
"Aiih ...! Tadinya aku mau begitu, tapi kamu udah duluan ambil kotaknya," sahut Dokter Stef membela diri.
"Astaga ...! Udah-udah, Nak ... Mbok mau kembali ke rumah," ujarnya.
"Cepat sekali Mbok, baru aja aku lihat Mbok ...! Masa iya udah mau pergi lagi,"
"Hahah ...! Lihat, Mbok aja gak betah lama-lama lihat kamu Stef ...! Jangan halangi Mbok, kasihan dia masih banyak pekerjaan. Kalau kamu tidak mau pisah sama Mbok, gih ikut ke rumah bantuin Mbok," celetuk Alina.
"Eh?? Iyakah?" ujarnya.
"Tidak, tidak ... mana ada Mbok tidak betah disini, tapi kata Nyonya benar. Pekerjaan saya masih banyak. Kalau kamu mau bantu Mbok, ayo Nak ...! Nanti Mbok minta izin sama Nyonya," ujar Mbok Jum yang membalas tiktok mereka hingga suasana semakin hangat dan gelak tawa pecah memenuhi bangunan kecil di halaman rumah Alina.
___________
"Yakin nih aku boleh ikut?" ujar Dokter Stef.
"Gih ikut," celetuk Dokter Fani.
"Astaga ...! Ibu ku nangis melihat ini. Gak ada yang mau menahan anaknya bair gak pergi,"
"Ah, sudah lah. Mbok tidak jadi bawa Nak Dokter, yang ada Mbok tidak jadi kerja. Malah ketawa terus nantinya,"
"Nyonya, Mbok pamit ya ...!" ujar Mbok Jum pada Alina.
"Iya Mbok, makasih banyak ya ...! Mbok jangan capek-capek ...! Kalau udah selesai istirahat aja," ucap Alina.
"Mbok, sampai ketemu nanti ya ...! Aku mau menginap di rumah," celetuk Fani melambaikan tangan pada Mbok Jum.
"Wah, iya Non. Siap lah kalau begitu," sahut Mbok Jum dengan wajah sumringah.
Selepas Mbok Jum pergi, mereka segera menikmati makanan dan buah yang Alina dan Mbok Jum bawakan tadi. Ya, Alina selalu melakukannya setiap saat. Mereka sudah bekerja keras membantunya dalam melayani pasien, beberapa makanan yang dia bawa tidaklah seberapa di banding tenaga yang mereka berikan untuknya.
"Ada Mbok Jum disini suasana jadi hangat ya? Coba deh tiap hari Mbok Jum kesini," ujar Dokter Stef.
"Kalau kamu mau Mbok Jum tiap hari kesini, pagi-pagi kamu berangkat lebih pagi. Bantuin Mbok Jum dulu biar kerjaan cepat selesai Stef," celetuk Dokter Fani.
"Tapi benar apa yang kamu bilang tadi, Mbok Jum orangnya ramah sama semua orang. Siapalah yamg gak kenal dia," imbuh Dokter Fani.
"Ya, kalian benar. Bahkan di komplek sini, yang paling di kenal banyak orang ya Mbok Jum," sahut Alina seraya mengunyah potongan buah di mulutnya.
"Jangan-jangan Mbok Jum ketua Ibu-ibu komplek Na," timpal Dokter Stef.
Ya, mereka kembali terlibat dalam obrolan receh di sana seraya menikmati jamuan kecil dari Alina untuk mengisi tenaga sebelum di hadapkan dengan pasien yang baru nantinya.
__ADS_1
Di Kota yang berbeda ...
Pesawat baru saja landing 10 menit yang lalu, pria berjas lengkap dengan dasi garis-garis berwarna hitam keluar dari awak kabin menenteng koper kecil berwarna hitam.
Cuaca sedang terik, mungkin suhu mencapai 30°C, ada beberapa yang menggunakan payung untuk melindungi kulitnya dari sengatan panasnya matahari. Tapi jika dia ikut menggunakan payung, rasanya tidak cocok. Yang ada smeua orang akan menatapnya dengan aneh.
Kacamata hitam terpasang dengan elegan di wajahnya, tersangga oleh hidung mancungnya memancarkan aura ketampanan yang sesungguhnya dari seorang pria berusia 40 tahun.
Ya meksi usia sudah menginjak kepala 4, tapi dari wajah tak akan ada yang percaya jika dia sudah berusia banyak. Dengan langkah cepat ia segera keluar dari Bandara dan segera memesan taxi online menuju tempat penginapan yang sudah di pesankan oleh Mbak Eni dari Ibukota.
"Selamat siang, Tuan ...! Mau kemana?" tanyanya dengan bahasa medok khas daerah Jawa.
"Siang Pak, tolong antar saya ke Hyatt Regency Yogyakarta ya ...!" jawabnya dengan wibawa.
"Baik, Tuan ...!"
Taxi perlahan mulai meninggalkan Bandar Udara Internasional Adisutjipto Yogyakarta menuju Hyatt Regency Yogyakarta yang berjarak sekitar 8,6 km dari Bandara.
