
Selama di Kota Pelajar mereka berkeliling dari satu tempat ke tempat lain di pandu oleh Pak Parjo dan Pak Slamet. Kinan dan Randy semakin lengket dan tidak malu-malu lagi untuk menunjukkan kemesraan di depan teman-temannya.
Minggu siang mereka kembali ke ibukota, karena senin sudah mulai dengan rutinitas kerja. Kinan membeli beberapa oleh-oleh khas Jogja seperti bakpia dan makanan lainnya juga cinderamata untuk teman-temannya yang ia titipkan pada Maya agar Maya yang memberikan kepada mereka saja.
"Selamat pagi."Ujar Lia yang melihat Kinan tersenyum lebar.
"Pagi Lia...." Sapanya. "Apa kau tidak lelah Lia? Maaf ya harus menjemputku setiap hari." Ujar Kinan.
"Sudah menjadi tugasku Kinan. kalau aku tak menjemputmu lalu aku harus bekerja apa lagi?" Ujar Lia menyunggingkan senyuman tipis di bibirnya.
"Hmm baiklah. ayo kita berangkat." Ujar Kinan.
•• *Sayang kau sudah berangkat?••
•• Baru saja jalan. Kenapa sayang?••
•• Tidak, nanti buatkan aku kopi, aku rindu kopi buatanmu.••
•• Iya sayang* ••
Kinan senyum-senyum tanpa arti setelah membalas chat dari kekasihnya. Setelah kejadian di Jogja kemarin Randy semakin mesra dan perhatian padanya, bahkan akan terlihat lebay saat Randy cemburu tanpa alasan membuat Kinan dan teman-temannya bingung harus bagaimana agar Randy tidak cemburu lagi.
Sesampainya di kantor, Kinan segera naik ke lantai 4 untuk membuatkan kopi. Sedangkan Lia langsung pergi ke ruang kerja Kinan membawakan tas kerja Kinan. Baru sekali membuatkan kopi untuk Randy Kinan sudah ingat dengan tahap-tahap yang harus ia lakukan meski membuatnya menggelengkan kepala karena harus menghitung adukan dan juga mengukur suhu air panas.
Saat Kinan selesai mengaduk, tiba-tiba sebuah tangan melingkar di perutnya dan sebuah ciu*an mendarat di tengkuknya membuatnya merinding. Kinan segera membalikkan badannya untuk melihat wajah tampan kekasihnya.
"Pagi sayang..." Ujar Randy dengan lembut.
"Pagi juga sayang, kenapa kau keisni? Kopi sudah jadi." Ujar Kinan.
"Aku tidak sabar ingin segera melihat senyumu dan memeluk tubuhmu sayang..." Bisik Randy membuat wajah Kinan bersemu merah.
"Sayang, jangan terus-terusan membuatku malu, ayo kita kembali ke ruang kerjamu." Ujar Kinan.
"Kau tak perlu malu sayang, aku kan calon suamimu. CUPP." Randy mencium pipi Kinan yang lagi-lagi membuat wajah Kinan kembali bersemu merah.
Astaga .... dia habis sarapan apa? Kenapa dia terus-terusan membuatku berdebar.... Jangan goda aku terus sayang... -Batin Kinan menatap punggung Randy yang sudah berjalan di depannya.
Kau sangat lucu ketika wajahmu bersemu merah sayang... Aku suka melihatmu seperti ini... Aku akan terus menggodamu lagi dan lagi agar kamu tidak bisa jauh-jauh dariku. -Batin Randy*.
"Sayang... kemarilah..." Ujar Randy saat Kinan baru masuk dari pantry dan menutup pintunya.
"Iya sayang...." Kinan nberjalan membawa secangkir kopi untuk Randy.
__ADS_1
"Lihat ini." Ujar Randy.
"Apa?" Kinan mendekat pada Randy dan di tarik untuk duduk si pangkuannya.
"Kau lihat-lihat dulu tema yang kau inginkan untuk pernikahan kita nanti sayang." Ujar Randy memeluk tubuh Kinan.
"Hmm... Baiklah. Kau sendiri ingin outdoor ata bagaimana sayang?" Tanya Kinan.
"Aku ikut saja denganmu, asalkan malam hari setelah pernikahan kau melayaniku." Bisik Randy menggoda Kinan.
"Apakah hanya itu yang ada di otakmu?" Tanya Kinan .
"Hm.. apa lagi kalau bukan itu? Aku sudah memiliki uang banyak, rumah sudah ada, makan tinggal panggil pelayan, kau tidak perlu masak, cukup layani aku saja sepanjang hari." Ujar Randy.
"Hmm. tapi masih ingin bekerja sayang. Bolehkan aku tetap bekerja?" Tanya Kinan.
