
"Wow. . .kita kedatangan tamu rupanya.." Ujar seorang wanita yang keluar dari sebuah ruangan.
" Sebenarnya saya lelah berurusan dengan anda Nona Model. . Tapi kali ini saya mau tidak mau harus berurusan lagi dengan anda. " Ujar Sofi dengan tenangnya.
"Kau boleh saja menjebakku tiga hari lalu, tapi sekarang kau tak bisa Sofi." Ujarnya menyombongnya diri dan duduk di pangkuan pria itu.
"Aiiiihhh. . perempuan gatal." Ujar Maya lirih.
"Dia adalah Patrick, Kakak Hans yang tak lain adalah paman anak kecil yang malang ini. Jadi kalian tidak perlu menjemputnya." Ujar Febby.
"Tadinya kami akan pergi jika pria itu memang masih ada hubungan darah dengan Nana. Tapi melihat ada Nona model, membuat kami mengurungkan niat untuk melepaskannya begitu saja. Anda bisa saja lolos dari kejaran polisi di sana Nona, tapi kali ini saya pastikan anda tidak akam lolos." Ujar Sofi.
"Ha ha ha. . . Sebaiknya kau jikat lagi ludahmu yang sudah berceceran di lantai Sofi, aku tidak akan pernah tertangkap. Kau ingat itu." Ujar Febby.
"Baiklah, kita buktikan saja nanti." Ujarnya menyandarkan kepalanya di dada Patrick.
"All right, how about we fight one on one, Mr. Patrick. The winner can take the child away. And the loser must accept the risk given from the winner. (Baiklah, bagaimana kalau kita bertarung satu lawan satu Tuan Patrick. Yang menang boleh membawa anak itu pergi. Dan yang kalah harus menerima resiko yang di berikan dari pihak pemenang.)" Ujar Bagas.
"I accept the challenge from you, sir. (Aku terima tantangan darimu Tuan)." Ujar Patrick berdiri dan maju mendekati Bagas dan yang lainnya.
"Sofi, Maya, sebaiknya kalian perlahan mendekati Alina dan mengambilnya dari sana. Dan kau Revan, bawa mereka pergi dari sini. Ini kunci mobilku." Ujar Bagas setengah berbisik dan melempar kunci mobil pada Revan.
Sementara itu. .
Lampu di depan ruang operasi masih menyala, menandakan tindakan masih sedang berjalan. Randy dan yang lainnya hanya diam tak banyak bicara, mereka cemas dan berharap Kinan juga Bayinya baik-baik saja.
Sudah hampir 2 jam, dokter bedah belum juga keluar. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 17.45, tiba-tiba ponsel Kinan berdering membuat semua terlonjak kaget. Devi meminta ijin untuk mengangkatnya karena Bunda Rianti yang menghubungi.
Devi pergi sedikit menjauh dari yang lain, mencari tempat sepi untuk bisa menjelaskan smeuanya pada Bunda dengan hati-hati. Ia menarik nafas panjang seblum jaringa mengusap warna hijau di layar ponsel.
"Hallo Nak. . .ini sudah sore sekali. Kalian dimana? Abangmu juga belum sampai. Apa kalian janjian di luar?" Tanya Bunda setelah Devi mengangkatnya.
__ADS_1
"Hallo Bunda, Maaf ini Devi. . ." Ujar Devi yang tertahan karena jantungnya terasa ingin berhenti karena tidak sanggup mengatakannya.
"Devi. . Kinan sedang bersamamu Nak? Syukurlah kalau memang sedang bersamamu. Kalian dimana sekarang?" Tanya Bunda lagi membuat Devi semakin bingung.
"Bunda. . . Kami di Rumah Sakit. . .Saat ini Kinan sedang dilakukan tindakan operasi caesar Bun. . .karena Nana di culik dan Kinan terdorong hingga membentur mobil.. . ." Ucap Devi melanjutkan perkataannya sampai selesai sebelum di potong Bunda dan setidaknya dia merasa sedikit lega setelah mengatakan semuanya tanpa ada titik dan koma.
"A. . apa. . . Lalu bagaimana kondisi mereka sekarang Devi? Bunda kesana sekarang ya." Ujar Bunda panik.
"Bunda. . .disini sudah ada Pak Randy, Bang Keanu, dan yang lainnya. Sedangkan Maya dan yang lain sedang menjemput Nana. Sebaiknya Bunda di rumah saja, kasihan Nenek. Nanti Devi kabari jika Kinan sudah selesai tindakan Bun." Ujar Devi lagi.
