
Oh God ...! Kenapa aku malah berpikir seperti ini? Terlalu jauh Ra, Kamu harus pilih Pak Vin atau Arsen? Hmm, tapi kenapa tidak nyoba dua-duanya. Kalau Arsen susah aku dapatkan setidaknya masih ada Pak Vin, begitupun sebaliknya.
Aihh ...! Baru kali ini aku pintar ....!
____________
"Aku ikuti permainanmu, kita lihat siapa yang akan di bodohi ...!" ujarnya seraya berdiri di depan kaca jendela melihat pemandangan yang terhampar di hadapannya.
Entah apa yang Vin rencanakan, namun sepertinya dia sudah menyiapkannya dengan sangat rapih. Tanpa sepengetahuan Chandra dan juga Papi Randy yang sudah mengetahui masalah ini.
Waktu sudah menunjukkan pukul 16.30, tidak ada lagi pekerjaan yang harus dia lakukan di Perusahaan. Vin memilih untuk pulang lebih dulu, menjemput isterinya untuk segera pergi ke dokter kandungan.
Tak sengaja, ia berpapasan dengan Aura di lorong yang sepi. Aura terlihat gugup dan berusaha merapikan rambutnya yang terjatuh hampir menutupi sebagian wajahnya.
"Hai, Ra ...!" Sapa Vin dengan ramah.
"Iya Pak, Bapak sudah mau pulang?" Tanyanya.
"Iya, aku pulang dulu ya ...!" Ujarnya.
"Silakan Pak, hati-hati di jalan ...!"
"Hmm, kamu perhatian sekali. Thank's ya ...!" Sahutnya seraya melempar senyum terbaiknya pada Aura.
"I-iya Pak, sama-sama ...!" Jawabnya dengan wajah yang sudah bersemu merah.
Aura masih terdiam di tempat memandangi punggung Vin yang semakin berjalan menjauh darinya.
"Sepertinya aku mulai jatuh cinta padanya. Tapi aku juga tetap mencintai Arsenku, tidak salahkan aku mencintai dua pria tampan dan ... kaya tentunya," batin Aura yang sejak tadi terus saja tersenyum.
Pintu lift sudah tertutup, Vin tak terlihat lagi dalam pandangannya. Aura segera berbalik badan untuk melanjutkan kembali ke ruang kerjanya.
"Dewi ...! Astaga, mau mengagetkanku saja. Kamu sejak kapan disini?" Ujar Aura yang terkejut.
"Baru saja Ra, kamu sedang apa disini? Lihat, wajahmu merah sekali seperti kepiting rebus," celetuk Dewi.
"Aku ... Aku tadi lagi istirahat saja, ternyata jalan dari lantai satu ke sini capek ya. Meskipun pakai lift," ujarnya berbohong.
"Oh, kamu kecapekan. Pantas saja wajahmu memerah," sahut Dewi.
"Kamu mau kemana?" Tanya Aura.
"Tentu saja pulang, Pak Vin sudah pulang. Dan aku sudah di perbolehkan pulang lebih dulu karena aku ada urusan lain," ucapnya menjelaskan.
__ADS_1
"Oh, gitu. Hati-hati ya Wi ...!"
"Iya Ra, aku pulang dulu ya. Bye ...!" Ujarnya melambaikan tangannya dan bergegas pergi.
Aurapun segera melenggang pergi menuju ruang kerjanya. Ia segera merapikan berkas yang sudah selesai ia kerjakan.
...DEWI POV...
Aku melihatmu Ra, aku harap kamu hanya sebatas kagum saja pada Pak Vin seperti aku yang mengaguminya sejak dulu saat masih kuliah dan sampai sekarangpun aku masih mengaguminya sebagai atasanku.
Jangan sampai rasa kagummu berlanjut menjadi rasa cinta. Aku tidak mau rumah tangga sahabatku hancur karena orang ketiga. Kalau itu terjadi aku tidak akan membiarkannya begitu saja.
Begitupun aku yang sudah menganggap kamu seperti sahabatku sendiri. Aku tidak mau sahabatku menjadi orang ketiga dan merusak hubungan orang lain. Aku tidak mau sahabatku di cap buruk oleh orang lain.
______
Sesampainya di Wijaya Group, Vin segera bergegas masuk untuk menjemput isterinya yang masih di meja kerjanya.
Vin tidak memberitahu isterinya jika saat ini dia sudah berada di bawah. Beberapa pegawai yang berpapasan dengannya menganggukan kepalanya dan melempar senyum padanya.
