Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Nyata


__ADS_3

"Pilihan yang tepat, apa yang bisa aku bantu supaya kamu di approve untuk magang di sana?" Tanyanya lagi menawarkan bantuan pada gadis csntik di hadapannya.


"Untuk saat ini, biarkan aku usaha sendiri kak. Bukannya aku menolak, tapi aku ingin berusaha sekuat tenagaku."Ucapnya dengan senyuman ya g tersungging dari bibirnya.


" Baiklah, aku akan selalu mendukung mu. Dan aku selalu ada untukmu kalau kau butuh bantuan. Semangat ya Van,"Ucapnya menyemangati gadis cantik di depannya.


" Hmm.. Makasih Kak Vin. Oh iya, teman-temanku banyak sekali yang mengidolakan Kak Vin."Ujar Vannya.


" Oh ya?"Ucap Vin seakan terkejut dengan perkataannya.


" Hmm.. Hampir di setiap sudut kampus aku selalu mendengar nama Kak Vin." jelasnya lagi.


" Lalu bagaimana denganmu? Apakah kau juga menyebut namaku?" Batin Vin memandangi gadis yang saat ini sedang sibuk menceritakan teman-temannya yang mengidolakan dirinya.


Selesai pertemuan siang ini di Cafe, Vin mengantarkan Vannya kembali ke kampus nya karena masih ada jam pertemuan dengan pembimbing sebelum di lepas ke lapangan.


Sesampainya di kampus, saat Vannya hendak keluar dari mobil, Vin menanyakan sesuatu yang membuat Van ya mengurung kan niatnya untuk membuka pintu mobil nya.


"Van, maukah kamu stay di sisiku menemaniku sampai hari tuaku nanti?" Tanya Vin.


"Apa aku tidak salah dengar? Apa kau hanya halusinasi? Tolong ucapkan sekali lagi supaya aku percaya kalau aku sedang tidak mimpi." Batin Van ya memjamkan kedua matanya dengan wajah yang sudah berubah semu kemerahan.


"Van, kamu mau kan? Jadi pendampingku? Ibudari anak-anakku kelak, menemaniku sampai hari tua bahkan sampai maut yang memisahkan kita untuk sesaat dan kita akan bersatu lagi di syurga-Nya?" Ucap Vin sekali lagi dengan mantap nya.


"Aku tidak mimpi, ini nyata. Apa kak Vin sedang khilaf?" Batin Vannya lagi.


"Hei. Kenapa diam? Rasa ini tumbuh begitu saja, lebih tepatnya saat aku masih kuliah dulu. Dan sampai saat ini rasa itu masih ada. Aku percaya kamulah pemilik hatiku." Ucap Vin meyakinkan Vannya.


"Hmm.. Haruskah aku jawab sekarang?" Tanya Vannya dengan sedikit grogi.


"Tidak perlu, kau jawab saja nanti malam saat aku menyampaikan niatku untuk menikahimu pada kedua orangtuamu." Ucap Vin lagi-lagi membuat Vannya seperti sedang bermimpi.


"Ma-maksud Kakak?" Tanya Vannya.


"Kamu nanti selesai jam berapa? Aku akan menunggu mu disini. Setelah itu aku akan mengantar mu pulang sekalian bertemu kedua orangtuamu." Ujar Vin tanpa merasa ragu.

__ADS_1


"Aku selesai jam 4. Sebaiknya tidak perlu menunggu."Ucap Vannya beralasan supaya Vin tak menunggu ya.


" Aku akan tetap menunggumu, karena aku serius ingin menjadikan mu pendampingku." Ujar Vin lagi.


" Kalau begitu, aku permisi dulu kak." Ucap Vannya segera membuka pintu dan keluar begitu saja tanpa menoleh ke arah belakang.


Jantung ya tak berhenti berdebar sejak tadi, wajahnya masih bersemu merah. Tersirah dengan jelas kebahagiaan dalam dirinya saat ini, ia tak menyangka pria yang menjadi idola anak kampus bahkan mungkin seluruh kota atau penjuru dunia pun menyatakan keseriusan nya padanya.


Di Ruang Pertemuan Lantai 3


"Van..." Panggil seorang temannya yang duduk di kursi depan.


