Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Tekad yang kuat. .


__ADS_3

Bulan sabit terlukis di ujung bibir nya, sesekali gelak tawa terdengar begitu saja. Untung saja saat ini dia berada di dalam mobil seorang diri. Setidaknya tidak ad orang lain yang akan mendengarnya.


Sejak pertemuan itu, membuatnya semakin terngiang - terngiang dengan sosok gadis berparas cantik yang baru saja dia temui di kampus. Vin benar - benar tidak menyangka akan bertemu lagi dengan nya.


" Kenapa dia semakin cantik saja sih? Bagaimana aku akan bisa melupakan nya. Apakah ini pertanda kalau dia adalah jodohku? Hmm mungkin saja. .Rencana Tuhan tidak ada yang bisa menebak." Ujar Vin.


Suara musik mengalun dengan lembutnya, mendukung suasana hatinya yang sedang berbunga-bunga setelah bertemu dengan gadis pujaan nya. Sesekali dia ikut berdendang menyanyikan beberapa lirik yang dia tau.


*If our love was a fairy tale


I would charge in and rescue you


On a yacht baby we would sail


To an island where we’d say I do


Artinya*:


Andai cinta kita adalah dongeng


Aku pasti kan menerobos masuk dan menyelamatkanmu


Di atas sampan, kasih, kita kan berlayar


Ke sebuah pulau di mana kita kan menikah


Sebuah lagu *ber*genre romantis yang di nyanyikan Shayne Ward mengalun dengan sangat merdu. Tak henti-hentinya kepalanya terus saja bergoyang mengikuti alunan musik.


Drrtt. . .drtt. . .


Sebuah panggilan masuk di ponselnya membuat tangannya secara refleks mengurangi volume nya. Di lihatnya sebuah nama yang tak lain adalah Randy.


"*Astaga. . .aku pikir siapa. . .mengganggu saja. Apa Papi tidak tau kalau anaknya yang tampan ini sedang jatuh cinta pada seorang gadis. . .Huhh. .


Aku tak perlu berucap janji di depanmu, aku hanya akan membuktikan keseriusanku dengan membawa kedua orang tua ku ke hadapanmu dan juga keluarga besar mu.

__ADS_1


Aku tak perduli kamu sudah ada pria lain di luar sana atau tidak. Sebelum ada undangan pernikahan darimu dan sebelum ada janur kuning yang melengkung di depan rumahmu aku akan terus berjuang untuk bisa mendapatkan hatimu."


Drrttt. . . .drtt*. . .


Lamunan buyar tatkala ponselnya bergetar untuk kesekian kalinya. Vin lupa kalau dia belum menerima panggilan dari Papinya. Tangan kirinya segera meraih ponsel yang dia letakkan di atas kursi sebelah kiri kemudi.


"Hallo Pi?" Ucap Vin untuk mengawali pembicaraan.


"Dari mana saja? Kenapa tidak langsung mengangkat telepon Papi? Apa kau mau jadi anak durhaka?" Ujar Randy.


" Astaga Pi. . .Sabar. . Tadi aku sedang mengemudi .. eh. . ini juga masih. . ada apa Pi?" Tanya Vin.


"Hari ini Papi ada kunjungan mendadak ke Perusahaan cabang di luar kota. Untuk itu kau datang ke Perusahaan Keluarga Wijaya sekarang. Seharusnya Papi yang datang, tapi masalah ini harus Papi yang menyelesaikannya." Ujar Randy.


"Oh Astaga. . .kenapa tidak bilang dari tadi? Aku sudah dekat dengan Perusahaan Pi." Ujar Randy.


"Apa kau tidak mendengar Papi? Ini mendadak. . .Mana bisa Papi memberitahumu dulu kalau akan ada kejadian seperti ini. Putar balik, Revan sudah dalam perjalanan menuju kesana. 30 menit lagi pertemuan akan di mulai. Jangan membuat Papi malu, Nak." Ujar Randy pada Vin.


"Huhh. . Baiklah. . ." Ujar Vin dengan ketus dan segera mematikan ponselnya.


Vin segera mencari jalan untuk putar balik, Perusahaan keluarga Wijaya berada searah dengan Kampus Vin. Jadi dia harus kembali lagi, dan perjalanan cukup jauh.


