
Ilham menyandarkan kepalanya pada dinding kayu yang tua tapi tetap kokoh. Otaknya sudah buntu, kedua tangannya terikat borgol dan juga rantai yang diikatkan pada tiang penyangga gubuk di tengah-tengahnya.
Tak berapa lama, terdengar suara langkah kaki di dekat gubuk. Ilham terdiam untuk beberapa saat, memastikan pria yang tadi atau warga sekitar hutan ini.
"Apa dia datang lagi? Atau itu warga sini? Jika pria itu yang datang, pasti pintu sudah dibuka ...!" gumamnya berkata pada dirinya sendiri.
"Apa ada orang disana? Tolong lepaskan aku ...! Aku di culik," teriaknya.
__________________
"Apa kau tak mendengarku? Tolong lepaskan aku ...! Aku tidak bersalah," teriaknya lagi dengan sekuat tenaga.
"Astaga ...! Itukah yang di maksud Tuan tadi? Pantas saja warga tidak diperbolehkan untuk mendenkati gubuk ini, karena teriakannya sangat kencang dan seram. Hii ... lebih baik aku pergi saja dari sini," gumamnya tergidik seraya melanjutkan langkah kakinya menjauhi gubuk kecil di tengah hutan.
Ilham masih saja terus berteriak meminta tolong dan beberapa kali meracau tak jelas. Berharap ada seseorang yang berbaik hati mau membantu dirinya lepas dari ikatan rantai yang melingkar di dua pergelangan tangannya.
"Kenapa kalian jahat sekali. Apa salahku? Aku juga berhak mempertahankan cintaku, aku berhak memperjuangkan cintaku. Vannya hanya pantas untukku, bukan dengan yang lain ...!"
"Kalian memang orang licik, selama ada uang kalian bisa seenaknya menindas orang lain. Tunggu saja saat aku bebas nanti. Aku akan menyelmatkan Vannya dari kalian, Vannya akan lebih bahagia denganku ...!" ceracaunya tak jelas.
Tiba-tiba Ilham jatuh tersungkur tak sadarkan diri untuk beberapa saat. Suasana kembali menajdi hening, warga yang tadi lewat berhenti sejenak untuk memastikan apakah masih ada suara dari dalam gubuk sana.
"Syukurlah, dia sudah tenang ...! Aku harus segera pergi dari sini dan memberitahu wargabsekitar untuk tidak mendekati wilayah ini," gumamnya.
"A-ada orang? Dimana? Pasti dia mencariku, pasti dia akan menolongku. A-apa jangan-jangan di Vannya yang merindukanku?" ujarnya yang mulai tersadar.
Remang-remang ia melihat sosok gadis cantik berdiri di hadapannya, memasang senyum manis di wajahnya. Ya itu adalah wajah Vannya, gadis yang selama ini ia cintai kini berada di tempat yang sama.
Perlahan Ilham mencoba untuk bangun dan duduk dengan twgap bersandar pada dinding kayu. Beberapa kali ia mengucek kedua matanya, memastikan apakah benar itu Vannya.
__ADS_1
"Va-Vannya ... kamu kah itu? Kamu mau menolongku? Ah aku sudah menduganya, pasti kamu akan datang ...!"
"Jangan khawatir Van, aku akan menolongmu dari pria itu. Dan kita akan hidup bahagia bersama keluarga kecil kita nanti, ayo lepaskan ikatan tanganku ini ... biar qku bisa membawamu pergi lari dari kota ini. Ayo Sayang ...!" ucapnya dengan kedua mata berbinar.
Gadis itu hanya diam, tidak bergerak sama sekali. Hanya melempar senyum pada Ilham tanpa bersuara sedikitpun. Ilham mencoba bangkit dan berdiri, menghampiri Vannya yang masih berdiri di sana.
Namun, saat jaraknya sudah hampir sampai gadis itu menghilang. Dengan panik Ilham mencarinya, kedua matanya membulat dengan sempurna menyisir seisi ruangan gubuk kecil untuk mendapati sosok Vannya disana.
"Van ... kamu dimana? Kenapa kamu menghilang? Apa kamu sedang mengajakku main petak umpet? Baiklah aku akan mencarimu Sayang, tunggu aku ...! Aku akan menangkapmu," ujarnya dengan lantang.