"Syukurlah, kalau Randy dan Kea disana. Terimakasih Nak, kabari Bunda ya Nak. . . Kamu benar, Bunda harus menjaga Nenek. . " Ucapnya menghela nafas dengan berat. "Kalau ada perkembangan tentang mereka juga Nana kabari Bunda Nak." Ucapnya lagi dengan terisak.
"Iya Bunda. . . Bunda tenang ya. . .Saya pasti kabari Bunda. Kalau begitu, sudah dulu ya Bun. Devi harus kembali kesana." Ujar Devi.
"Iya Nak, terimakasih. . ." Ucap Bunda lagi.
"Iya Bunda. . " Devi mengakhiri obrolannya dengan Bunda.
Semua kembali fokus pada Kinan dan Bayinya yang masih di dalam. Tak berapa lama kemudian, lampu sudah mati menandakan tindakan sudah selesai. Semua berdiri tanpa aba-aba, berharap seorang dokter atau perawat keluar dari ruang operasi.
10 menit kemudian, seorang perawat keluar dengan mendorong sebuah inkubator yang di dalamnya ada bayi mungil yang menggemaskan. Semua perhatian tertuju padanya, tangis haru memenuhi lorong ruang operasi.
"Suster, apakah ini anakku?" Tanya Randy mengamati bayi mungil yang sedang membuka matanya.
"Iya Pak, anak bapak berjenis kelamin kaki-laki. Untuk sementara akan kami bawa ke ruang Perinatalogi untuk kami lakukan observasi karena anak Bapak lahir belum cukup bulan." Ujar perawat menjelaskan.
"Lalu bagaimana dengan kondisi ibunya?" Tanya Mamah ingin tahu.
"Untuk kondisi ibu Kinan nanti Dokter yang akan menjelaskan. Kalau begitu, saya ingin membawa bayinya dulu ya Pak, Ibu. . Salah satu keluarganya bisa ikut dengan saya untuk menandatangani beberapa berkas untuk tindakan selama Bayi berada di ruang Perinatalogi." Ujarnya.
"Bang, aku serahkan padamu. . aku ingin menunggu isteriku dulu." Ujar Randy.
__ADS_1
"Baiklah. . " Keanu menepuk pundak Randy.
Keanu pergi mengikuti perawat yang mendorong inkubator. Semua dokter yang berpapasan dengannya menundukkan kepalanya pada Keanu, karena tahu gelar dan skill Keanu yang memang patut di acungi jempol.
5 menit setelah perawat keluar, dokter Lani keluar dengan senyuman. Membuat semuanya sedikit merasa tenang, tapi tak mengurangi rasa khawatir mereka terhadap Kinan yang saat ini masih berada di dalam ruang operasi.
"Dokter, bagaimana kondisi isteri saya?" Tanya Randy.
"Isteri Bapak wanita yang hebat. Ikatan batin antar keduanya begitu kuat, mereka telah sama-sama berjuang untuk melewati masa kritisnya. Tapi untuk saat ini Ibu Kinan masih koma, dan akan kami masukkan ke ICU." Ujar Dokter Lani.
"Jangan. . jangan di ruang ICU. . bagaimana kalau di ruang VVIP saja Dok? Supaya kami bisa menjaganya, berapapun akan kami bayar asal kami bisa menjaga Kinan selama 24 jam. Saya mohon Dok." Ujar Randy yang trauma dengan ruang ICU yang tiba-tiba saja membuatnya teringat pada Lia yang sudah tiada.
"Baiklah, kalau begitu akan kami persiapkan terlebih dahulu Pak." Ujar Dokter Lani.
"Terimakasih Dokter. . " Ujar Randy.
Randy dan yang lain kembali duduk di kursi tunggu menanti Kinan keluar dari ruang operasi. Taka berapa lama kemudian, pintu ruang operasi terbuka, Dokter Lani dan beberapa perawat keluar dengan bed yang berisi seorang pasien yang masih tak sadarkan diri.
Semuanya berdiri untuk melihatnya, pasien yang mereka bawa adalah Kinan. Kedua tangannya di pasang selang infus dan juga tranfusi darah. Tanpa di minta mereka mengikutinya dari belakang melewati lorong, dan menuju lantai 3.
\=\=\=\=\=\=\=\=
ππJANGAN LUPA BACA JUGA 'LOVING SLOWLY' ππππ
Maaf typo masih suka nyempil.
Ditunggu Kritik & Sarannya π
Jangan lupa meninggalkan Jejak untukku (Like, Komen, Rate πππππ, jika berkenan boleh juga vote πππ)
Terimakasih πΉπΉ**
__ADS_1