
"Hmm," aku hanya mengangguk.
"Terimakasih Pak," ucapnya menggengam lagi tanganku dengan erat.
"Tapi dengan syarat," ucapku.
"A-apa itu?" tanyanya.
___________
"Jangan sampai isteriku tau. Dan juga orang lain kecuali Ibumu," jawabku.
"Baik Pak, sekali lag terimakasih. Kalau begitu, apakah boleh saya minta foto berdua dengan Bapak? Untuk saya tunjukkan pada Ibu, agar dia tidak memaksa saya lagi," ujarnya beralasan.
"Hmm, satu saja!" ucapku.
_______
Setelah ber-swafoto Aura berpamitan untuk pergi kwbih dulu karena masih ada urusan lain. Tinggalah Vin yang masih terdiam di meja seorang diri, entah apa yang sedang ia pikirkan di benaknya.
"Ssstt!" sebuah suara tertangkap oleh telinganya.
Vin segera menoleh mengikuti sumber suara yang abru saja ia dengar. Terlihat Chandra berdiri dengan senyum simpulnya serta melambaikan tangan. Tanpa di panggil untuk kedua kalinya Vin segera beranjak mendekati Vin yang ternyata dia berada di sebelahnya sejak tadi.
"Kakak disini?" tanyanya.
"Yang kau lihat apa?" celetuknya tanpa berging dari tempat duduknya.
"Kakak mendengarnya?" tanyanya lagi.
"Tentu saja. Aku mendengar semuanya,"jawabnya tanpa basa-basi.
"Semuanya?" terkejut, dua matanya membulat dengan sempurna seperti bola pingpong.
"Astaga! Apa pendengaranmu bermasalah? Jangan lama-lama menatapku seperti itu, aku tidak ingin kau khilaf,"
"Haiss! Hmm, lalu apa rencana Kakak?" tanya Vin untuk kesekian kalinya.
"Belum ada rencana, tapi akan segera aku rancang. tenanglah,"
__ADS_1
"Astaga! Aku kira Kakak sudah merencanakannya dengan bagus. Hmm, satu lagi. Boleh aku bertanya?"
"Kau dari tadi sudah bertanya, dan sekarang baru meminta izin? Tanyakan saja," ujarnya.
"Hmm, makasih. Aura bilang dia di jodohkan dnegan pria yang sudah menikah, apakah pria yang dia maksud itu Kakak?"
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya balik.
"Iya atau tidak?" ujarnya tanoa menjawab pertanyaan Chandra.
"Tentu saja bukan, mana mungkin Mamahku menjodohkan aku dengan gadis lain. Sedangkan saat ini Kakakmu jadi idola di keluarga besarku," jawabnya.
"Lalu kenaoa Kakak menyuruhku untuk mengiyakan? Apa jangan-jangan dia meminta bantuan Kakak, tapi Kakak melemparkannya ke aku?" tanyanya penuh curiga.
"Heh? Otakmu tidak sehat Vin, mana mungkin aku akan berpikir seperti itu. Aku memintamu untuk mengiyakan, supaya kita tau apa sebenarnya rencana Aura dan juga Ibunya," ucapnya menjelaskan.
"Maksudmu Ibu kandungnya?"
"Siapa lagi kalau bukan Ibu kandungnya. Kan Ibu tirinya sudah meninggal," sahutnya.
"Hmm, lalu aku harus bagaimana? Aku takut,"
"Takut Vannya akan tau? Tenang saja, akan aku pastikan Vannya tidak tau. Aku akan membantumu supaya Vannya tidak marah lagi," ujarnya.
"Sekarang pulanglah. Aku juga mau pulang, pasti Kakakmu sudah sangat merindukanku,"
Mereka pun berpisah, dan memutuskan kembali ke rumah masing-masing. Sebelum sampai rumah, Vin menyempatkan dirinya untuk mampir ke toko hadiah. Meski tidak seberapa, setidaknya akan sedikit mengurangi kemarahannya.
Tak perlu berlama-lama Vin berada di dalam toko hadiah. Dalam waktu tak lebih dari 10 menit Vin sudah kembali ke luar diikuti pekerja toko membawa hadiah yang baru dibelinya dan membantu memasukkannya ke dalam mobil.
"Hmm, semoga dia suka dengan apa yang aku belikan untuknya," batin Vin penuh dengan harap.
