Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Jl. Kamboja No 7


__ADS_3

"Baik Pak, kalau begitu saya permisi dulu,"


"Iya Ra, sudah tidak ada yang mau kamu tanyakan lagi?" ujarnya.


"Tidak Pak, udah cukup. Nanti saya bisa pingsan kalau kelamaan disini," ucapnya


"Yang ada saya yang pingsan Ra ...!" gumamnya hampir tak terdengar suaranya.


"Bapak bicara apa?" tanya Aura yang mendengarnya dengan cukup jelas.


"Ah? Tidak ...!" jawabnya spontan.


Saat Vannya berdiri dan hendak pergi keluar untuk kembali ke ruang kerjanya, tak sengaja kakinya tersangkut kaki meja hingga membuatnya limbung kehilangan keseimbangan.


Dengan sigap, Vin menangkap tubuh Aura dan membuat keduanya saling bertatapan untuk beberapa saat dnegan jarak yang sangat dekat. Bahkan bagian dada Aura sedikit menekan dada Vin.


"Hmm, Bapak memang tampan ...!" batin Aura tak berkedip.


"Kamu baik-baik saja Ra?" tanya Vin untuk beberapa saat.


"Oh, ya. Saya baik-baik saja Pak. Makasih sudah menolong saya Pak,"


"Hmm, sama-sama ...!"


_______


"Udah?" tanya Dewi yang sudah emnunggunya sejak tadi.


"Udah dong," sahutnya seraya merapikan bajunya.


"Astaga! Apa yang mereka lakukan selama di dalam? Kenapa Aura sampai merapikan bajunya?" batin Dewi.


"Wi, kamu kenapa?" tanya Aura saat melihat wajah Dewi bengong dengan tatapan yang kosong.


"Gak apa-apa Ra, cuma baru liat aja kamu cantik sekali pagi ini," jawab Dewi spontan. Sepertinya mulut dan hati sedang tidak sinkron.


"Ah kamu ini, bisa aja. Tapi makasih ya atas pujianmu, nanti siang makan bareng yuk," ajaknya pada Dewi.


"Oh baiklah, nanti aku tunggu kamu disini aja ya Ra. Toh kalau mau keluar juga lewat sini kan?" ucapnya.


"Hmm, Okay Wi. Kalau gitu aku pergi dulu ya. Bye ...!" ujarnya.


"Bye Ra ...!" sahutnya.


...Dewi POV...

__ADS_1


Entah drama apa yang Aura buat sepagi ini sampai dia berani menemui Pak Vin di dalam sana. Berbagai cara dan alasan aku katakan agar Aura mengurungkan niatnya, tapi aku tak bisa mencegahnya.


Setelah Aura masuk ke dalam sana. Aku justru tidak bosa fokus, lebih baik Pak Vin ada di depan mataku saja agar aku bisa mengawasinya. Mau menyusulpun rasanya tidak etis, apa yang harus aku katakan padanya.


Masa iya kalau nanti Pak Vin atau Aura tanya ada apa padaku. Lalu dengan polosnya aku jawab mau lihat mereka? Mau ketemu Pak Vin juga? Atau mau menemnani Aura?


Haihhh ...!


Aku seperti maju salah dan mundurpun salah, semoga saja mereka benar hanya membahas pekerjaan, tidak lebih. Aku takut sekali Aura berbuat macam-macam saat aku melihat dari senyumnya.


Dan,


Setelah satu jam lamanya aku menunggu. Akhirnya Aura keluar, lalu merapikan pakaiannya. Lagi-lagi otakku traveling berpikir yang tidak-tidak tentang mereka.


...AURA POV...


Aku sengaja berlagak merapikan bajuku, seakan-akan di dalam terjadi apa-apa. Aku ingin melihat ekspresi Dewi, apa dia terkejut dan langsung kepo apa yang aku lakukan selama di dalam.


Tapi, ternyata tidak. Dewi hanya memuji kecantikanku. Padahal aku ingin dia bertanya apa yang aku lakukan selama di dalam. Dna tentu saja aku akan menjawab sedikit adegan orang dewasa. Hahah ...!


Tapi sayangnya, dia terlalu bod*h. Hanya memasang wajah bengong dan membiarkan aku berlalu begitu saja.


Aarrgghh ...!


Aku harus mencobanya ke yang lain, tapi ke siapa? Ah ya Rico, sepertinya tadi dia mulai tertarik padaku. Apalagi melihatku dengan pakaian seperti ini. Bolehlah main-main sedikit dengan yang lain, anggap saja cuma selingan.


