
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 07.15 WIB, Vannya sudah tiba di halaman Wijaya's Group. Suasana masih sepi, terlihat dua penjaga berbadan tegap sudah berdiri di depan pintu masuk.
"Semoga hari ini berjalan dengan lancar, tenang Van! Kamu pasti bisa, toh hari ini hanya pembekalan bukan? Don't panic, give your best smile, Vannya!"
"Selamat Pagi, Nona! Silakan!" dengan senyum ramahnya kedua penjaga di depan mempersiapkan Vannya masuk.
"Terimakasih, Pak!"
Setelah melewati dua penjaga berbadan tegap, Vannya segera mendekati meja resepsionis untuk menanyakan ruang yang harus ia datangi pagi ini.
"Selamat Pagi, Bu! Maaf, saya Vannya Mahasiswi magang dari Xx," dengan ramah memperkenalkan diri dan memperlihatkan id card kemahasiswaan.
"Selamat pagi, Nona! Selamat datang di Wijaya's Group! Kalau begitu, silakan saya antar Nona ke ruang tunggu," dengan sopan dan ramah ya salah satu resepsionis mempersilakan Vannya untuk mengikutinya.
Lift menuju ke lantai 12, tidak ada obrolan selama di dalamnya. Mereka sama-sama canggung untuk memulai obrolan antar keduanya. Dan Vannya pun hanya sesekali tersenyum, saat berada pandang dengan resepsionis.
Setibanya di lantai 12, lagi-lagi resepsionis mengajak Vannya menuju ruang di tengah lorong lantai 12. Diatas pintu tertulis, The guest lounge.
"Silakan masuk, Nona! HRD akan datang 30 menit dari sekarang. Kalau begitu saya permisi dulu," Pamit ya dengan sopan.
"Terimakasih, Bu!"
Kini Vannya hanya seorang diri di sana, ka membernaika diri untuk melihat-lihat seksi ruangan. Bahkan meja kaca terlihat begitu mengkilat, membuatnya enggan untuk menyentuhnya karena tidak ingin mengotorinya.
"Hmm.. Pegawai disini begitu ramah. Semoga suatu saat aku juga bisa bekerja di Perusahaan ini. Siapa sih yang tidak ingin bekerja disini?"
ALINA-CHANDRA POV
Mentari telah beranjak pergi keluar dari tempat persembunyiannya. Chandra sudah bangun sejak 30 menit yang lalu, tapi dia tak bergerak sedikitpun saat ini.
Ia tak ingin mengganggu tidur isterinya yang masih begitu lelap. Wajahnya terlihat tenang dan damai, bahkan Chandra bisa melihat sebuah senyuman terlukis jelas di wajah Alina.
Tak ada kata bosan, untuknya memandang wajah Alina lebih lama. Semalam, saat kedatang kedua orangtuanya ke rumah. Kebahagiaan semakin jelas terasa, Alina bahkan sangat bahagia bisa bertemu dengan Mamah Iren.
"Good morning dear. Have a good day, seeing your sleeping face is a gift from God that I have. Stay with me, until death does."
Sebuah ucapan mengalir begitu saja dari dalam mulutnya. Begitulah kenyataannya, saat Chandra bangun harus melihat wajah istrinya dulu. Bahkan ketika bangun tidak melihat istrinya, dia langsung mencari keberadaan istrinya saat itu juga.
__ADS_1
" Hmmm ... Sayang, kamu sudah bangun? Gak kerja?"tanyanya dengan kedua matanya yang masih terpejam.
" Aku boleh kerja hari ini?" tangannya membelai kepala isterinya dengan lembut.
" Boleh, tapi nanti dulu. Aku ingin peluk kamu," Ucapnya dengan manja membuat Chandra tersenyum karena tingkah istrinya yang menjadi begitu manja sejak dua hari ini.
" Kamu sudah memelukku semalaman, Sayang! Apa kau tak bosan memelukku terus?"
"Jadi kamu bosan aku peluk? Ya sudah, pergi aja sana!" dengan ketus Alina segera melepas pelukannya dan turun dari ranjang dengan wajah datar tak bisa di tebak.
"Honey, bukan gitu maksudku ... Dengarkan dulu,"
"Udah sana pergi aja, jangan kelamaan di rumah. Kami bosan kan setiap hari ketemu aku," dengan kesal Alina segera meraih ponsel dah berlalu pergi keluar kamar.
Brakkk!!!
Pintu kamar di bantingnya dengan cukup keras, membuat Chandra yang tadinya ingin memejamkan untuk beberapa saat terperanjat kaget karena kelakuan Alina.