"Huh! Tampan sekali, Bu Vannya wanita yang beruntung bisa mendapatkannya," batinnya setelah melewati Vin yang sudah memunggunginya.
"Astaga! Penyegar mataku disaat ngantuk melanda, pasti dia mau jemput Bu Vannya ...!" Batin yang lainnya saat memandangi Vin yang berlalu di hadapannya.
"Masuk," sahutnya dari dalam tanpa melihat ke arah pintu.
"Selamat sore Bu Vannya, yang cantik ...!" Sapanya.
"Heh? Suaranya tidak asing. Siapa dia?" Batin Vannya segera mendongakkan kepalanya dan melihat ke arah pintu.
"Hai isteriku ...!" Sapanya yang sudah berdiri di hadapannya.
"Astaga! Kakak mengagetkanku, kenapa sudah sampai disini?" Tanya Vannya terkejut.
"Bukannya senang karena suamimu sudah datang. Apa kamu tidak suka aku sudah disini?" Ujarnya.
"Bukan begitu, aku senang. Tapi Kakak tidak mengabariku dulu, dan aku belum selesai ...!" Jawabnya berusaha menjelaskan.
"Hmm, kalau aku mengabarimu. Kamu pasti tidak akan fokus bekerja. Tapi terus memikirkanku sudah sampai mana, kenapa belum sampai-sampai. Dan pada akhirnya kamu tidak akan fokus," sahutnya.
"Heh! Terserah Kakak saja lah. Yaudah, Kakak duduk dulu ya, sebentar lagi aku selesai ...!" Ucapnya.
"Kak Chandra dimana?" Tanyanya.
__ADS_1
"Tentu saja di dalam, kan ruangannya di sana," celetuk Vannya.
"Ya sudah, selagi aku nungguin kamu ... Aku mau menemui Kakak ipar dulu ya. Semangat kerjanya, Sayang ...!" Ucapnya seraya mengusap pipi Vannya dengan lembut.
"Hmm," gumam Vannya menganggukkan kepalanya.
Setelah Vin masuk ke dalam ruang kerja Chandra. Tak lama kemudian, Mbak Eni datang mengantarkan berkas yang sudah ia selesaikan.
"Ciee ... Yang di jemput suaminya," goda Mbak Eni yang sudah berdiri di ambang pintu.
"Ih Mbak En ...! Ngintip ya? Atau nguping?" Tanya Vannya mengalihkan pandangannya pada Mbak Eni.
"Tidak sengaja Van, tidak masalah kan? Oh ya, laporan udah selesai nih. Coba di cek dulu, kali saja masih ada yang kurang ...!" Ujar Mbak Eni menyerahkan satu tumpuk berkas dalam dekapannya.
"Wah ...! Cepat sekali Mbak. Makasih ya," ucapnya.
"Hmm, sama-sama Van. Pekerjaanmu masih banyak?" Tanya Mbak Eni.
"Tidak, tinggal sedikit. Mbak Eni udah selesai semua?" Tanya balik Vannya.
"Sudah Van, makanya aku bisa kesini sekarang. Ya udah, aku balik lagi ya. Biar kamu cepat selesaikan pekerjaanmu dan cepat pulang. Jan suamimu dah jemput kamu," ujarnya lagi-lagi membuat Vannya tersipu malu.
"Mbak Eni suka sekali menggodaku. Sekali lagi makasih ya Mbak En," ucap Vannya sebelum Mbak Eni keluar dari ruangannya.
"Iya Van, sama sama ...!" Sahutnya dengan lembut.
Sementara itu,
Tring ...!
"Hallo Bu?" Sahutnya yang sedang merapikan beberapa barked diatas mana kerjanya.
"Kamu sudah mendapatkannya?" Tanyanya tanpa basa-basi.
"Udah Bu, aman ...! Sebentar lagi aku pulang ya," jawabnya.
"Kerja bagus, kalau kamu tidak menyukainya itu terserah. Yang penting kamu sudah mendapatkan itu," ujarnya tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Iya Bu! Ini yang Ibu mau kan? Aku akan melakukan apapun yang Ibu mau mulai saat ini,"
"Heh! Baguslah. Kamu udah mulai sadar apa yang Ibu lakukan adalah untuk kebaikanmu," ujarnya merasa bangga dengan dirinya sendiri.
Telepon terputus begitu saja, Aura segera memasukkan ponselnya ke dalam tas. Sedangkan dia langsung melanjutkan aktivitasnya yang terhenti karena harus menjawab telepon dari Ibunya.
__ADS_1
"Aku tidak tau, mau sampai kapan Ibu tidak meremehkanku. Biar bagaimanapun aku adalah anaknya,"