
"Baru saja ada laporan dari anak Perusahaan, dan aku harus kesana. Bolehkan?" tanyanya langsung to the point.
"Tentu saja boleh Sayang, itu kan sudah jadi tamggung jawab kamu. Tapi ... kamu gak lama-lama disana kan?" gumamnya dengan nada yang sedikit manja.
"Akan aku usahakan besok sudah pulang, atau paling lambat besok lusa aku pulang," ucapnya.
"Kalau bisa besok pulang Sayang, aku gak bisa lama-lama jauh dari kamu ...!" rengeknya.
"Begitupun aku. Mana bisa aku jauh-jauh dari isteriku," sahutnya.
"Hmm, yaudah aku ke rumah dulu siapin pakaian buat kamu. Mau Pak Parjo yang antar atau kamu ambil ke rumah?"
"Minta Pak Parjo buat antar ya Sayang, kayaknya wkatu gak cukup kalau aku pulang dulu. Kamu gak apa-apa kan?" ujarnya dengan perlahan.
"Gak apa-apa kok. Yaudah ya Sayang,"
"Sebentar, kamu mau ke Mami atau gimana?" tanyanya.
"Aku di rumah aja. Nanti aku minta Fani buat tinggal di rumah sampai kamu pulang ...!" jawabnya.
"Baiklah, makasih Sayang ...!" ucap Chandra dengan berat hati.
"Iya Sayang ...!" jawabnya dengan sedikit perasaan yang hampit membuatnya menangis.
____
"Na, kamu kenapa nangis?" tegur Dokter Fani yang baru saja masuk ke ruang jaga Dokter.
"Gak apa-apa Fan ...! Hmm, kamu nanti sampai besok mau kan tinggal sama aku?" tanyaku.
"Tinggal sama kamu? Maksudnya? Kamu sekarang sewain kamar?" tanya Dokter Fani yang tak mengerti.
"Aiishh ...! Bukan begitu. Tapi Chandra mendadak ada urusan pekerjaan ke luar kota. Jadi aku di tinggal," gumamku.
"Oh begitu. Baiklah aku mau, tapi kamu jangan nangis lagi. Suami mu kan kerja buat kamu sama calon baby juga kan ...!"
"Iya Fan, tapi aku sedih aja. Setelah sekian lama, akhirnya aku harus di tinggal lagi sama Chandra. Mana mendadak," celetukku.
"Sabar ya Na," usapan lembut mendarat di pundakku.
"Hmm, yaudah aku ke rumah dulu ya Fan. Mau siapkan pakaian buat Chandra,"
__ADS_1
"Iya Na, hati-hati ya ...!"
"Astaga ...! Cuma berapa langkah ...!" sahutku.
"Tapi kan hati-hati tetap nomor satu Na," sahutnya tak mau mengalah denganku.
Akupun segera melepas jas putih kebangganku dan menaruhnya di atas kursi kerjaku. Setelah melihat sekeliling ruangan klinik, semua aman terkendali. Aku segera melangkah pergi meninggalkan klinik dan kembali ke rumah untuk menyiapkan pakaian suamiku.
Sesampainya di rumah, aku melihat Pak Parjo sedang duduk di teras. Ia segera bangun saat melihat aku datang.
"Pak, aku mau siapkan baju buat Chandra. Nanti Baoak tolong antarkan ke Perusahaan ya," ujarku setelah sampai tepat di hadapannya.
"Baik Bu," jawabnya tanpa banyak bertanya.
Aku segera melenggang pergi masuk ke dalam rumahku dan segera ke kamar. Dengan cepat aku mengambil beberapa pakaian dari dalam lemari milik suamiku, dan juga koper kecil berwarna hitam.
Tak perlu lama untukku menyiapkan semuanya, dalam waktu 20 menit semua sudah siap. Aku segera mendorong koper ke luar kamar. Ternyata Pak Parjo sudah berdiri di depan kamarku dan segera mengambil alih koper yang ada di tanganku.
"Makasih ya Pak ...!"
"Sama-sama Bu,"
Pak Parjo dengan cepat sudah berada di lantai bawah dan hilang dalam pandanganku. Aku kembali ke kamar untuk istirahat sejenak sebelum kembali lagi ke klinik membantu Fani dan Stef disana.
Tokk ... tokk ...!
"Mam ... boleh aku masuk?" tanya Vannya setelah membuka pintu kamar secara perlahan.
