
Rico segera berjalan meninggalkan Aura di teras. Pagi ini hatinya tengah berbunga-bunga. Apa yang dia inginkan selama ini, akhirnya terwujud pagi ini. Senyum bahagia telrukis di sudut bibirnya, membentuk bulan sabit kecil.
"Gimana?" tanya Dewi setelah Rico masuk dan memasang seatbelt.
"Menurutmu?" tanya balik Rico seraya menarik menginjak kopling dengan perlahan.
"Kalian udah jadian? Awwhh ...! So sweet ...!" gumam Dewi.
"Makasih ya Wi, ini semua berkat kamu. Aku gak tau mantra apa yang kamu ucapkan semalam sampai membuat Aura mau menerimaku," ujar Rico.
"Mantra? Kau kira aku penyihir? Enak aja ...!" sahut Dewi memukul lengan Rico.
____________
Setibanya di Perusahaan, Dewi segera bergegas menuju meja kerjanya. Waktu sudah menunjukkan pukul 6.20, sebentar lagi Vin akan tiba. Dewi harus sudah samoai di meja kerjanya sebelum Vin datang.
"Astaga ...! Gara-gara Rico aku jadi harus jalan cepat. Untung aja lift lagi kosong," gerutunya seraya menaiki anak tangga.
"Pagu Bu Dewi," sapa seorang OB yang berpapasan dengannya.
"Pagi Pak, oh iya Pak. Tolong buatkan kopi buat Pak Vin ya Pak ...!" ujar Dewi.
"Baik Bu ...! Ibu mau sekalian saya buatkan?" tanyanya.
"Boleh ...! Makasih ya Pak ...!"
_____
Sementara itu ...
"Mam, kami berangkat dulu ya ...!" pamit Vannya pada Mami setelah sarapan.
"Iya, Sayang ...! Hati-hati ya Nak ...! Kamu jangan kecapekan. Kondisi kamu baru pulih loh," pesan Mmai pada Vannya.
"Iya Mam, Mami hati-hati di rumah. Jangan lewatkan makan siang ya Mam," ujar Vannya.
"Iya Sayang,"
"Mam, berangkat dulu ya ...!" ujar Vin.
"Iya Nak," jawabnya.
Vannya dan Vin segera bergegas berangkat, karena Vannya sudah tak sabar ingin segera sampai di Perusahaan setelah satu pekan lebih tidak bekerja. Di sepanjang jalan, Vannya terus tersenyum membayangkan bisa duduk kembali di kursi kerjanya.
"Senang sekali sepertinya," celetuk Vin saat melihat isterinya terus tersenyum.
__ADS_1
"Pastinya, udah seminggu lebih aku di rumah terus. Akhirnya aku bisa kembali bekerja," sahutnya dengan ceria.
"Tapi hari ini Kak Chandra tidak ada, dia sedang mengunjungi anak Perusahaan di Jogja ...!" imbuhnya.
"Kapam berangkat?" tanya Vin.
"Katanya sih kemarin. Aku baru buka pesan darinya," jawabnya.
"Kak Nana ikut?" tanya Vin lagi.
"Enggak. Kak Nana di temani Dokter Fani katanya. Tadi aku juga langsung chat Kak Nana kok, katanya jangan bilang Mami takut Mami akan kepikiran," ujar Vannya.
"Syukurlah. Setidaknya ada yang menemani Kak Nana hari ini," ujar Vin.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan Ibukota di pagi hari yang sudah tampak ramai. Ibukota di guyur hujan pagi ini, membuat udara terasa lebih sejuk tidak seperti hari biasanya.
"Ah ya, nanti malam aku akan mengundang klien yang datang dari Kalimantan untuk makan bersama di rumah. Bolehkan?" tanya Vin pada Vannya.
"Kenapa tanya aku? Tentu saja boleh, yaudah nanti aku minta Bi Minah untuk belanja lebih banyak. Berapa orang?" tanya Vannya.
"Ya karena kamu isteriku, jadi aku juga harus meminta persetujuanmu Sayang,"
"5 orang, karena mereka ada dua asisten pribadi yang ikut dan putranya yang berusia 5 tahun. Kamu tau? Dia sangat cerdas dan lucu sekali untuk anak seusianya," ujar Vin yang bisa tertawa sendiri saat mengingat Madav.
"Benarkah? Aku jadi tidak sabar ingin melihatnya. Ah ya, Dewi datang juga kan?" tanya Vannya.
"Hmm, makasih Sayang ...!" ujar Vannya.
"Kok kamu yang makasih? Harusnya kan aku," gumam Vin.
"Ya udah, aku bilang makasih buat wakilin kamu," celetuknya.
"Mana bisa begitu," gumamnya.
