
Mereka saling berpagutan untuk beberapa saat dalam posisi berdiri di sudut kamarnya yang luas. Mungkin jika ada orang di taman, mereka akan melihat sepasnag suami isteri yang sedang bercumbu di sore hari.
Tapi sayangnya, di taman tidak ada orang. Tyas hanya mengikutinya saja tanpa melepas nafsunya yang sebenarnya sudah tak bisa di bendung lagi. Tapi dia berusaha mengontrol karena masih ingat ada Madav yang bisa melihatnya dengan mata terbuka.
"Ayah ... Ibu ... Kenapa kalian di sana?" panggil Madav dengan suara parau.
_________
"Sa-sayang ...? Sudah bangun? Ibu sama Ayah lagi ...!" sahut Tyas dengan gugup mencari alasan untuk bisa menjawap pertanyaan putrana.
"Tadi mata Ibu kelilipan, makanya Ayah bantu tiupin. Iyakan Bu?"
"Oh iya benar, tadi mata Ibu sakit nih. Aduh ...!" memegang sebelah matanya dengan tangan kiri.
"Biar aku yang batu Bu," seraya turun dari kasur dan berlari mendekati Ibunya.
"Turun Bu, aku tidak akan sampai kalau Ibu masih berdiri," imbuhnya seraya menarik sebelah tangan Ibunya.
"Baiklah, sebentar ...!" Sahutnya seraya berjongkok di hadapan putranya dan memasang wajahnya.
"Hmm, anak pintar. Ayo kita mandi, Ayah sengaja tungguin kamu loh biar kita mani berdua," celetuk Arsen beralasan.
"Aiih ...! Alasan kamu Mas," timpal Tyas.
_______
Selesai pertemuan keduanya, Vin beranjak pergi meninggalkan Perusahaan untuk kembali ke rumah karena tidak ada schedule untuk hari ini dan sia pekerjaan sudah ia selesaikan.
"Wi, sudah beres semua kan?" tanyanya yang baru saja keluar dati ruang kerjanya.
"Sudah Pak, semua aman ...!" jawabnya dengan tegas.
"Baiklah. Kalau begitu aku pulang cepat ya hari ini," ucapnya.
"Silakan Pak," sahutnya.
"Tentu saja boleh Pak ...! Bapak ini yang punya Perusahaan kan," batin Dewi.
"Kalau ada apa-apa segera hubungi saya. Oh ya besok re-s**chedule semua, kecuali pertemuan dengan Pak Arsen ya ...?"
"Baik Pak," jawabnya dengan tegas.
"Hmm, makasih Wi ...!"
"Sama-sama Pak,"
__ADS_1
Setelah kepergian Vin, Dewi melanjutkan pekerjaan, melihat schedule untuk hari besok. Dia pun menghubungi klien satu persatu untuk menyampaikan jika ada perubahan jadwal karena satu dari lain hal.
Untunglah tidak ada yang keberatan, Dewi bisa menyelasikan tugasnya dengan cepat tanpa hambatan satupun. Tepat pukul 16.00 pekerjaan sudah selesai, layar monitor segera dimatikan dan meja kerjanya langsung ia rapihkan seraya menunggu Jam pulang.
Tring ...!
• Hallo Wi ...! Kamu udah pulang kerja? Aku boleh minta tolong gak?
Sebuah pesan singkat dari Aura, tak biasanya Aura menghubunginya. Dewi sampai beberapa kali membaca nama pemilik sang pengirim pesan untuk memastikan ia tak salah baca.
• *Hi Ra ...! Iya sebentar lagi aku pulang, minta tolong apa? Tentu saja boleh ... .
5 menit kemudian, pesan di balas* ... .
• *Malam ini kamu bisa menginap di rumahku gak? Aku butuh teman curhat Wi. Tapi kalau gak bisa, gak apa-apa kok. Next time aja,
"Apa aku tidak salah baca? Ini Aura bukan ya yang kirim pesan? Jangan-jangan ini orang lain, aku telepon saja deh biar aku tau suaranya," batin Dewi yang masih tak mengira jika itu beneran Aura.
Tuut ... tuuttt ...!
"Iya Wi, ada apa?" sebuah suara yang ia kenal terdengar di ujung telepon.
"Wah benar ini kamu Ra ...! Aku tadi cuma pastiin ini benar kamu atau bukan. Okay, aku akan kesitu setelah berganti pakaian ya ...!" jawabnya.
