Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Koma


__ADS_3

"Sttt ...! Semua akan baik-baik saja. Tenanglah ...!" ujarnya berusaha menenangkan Mami.


"Aku takut Bang," ujarnya terisak.


"Randy tidak akan semudah itu menyerah. Kamu tau itu kan?" ujarnya.


"Hmm," gumamnya seraya mengangguk pelan.


Lampu sudah padam menandakan tindakan di dalam sana sudah berakhir. Tak ada yang berani bersuara, hingga pintu terbuka dan terlihat seorang Dokter keluar dengan wajah tanpa ekspresi.


"Dok, semua baik-baik aja kan?" tanya Revan.


_____________


"Berkat doa kalian, kami berhasil mengeluarkan gumpalan darah di otaknya. Tindakan berjalan dengan lancar," ujarnya dengan tegas.


"Syukurlah ...!" ujarnya secara bersamaan.


"Saat ini kondisi pasien masih kritis, dan mungkin koma dalam jangka waktu yang tidak bisa di prediksi. Untuk itu kami akan memindahkan pasien ke ruang ICU agar mendapatkan perawatan yang lebih intensif," imbuhnya.


"Lakukan yang terbaik untuknya Dok. Kami percaya kalian akan melakukan yang terbaik untuk keluarga kami," ujar Om Keanu.


"Terimakasih atas kepercayaannya Prof, ini semua berkat doa dan dukungan dari kalian. Semoga Pak Randy juga bisa bangkit semangatnya untuk melawan rasa sakitnya. Kalau begitu, saya kembali lagi ke dalam ya Prof," ucapnya menganggukan kepalanya dengan hormat.


"Baik Dok, terimakasih ...!"


Pintu kembali tertutup, kini terlihat senyuman di wajah mereka setelah beberapa saat senyuman itu terlupakan begitu saja. Semua mengucap syukur, karena tindakan berhasil dengan lancar.


"Kamu dengar kan? Dokter sudah berhasil mengeluarkan gumpalan darah di otaknya. Randy pasti kuat, karena memiliki kalian ...!" ujar Om Keanu.


"Dan kamu, jangan nangis lagi. Lihat anak-anakmu melihat Maminya menangis," imbuhnya pada Mami.


"Hmm, makasih ya Bang ...!" ucapnya.


"Chandra sekarang kamu urus administrasi sebelum Randy di pindahkan ke ICU. Dan sebaiknya yang berjaga disini cukup dua orang saja," ujarnya.


"Kecuali kamu, kamu harus pulang ...!" tunjuknya pada Mami yang belum sempat menyuarakan jika dia mau stay di Rumah Sakit.


"Astaga ...! Bahkan aku belum bilang apa-apa ...!" gumamnya.

__ADS_1


"Om Kea benar Mam, Mami pulang aja ya. Istirahat di rumah. Biar nanti yang cowok di Rumah Sakit, paginya baru kita," ujar Vannya.


"Iya Bu Kinan. Nanti kalau Bu Kinan mau kesini, saya temani kok," imbuh Mamah Irenen.


"Tapi kita pulang setelah Mas Randy di pindhakan ke ICU ya. Aku mau lihat Mas Randy dulu ...!" ujar Mami merengek.


"Ya udah, kalau begitu aku ke bagian administrasi ...!" ucap Chandra.


"Nanti malam, biar aku yang berjaga. Vin kamu pulang aja, Vannya emmbutuhkanmu di rumah. Begitupun dengan Chandra," celetuk Revan.


"Biar aku temani ya Pak Revan ...!" sahut Papah.


"Yaudah aku ikut dengan kalian," imbuh Om Kea menimpali.


"Tidak perlu Pak, sebaiknya Bapak berjaga siang saja sekalian bekerja bukan?" ujar Papah menyahut.


"Hmm, benar juga. Nanti yang siang kan perempuan semua, jadi Mas Kea siang saja. Toh Mas Kea juga bekerja disini kan ...!" sahut Revan.


"Hah ...! Baiklah. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku," ujarnya.


10 menit sudah berlalu, tiba-tiba pintu kembali terbuka. Beberapa perawat mulai terlihat dengan memegang sebuah bed di tangan mereka. Beberapa jenis botol infus tergantung disana.


Samar-samar terlihat Randy dalam kondisi yang tak berdaya. Kepalanya tertutup rapih oleh lilitan kain kasa yang menutup sebagian wajahnya hingga tersisa mata, hidung dan mulut saja.


