Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Sudah Baikan


__ADS_3

"Selesaikan masalah kalian, aku menunggunya di mobil. Vannya jangan bertindak bo*oh. Okey," ucap Pak Chandra menepuk bahu Vannya.


"Ba-baik Pak. Makasih," jawabnya dengan sopan.


Pak Chandra segera keluar menuju mobil, tersisa Vannya dna Vin yang masih saling diam. Kemudian Vin mengajak Vannya masuk ke ruangan yang menajdi tempat meeting nya tadi.


Vannya masih saja diam, enggan menatap suaminya yang duduk di hadapannya. Vin pun bingung mau memulai pembicaraan dari mana.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Vin mencoba membuka suara.


"Kamu kenapa diam? Oh iya, kenapa kamu berada disini sama Kak Chandra?" tanya Vin.


"Harusnya aku yang tanya, ngapain Kakak disini? Laku perempuan tadi siapa? Kemana dia? Kenapa aku tidak melihatnya keluar darisana? Apa dia masih disana?" ujar Vannya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Heh? Apa maksudmu?" tanya Vin bingung.


"Kakak pikir aku gak lihat, dua jam lalu Kakak masuk kesana sama perempuan lain?" celetuknya menahan emosi.


"Itu Aura sayang, sekretaris pengganti. Karena sahabatmu sedang mewakiliku untuk perjalanan bisnis. Kamu percayakan sama suamimu ini?" ujarnya mendekati isterinya.


"Terus kenapa Kakak keluar terakhir, mana wanita itu? Apa yang Kakak lakukan setelah yang keluar?"


"Astaga! Sayang, kamu lucu sekalu. Aura tadi lansung pergi lagi karena dia ada urusan pertemuan di Kalimantan. Aku keluar terakhir, ya karena harus memasukkan dokumen-dokumen dulu," dengan sabar Vin berusaha menjelaskan pada isterinya.


"Kakak tidak bohong kan? Aku tidak mau ada orang ketiga dalam hubungan kita," isaknya lirih.


"Hei, kenapa kamu berfikir seperti itu? Mana mungkin aku mencari yang lain. Harus berapa kali aku bilang? Nanti aku memujimu kamu bosan mendengarnya," ucap Vin lagi.


"Lalu kenapa kamu disini sama Kak Chandra? Bukankah sekretaris Kak Chandra itu Vallent?" tanya Vin pada isterinya.


"Kak Vallent sudah di mutasi ke anak Perusahaan yang lain. Jadi aku yang menggantikannya," jawabnya menjelaskan.


"Wah! Isteriku yang cantik ini sudah resmi jadi sekretaris? Selamat ya. Mau hadiah apa dariku?" ujarnya mengusap kepala isterinya dengan sayang.


"Gak mau apa-apa. Cuma mau Kakak janji gak main di belakangku," ucapnya.


"Aku hanya mencintaimu Sayang," batinnya.

__ADS_1


"Aku tidak bisa janji, tapi aku akan berusaha. Aku tidak mau janji bukan karena aku ada niatan untuk kesana (selingkuh) tapi aku tidak ingin menjilat ludahku sendiri meski tanpa sengaja (karena manusia tempatnya khilaf)," ucapnya meyakinkan isterinya dan menggenggam kedua tangannya dengan erat.


"Sini ponselmu," imbuhnya.


"Buat apa?" seraya menyodorkan pada Vin.


Dengan cepat Vin menggulir layar ponsel, entah apa yang dia lakukan dengan ponsel isterinya. Dalam waktu tidak kyrang dari 5 menit, ia segera mengembalikan ponselnya dengan senyuman simpul di sudut bibirnya.


"Kenapa Kakak senyum-senyum sendiri? Kakak menemukan apa di ponselku?" tanya Vannya bingung.


"Kamu bisa memantauku kapan dan dimanapun melalui ponselmu. Tapi aku minta, boleh curiga tapi harus ada bukti. *Okey,"


"Maaf ya Kak, aku seperti anak kecil. Aku cuma takut apa yang terjadi pada Pak Chandra akan terjadi juga pada Kakak. Aku tidak mau itu terjadi, aku tidak sianggup kalau harus kehilangan Kakak dan melihat Kakak bersama wanita lain di luar sana," batin Vannya*.


"Sayang, kamu kenapa diam?" tegur Vin lagi.


"Ti-tidak. Maafin aku ya Kak. Aku cuma tidak ingin kehilangan Kakak," tangisnya mulai pecah.


"Kamu tidak akan kehilanganku, kecuali maut yang memisahkan. Dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu,"


"Hmm, kedepannya kita harus lebih terbuka lagi ya Kak! Begitupun denganku, aku tidak mau rumah tangga kita yang masih seumur jagung hancur begitu saja. Aku tidak mau apa yang terjadi pada Pak Chandra akan terjadi pada Kakak juga," ujarnya keceplosan.