Dalam waktu 20 menit, mobil mulai berbelok memasuki halaman rumah yang luas. Terlihat seorang ART berdiri di depan pintu, dan segera berjalan ke arah parkiran mendekati mobil yang baru saja datang.
"Bi, tolong bantu bawakan ya .... ." ujarnya seraya membawa se-buket mawar putih kesukaan Vannya.
"Iya Tuan," jawabnya segera membuka pintu mobil belakang mengambil barang di jok mobil belakang.
"Dia dimana Bi?" tanyanya.
__ADS_1
"Di kamar Tuan, baru saja naik ke kamar ... ." jawabnya seraya menutup pintu mobil dan berjalan di belakang Vin masuk ke rumah.
...VANNYA POV...
Semoga Kak Chandra benar-benar akan membantuku. Harapanku satu-satunya cuma Kak Chandra, tidak mungkin kalau aku bilang ke Kak Albi. Pasti dia akan marah dan bisa-bisa datang ke rumah untuk membawaku pulang ke rumah Mamah sama Papah.
Huh!!
Ternyata aku sudah lama disini, waktu makan siang masih 3 jam lagi. Sebaiknya aku kembali ke kamar sebelum Kak Vin pulang. Dan aku akan tidur, biar aku tidak melihat wajahnya.
Bukannya minta maaf, malah dia tetap pergi menemui Aura. Apa Aura sepenting itu buat Kak Vin? Aiihh! Van, sabar Van! Kamu jangan stress, jangan sampai kamu akan menyesal nantinya.
Kalaupun Kak Vin memang begitu, semoga saja dia hanya sedang khilaf. Aku sebenarnya tidak benci, tapi aku hanya kesal. Ya cuma kesal, tidak lebih. Entah kenapa emosiku tak bisa aku tahan sejak semalam.
Tapi wajar saja sih kalau kesal, mana ada isteri yang akan tetap sabar saat tau suaminya ada hubungan dengan wanita lain. Apalagi wanita itu staff sekretarisnya, aku harus meminta bantuan Dewi juga.
Akhirnya aku beranjak dari basemant yang sudah memberikan ketenangan untukku pagi ini. Di lantai atas tidak terlihat ada orang, hanya terdengar suara pisau yang entah sednag memotong apa di sana.
Saat aku hampir selesai menaiki anak tangga, ada yang memanggilku. Ternyata Bi Minah, dia menanyakan siang ini mau disiapkan buah apa. Setelah aku menjawabnya, dia segera berlalu dna menghilang di balik tembok pembatas dapur dengan ruang tengah.
Akupun segera berlalu menuju kamarku, kunyalakan AC sebelum aku tidur. Cuaca di luar sangat panas, terlihat langit begitu cerah dan membuatku harus menyipitkan kedua mataku jika melihat ke arah luar.
Setelah membaringkan tubuhku di atas kasur dan menutupi badanku dari ujung kaki sampai sebatas pinggang dsengan selimut, aku segera memejamkan kedua mataku. Berharap bisa segera tidur dan melupakan semuanya.
______
"Tuan, ini mau taruh dimana?" tanya Bi Minah.
"Taruh di sofa sana saja Bi, makasih ya!" ucapnya dengans senyum simpul.
"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi untuk menyiapkan makan siang," ujarnya segera berlalu.
Vin memutuskan untuk mandi sembari menunggu isterinya bangun dari tidur. Badannya penuh dengan keringat, karena di luar cuaca begitu panas.
Sementara itu,
Setibanya di rumah, Chandra langsung mandi sebelum menemui isteri dan kedua orangtuanya yang sedang duduk di gazebo halaman tengah rumah.
Dia mandi dengan jurus seribu bayangan supaya cepat selesai dan bisa menemui isterinya. Dan benar saja dalam waktu 10 menit dia sudah keluar dari kamar mandi dan segera mencari baju ganti yang nyaman untuk di pakai.
__ADS_1
"Pasti nanti Alina akan langsung memelukku dan tidak mau lepas dariku,"
"Bagaimana tidak, aku sudah wangi, rapih tampan. Pasti Alina tidak akan rela orang lain melihat suaminya yang tampan ini," gumamnya seraya berdiri dengan beberapa gaya sambil memuji dirinya yang terlihat sempurna di depan cermin.