
Byakk!!
Beberapa tetes air mengenai wajahnya, membuatnya terbangun dari tidurnya. Terlihat seorang perempuan dengan gaun putih yang indah sudah berdiri dengan wajah yang berseri dan mengeluarkan cahaya yang menyilaukan matanya.
Sontak tangan Alina menutupi wajahnya untuk menghindari silau yang memancar ke wajahnya. Dia masih diam dan hanya tersenyum tanpa bersuara sedikitpun. Namun secara perlahan cahaya yang memancar di wajahnya sedikit demi sedikit meredup meski tak sepenuhnya.
"Sudah cukup kamu tertidur di sini, belum saatnya untukmu menetap disini." Ucapnya dengan senyum penuh makna di wajahnya.
Alina memandang ke sekitar, dia baru menyadari sedang berada di tempat asing. Bahkan saat ini dia berada di atas sebuah akar pohon yang begitu besar. Alina segera berdiri dari posisinya yang duduk setelah bangun dari tidurnya.
"Aku dimana? Kenapa aku ada disini?" Tanya Alina dengan cemas.
"Saat ini kau nerada di dua dunia, kau tak sengaja terjatuh dan membuatmu tak sadarkan diri. Kau sudah tidur selama 1 menit disini tapi 2 tahun di duniamu." Ucapnya lagi dengan tenang.
"Ba.. Bagaimana bisa?" Tanya Alina tak percaya dengan kedua matanya melotot saking terkejutnya dengan penuturan wanita paruhbaya di depannya.
"Namaku Louisa, peri penuntun yang akan mengajakmu untuk bisa mengingat semuanya disini, meski di duniamu nanti kau akan kehilangan semua ingatanmu." Ucap Louisa dengan gayanya yang anggun.
"Kenapa aku bisa berada disini? Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?" Berbagai pertanyaan tercetus dalam otaknya namun hanya dua pertanyaan yang lolos dari mulutnya.
"Ikuti aku. . . " Perintahnya membuat kedua kaki Alina yang tanpa di sadari langsung melangkah mengikuti nya yang berjalan beberapa jengkal di depannya.
" Ehh. . Dia mengambang? Apakah dia hantu? Tapi mana ada hantu di siang bolong." Gumam Alina saat menyadari jika Lousia tidak menapak pada akar pohon yang ini ia injak.
Tiba di depan sebuah batang pohon yang tak kalah besarnya dengan akar yang tadi dia naiki beberapa saat yang lalu. Tangan kanannya bergerak seperti sedang menggambar sebuah garis di udara.
Tiba-tiba pohon itu terbuka seperti sebuah pintu. Alina mundur beberapa langkah karena terkejut dan tak menyangka dengan apa yang saat ini dia lihat dengan kedua bola matanya.
"Masuklah, atau kau tidak akan bisa kembali ke duniamu untuk selamanya dan meninggalkan orang-orang terkasihmu begitu saja?" Pungkasnya membuat Alina segera melangkah maju melewati pintu pohon yang baru saja terbuka.
__ADS_1
"Hehh. . Apakah aku salah masuk? Bagaimana bisa di dalamnya begitu luas? Apakah aku sedang mimpi? Aku pasti sedang mimpi. " Celetuknya saat melihat keadaan di dalamnya terdapat sebuah ruangan yang begitu luas dan serba bernuansa putih.
" Majulah beberapa langkah." Perintahnya dengan lembut yang lagi-lagi mampu menghipnotisnya sehingga mau saja kakinya melangkah dan berhenti setelah aba-aba dari Louisa.
Kaca besar yang di depannya tiba-tiba saja menampilkan wajah seorang pria yang usianya tak jauh berbeda darinya. Dia terlihat begitu sedih, entah apa yang membuatnya bersedih saat itu. Alina hanya diam, seolah terbius dengan pemandangan di depannya.
Pria itu berjalan di sebuah lorong yang panjang, kakinya melangkah dengan gontai tak ada sedikitpun semangat di dalam tubuhnya. Tiba di depan sebuah ruangan yang terpisah dari ruangan yang lainnya.
Lagi-lagi di lihatnya ruangan bernuansa putih dengan tirai yang berkibar mungkin ada angin yang masuk. Saat tirai di sibakkan, terlihatbseorang wanita berusia sepantaran dengan dirinya sedang tertidur dengan wajah pucatnya.
"Dia adalah kau, saat ini kau sedang tidak sadarkan diri hampir dua tahun lamanya." Pungkasnya tanpa aku mengajukan pertanyaan padanya.