Chandra pergi ke sebuah tempat yang jauh dari Perusahaannya. Di hadapannya berdiri sebuah rumah elite namun terasa sangat mencekam. Mungkin pengaruh dari pemiliknya yang memiliki hati jahat.


Dia masih berdiam diri di dalam mobil yang masih berada di luar pagar. Melihat-lihat keadaan di dalam pagar yang sepertinya tidak ada kehidupan disana. Namum suara gonggongan hewan berkaki empat mulai terdengar.


"Astaga ...! Apa mereka melihat kedatanganku," batin Chandra.


Tiba-tiba seorang laki-laki berusia paruhbaya berlari kecil dari balik pohon dan segera membuka pagar yang tinggi. Chandra hanya diam, melihat apa yang akan pria itu lakukan.


Namin ternyata pria itu mendekati mobilnya dan bertanya apa yang sedang dia cari di sekitar sini.


"Selamat pagi, Tuan ...! Maaf sedang mencari siapa?" tanyanya dengan ngos-ngosan padahal dia hanya berlari kecil.


"Sa-saya hanya sedang mencari alamat teman saya Pak, maaf kalau saya sudah mengganggu," ujar Chandra mulai mencari alasan untuk berbohong.


"Memang alamat rumahnya dimana? Mungkin saya bisa bantu,"


"Jl. Kamboja No 7 Pak ...!", Jawabnya.


"Wah, Jl. Kamboja No 7 ya ini Pak. Apakah Bapak teman Nona Aura? Atau ... Nyonya Erika?" tanyanya lagi.

__ADS_1


"Saya teman Aura, belum lama kenal sih. Makanya saya tidka punya nomornya, hanya pernah mengantarkan dia pulang tapi saya lupa lagi dengan lokasinya,"


"Nona Aura sedang bekerja Pak, yang di rumah hanya Nyonya Erika dan 3 asisten rumah tangga ...!" ujarnya.


"Haih! Aku kan belum tanya. Tapi baguslah, itu berrati dia kreatif ...!" batin Chandra.


"Oh, begitu. Baiklah saya pergi lagi saja, tidak enak kalau bertamu tapi tidak bertemu dengan yang saya cari," ujarnya.


"Tidak masuk dulu saja Pak? Sepertinya Bapak datang dari jauh," ucapnya.


"Tidak, Pak ...! Makasih ya," sahutnya segera menyalakan mesin mobil dan berlalu meninggalkan area rumah tersebut.


Ruang Kerja Aura


*Obrolan di Telepon


"Rico ... bisakah kamu ke ruang kerjaku? Tadi ada kecoa di sini. Aku takut sekali,"


"Benarkah? Ah baiklah, 5 menit lagi aku kesana ya Ra ...!" sahutnya yang sepertinya sedang mengetik. Terdengar suara keyboard saling bersahutan.


"Kalau bisa cepat kesini Ric, aku takut sekali ...!" ujarnya.


"Baiklah, ini aku segera kesana. Jangan takut, ada aku ...!"


"Iya Rico ...! Cepat ya," ujarnya berpura-pura ketakutan.


"Target sedang menuju kesini, Okay Ra. Mainkan peranmu," gumamnya seraya berpindah ke sofa di dekan pintu.


Tokk ... tokk ...!


"Ra ... ini aku," ujarnya dari balik pintu.


"Masuk saja Ric, pintinya tidak aku kunci. Aku tidak bisa turun takut kecoanya akan datang lagi dan menyentuhku," sahut Aura.


Cklekk ...!


"Ra, kamu gak gak apa-apa kan?" Tanya Rico segera mendekati Aura.


"Rico, syukurlah akhirnya kamu datang. Aku takut sekali," ujarnya langsung memeluk Rico dengan sangat erat.


"Hmm, iya Ra. Ada aku disini, ya udha aku cari dulu kecoanya ya. Kamu diam aja di sini," ujarnya dengan lembut.


"Hmm, cepat ya Ric ...!" pintanya dengan suara parau.


"I-iya Ra ...!" jawabnya gugup.

__ADS_1


Rico segera bangun dari duduknya mencari kecoa di setiap sudut ruang kerja Aura yang sebenarnya tidak luas. Di pojokan dekat lemari tidak ada, kemudia dia berpindah ke kolong meja tidak ada juga.


"Astaga ...! " Batin Rico saat kedua matanya tak sengaja melihat ke arah depan.


__ADS_2