" Astaga! Dia benar-benar marah ... Gawat! Ini akan menjadi sangat panjang kalau aku tidak segera meminta maaf, baiklah aku pesan bakso beranak saja. Kan dia suka bakso nya kemarin,"
Di raihnya ponsel di atas nakas, dan menghubungi pelayan dij bawah untuk membeli lagi bakso yang kemarin di belinya. Chandra yakin, Alina akan kukuh dengan semangkuk bakso.
Sementara itu...
Alina turun ke lantai dua untuk mencari Mamah Iren, tak menunggu waktu lama ja bis menemukanya di teras dekat kolam renang. Mamah Iren suka sekali dengan bunga, dan pagi ini di lihatnya Mamah sedang berdendang dengan kedua tangan sibuk menyiangi bunga dan menatanya dalam vas kecil.
"Pagi, Mah!" Sapa Alina ketika sampai dekatnya.
"Pagi, Sayang! Kau sudah bangun? Apakah badanmu sudah enakan?"
"Udah, Mah! Aku baik-baik aja. Boleh aku bantu Mah?" Ujar Alina menawarkan dirinya.
"Boleh, boleh ... Makasih, Sayang!"
Kedua wanita yang teriakat dalam hubungan menantu dan mertua terlihat sangat akrab. Terlibat beberapa obrolan hingga membuat keduanya tertawa karenanya.
Suara gemericik air dari arah kolam saja kalah dengan suara keduanya yang sepertinya terlibat dalam obrolan dengan tema cukup menarik pagi itu. Alina dengan semangatnya mendengarkan.
__ADS_1
"Mamah tidak habis pikir, bagaimana bisa dia alergi dengan perminyakan, sedangkan dulunya Opah kan seorang pengusaha minyak,"
"Dulu pernah ... Dia ikut dengan Opah ke Perusahaan, padahal Opah sudah bilang kalau disana banyak minyak. Tapi si Chan kekeh mau ikut, mau tidak mau dia di bawa saja. Dan kamu tau? Sesampainya di sana, wajah si Chan langsung pucat, yang tadinya dari rumah sudah berpamitan mau bantu Opah sampai sana malah menambah kerjaan Asisten Opah." Dengan semangatnya Mamah Iren menceritakan tentang masalalu Chandra.
"Terus, gimana Mah?" rupanya Alina sangat penasaran dengan cerita masa kecil suaminya yang kadang seperti tembok, dan kadang juga seperti anak kecil.
"Asisten Opah mencari cara supaya Si Chan aman dari jangkauan minyak. Akhirnya dia cari baju apd lengkap sama masker dan kacamata juga. Kamu bayangin saja, di tempat yang panas suhu 32-33Β° dia berpakaian seperti itu. Mamah saja bingung bagaimana bisa Mamah punya anak aneh sepertinya, emang aneh si Chan ... ."
"Dan pertama kalinya, kami bertemu ya saat dia jadi pasien Mah. Badannya merah-merah, katanya tak sengaja bersentuhan dengan nenek-nenek yang sedang sakit dan memakai minyak angin untuk menghangatkan tubuhnya," Ujar Alina yang kembali teringat saat mereka pertama kali bertemu.
" Kapan? Kok Mamah tidak pernah tau? Ayo ceritakan," dengan antusias Mamah mengubah posisi duduknya untuk bisa mendengarkan cerita menantunya.
" Hari yang sama saat kita menikah dulu Mah, dia jutek sekali. Dan terkesan sombong, bahkan dia menantangku waktu itu ... ."
Di ceritakan semuanya saat pertama kali mereka bertemu, lengkap dengan percakapan mereka yang masih terekam dengan sempurna di memorinya.
"Karena salep harus di oleskan lagi, akhirnya dia menarikku membawa ke lantai atas untuk Opah ... ."
"Astaga, jadi saat itu kalian baru bertemu Nak? Kenapa tidak bilang ke Mamah? Dna malah kamu mengiyakan untuk menikah dengan pria yang baru kamu kenal?"
"Takdir Tuhan siapa yang tau Mah, dalam pikiranku saat itu hanya keadaan Opah. Dan aku menganggap itu adalah rencana Tuhan untuk mempertemukan dengan jodohku Mah, sangat singkat memang. Tapi melihat kesetiaannya saat aku terbaring koma, aku yakin tidak salah memilih,"
.
.
.
Gimana sih alurnya? Kok ga jelas?? π
Iya emang ga jelas, tapi pengen up.. Maafkanπ
.
.
Jangan lupa Like, Komen, Rate 5 dan juga vote seikhlasnya. πππ
__ADS_1
Happy Reading ππ