Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Pria Aneh


__ADS_3

Waktu terus berlalu, kini Alina telah memfokuskan dirinya untuk menjadi seorang dokter di sebuah Rumah Sakit Permata. Meski begitu dia masih menerima job jika ada tawaran kerjasama iklan maupun yang lainnya.


Di dunia kerjanya yang baru, Alina hanyalah anak baru. Dia tak pernah ragu untuk bertanya pada seniornya dan bahkan meminta pendapat sebelum dia bertindak.


Pagi itu semua dokter tengah sibuk dengan pasiennya masing-masing yang baru datang. Dan Alina juga sibuk dengan pasien yang datang keluhan alergi terlihat bintik merah di sekujur tubuhnya.


"Selamat pagi, Pak. . .Perkenalkan saya Dokter Alina. Saya periksa dulu ya. . ." Ucap Alina dengan ramahnya.


"Hmm. . Cepat, berikan obat terbaik di Rumah Sakit ini. Karena saya tidak punya waktu untuk bersantai-santai lagi." Ujarnya dengan sinis.


"Baiklah. . .kami selalu memberikan obat yan terbaik untuk kesembuhan pasien. Saya akan membuatkan resep untuk Bapak. Sambil menunggu resep, nanti perawat yang akan mengoleskan salep pada area yang merah karena alergi." Ujar Alina.


"Apakah Dokter tidak bisa mengolesi salepnya sehingga menyuruh perawat? Huhh. . maunya makan gaji buta . ." Ujarnya membuat Alina berhenti dan membalikkan badannya lagi.


"Apa maksud Anda?? Bisa di ulangi sekali lagi apa yang Anda katakan barusan?" Ujar Alina.


"Iya. . .Dokter ini mau makan gaji buta. Tidak mau capek, tapi maunya dapat gaji yang tinggi." Ujarnya lagi tanpa memperdulikan Alina yang sudah naik pitam.


"Jaga ya ucapan Anda, tidak semua dokter seperti itu. Jangan lagi-lagi menjudge dokter seperti itu." Ujar Alina dengan intonasi lebih tinggi membuat perawat yang meng asisteni terdiam.


"Buktikan kalau kau tidak seperti yang aku katakan. . ." Ujarnya lagi.


"Sus. . .ambilkan salepnya. Biar saya yang mengolesi." Ujar Alina seraya menggulung lengan jas nya seperti orang yang hendak bersiap-siap untuk berkelahi.


"Baik Dokter." Ujar seorang perawat.


Alina kemudian mengambil handsanitizer untuk membersihkan tangannnya sebelun mengoleskan salep pada tubuh pria tersebut.


"Sus, tinggalkan kami saja. Tolong periksa pasien tirai 17 dan 18. Lakukan rekam jantung pada keduanya." Ujar Alina.


Perawat pun pergi meninggalkan Alina dengan Pria itu di dalam tirai 15. Perlahan Alina mengolesi salep di sekujur tubuh yang memerah tanpa memperdulikan pria itu.


"Dia kan Alina Hans? Bukankah dia seorang model yang sedang naik daun? Ternyata dia juga seorang dokter, tapi galak sekali. Bagaimana kalau pasiennya anak-anak. Pasti sudah pada kabur mereka." Ucapnya dalam hati.

__ADS_1


"Jangan melihatku seperti itu, atau mata bapak akan aku keluarkan??" Ujar alina yan masih mengolesi salep di dada Pria tersebut.


"Astaga. . .benar-benar galak. . . ." Ujar Pria itu lagi


"Sepertinya ini bukan pertama kalinya Anda terkena alergi. Bukankah seharusnya Anda sudah memiliki dokter pribadi jika memang sudah berlangganan alergi seperti ini?" Ujar Alina.


"Dia sudah ku pecat karena diam-diam menguntitku" Ujarnya tanpa merasa bersalah.


"Oh" Ucap Alina.


"Apa tidak ada jawaban lain selain kalimat itu?" Ujarnya.


"Lalu harus ku jawab apa? Anda sudah menjelaskan kalau dia dipecat karena menguntit Anda. Haruskah aku memohon untuk menjadi dokter pribadi Anda?" Tanya Alina kesal.


"Kau tak perlu memohon, Aku sudah menerimamu menjadi dokter pribadi mulai hari ini. Aku harap kau tidak menguntitku. Aku memang tampan, mapan dan kaya, tapi aku tidak mudah untuk jatuh hati. Kalau kau menyukaiku dan serius ingin menjadi pendampingku, tunjukkan keseriusanmu." Ujarnya.


