
"Sus Ani. . Sus belum makan kan? Makanlah ini. Kami memesannya untuk sus."Ujar Maya.
"Terimakasih Bu."Ujar Sus Ani.
"Sama-sama. . Apakah Alina belum kesini Sus?"Tanya Maya.
"Sudah Bu, mereka sedang didalam."Ujarnya.
"Oh baiklah."Ujar Maya.
Maya berdiri mendekati kaca untuk melihat Kinan dan Pak Randy yang sedang melihat kondisi Lia, tanpa terasa air matanya menetes saat melihat Alina tertidur di pelukan Kinan. Seharusnya dia sekarang sedang tidur dalam pelukan Lia, tapi Lia tidak bisa apa-apa.
"Kenapa May?"Tanya Sofi.
"Lihatlah. . gadis mungil itu. Harusnya dia tidur dalam pelukan Lia, tapi sekarang Lia hanya terbaring tak berdaya diatas bed. Kasihan sekali Alina. Dia pasti rindu ibunya." Ujar Maya.
Sofi dan Maya berpelukan menangis untuk kesekian kalinya. Tiba-tiba terdengar suara yang familiar memanggil Maya dari jauh. Maya dan Sofi segera melepas pelukannya dan melihat siapa yang memanggilnya, ternyata Lila. Mereka datang bertiga dengan menenteng buah di tangannya.
"May. . "Panggil Lila.
"Kalian sudah datang?"Tanya Maya.
"Hmm.. Bagaimana dengan Lia?"Tanya Lila.
"Dia masih belum sadar, benturan di kepalanya cukup keras. Tapi pelaku sudah diketahui dan salah satunya sudah di kantor polisi."Ujar Maya.
"Ma..maksudmu ada dua pelakunya?Siapa?" Tanya Lila.
"Seperti dugaanmu La."Ujar Sofi
"Anak kecil itu?"Tanya Lila.
"Hmm.. dan Aku sudah memukulinya mewakili kalian. Kalau menunggu kalian dia keburu di bawa ke kantor polisi." Ujar Sofi.
Lia bangun, aku sudah berubah karenamu. Aku ingin berterimakasih padamu Li. . Apa kau masih marah padaku? Sampai kau tak mau bangun dan mendengar kata maafku di depanmu. -Batin Devi.
"Kalian sudah berkumpul disini?" Tanya Randy yang melihat semua yang ada di depan ruang ICU termasuk Mamah, Papah, Bunda dan Ayah.
"Ada apa?" Tanya Lila pelan.
"Baiklah, keluarkan semua ponsel kalian, sus lihat berdua dengan Sofi ya. Saya akan mengirim sebuah pertunjukkan untuk kalian, ini hanya sedikit hiburan untuk kalian. Dan ingat, tonton secara berurutan dari atas dulu." Ujar Randy.
Randy segera menyalakan ponselnya dan membuka WhatsApp, rupanya dia sudah membuat grup yang anggotanya pegawai divisi pemasaran, dan juga keluarga dari Randy dan Kinan. Tanpa menunggu lama Randy mengirim dua buah video ke grup.
__ADS_1
Semua tersentak saat melihat Sofi memukuli Tante Dona dan Erika dengan garang. Kinan menonton dengan ponsel Randy karena ponselnya masih belum sampai ke tangannya. Setelah selesai menonton semua mata tertuju ke Sofi, sedangkan Sofi segera bersembunyi ke belakang sus Ani yang badanya lebih kecil darinya tentu saja Sofi masih kelihatan.
Astaga. . Pak Randy. .kau diam-diam merekamku saat aku memukuli Tante Dona? Bagaimana kalau aku di pukul balik sama kedua orangtua Pak Randy? -Batin Sofi ketakutan.
Hebat sekali bu Sofi. . .dibalik wajahnya yang tegas ada jiwa garang dan bar-bar juga rupanya. -Batin Haris.
Ya ampuuun. . . Bu Sofi keren sekali, tak apa dia tegas dan aku takut. Setidaknya dia sudah mewakili perasaanku. Terimakasih Bu Sofi. . -Batin Lila.
Andai aku ada disana. . mungkin aku akan melakukan hal yang sama. . Tenang Sofi aku mendukungmu. . .-Batin Maya.
"Jangan salah paham. . . Sofi memukul karena ada alasan. Merekalah yang menyebabkan Kinan dan juga Lia mengalami kecelakaan. Saat ini Erika sudah di kantor polisi, sedangkan Tante Dona masih menjalani perawatan dengan pengawasan ketat di RS tersebut." Ujar Randy.
"Darimana kamu tahu kalau mereka pelakunya Nak?" Tanya Papah.
"Semalam aku langsung meminta ahli IT untuk mengecek cctv dan melihatnya dengan teliti kecelakaan yang terjadi, karena aku tahu Lia tidak mungkin membawa mobil dengan kecepatan tinggi kalau tidak ada alasan." Ujar Randy.