"Eh? Siapa yang bilang?" ujar Vannya berusaha mengelak.


"Astaga Van! Kamu ini bo*oh sekali," batinnya merutuki dirinya sendiri.


"Ti-tidak ... maksudku Pak Chandra kan tampan, jadi banyak wanita yang mendekatinya. Dan aku takut Kakak akan khilaf," ujarnya beralasan.


"Lalu aku tidak tampan?" ujarnya mendekatkan wajahnya pada Vannya.


"Bu-bukan begitu, Kakak tampan ... sungguh. Makanya aku takut wanita lain akan merebut Kakak dariku," jawabnya.


"Kamu ini lucu sekali, sini peluk dulu. Apa perlu Kakak antar kamu kembali ke Perusahaan supaya kamu tidak curiga lagi sama Kakak?" tanyanya mengusap punggung isterinya dengan lembut.


"Tidak usah, Pak Chandra sudah menungguku disana. Kakak kembali saja ke Perusahaan," ucap Vannya.


"Ya sudah, kalau gitu aku antar saja kamu sampai parkiran. Yuk," menggandeng tangan isterinya berjalan keluar dari tempat itu.

__ADS_1


_______


Hampir satu jam lamanya Chandra duduk di dalam mobil menunggu sekretarisnya yang sedang berbicara 4 mata dengan suaminya. Tak bisa membayangkan jika mereka justru malah bertengkar.


Chandra yang mulai cemas karena hampir satu jam keduanya tidak kunjung datang, ia berencana untuk melihat keadaan di dalam. Saat baru menutup pintu mobil, terlihat kedua adiknya muncul dan bergandengan tangan.


"Syukurlah! Mereka tidak bertengkar. Kalau kaya gini kan manis di lihatnya," batin Chandra melihat keduanya yang datang dengan senyum di kedua wajahnya.


"Udah? Aku pikir kalian adu tinju makanya tidak keluar-keluar," celetuknya.


"Mana mungkin kami adu tinju Kak! Kalaupun adu tinju pasti kami cari tempat yang memungkinkan," sahut Vin dengan senyuman lebar di bibirnya.


"Aisshh! Mentang-mentang kalian sudah menikah ya. Vannya kamu mau pulang sama Kakakmu atau sama suamimu?" tanyanya.


"Sama Bapak saja, kan saya kesini sama Bapak. Masa pulangnya sama Kak Vin," ujar Vannya.


"Tapi kalian sudah baikan kan?" Ujarnya memastikan kedua adiknya.


"Cupp!! Apa ini belum menjawab pertanyaan darimu Kak?" tanya Vin yang langsung mengecup pipi isterinya di depan Chandra.


"Astaga! Anak kecil macam apa ini, tidak sopan mengecup isteri di depan orang tua. Apalagi pasanganku di rumah," celetuknya.


Ketiganya tertawa di area parkiran, setelah ngobrol hampir 10 menit lamanya akhirnya mereka berpisah. Vin hanya tertawa tidak jelas saat mengingat kejadian tadi, saat isterinya curiga kepadanya.


"Baru kali ini aku lihat isteriku curiga. Dan dia lucu sekali," batinnya sebelum menjalankan mobil meninggalkan area parkiran menuju Perusahaan.


Sementara itu,


Di tempat yang berbeda, Alina iseng-iseng mendatangi klinik miliknya. Sudah lama dia tidak kesana, padahal klinik hanya ada di depan rumahnya, masih satu pagar lebih tepatnya.


Di rumah ia bosan tidak ada kegiatan, akhirnya memutuskan untuk jalan-jalan ke klinik menyapa perawat dan dokter pengganti yang tak lain adalah sahabatnya sendiri. Melihat kedatangan Alina, mereka segera menyambutnya dengan hangat.


"Wah! Jangan-jangan kita sudah melakukan kesalahan, makanya Bu Dokter datang," celetuk Dokter Stef.


"Heh? Mana ada? Aku cuma bosan di rumah, aku tidak mengganggu kalian kan?" tanya Alina.


"Mana mungkin kamu mengganggu kami Na, kamu bisa jalan sendiri, datang sendiri pula kemari. Ayo duduk," ucapnya mempersilakan.

__ADS_1


"Makasih Stef! Gimana? Apakah ada masalah? Mungkin atap bocor atau apa gitu? Aku mau dengarkan keluh kesah kalian. Sepertinya menarik," ucapnya memasang telinga bersiap-siap untuk mendengarkan.


__ADS_2