"Boleh, kau ikut saja denganku ke kantor. Dan kita akan ber*inta di ruangan ini." Ujar Randy.
"Astaga..... Otakmu sepertinya perlu di cuci sayang." Ujar Kinan.
Tiba-tiba pintu terbuka, Erika datang untuk menemui Randy dan memarahinya karena pergi ke Jogja tanpa mengajaknya. Namun saat melihat seorang wanita ada dalam pangkuan Randy seketika dia marah dan menyeret tangan Kinan untuk segera turun dari pangkuan Randy.
"Turun kau dari pangkuannya. Dasar wanita mura*an. Kau pikir kau siapa berani menggoda calon suamiku." Ujar Erika.
"Apa kau tuli? Kenapa diam saja. Keluar." Teriak Erika.
"Sayang kemarilah." Randy menarik tangan Kinan dengan lembut dan memangkunya kembali.
"Kak, apa-apan ini? Apa kau sedang membuatku cemburu agar aku memintamu untuk segera menikahiku?" Tanya Erika kesal.
"Kau tak perlu melakukan itu, karena aku akan menikah dengannya. Aku mencintainya, dia masa depanku." Ujar Randy.
"Apa?? Kau pasti mendekatinya karena ingin hartanya kan?Dasar wanita mura*an." Ujar Erika.
Astaga... apa dia sedang mengatai dirinya sendiri. Hmm... sepertinya aku pernah lihat anak ini.... Oh iya dia anak semester 2 di kampusku. -Batin Kinan.
"Apa kau bisu?" Erika semakin kesal karena Kinan hanya diam.
"Sepertinya tidak ada yang perlu aku jawab darimu. Kau anak semester 2 kan? Aku bisa saja membuatmu keluar dari kampus itu. Dan asal kau tahu, Randy hanya milikku. Bukan milikmu." Ujar Kinan.
Apa dia calon isteriku? Tak ku sangka dia akan seberani ini. Sebaiknya aku diam saja, aku ingin melihat seberapa berani Erika pada Kinan.-Batin Randy dengan tenang.
"Memang kau siapa? Berani sekali mengancamku? Apa kau tidak tahu aku putri...." Ujar Erika yang terpotong oleh Kinan
__ADS_1
"Putri tunggal Pak Harun bukan? Dan kau mengejar-ngejar calon suamiku yang jelas-jelas tidak mau denganmu. Lalu siapa yang mura*an? Aku atau kau adik kecil?" Tanya Kinan pelan masih duduk di pangkuan Randy.
Berani sekali dia padaku.- Batin Erika.
"Kau pikir aku tidak berani padamu?" Tanya Kinan.
" CUPP " Randy melu*at bibir Kinan dengan lembut.
"Sayang.... Sabar... Ada anak kecil yang melihat." Ujar Kinan melirik Erika yang masih duduk di kursi hang bersebarangan dengan mereka.
"Dia akan pergi sendiri sayang. Aku mencintaimu." Ujar Randy mengecup pipi Kinan.
"Aku juga mencintaimu..." Ujar Kinan terus memancing Erika.
"Dasar tidak tahu malu." Ujar Erika pergi menjauh dari mereka.
"Aku tidak menyangka, calon isteriku seberani ini." Ujar Randy memuji Kinan.
"Dia kan masih kecil. Aku tidak akan membiarkan dia merebutmu. Aku tidak akan kalah dengannya. Tidak tahu kalau Febby yang datang." Ujar Kinan.
"Dia hanya teman sayang, tidak lebih. Aku akan memperkenalkan dia denganmu jika sudah waktunya." Ujar Randy.
"Baiklah sayang... Ya sudah aku akan kembali ke ruang kerjaku." Ujar Kinan.
"Kau akan tetap aku gaji walaupun kau tidak bekerja hari ini sayang." Ujar Randy tidaa mau melepaskan pelukannya.
"Tapi aku harus tetap bekerja, biar bagaimanapun aku memiliki tanggungjawab di divisi pemasaran." Ujar Kinan.
"Sayang, aku ingin kau tetap disini untuh hari ini." Ujar Randy menenggelamkan wajahnya pada tubuh Kinan.
"Sayang, jangan seperti anak kecil." Ujar Kinan.
"Tidak apa, toh dengan calon isteriku sendiri." Ujar Randy.
"Hmm. aku mencintaimu." Ujar Kinan.
"Aku juga." Ujar Randy.
"Lepaskan aku sayang." Ujar Kinan.
"Ci*m aku dulu sayang." Pinta Randy.
Mereka kembali berci*man dengan mesranya dan Kinan masih berada di pangkuan Randy. Setelah hampir 5 menit mereka berciuman, akhirnya Randy mau melepaskannya dan membiarkan Kinan kembali ke ruang kerjanya.
__ADS_1