"Huhh. . Ada-ada saja. . Tau gitu kan aku tidak perlu cepat - cepat kembali ke Perusahaan. Dan aku bisa mengobrol dengannya lebih lama. . ." Ujar Vin lagi.


~Pagi Hari di Sebuah Kamar~


"Apakah dia begitu kelelahan?" Ujarnya.


"Sekarang aku harus terbiasa melihat wajahnya di pagi hari, wajah yang penuh dengan ketenangan. Di balik sikapnya yang terkadang judes, tapi entah kenapa banyak sekali perawat yang menghormatinya.". Ujar Chandra lagi.


Alina masih terlelap di balik selimutnya yang tebal. Sinar mentari telah menembus masuk ke dalam kamar menembus kaca. Seolah tak ingin membiarkan istrinya terganggu, Chandra dengan sigap menggunakan tangan sebelah kirinya untuk melindungi wajah istrinya.


"Astaga. . . Dia tidur apa pingsan?" Ujar Chandra.


"Bapak berisik sekali. Aku mendengarnya. . . Iya aku cantik. . .tidak perlu menatapku seperti itu. Jangan sampai kedua bola mata bapak ku cukil karena terus memandangiku." Ujar Alina.

__ADS_1


"Haissh. . Baru bangun tidur tapi masih bisa ngomel rupanya. Apakah di dalam mimpi mu kau juga seperti ini??" Ujar Chandra yang tak bergeser sedikitpun dengan tangan masih menutupi wajah Alina dari sinar mentari pagi.


Menyadari ada sebuah tangan yang sejak tadi melindungi wajahnya, membuat Alina terdiam sesaat dan memandangi wajah Chandra yang diam tanpa ekspresi.


"Kau tidak perlu memandangiku seperti itu. Kau harus terbiasa setiap pagi melihat wajah tampanku. Di luar sana banyak sekali wanita yang berlomba - lomba ingin bisa melihat wajahku dari dekat. Bahkan mereka tak sungkan - sungkan menawarkan dirinya untuk menemani ku tidur." Ujar Chandra


"Hahaha. . .Pasti Bapak sedang menghayal." Ujar Alina.


"Cup!" Chandra segera me***** b**** Alina yang mungil.


"Nggghhh. . sudah. . . Aku tidak bisa bernafas. Oh iya Makasih Pak. . . sudah. . " Ujar Alina yang langsung di potong Chandra.


"Makasih untuk apa? Yang semalam? Bukankah setiap malam kita akan melakukannya?" Ujar Chandra.


"Haisssshhh. Astaga. . .bukan Makasih untuk itu. . Tapi tangan Bapak sudah menutupi ku dari silaunya matahari pagi. Ya sudah aku mau mandi." Ujar Alina.


Alina segera turun dari kasur dengan selimut tebal yang melilit tubuhnya membuat jalannya sedikit berat. Chandra hanya tersenyum saat melihat istrinya yang sudah hilang di balik pintu kamar mandi.


"Entah kenapa dia sangat lucu. . merubah pandanganku saat pertama kali bertemu dengannya." Ujar Chandra.


Drrrtttt. . . .drrrtttt. . .


Sebuah pesan masuk di ponsel Alina, Chandra yang penasaran segera membukanya. Terlihat sebuah nomor asing mengirimi sebuah pesan kepada isterinya. Chandra langsung membukanya, untuk memastikan kalau nomor tersebut tidak sedang mengancam isterinya.


"Hanī, genki? Anata ga inakute sabishīdesu. Mada okotte imasu ka? Sakihodo no jiken de gomen'nasai. Hontōni gomen'nasai. Subete o shūsei sa sete kudasai, watashi wa kako no ayamachi o subete umeawasemasu.. (Sayang, apa kabar mu? Aku merindukan mu. Apakah kamu masih marah dengan ku? Maaf untuk kejadian beberapa waktu lalu. Aku benar-benar menyesal. Izinkan aku untuk memperbaiki semuanya, aku aku menebus semua kesalahan ku yang telah lampau.)"


"Ada apa lagi dia menghubunginya? Apakah selama ini Nana memang masih komunikasi dengannya??" Ujar Chandra.


>>>>>>>>>>>>>>>


Next Eps :


✓Chandra marah sama Alina??


✓Chandra diam dan menjadi dingin pada Alina?

__ADS_1


Jangan lupa Like, komen, rate5 n vote ya😍


•KEKASIH KONTRAK TILL JANAH EPS. 163•


__ADS_2