"Lalu bagaimana kondisi Dona sekarang? Walaupaun aku tidak menyukainya, tapi dia tetap isterinya adik ipar Mamah." Ujar Mamah.
"Tante Dona hanya patah tulang. . Ada tiga saksi yang mengetahui kejadian tersebut, dan aku akan memintanya untuk menjelaskannya jika Polisi ingin saksi. Devon karena saat itu dia berada dalam satu mobil bersama Tante Dona, untunglah bukan Devon yang mengendalikan mobilnya. Yang kedua Clara dan Fira, mereka adalah teman Erika yang mendengar langsung penjelasan dari Erika tentang rencana yang ia rancang bersama Tante Dona. Untuk beberapa hari kedepan, Clara dan Fira akan aku berikan seorang pengawal untuk menjamin keamanannya karena aku yakin, Om Harun tidak akan diam saja." Ujar Randy.
"Astaga . . licik sekali mereka. . "Ujar Lila.
"Hmm. . memang kamu tidak salah memilih rahim Mamah untuk mengandungmu Nak. Meskipun kau sering membuat Mamah kesal, tapi kau juga membuat Mamah bangga." Ujar Mamah.
"Astaga. . .Langsung sombong dia." Ujar Mamah.
Tiba-tiba perawat dan doktet lari menghampiri bed Lia, dan seorang perawat meminta Randy dan Kinan juga Alina masuk ke dalam. Randy segera mendorong kursi roda Kinan ke dalam untuk mendekati mereka.
"Ada apa dok?Lia baik-baik saja kan?"Tanya Kinan.
"Ibu Lia telah sadar, tapi sebaiknya dia tidak banyak bicara dulu. Dan ibu Lia meminta kami untuk memanggil kalian, mungkin ada yang ingin beliau sampaikan. Silakan." Ujar Dokter Lani.
"Lia, , kau sudah bangun?" Tanya Kinan mendekati Lia yang di bantu Randy mendorong kursi rodanya.
"Ki..... nan. . " Ucap Lia dengan lemah.
"Diamlah Lia, kau harus banyak istirahat. Kau tidak boleh banyak bicara. . " Ujar Kinan.
"Na..... na.." Ucap Lia lagi.
"Dia disini Lia, dia merindukanmu. Dia pasti senang melihatmu sudah sadar." Ujar Kinan lagi.
"A...aku... aku ti..." Ujarnya terputus karena masih lemah.
__ADS_1
"Ibu. . .ibu sudah bangun bobok Aunty?" Alina mengucek kedua matanya.
"Iya sayang, Ibu sudah bangun.. sini pegang tangan ibu." Ujar Kinan.
"Ibu, Nana kangen."Ujar Alina.
"A...aku.... "Ujar Lia lagi.
"Apa yang ingin kau sampaikan? Cepatlah pulih agar kau bisa menyampaikan dengan jelas Lia. Kami akan mewujudkan semua yang kamu inginkan." Ujar Randy.
"Aunty, Nina mau cium Ibu."Ujar Alina.
"Sini Uncle angkat. . Cium Ibumu biar cepat sembuh ya."Ujar Randy mendekatkan Alina ke wajah Lia.
"Mmuach.. Ibu.. Nana sayang ibu."Ujar Alina membuat Kinan menangis dan juga Lia.
"Ibu juga menyayangimu Nak. Tunggu ibu sembuh dulu ya Nak, supaya Ibu bisa main lagi sama Nana." Ucap Kinan.
"Iya Aunty. ."Ucap Alina.
"Ki.nan... Pa. . pak Randy. Sa..ya ti.. tip Nana. . "Ucap Lia tersendat-sendat dan kembali memejamkan matanya.
"Lia. .. bangun Lia... kamu harus bangun. ... "Ujar Kinan.
"Dokter. .. suster.... "Teriak Randy.
"Dok. . kenapa lia menutup matanya lagi. . . "Ujar Kinan menangis.
"Kalau begitu Ibu dan Bapak keluar dulu, kami akan memeriksanya."Ujar Dokter Lina.
"Tolong selamatkan Lia dok. . . "Ujar Randy.
"Baik Pak." Ujar Dokter Lina.
Randy dan Kinan keluar dengan tangisan, yang lain langsung mendekati Kinan dan menanyakan apa yang terjadi di dalam dan kenapa dokter juga suster masuk lagi dengan terburu-buru.
"Kinan. . . ada apa? Kenapa menangis?"Tanya Maya yang sudah lemas.
"Lia tadi sudah membuka matanya, setelah dia bilang menitipkan Alina, dia menutup lagi matanya." Ujar Randy membantu Kinan menjawab.
"Ti...tidak. . tidak mungkin .. . Lia bangun Lia. . Jangan tinggalkan aku Lia. . " Teriak Maya dengan histeris.
"Maya. . . kamu harus kuat. Dokter sedang menyelamatkan Lia." Ujar Sofi.
__ADS_1
"Lia Fi, , Dia tidak boleh pergi. . . Dia harus sembuh." Ujar Maya.