Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Dosen Tamu


__ADS_3

"Lia...." Panggil Maya yang baru keluar dari lift.


"Hai May...." Membalikkan badannya dan menunggu Maya.


"Dimana Kinan?" Tanya Maya yang tidak melihat Lia bersama Kinan.


"Dia sedang menunggu Pak Randy di ruangannya." Ujar Lia menjelaskan.


"Astaga... Dasar bucin.....tapi setidaknya mereka sudah tidak perang dingin lagi. Ayo kita masuk." Ujar Maya.


Maya segera meletakkan bingkisan pada masing-masing meja kerja temannya. Lia meletakkan tas milik Kinan dan merapikan buku yang berada di atas meja Kinan. Tidak lama kemudian Revan datang dan memandangi wajah Maya yang sudah 4 hari tidak dilihatnya.


Akhirnya kamu benar-benar kembali, teruslah tersenyum agar mentari diatas tidak murung. -Batin Revan.


"Ehmm...ehmm..." Ujar Lia ketika melihat Revan tidak berkedip saat melihat Maya.


"Kenapa Li?" Tanya Maya yang baru menyadari kedatangan Revan.


"Tidak, aku seperti menjadi orang ketiga saja disini. Apa aku perlu keluar dulu?" Ujar Lia.


"Tidak perlu, kau duduk saja." Ujar Revan pada Lia. "Selamat pagi May." Ujar Revan menyapa Maya.


"Pagi Van... terimakasih kamu sudah menghandle beberapa pekerjaanku." Ujar Maya.


"Sudah seharusnya kita saling membantu May. Oh iya kau ada janji untuk menceritakannya padaku bukan?" Tanya Revan.


"Baiklah, kita cari waktu untuk bisa bertemu." Ujar Maya.


"Sekarang kalian sudah bertemu May..." Ujar Lia menggoda.


Maya dan Revan hanya tersenyum malu, meraka saling bertatapan tanpa berkedip membuat Lia semakin bersemangat untuk menggodanya.


"Astaga... mata kalian hampir lepas... Yang lain sudah datang, segera perbaiki mata kalian agar telihat normal." Ujar Lia yang melihat dari jauh kedatangan Haris dan Lila.


"Selamat pagi..." Ujar Lila bersemangat.


"Pagi Lila." Ucap Maya.


"Dimana Kinan?" Tanya Lila.


"Di lantai 4." Ujar Lia.


"Apakah mereka benar-benar akan menikah?" Tanya Lila.


"Menurutmu bagaimana?" Tanya Maya.


"Beruntung sekali Kinan bisa mendapatkan Pak Randy " Ujar Lila.


"Yang beruntung bukan hanya Kinan, tapi juga Pak Randy. Karena Kinanlah Pak Randy menjadi hangat dan tidak seseram dulu. Dan kalau kalian tahu rumah Eyang Kinan di Jogja, kau tidak akan percaya." Ujar Maya.

__ADS_1


"Apakah Kinan keturunan Raja?" Tanya Lila.


"Tidak tahu, mungkin bisa jadi. Tapi mereka tidak mau sombong. Rumah Eyang sangat besar, banyak sekali ruang dan juga pendopo yang luas. Dan disana juga kami di berlakukan secara terhormat dan dilayani dengan sangat baik." Ujar Lia.


"Tapi Kinan tidak pernah menunjukkan kemewahan pada kita." Ujar Haris.


"Itulah hebatnya Kinan, dia bisa berlaku seperti gadis pada umumnya, dan bahka begitu sederhananya." Ujar Maya.


"Hai selamat pagi.... apakah kalian sedang ber ghibah?" Tanya Devi.


"Lila yang membuat kami ghibah." Ujar Maya.


"Wah apakah ini oleh-oleh dari Jogja?" Tanya Devi melihat ada sebuah bingkisan di mejanya.


"Iya itu dari Kinan untuk kalian." Ujar Lia.


"Bagus sekali, lucu……Ada makanan khas Jogja juga." Ujar Lila senang.


Mereka segera duduk di kursi masing-masing dan berkutat dengan monitor di meja kerjanya.


"Hai semuanya..... Maaf terlambat." Ujar Kinan.


"Hai Kin..... Tidak apa terlambat." Ujar Lila.


"Kau lama sekali diatas? Apakah membuat kopi selama itu?" Tanya Maya.


"Lalu kau apakan dia?" Tanya Maya penasaran.


"Dia mengataiku wanita mura*an, aku balas saja sebisaku. Toh aku resmi tunangannya Mas Randy, sedangkan dia terus mengejar-ngejarnya." Jawab Kinan lagi.


"Berani sekali dia... Lalu bagaimana respon Pak Randy?" Tanya Maya lagi semakin penasaran.