Hati siapa yang tak hancur saat melihatnya, sosok yang terlihat bijak dan selalu mengembangkan senyuman di wajahnya kini dalam kondisi yang tak berdaya. Bahkan wajahnya tak bisa di kenali saat ini.


Perlahan, mereka mengikuti perawat yang mensorong bed ke Ruang ICU. Lorong Rumah Sakit begitu sepi, hanya rombongan Mami dan yang lainnya yang mengisi lorong tersebut.


Di sisi lain ....


Selesai mengurus administrasi, Chandra tak lupa menghubungi pihak RS tempat dimana Aura berada saat ini untuk menanyakan kondisinya. Biar bagaimanapun ia harus memastikan kondisinya.


Karena mereka masih membutuhkan Aura sebagai saksi atas kejadian yang terjadi hari ini.


*Tuut ... tuuuttt ...!


"Hallo Pak, Saya Chandra. Menantu dari Pak Randy korban di tabrak," ujarnya menjelaskan.


"Selamat sore, Pak Chandra. Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya dengan ramah.

__ADS_1


"Iya Pak, saya ingin bertanya tentang kondisi Aura," ucapnya.


"Saat ini Nn. Aura masih belum sadarkan diri, bari saja tindakan amputasi sudah di lakukan karena tulang sudah remuk dan tidak bisa di tolong lagi akibat terjepit dalam waktu yang cukup lama,"


"Ahh! Kasihan sekali, apakah dari pihak keluarga sudah ada yang tau?" tanyanya lagi.


"Sudah Pak. Kebetulan Pak Ruli sudah sampai 1 jam yang lalu," jawabnya.


"Ah baiklah ...!"


"Bagaimana kondisi korban Pak?" Tanyanya.


"Papi juga baru saja selesai di lakukan operasi besar di bagian kepalanya karena terjadi penggumpalan darah di dalam otak. Tapi kata Dokter, tindakam berjalan dengan lancar, darah yang emnggumpal sudah berhasil di keluarkan," jawabnya.


"Syukurlah, mungkin rekan kami akan ke Rumah Sakit besok ya Pak. Untuk melihat kondisi korban dna sebagai laporan atas kejadin ini," ujarnya.


"Baik Pak ...! Kami tunggu ya. Kalau begitu terimakasih ya Pak atas informasinya ...!" ucap Chandra.


"Iya Pak, sama-sama* ...!"


Telepon terputus, Chandra segera melanjutkan kembali ke ruang Operasi. Tapi tidak ada orang disana, Chandra bertanya pada petugas kebersihan lokasi dari gedung Ruang ICU.


Setelah di jelaskan, Chandra segera bergegas pergi menyusul yang lain. Melewati lorong panjang yang sepi, hanya beberapa orang yang sedang menunggu keluarganya di Rumah Sakit.


Dalam waktu 10 menit, akhirnya Chandra menemukan plang bertuliskan Ruang ICU. Dan setelah melihat ke dalam ia bisa menemukan yang lain disana sedang berdiri di depan kaca pembatas dengan wajah yang sendu.


"Udah Chan?" tanya Mamah yang melihat kedatangan Chandra.


"Hmm," sahutnya seraya mengangguk dengan perlahan.


"Papi sudah di pindahkan?" tanyanya.


"Udah, baru saja. Lihatlah," ujar Mamah dengan sedih.


...CHANDRA POV...


Entah perasaan macam apa ini, yang jelas ini adalah kesedihan saat melihat sosok pria berwibawa nan bijak terbujur lemah tak berdaya di dalam sana. Selang ventilator terpasang di mulutnya, beberapa kabel terpasang di tubuhnya.


Terakhir kali aku melihat ini adalah saat isteriku yang sakit dulu. Dan sekarang, setelah aku hampir lupa rasanya kini harus merasakannya lagi. Cobaan apa lagi ini? Kenapa ini harus terjadi pada keluargaku?

__ADS_1


Melihat Mami, isteriku dan yang lainnya saat ini hatiku terasa begitu hancur. Isakan tangisnya begitu menyayat hati ini, aku merasa gagal sebagai anak laki-laki karena tidak bisa menjaga keluargaku.


Harusnya aku tetap disana agar aku bisa bertemu dengan Papi. Dan mungkin kejadian ini tidak akan pernah terjadi. Bisakah waktu bisa di putar kembali ke beberapa jam sebelumnya? Aku ingin merubah apa yang sudah terjadi hari ini pada keluargaku.


__ADS_2