Tingkah Ilham semakin aneh, seperti pasien Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang memiliki masalah keperawatan berhalusinasi. Sesekali dia akan tertawa terbahak, namun tak lama kemudian dia menangis memanggil nama Vannya begitu seterusnya.
...RS. Permata Ungu...
...Ruang ICU...
Bunyi monitor memenuhi ruangan itu, terlihat beberapa pasien juga terbaring tak sadarkan diri disana dengan berbagai peralatan medis yang terpasang di tubuhnya. Alina berdiri di depan kaca, melihat dari luar Mami dan Tante Sofi yang sedang berada di dalam.
"*Pih, bangun ...! Papi pernah bilang tidak akan membiarkan Mami atau orang lain menangis untuk Papi. Sudah hari ketiga Papi berada di sana dengan peralatan hang menempel di tubuh Papi. Sampai kapan Papi akan terus disana?" batin Alina.
"Lihat Pi, Mami sangat sedih. Kami juga* ...!"
"Selamat pagi, Dokter Nana ...!" Sapa seormag dokter yang sudah berdiri di sampingnya seraya menyodorkan tissue padanya.
"Pa-pagi Dok ...! Terimakasih," ucapnya seraya mengambil beberapa helai tissue untuk membersihkan wajahnya.
"Bagaimana kondisinya Dok? Apakah belum ada perubahan atau tanda-tanda Papi saya akan segera sadar?" tanya Alina.
"Belum ada Dok, sejauh ini Pak Randy sama seperti yang lain. Tidak ada tanda-tanda khusus yang bisa kami anggap itu kabar baik," jawabnya.
__ADS_1
"Kenapa tidak ada? Lakukan apa saja biar Papi saya cepat sadar, tolong ...!" ucapnya terisak.
Alina tak bisa mengendalikan dirinya lagi, sudah tiga hati ia berusaha kuat. Namun pagi ini, semuanya sudah sirna. Kekuatan yang ada di dalam tubuhnya seakan menghilang begitu saja.
"Kami sedang berusaha melakukan yang terbaik Dok," ucapnya dengan tegas.
Tiba-tiba terdengar suara monitor yang menandakan ada pasien yang anfal. Dan semua perawat telrihat berlari ke bed dimana Papi berada saat ini, tanpa berpikir panjang Alina ikut berlari masuk ke dalam.
Tak perduli perawat yang memintanya untuk keluar, Alina terus memegang tangan Papi memanggil namanya berharap Papi akan mendengar dan segera membuka matanya.
"Papi, bangunlah ... ini Nana putrimu ...! Papi bertahanlah ...!" isaknya.
"Dokter sebaiknya anda duduk dulu disana, supaha kami melakukan tindakan pada pasien," ucapnya.
"Lakukan saja, aku tidak akan mengganggu kalian ...!" bentak Alina yang emosinya sedikit tersulut.
"Sayang, Nana kita keluar dulu ya," ucap Tante Sofi mendekatinya.
"Tidak Tante, Nana mau disini. Tante sama Mami keluarlah. Please Tante, biarkan Nana disini ...!" ucapnya mengiba.
"Baiklah, kendalikan dirimu Sayang ...!" ucapnya seraya mengecup pucuk kepala Alina sebelum keluar merangkul Kinan yang sudah lemas.
Perawat dan Dokter bersiap-siap untuk melakukan tindakan RJP. Alina terus berdoa dan meminta kepada Tuhan untuk tidak mengambil Papinya saat ini. Tangannya memegang erat tangan Papi.
"Pih, bertahanlah ...! Nana temani Papi disini. Nana tidak akan meninggalkan Papi," ujar Alina.
"Lanjut RJP sesi 2 ...!" teriak Dokter.
Perawat segera memasang posisi untuk setengan berjongkok dan memasang kedua tangannya di bagian dada pasien dan melakukan pijit jantung sebanyak 30x dalam satu sesi.
__ADS_1
Belum ada tanda-tanda dari layar monitor, terlihat dokter kembali menyuntikan obat untuk memancing detak jantung pasien, kemudian di lanjut aesi selanjutnya atau sesi teakhir dari tindakan RJP.
"Bolehkah saya yang melakukannya? Please ...!" ucap Alina yang sudah berdiri di samping bed.