"Kau ingin tahu?" Tanya Kinan.


"Hmm.... tentu." Jawabnya dengan yakin.


"Tanya sendiri saja pada mas Randy." Ujar Kinan membuat yang lainnya kecewa.


"Yahhhh...." Ujar mereka bersamaan membuat Kinan dan Maya hanya saling bertatapan karena tidak menyadari ada 5 pasang mata yang sejak tadi menguping.


"Kalian menguping kami?" Tanya Maya menyipitkan kedua matanya.


"Suaramu sangat keras May, bagaimana kami tidak akan mendengarnya." Ujar Lia tersenyum.


"Benarkah?" Maya tak percaya.


"Sudah-sudah.... kembali bekerja atau nanti Sofi akan memarahi kita kalu terus saja ghibah." Ujar Kinan.


Tiba-tiba ponsel Kinan berdering dan sebuah pesan masuk dari Dosen yang dulu menjadi pembimbingnya. Kinan segera membukanya, dan ternyata Pak Tommy meminta Kinan untuk datang ke kampus sebagai dosen tamu besok lusa sekaligus memberikan motivasi kepada mahasiswa disana.

__ADS_1


Waktu makan siang telah tiba, Kinan tidak bisa ikut dengan teman-temannya untuk makan siang bersama karena sudah janji akan menemani Randy makan siang bersama temannya. Namun Sofi ikut bergabung dengan Maya dan yang lainnya karena dia tidak ada teman untuk makan siang.


"Sayang, kau sudah siap?" Tanya Randy yang sudah duduk di sampingnya.


"Tentu saja. Ayo berangkat." Ujar Kinan.


Sesampainya di restaurant Randy diarahkan ke private room, disana Gerry telah menunggunya bersama isterinya yang sedang mengandung anak pertama mereka. Gerry dan Ghea sudah 3 tahun menikah, namun komunikasi antar Gerry dan Randy tetap terjalin meski mereka sudah berbeda negara.


"Selamat siang Ran, sudah lama kita tidak berjumpa." Ujar Gerry dengan senangnya.


"Siang Gerry, maaf kami terlambat. Hai Ghea. Perkenalkan dia Kinan calon isteriku." Ujar Randy memperkenalkan Kinan.


"Hai Kinan, senang bertemu denganmu." Ucap Ghea dengan ramah.


"Hai Ghe.. " Ucap Kinan.


"Kapan kalian akan menikah?" Tanya Gerry.


"Bulan depan." Jawab Randy dengan cepat.


"Kinan, kau harus berhati-hati dengannya." Ujar Gerry bercanda.


"Berhati-hati untuk apa?" Tanya Kinan bingung.


"Banyak wanita yang mengejarnya, tapi dia akan cuek saja." Ujar Gerry.


"Tenang saja, aku akan membuatnya terlihat jelek agar tidak menarik lagi." Ujar Kinan.


Mereka tampak akrab, Ghea dan Kinan bertukar nomor untuk menjalin pertemanan. Gerry dan Randy sepertinya sedang berbincang mengenai pekerjaan mereka yang akan mereka kerjakan bersama. Ghea dan Kinan memisahkan diri dari meja Randy dan Gerry agar mereka leboh leluasa untuk ngobrol.


"Ran, kau kenal dengan dia dimana?" Tanya Gerry.


"Dia bekerja di Ardhana Group." Ujar Randy.


"Wah. Jodoh memang bisa datang kapan saja. Aku harap kau serius dengan ucapanmu tentang pernikahan itu." Ujar Gerry.


"Ya aku serius, dan kau harus datang." Ujar Randy.


"Mana mungkin aku tidak datang. Oh iya bagaimana dengan Febby? Bukankah dia juga menyukaimu?" Tanya Gerry yang juga tahu tentang Febby.


"Entahlah aku tidak tahu tentang itu, aku hanya berteman dengannya tidak lebih." Ujar Randy.


"Sebaiknya kau jangan beritahu dia tentang pernikahanmu. Dia menyukaimu sejak dulu, dan aku yakin dia akan melakukan apapaun untuk mendapatkanmu, apalagi sekarang dia sudah terkenal. Dia akan membuat isu untuk menarik simpati banyak orang." Ujar Gerry.


"Hmm.. Aku akan memeperkenalkan Kinan pada Febby setelah kami menikah." Ujar Randy.


"Itu lebih baik, Dan lebih baik lagi jika kau tidak usah mengenalkannya. Cukup kau memberitahu saja Kinan, jangan Febby." Ujar Gerry.


"Akan aku pikirkan." Ujar Randy menatap Kinan syang sedang berboncang dengan Ghea.

__ADS_1


__ADS_2