"Hm, baiklah ...! Tapi kalau Rico anterin aku boleh gak? Sekalian dia mau lihat kamu," ujarnya dengan hati-hati takut akan membuat Aura berubah pikiran.
"Tentu saja, lagian ini udah sore. Tidak baik kamu kesini pakai kendaraan umum, ya udah aku tunggu kalian ya Wi,"
"Okay Ra ...! Kami akan segera datang. See you*,"
Setelah telepon terputus, Dewi segera meraih tas kerjanya dan melenggang turun dari lantai 6 menuju meja kerja Rico. Dari kejauhan terlihat Rico masih berkutik di depan layar monito.
"Rico ...! Masih sibuk?" tanya Dewi mengejutkan Rico yang sedang fokus dengan pekerjaaannya.
"Astaga ...! Wi, kamu manusia apa jin sih? Datang gak di panggil, pulang nyelonong aja ...!" celetuknya.
Plakk ...!
Sebuah pukulan kecil dengan buku di atas meja kerja Rico mendarat di bahu kirinya.
"Itu Jaelangkung Dudul ...! Kamu samain aku sama itu, dasar ...!" gerutu Dewi langsung menarik kursi untuknya duduk.
"Aiiis ...! Udah ngagetin, bukannya minta maaf malah mukul. Ada apa? Kamu mau pulang sama aku? Okay, tapi aku selesaikan dulu pekerjaanku," gumamnya.
"Astaga ...! Ya udah sih maaf, aku mau ke rumah Aura ...! Anterin aku ya," ujarnya.
__ADS_1
"Mau ngapain? Mau main? Udah sore Wi, gak baik anak gadis main sore-sore ...!" sahutnya yang masih terus menatap layar monitor.
"Barusan dia kirim pesan ke aku, minta aku nginap di sana," jawabnya.
"Terus kamu ajak aku juga nginap disana?"
"Hillih ...! Tentu saja ... enggak ...! Kan kamu katanya mau lihat Aura, jadi aku ajak kamu buat anterin aku. Setelah itu bali lgi deh, seenggaknya udah bisa lihat Aura kan?" ujarnya.
"Tega sekali jadiin aku ojekmu," gumamnya.
"Terus kamu mau aku jadiin apa? Bilang Ric, kali aja aku bisa naikin sedikit level dari kang ojekku,"
"Haihh ...! Tidak perlu. Ya udah, aku selesaikan dulu pekerjaanku ya," ucapnya.
"Okay, aku duduk disana deh ...! Takut kamu gak bisa fokus nantinya. Jangan lama-lama ya Ric,"
"Iya, yang jauh Wi ...!" sahutnya.
"Okay, aku akan jauh-jauh darimu. Awas saja, huhh ...!" gerutunya seraya berjalan menjauh entah kemana.
"Astaga ...! kemana dia? Itu beneran Dewi apa jelmaan Dewi sih?" gumamnya.
...DEWI POV...
Hmm, sebenarnya Rico serius sama Aura gak sih? Kenapa dia ekspresi biasa saja pas aku bilang mau ke rumah Aura. Padahal tadi siang dia paling exited, minta aku ajak kalau mau ke rumah Aura.
Apa secepat itu perasaannya berubah? Hah ...! Entahlah, seenggaknya aku sudah memenuhi janjiku untuk mempertemukan keduanya nanti. Kalau mereka memang berjodoh, semua akan berjalan dengan semestinya.
Tapi tumben sekali Aura menghubungiku, bahkan dari suaranya aku mendengar tidak seperti biasanya yang dingin dan ketus. Ada apa dengannya? Kenapa secepat itu sikapnya berubah?
Semoga ini bukan jebakan untukku, aku pasrahkan semua adamu Tuhan. Semoga tidak ada apa-apa nanti.
________
"Mau pulang gak?" celetuk Rico yang sudah berdiri di depannya.
"Iishh ...! Kamu balas dendam kagetin aku?" gumamnya seraya mendongakkan kepalanya menatap Rico yang berdiri di depannya tanpa ekspresi.
"Salah siapa kamu bengong? Udah sore malah bengong, untung aja gak ada yang berani masuk ke tubuhmu,"
"Emang kenapa?" tanya Dewi.
"Tentu saja mereka takut sama kamu, karena kamu suka mukul orang tanpa alasan," sahutnya.
"Aaiiishhhh ...!" Rico segera lari menghidari pukulan Dewi menggunakan tas kerjanya yang sudah dilayangkan ke arahnya.
__ADS_1