadapannya saat ini.


Klinik Dr. Alina Hans ....


Alina datang ke kliniknya, mendadak ia mendapat pesan dari Stef jika ia tidak bisa datang pagi ini karena harus pulang ke rumah orangtuanya. Kebetulan pasien lumayan ramai, hingga membuat seluruh perawat sibuk melayani para pasiennya.

__ADS_1


"Code Blue ...!" teriak salah satu perawat dari sudut ruang rawat.


Semua langsung lari secepat mungkin, sedangkan Alina segera jalan cepat dan mereka sudah melakukan tindakan RJP (Resusitasi Jantung Paru) 30:2 pada pasien yang masuk semalam karena serangan jantung.


Tadinya mau di rujuk ke Rumah Sakit karena kondisi pasien yang semakin memburuk, namun dari pihak keluarga tidak menginginkan dengan alasan tidak ada biaya. Meski Alina sudah menyanggupi untuk menanggung biaya.


Tapi karena keluarga tetap tidak mau, dan meminta untuk rawat di klinik saja. Akhirnya dari pihak klinik menghubungi Rumah Sakit terdekat untuk mengkonsultasikan pada dokter disana demi menghindari tuduhan mal-praktek bila terjadi sesuatu terhadap pasien.


"Sus siapkan injeksi epinephrine untuk pasien, yang lain tetap berjaga dan gantian pemberian RJP ...!" ujar Alina dengan lantang dan tegas.


"Siap, Dok ...!" sahutnya secara bersamaan.


Tak lama setelah itu, perawat datang dengan membawa kom berisi spuit dan one-swab diberikan kepada Alina.


Dengan cepat ia segera memakai handscone setelah melakukan cuci tangan dengan handsanitizer.


Alina segera mendekati pasien dan menyuntikkan obat melalui (IV) intravena. Setelah itu, ia memberikan penjelasan kepada keluarga pasien atas kondisi pasien saat ini.


"Dengan keluarga pasien Ny. Sari?"


"Iya Dok ...!" jawabnya.


"Ibu, anaknya atau saudaranya?" tanyanya dengan sopan.


"Saat ini kondisi pasien sedang kritis, kami sedang bekerja keras melakukan yang terbaik untuk pasien. Untuk itu, mohon doa dari pihak keluarga semoga ada keajaiban Tuhan untuk pasien ya Bu," ujar Alina.


"Hiks ...! Tolong selamatkan Ibu saya Dok ...!" ujarnya.


"Iya Bu, kami pasti melakukan yang terbaik untuk pasien. Tapi kembali lagi, Tuhan yang berkehendak. kami hanya bisa berusaha," ucap Alina.


Ia segera kembali ke ruang tindakan, tindakan RJP masih di lakukan.


"Sudah berapa sesi?" tanya Alina.


"Dua Dok ...!" sahutnya.


"Sekali lagi, sus tolong berikan obat lagi ...!" perintah Alina.


"Siap, Dok ...!"


"Ada reaksi, terus berikan ...!" teriak Alina yang fokus melihat layar monitor.

__ADS_1


"Denyut jantung sudah kembali normal Dok ...!" seru salah satu perawat.


"Stop ...!" seru Alina.


"Syukurlah, terimakasih atas kerja keras kalian ...! Berikan aliran Oksigen 5 liter/menit," ucap Alina.


"Baik Dok ...!" jawabnya.


Para perawat segera merapikan pasien, dan peralatan yang baru saja mereka gunakan untuk tindakan yang mereka berikan pada pasien. Sementara itu, Alina menemui pihak keluarga untuk menjelaskan jika sata ini kondisi pasien sudah stabil.


"Ba-bagaimana Dok?" tanyanya dengan isak tangisnya.


"Berkat doa keluarga, Ibu Sari sudah berhasil melewati masa kritisnya. Saat ini kondisi stabil, tapi masih butuh pengawasan. Untuk itu sebaiknya pasien di rujuk saja ke Rumah Sakit ya Bu,"


"Saya yang akan menanggung biaya perawatan sampai pasien sembuh. Bukan kami tidak mau merawat pasien, melainkan disini peralatan terbatas. Kami takut hal ini akan terulang kembali karena pasien butuh perawatan yang lebih intensif lagi," ucap Alina berusaha memberikan pengertian kepada keluarga pasien.


"Baik Dok ...! Terimakasih banyak," tangisnya seketika pecah.


Sementara itu,


"Sekarang Kakak bisa ceritakan semuanya padaku kan?" tanya Vin.


"Hmm, kamu sudah penasaran rupanya. Baiklah ...!" ujarnya seraya meraih seangkir kopi yangbmasih hangat kuku dan meneguknya sedikit.


"Bagaimana tidak penasaran, karena ini menyangkut rumah tanggaku Kak. Aku tidak mau Vannya marah lagi padaku," celetuk Vin.


"Nyonya Erika dulunya tergila-gila pada Papi, merkwa dulu sempat mau di jodohkan. Tapi ternyata Papi sudah ada pilihan, yaitu Mami ...!"


"Dan setelah Opa, Oma dan yang lainnya bertemu dengan Mami. Mereka tidak menentang pilihan Papi, karena melihat ketulusan Mami," ujar Chandra merubah posisi duduknya.


"Bagaimana dengan Nyonya Erika?" tanya Vin.


"Tentu saja dia tidak terima, apalagia dia adalah anak emas. Yang selalu di turuti setiap kemauannya,"


"Bahkan, dia adalah otak dari kejadian kecelakaan yang merenggut nyawa Ibu Lia," ucapnya terhenti. Dadanya terasa sesak, membayangkan jika dia berada di posisi Alina saat itu.


"Ja-jadi dia Ny. Erika putri tunggal Opah Harun? Aku oikir hanya nama yang sama," ujar Vin.


"Hmm, dan mungkin saat ini dia ingin balas dendam karena Papi sudah menjebloskan dia ke dalam penjara hingga 20 tahun lamanya,"


"Berarti Aura bukan anak kandungnya? Kan dia baru keluar sekitar 5-6 tahun yang lalu bukan?" ujar Vin semakin penasaran.

__ADS_1


"Aura anak kandungnya, saat dia berada di dalam penjara ada seorang pengusaha yang mau menikahinya. Entah apa alasannya ...!" jawab Chandra.


"Astaga ...! Lalu apa rencana kita?"


__ADS_2