
"Iya Sayang! Ayo kita pulang," jawab Alina dengan lembut.
Alina pulang membawa senyuman tipis di sudut bibirna yang mungil. Hari ini dia merasa happy bisa mengunjungi kedua orangtuanya, meski tidak bisa secara rutin.
Chandra dengan sigap menggandeng isterinya, memasnag kedua matanya untuk memastikan jalanan yang mereka lalui aman untuk Alina. Cahaya mentari pagi mulai beranjak keluar dari tempat persembunyian.
Mereka sengaja pergi ke makam pagi-pagi sekali, karena dari pukul 4 pagi Alina sudah bangun dan terus saja mengajak suaminya untuk cepat bangun dan pergi ke makam, merengek seperti anak kecil yang mengajak Ayahnya ke arena bermain.
Dan benar saja, mereka pergi meninggalkan rumah pukul 05.30. Jarak dari rumah ke makam menghabiskan waktu sekitar 30 menit. Saat yang lain baru membuka matanya, mereka justru sudah menginjakkan kakinya di area pemakaman.
Jangan tanya bunga yang mereka bawa dari mana, karena Chandra punya 1001 cara untuk mendapatkan apa yang dia cari. Termasuk bunga untuk mendiang kedua mertuanya yang sudah bahagia di syurga sana.
Sebelum sampai ke mobil, tak sengaja mereka melihat ada gerobak bubur ayam di dekat parkiran pinggir jalan raya. Tanpa banyak bicara Alina menarik tangan suaminya dan mengajaknya untuk mendekati gerobak yang dia lihat
Chandra diam saja dan mengerti apa yang isterinya inginkan. Pasti isterinya lapar, dia memang cepat sekali lapar. Untung saja Mbok Jum tak pernah mengeluh karena setiap saat harus memasak untuk Alina yang bisa saja tiba-tiba request makanan yang baru dia lihat di TV atau aplikasi berwarna merah di ponselnya.
"Sayang, kita makan dulu ya ... ." ujar Alina pelan.
"Iya, pesanlah. Jangan sampai baby kita kelaparan di dalam," ucap Chandra.
Mereka memilih sarapan bubur ayam di dekat area pemakaman. Jalanan tampak masih sepi, entah kebetulan atau memang setiap hari seperti ini. Tapi rasanya nyaman sekali, tidak banyak kendaraan yang lalu lalang membuat udara masih segar untuk di hirup.
Setelah bubur ayam dalam mangkok habis, mereka memutuskan untuk segera pulang. Membersihkan badan dan bersiap menyambut adiknya yang akan datang ke rumah.
Sementara itu,
"Kak, sarapan dulu ... ." teriak Vannya memanggil suaminya yang masih berada di kamar.
"Iya Sayang! Sebentar lagi aku akan turun,"sahutnya dari atas.
"Astaga! Sudah hampir 1 jam belum selesai juga," celetuk Vannya yang sedang menuangkan air panas ke dalam gelas berisi gula dan teh.
Tak lama kemudian mulai terdengar suara langkah kaki dari atas mulai menuruni anak tangga. Vannya melirik sebentar sambil mengaduk teh yang baru berubah warna itu.
"Akhirnya turun juga," ujarnya seraya membawa dua gelas teh di atas nampan kecil.
__ADS_1
"Maaf Sayang! Aku lupa menaruh ponselku," jawabnya dengan wajah menyeringai seperti anak kecil yang ketauan bersalah.
"Kebiasaan, kan sudah aku bilang ponsel keluarkam dari kantong kalau masuk kamar," ucap Vannya.
"Iya Sayang. Maaf, aku lupa. Habis semalam badanku sudah terasa sangat lengket. Jadi aku langsung mandi saja, untung bajuku belum di bawa ke tukang laundry," sahut Vin.
"Ah ya, sore ini laundry akan datang. Nanti sebelum kia pegi Kakak ambil pakaian kotor yang diatas ya. Kita taruh saja di teras," ujar Vannya.
"Okey!" sahutnya segera mengambil nasi goreng yang baunya sudah menggelitik hidungnya sejak tadi.