"Boleh Nak, masuklah ...!" sahutnya dengan lembut. Jemarinya dengan luwes memainkan benang woll dan jarung besar di kedua tangannya.
"Cantik sekali Mam ...! Tidak salah kan aku pilih ini untuk Mami, belum jadi aja udah keliatan cantik ...!" puji Vannya seraya duduk di dekat Mami.
"Kamu ini, paling bisa memuji Mami. Ini kah tidak seberapa. Lagian Mami kan amatiran," jawabnya.
"Aiih ...! Bagiku karya Mami yang terbaik. Oh iya, ini udah waktunya makan siang, kita makan dulu yuk ...!" ajak Vannya dengan lembut.
"Mami belum lapar Nak. Kamu makan duluan saja ya," ujarnya menolak dengan halus.
"Gak bisa Mam. Cucu Mami yang minta makan siang sama Omahnya," ujar Vannya memasang wajah cemberut.
"Iyakah?" sahutnya mengehentikan kegiatannya.
__ADS_1
"Hmm, buktinya sekarang dia diam. Gak nendang-nendnag lagi, pasti dia senang di dekat Omahnya. Atau jangan-jangan dia pingsan karena udah kelaparan, ayo Mam kita makan siang sekarang bair baby bangun lagi," ujar Vannya.
"Cucuku pingsan? Astaga ...! Ayo Nak cepat," Mami segera meletakkan benang woll dan jarum di atas meja di sudut ruangan kamar.
"Hmm ...!" gumam Vannya seraya tersenyum menyeringai merasa usahanya berhasil bisa mengajak Mami untuk makan siang.
Terhidang rendang, capcai dan sayur sop di atas meja. Beberapa buah juga sudah siap makan disana. Sebelum melahap nasi, mereka lebih dulu memakan buah beberapa potong.
"Aku akan melakukan apa saja buat Mami. Maaf ya Sayang, Mamah pakai kamu buat alasan siang ini," batin Vannya seraya mengusap perutnya yang sudah sedikit menyembul.
"Kenapa Nak? Cucu Mami belum bangun juga? Ayo makan yanh banyak, biar cucu Mami cepat bangun ...!" ujar Mami.
"Udah gerak dikit Mam, tapi masih dikit banget ...! Cucu Mami mau Omahnya makan yang banyak," jawab Vannya.
"Kamu juga harus makan yang banyak Nak, karena kamu juga ngasih makan baby ...!" ujar Mami.
"Iya Mam, nanti aku nambah lagi kok ...!" sahutnya seraya menyuap satu sendok nasi ke dalam mulutnya.
...**ARDHANA GROUP...
...PUKUL 12.30 WIB**...
Setelah berbincang beberapa saat di ruang VIP, Vin mengajak Arsen, Tyas dan Madav untuk mencicipi hidangan yang sudah Dewi siapkan di ruangan sebelah. Ya, Dewi sudah mempersiapkan semuanya dengan baik.
Dari pagi dia sudah menghubungi pihak restoran untuk meminta di siapkan beberapa menu dan di antar ke Perusahaan, juga menyiapkan semuanya secantik mungkin di atas meja yang sudah Dewi tata dengan sangat cantik.
"Ibu, aku makan sama Tante aja ya disana," celetuk Madav seraya menunjuk Dewi yang masih sibuk dengan telepon genggam entah sedang berbicara dengan siapa.
"Tante lagi sibuk Sayang, makan sama Ibu ya ...!" ujarnya dengan sabar.
"Tidak Bu, Tante juga harus makan. Tante baik sama Madav," ujarnya tak mau kalah.
"Baik Madav, Om panggilkan Tante baik buat kamu ya ...!" ujar Vin.
Setelah menjentikkan jarinya, Dewi segera datang mendekat ke Vin dan yang lainnya untuk menanyakan apa yang kurang dan harus dia siapkan saat ini.
"Iya Pak? Apakah ada yang harus saya siapkan lagi?" tanya Dewi dengan sopan.
"Tidak, semua sudah ada. Kamu ikut makan, temanj Madav ya ...!" ujar Vin.
"Ta-tapi Pak ...!"
__ADS_1
"Kamu berani membantahku sekarang? Madav, marahi Tante kalau tidak mau," celetuk Vin melirik ke arah Madav yang sejak tadi berdiri di sampingnya.