Suasana tampak lengang, pemandangan tidak beda jauh dengan Ibukota, hanya sedikit berbeda dengan adanya hamparan sawah yang luas di kanan dan kiri jalan yang mereka lalui.
Setelah menempuh perjalanan selama 15 menit, mobil mulai memasuki area lobby hotel. Dengan sigap, sopir segera membukakan pintu belakang, dan mengambil koper di bagasi belakang.
"Ini Pak. Kembalinya buat Bapak saja, makaish sudah mengantar saya dengan selamat," seraya menyodorkan uang untuk pembayaran taxi sesuai aplikasi.
"Tidak apa, itu rezeki untuk Bapak," sahutnya.
"Terimakasih banyak, Tuan ...!" ucapnya berkali-kali mengucapkan syukur.
Chandra segera berjalan memasuki lobby hotel menuju meja receptionist. Tanpa banyak bicara, resepsionis segera mengantar Chandra menuju kamarnya di lantai 7 nomor 232.
Tibalah mereka di kamar dengan ranjang king. Luas kamar 30 meter persegi dengan tempat tidur 1 ranjang king size dan pemandangan kebun. Kamar mandi dalam juga di lengkapi dengan bak mandi dan shower.
Setelah petugas hotel keluar, Chandra memilih untuk bergegas mandi setelah badan basah oleh mandi keringat akibat cuaca terik di luar sana. Pertemuan akan di laksanakan dua jam lagi, masih ada waktu untuknya mandi, makan dan istirahat.
Selepas mandi, dan hanya mengenakan pakaian putih polos di pasukan dengan celana pendek diatas lutut. Chandra menjatuhkan badannya di atas kasur empuk dan meraih ponselnya untuk mengabari isterinya di Ibukota.
"Hallo, Sayang ...!"
"Iya Sayang? Udah sampai?" tanya Alina yang baru saja sampai di rumah.
"Udah, ini baru selesai mandi. Kamu lagi apa?" tanya balik Chandra.
"Baru sampai rumah nih, kamu dah makan?" tanya Alina.
__ADS_1
"Belum, kayaknya nanti aja deh sekalian setelah pertemuan ...!" ujarnya.
"Makanlah sedikit, biar kamu bisa fokus Sayang. Perut kosong biasanya susah buat fokus, jangan sampai saat ngobrol tiba-tiba terdengar suara cacing kelaparan," celetuk Alina.
"Huh ...! Baiklah. Aku akan makan, ya sudah kamu lanjut mandi gih, jangan lupa makan. Jaga kesehatan ...!" ujarnya.
"Hmm, iya Sayang. Kamu juga, cepat pulang ya ...!" ujarnya.
"Pasti, Love you Sayang ...!"
"Love you too,"
Setelah obrolan berkahir, Chandra segera meraih gagang telepon di atas meja kecil di sudut kamarnya untuk memesan makanan.
Di Tempat yang berbeda ....
"Masih tidur? Sini aku gendong," ujar Arsen meraih putranya yang masih dalam gendongan isterinya.
"Kecapek-an terus kenyang, yaudah tidur kayak orang pingsan jadinya. Untunglah putra kita gak rewel ya Mas," ujar Tyas yang berjalan beriringan mengiringi suaminya.
"Ya, tadinya aku takut putra kita akan rewel. Karena dia baru pertama kalinya kita ajak pergi kan, untunglah kita ketemu sama orang-orang baik dan bikin Madav nyaman,"
"Selamat datang, Tuan ... Nyonya ...!" Sapa pria berbadan kekar yang sudah menunggunya sejak hampir 1 jam yang lalu di depan lobby.
"Apa kamu tidak capek berdiri di situ Mal? Harusnya tidak perlu menunggu kami, istirahat saja di kamarmu ...!" celetuk Tyas pada asisten suaminya.
"Sudah menjadi tugas saya Nyonya," jawabnya dengan wajah datar tak berekspresi.
"Itu terus jawaban kamu Mal ...!" sahut Tyas yang merasa heran pada Kemal, dia selalu siaga menunggu mereka dimana dan kapanpun mereka berada.
Mungkin kalau tadi siang Arsen tak memintanya untuk mencari tempat penginapan, Kemal akan ikut ke Perusahaan seperti bodyguard yang akan menarik banyak perhatian orang di sana.
"Biar saya yang gendong Tuan Muda Kecil, Tuan ...!" ujarnya dengan sopan.
"Hmm, baiklah ...! Kamu tidak akan ada masalah dengan beratnya Madav, gendonglah ...!" ucapnya menyerahkan Madav pada Kemal.
"Astaga ...! Gitu aja berat Mas. Tadi katanya kamu yang mau gendong," celetuk Tyas.
"Ya kan udah ada Kemal, harus kita manfaatkan biar tidak makan gaji buta. Iya kan Kem?" ujarnya.
"Benar Tuan," jawabnya.
"Tuhkan kamu dengar sendiri," imbuhnya.
__ADS_1
"Haiiis ...! Tidak suami, tidak asisten sama saja ...!" gumam Tyas.