"Heiii . . Siapa yang memohon untuk menjadi dokter pribadimu. Aku tidak mau." Ujar Alina.


"Tanpa kau mengucapkan, aku tau kau juga ada hasrat untuk menjadi dokter pribadiku." Ujarnya lagi.


Setelah semua teroles salep, Alina segera bangkit dari duduknya. Saat dia hendak memundurkan kursi yang menghalanginya, justru kakinya tersangkut kaki kursi dan membuatnya hilang keseimbangan dan terjerembah jatuh diatas badan pria itu.


Alina terdiam untuk beberapa saat karena syok, begitupun dengan pria itu. Seorang perawat yang hendak memanggil Alina karena ada pasien baru hanya diam melihat Alina yang dalam posisi berpelukan dengan seorang pasien.


"Astaga. . .Apakah aku masuk di waktu yang salah . .tapi aku harus memanggil dokter Alina karena ada pasien baru. Tap. . i . .. huhhh. . .aku harus memanggilnya. maafkan aku Dok" Ujarnya.


" Dokter. . .Ada pasien baru di tirai 1." Ujarnya membuat Alina langsung berusaha untuk bangun dan menjauhkan dirinya dari pria itu.


"Ba . . .. baiklah. . .bagaimana kondisi pasiennya Sus?" Tanya Alina yang langsung merapikan jas putihnya.


"Pasien anak usia 6 tahun dengan keluhan sesak nafas. Respiratory Rate saat datang 26x/menit. Saat ini terpasang selang Oksigen dengan binasal kanul 5 liter per menit." Ujar Perawat.


"Baiklah. . . Kalau begitu tolong urus pasien ini." Ujar Alina dengan melempar tatapan sinis.

__ADS_1


[Sebelumnya. . .]


Seorang Pria berusia 27 tahun tampak resah, dia melajukan mobil tak beraturan membuat pengemudi lain memilih untuk mengurangi kecepatan dan menepi supaya tidak tersenggol mobil yang ugal-ugalan.


Dia memiliki alergi terhadap minyak angin tertentu, saat sedang berjalan di area parkiran di sebuah minimarket ia tak sengaja melihat wanita tua yang terjatuh.


Rasa ibanya membuatnya lupa untuk mengecek apakah orang tersebut membawa minyak angin atau tidak.


"Nenek. . .Nenek baik-baik saja?" Tanyanya sambil memapah wanita tua itu.


"Uhukkk uhukk. . .Aku baik-baik saja Nak. Aku hanya sedang tidak enak badan saja. Terimakasih sudah membantuku." Ucapnya dengan suara yang parau.


"Kemana keluarga Nenek? Kenapa mereka membiarkan Nenek sendirian disini?" Tanyanya lagi.


"Itu dia. .. . " Ujar Nenek menunjuk salah seorang wanita paruh baya yang berjalan mendekati mereka dengan kantong plastik berwarna putih di tangannya.


"Ibu. . .maaf membuatmu menunggu terlalu lama. Apotek ramai sekali tadi." Ujarnya merasa cemas melihat wanita tua itu bersama seorang pria asing.


"Tidak apa. . dia membantuku tadi." Ujar wanita tua itu.


"Terimakasih Nak sudah membantu Ibu saya." Ucap wanita paruh baya.


"Iya Bu, sama-sama. Saya hanya kebetulan melihatnya. Ini ada sedikif uang untuk membawa Nenek berobat ke dokter. Jangan berfikir negatif, saya tulus ingin memberikan ini Nenek. Anggap saja saya cucunya" Ujarnya dengan sopan.


"Terimakasih nak, saya memang tidak punya uang untuk membawa Ibu ke Dokter. Alhamdulillah. . .kamu adalah malaikat penolong kami." Ujar Ibu paruhbaya.


Setelah Nenek dan anaknya pergi, pria itu tersadar badannya merasa gatal. Saat di ciumnya, ternyata kedua tangannya berbau minyak angin.


Dia merogoh ponsel di saku celananya untuk menghubungi dokter pribadinya, namun dia teringat semalam sudah dipecat karena diam-diam mengambil fotonya tanpa sepengetahuannya.


Tanpa berpikir panjang, pria itu segera masuk ke dalam mobil dan melaju menuju Rumah Sakit terdekat sebelum bintik merah di badannya semakin banyak.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


》》Terimakasih yang masih berkenan untuk baca coretan ini. ♡♡


__ADS_2