Setibanya di Perusahaan, setelah berpamitan pada Vin. Vannya segera turun dari mobil san berjalan masuk ke gedung Perusahaan. Tak sengaja ia bertemu dengan Mbak Eni yang sedang berbincang di meja resepsionis.
"Vannya ...! Hai ... !" panggilnya dengan lumayan keras membuat suara menggema karena masih sepi, belum banyak pegawai yang datang.
"Mbak Eni," teriak Vannya yang tak kalah senangnya bisa melihat Mbak Eni.
"Kamu udah baikan? Udah kuat kan?" tanya Mbak Eni seraya memeluk Vannya dengan erat.
"Hmm, aku udah jauh lebih baik Mbak. Malah dari kemarin aku udah mau berangkat, tapi aku harus menemani Mami yang baru tiba di rumah," jawab Vannya.
"Bagaimana kabar Bu Kinan? Aku jadi kepikiran terus sama Bu Kinan," ujar Mbak Eni.
__ADS_1
"Sudah jauh lebih baik Mbak. Walaupun masih suka menyendiri dan berdiam diri di kamar. Tapi cepat atau lambat, Mami akan ceria lagi kok," jawabnya.
"Syukurlah, ikut senang mendengarnya. Ayo kita ke atas bareng," ucapnya.
"Emang udahan ghibahnya Mbak?" celetuk Vannya.
"Enak aja, aku gak ghibah tau. Cuma kepo aja sedikit, lagian aku kesepian selama kamu gak kerja Van. Jadinya aku ke resepsionis aja kalau lagi istirahat," jawabnya.
Mbak Eni dan Vannya bergandengan tangan di sepanjang lorong lantai 7 sampai tiba di depan pintu ruang kerja Vannya. Mereka berpisah di sana, karena ruang kerja Mbak Eni di sudut lorong lantai 7.
"Kalau ada apa-apa, panggil aku aja ya Van ...!" pesan Mbak Eni sebelum berlalu pergi menuju ruang kerjanya.
"Iya Mbak, semangat kerjanya ya. Nanti kalau bosan atau pekerjaan beres kesini saja, temani aku ...!" ucap Vannya.
"Pasti, jangan bosan-bosan kalau aku kayak setrikaan yang bolak balik kesini ya ...!" celetuknya.
Cklekk ...!
...VANNYA POV...
Cat dinding sudah di ganti, suasanapun menjadi snagat berbeda. Rasanya aku seperti salah masuk ruangan. Tapi aku tidak salah, ini memang pintu menuju ruang kerjaku.
Beberapa tanaman berwarna hijau terpampang di setiap sudut ruangan, jendela ruangan terbuka sedikit lebar membuat angin luar bebas masuk menggantikan udara di dalam ruang kerjaku.
Terdengar suara gemericik air hujan di luar, tampias air sedikit masuk ke ruang kerjaku. Setelah meletakkan tas kerjaku, dengan hati-hati aku berjalan mendekati jendela untuk menutup sedikit jendela.
Mungkin Kak Chandra melakukan ini, agar aku tidak teringat dengan kejadian di waktu lalu. Dan itu berhasil, tadinya sebelum membuka pintu. Ada keraguan dalam hatiku, aku terbayang ada sosok pria itu di dalam yang sudah menungguku.
Setelah aku menarik nafas panjang beberapa kali, barulah aku memberanikan diri membuka pintu ruang kerjaku. Dan, semua tidak seperti yang aku bayangkan sebelumnya.
Setelah menutup jendela, aku kembali ke ruang kerjaku untuk menyalakan monitor dan memeriksa laporan yang pasti sudah banyak yang masuk dari beberpaa divisi di bawah.
Tokk ... tokk ...!
"Selamat pagi, Bu Vannya ...!" sapa salah seorang OB yang masuk membawakan secangkir kopi panas untukku.
"Pagi Pak, silakan masuk ...!" ucapku.
"Selamat datang kembali Bu Vannya," ucapnya.
"Terimakasih Pak ...! Wah apa ini," gumamku saat melihat sekitak kue coklat yang diatasnya bertuliskan welcomeback Bu Vannya, manis sekali.
"Hanya kejutan kecil untuk Ibu. Sebagai rasa ungakpan bahagia kami karena Bu Vanna sudah kembali bekerja dengan kondisi yang sehat," jawabnya dengan sopan.
"Terimakasih banyak Pak, tidak perlu seperti itu. Ah, aku jadi ingin nangis," gumamku.
__ADS_1
"Terkadang menangis di perlukan untuk menungkapkan isi hati yang tidak mampu terucap oleh lisan Bu. Kalau begitu, saya permisi. Semoga Ibu suka dengan kuenya," ujarnya.
"Tentu saja suka Pak, sekali lagi ... terimakasih ya pak," ucap Vannya.