"Lalu pria itu?" Tanya Alina.
"Dia adalah suamimu yang baru menikah denganmu juga dalam waktu yang bersamaan denganmu ketika tak sadarkan sekarang." Ucapnya lagi penuh demgan tanda tanya.
"Aku sudah menikah?" Tanyanyabtak percaya.
"Ja. . Jadi aku sudah mati? A. . Aku aku. . . " Ujar Alina yang tak percaya dengan dirinya sendirinya.
" Kau masih berada di antara dua dunia, antara hidup dan mati. Kau melupakan segalanya, ini yang membuatmu masih terombang ambing disini." Pungkasnya.
"Apa yang harus aku lakukan?" Tanya Alina.
"Tanyakan sendiri pada hatimu, kau sudah memaafkan suamimu atas kejadian itu atau kau masih menyimpan kemarahan padanya." Tanya Louisa yang tiba-tiba sudah berbisik di telinganya.
______
Di ruang VIP
__ADS_1
Infus menetes dengan pelan, wajah pucat dan kurus terbaring diatas bed. Sudah 2 tahun lamanya Alina tak sadarkan diri karena kejadian itu. Semua keluarga secara bergantian menjaga Alina di Rumah Sakit dan berharap Alina akan segera sadar.
Hari ini adalah hari terakhir peralatan medis masih terpasang di tubuhnya. Melihat kondisinya yang tidak ada perubahan selama dua tahun membuat Dokter Lani menyerahkan kepada pihak keluarga untuk tindakan selanjutnya.
"Sayang, hanya beberapa jam aku mengenalmu dalam suasana yang tidak baik. Lalu tiba-tiba kita menikah meski kita belum mengenal satu sama lain. Tapi malam itu kita merengkuh kenikmatan berdua, aku pikir kita berdua akan bisa melewatinya bersama dalam suka maupun duka.
Maafkan aku yang sudah egois, aku di selimuti kemarahan hanya karena sebuah pesan singkat dari orang di masa lalumu. Aku memang belum mencintaimu saat itu, tapi di satu sisi aku tidak ingin kau di miliki orang lain. Karena aku akan berusaha untuk bisa mencintaimu dan melupakan masa laluku.
Dua tahun lamanya, kau terbaring disini, siang dan malam aku selalu menunggumu sayang. Aku berharap kau akan membuka matamu dan tersenyum padaku. Lambat laun perasaan ini muncul kembali seperti saat aku bertemu dengannya 6 tahun silam.
Aku mencintaimu, aku mencintaimu sayang. . . Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Kalau perlu kita akan menguoangnya dari awal lagi, menciptakan moment indah di setiap detiknya.
Bangunlah, kau boleh marah padaku, kau boleh memukulku. Lakukan saja apa maumu. Dua jam lagi dokter Lani akan datang untuk mencabut semua peralatan yang saat ini terpasang di tubuhmu, dan itu berarti aku harus melepasmu untuk selamanya.
Apa aku harus kehilangan wanitaku untuk kedua kalinya?"
Chandra terus menggenggam tangan Alina dengan erat, menciumnya setiap saat. Membelai rambutnya yang kini telah memanjang. Penampilannya terlihat begitu kacau, selama dua tahun ini pekerjaannya ia limpahkan pada sepupunya yang kebetulan juga bekerja di Perusahaan milik keluarganya.
Waktu terus berjalan, tiba saatnya semua peralatan harus di cabut dari tubuh Alina yang sudah menopang hidupnya selama dua tahun terakhir.
"Dok, apakah tidak ada cara lain selain harus melepas peralatan medis? Berikan sedikit waktu lagi, isteriku pasti akan bangun. ." Ucapnya memohon pada Dokter Lani yang sudah datang bersama beberapa perawat.
"Kami sudah memberikan waktu yang begitu lama Pak, tapi melihat kondisinya yang tidak ada perubahan, lalu apa lagi yang kita harapkan. Secara medis dokter Alina sudah meninggal, tapi karena peralatan yang masih terpasang membuatnya masih bertahan meski hanya 20%. Kasihan Dokter Alina, harus sampai kapan dia tersiksa seperti ini. Ikhlaskan Dokter Alina Pak, ini yang terbaik untuknya." Ucap Dokter Lani.
___________________________________
Akhirnya Up, meski terlambat🤧
Semoga kalian suka dengan Episode barunya, boleh berikan saran untuk alur cerita yang lebih menarik😍😍
__ADS_1
Jangan lupa Like, Komen, Rate 5 dan juga vote seikhlasnya. 😍😍😍