"Hai..." Vannya membalas lambaian tangannya dan menghampirinya.


"Kok baru datang? Diantar siapa kemari?" Tanya temannya.


"Anu... Emmm.. Sama saudara." Jawab Vannya seadanya.


"Saudara ketemu gede ya Van? Mau dong di kenalin sama saudaranya kali aja cakep." Ucap seorang temannya yang lain.


Vannya memilih untuk diam saja dan mengalihkan pembicaraan seputar persiapan sebelum magang besok. Dan mereka pun harus terpisah karena tempat yang mereka pilih berbeda.


Pertemuan Pembekalan oleh dosen pembimbing berlangsung selama kurang lebih dua jam. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 15.30 WIB. Vannya dan teman-temannya segera keluar dari ruangan.


Mereka menuruni anak tangga dengan obrolan santai untuk basa-basi. Sesekali mereka berpose di depan kamera untuk obat rindu selama hampir dua bulan mereka tidak akan bertemu.


Sesampainya di parkiran kampus, matanya tertuju pada mobil sport berwarna putih yang teroarkir di tempat semula saat dia baru datang. Vin benar-benar menunggu Vannya dan rela berada di dalam mobil selama dua jam lama nya.


"Astaga... Kak Vin benar-benar Menungguku. Bagaimana kalau mereka melihatnya, bisa habis aku." pikir Vannya mencari cara supaya teman-temannya pulang lebih dulu.


"Van, kamu pulang sama aku kan?" Tanya Dewi.


"Eh... Enggak Dev. Aku harus mencari beberapa keperluan untuk besok, jadi pulang saja dulu."Ucap Vannya dengan gugup.


" Kamu kenapa gugup seperti itu? Kamu sehat kan? " Tanya Dewi.

__ADS_1


" Hmm.. Aku baik-baik saja Wi, sungguh. Pulang saja dulu. Aku menunggu kakak ku, katanya dia mau jemput." Ucap Vannya beralasan.


" Kamu tidak bohong padaku kan?" Ujar Dewi menaruh curiga pada sahabatnya yang jadi aneh tak seperti biasanya.


"Hmm.. Mana pernah aku bohong padamu Wi." Jawab Vannya dengan cepat seperti sedang lomba kuis.


"Baiklah, aku pulang lebih dulu. Sampai jumpa lain waktu ya Van, jangan lupa hubungi aku sesekali."Ucapnha memeluk Vannya dengan erat.


" Hmm Iya Wi, kamu juga ya. Jaga kesehatan, jangan lupakan aku." Ucap Vannya.


Mereka pun berpisah sore itu di parkiran kampus yang sudah sepi. Vannya masih berdiam diri melambaikan tangannya pada mobil yang sudah semakin menjauh dari tempatnya berdiri.


Setelah mobil tak terlihat, ia segera ingat dengan mobil sport di belakang sana. Vannya segera berjalan mendekati nya sebelum memastikan tidak ada teman-temannya yang melihat.


"Hmm.. Kenapa?" Tanya Vin dengan santai nya.


"Ehh... Tidak..." Jawab Vannya dengan gugup.


"Kau malu kalah teman-temanmu tau aku yang menjemput mu?" Tanya Vin.


"Ti-tidak. Sungguh. Mana mungkin aku malu. Aku hanya ingin melepas kepergian sahabatku, karena kami akan berpisah selama dua bulan." Ucap Vannya beralasan.


"Mana mungkin aku malu Kak, aku hanya tidak mau teman-temanku marah padaku karena kau di jemput cowok idola mereka. Bisa-bisa aku di sate. Disisi lain, mana rela aku membagi pemandangan yang menyejukkan pada mereka." Ucap Vannya dalam hati.


Di Rumah Vannya.


Sesampainya di rumah, Vannya segera masuk ke kamar dan mempersiapkan Vin untuk duduk di ruang tamu. Mamah dan Papah sudah menemani nya disana, Vannya memilih untuk diam di kamar karena jantung ya berdebar lagi dengan kencang ya seperti tadi siang sata dia baru sampai di parkiran.


.


.


.


Jangan lupa Like, Komen, Rate 5 dan juga vote seikhlasnya. 😍😍😍

__ADS_1


Happy Reading 😘😘


__ADS_2