"Doa dulu Kak," ucap Vannya mengingatkan.
"Iya Sayang, makasih udah ingetin aku. Love you," ujarnya.
"Love you too ... ." jawabnya seraya menggelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya.
Setelah sarapan, dan tes dalam gelas habis tanpa sisa. Vannya segera memindahkan piring dan gelas kotor ke dalam washtafel dan menunggu suaminya yang pergi ke atas untuk mengambil pakaian kotor.
Sambil menunggu Vin, Vannya memeriksa sekitarnya memastikan tidak ada yang kelupaan sebelum pergi meninggalkan rumah sampai sore nanti. Asisten rumah tangga akan kembali sore nanti, dia juga memiliki kunci duplikat sendiri.
"Udah Kak! Tarus situ aja," ucap Vannya.
"Okey! Semua udah aman kan? Udah kamu cek lagi?" tanya Vin memastikan.
"Udah Kak, Ayok kita pergi sekarang ... ." ajak Vannya.
Pintu rumah sudah di kunci. Mereka segera bergegas menuju mobil dan pergi meninggalkan rumah menuju rumah Kak Nana yang berjarak sekitar 15 km atau di tempuh dengan waktu kurang lebih 45 menit dengan kecepatan sedang jika tidak ada macet.
Mereka memutuskan untuk mampir ke toko buah dan toko kue. Kalau main ke rumah orang tanpa membawa buah tangan rasanya tidak enak, dan mereka tidak tau lagi mau bawa apa selain dua pilihan itu.
Vannya yang tau Kakak iparnya menyukai donute strawberry dna cokelat segera memesannya dalam jumlah banyak. Karena dia dan Vin juga akan ikut memakannya disana nanti.
"Kak udah dapat buahnya?" tanya Vannya saat melihat suaminya baru keluar dari toko buah.
"Udah. Nih!" ujarnya mengangkat kedua tangannya yang memegang dua kantong plastik berwarna putih.
__ADS_1
"Okey! Ga ada rencana mampir-mampir lagi kan?" tanya Vannya.
"Mungkin tidak, yuk!" sahutnya.
tring!
Tiba-tiba ponselnya berdering, Vin segera menurunkan kantong plastik di tangan kananna dan merogoh pinsel di kantong bajunya.Ternyata Kak Nana yang menelepon, Vin segera menggeser tombol berwarna hijau.
*Obrolan di telepon
"Hallo Kak? Ada apa? Jangan bilang Kakak ada acara mendadak. Kita sudah hampir sampai," celetuk Vin tanpa mendengarkan Kak Nana lebih dulu.
"*Haiiss! Siapa juga yang ada acara. Kalian udah sampai mana?" tanya Alina.
"Dekat deh pokoknya. Mungkin 10-15 menit lagi kita sampai. Ada apa?" tanya Vin.
"Tolong belikan rujak ya, biasanya tukang rujak yang Kakak biasa belicri perempatan dekat gedung pertemuan," ujar Alina.
"Apa harus beli rujak disitu?" tanya Vin.
"Hmm, kenapa?"
"Kenapa tidak yang lain saja? Aku udah lewat gedung itu Kak!" ujarnya menjelaskan.
"Mundur dikit Dek. Please ya, ini calon keponakan kamu loh yang minta," rengeknya mengatasnamakan baby yang masih dalam kandungannya.
"Babynya kan belum bisa bicara. Mana bisa minta rujak, baby kalau makan rujak nanti kepedesan Kak. Kasihan," celetuk Vin.
"Astaga! Belikan rujak ya Sayang. Kalau gak mau nanti Kakak cari sendiri aja," ujarnya.
"Haiss!! Okey ... Aku sama isteriku yang cantik ini akan putar balik demi rujak. Ya udah, Bye*!"
Vin langsung mematikan teleponnya dan kembali memasukkan ponsel ke kantong bajunya.
"Kak Nana minta rujak?" tanya Vannya yang sejak tadi mendnegarkan obrolan keduanya.
__ADS_1
"Ya, tapi harus rujak yang dekat gedung pertemuan di perempatan depan sana. Jadi kita harus putar balik lagi," jawabnya dengan lirih.