Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Menginap


__ADS_3

Sebuah nomor tak di kenal mengirimkan sebuah pesan melalui aplikasi berwarna hijau. Vannya segera membukanya dan terkejut saat melihat siapa pemilik nomor tersebut.


"Oh, Astaga ...!" ujarnya segera menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


______________


• Hi Van, ini aku Ilham ...! Apa aku mengganggumu? Maaf ya ...! Kalau aku sudah lancang. Aku merasa bahagia bisa melihat senyummu lagi setelah beberapa tahun lamanya aku tidak melihatmu. Tapi sayangnya, sekarang kamu sudah menjadi isteri seorang Melviano 😊


• Pasti hidupmu tidak akan lagi kekuarangan apapun, tapi satu hal yang harus kamu ingat. Kalau dia menyakitimu, aku yang selalu ada untukmu Van.


• Aku tau, aku salah mengatakan ini padamu. Tapi aku hanya ingin mengatakan apa yang aku pendam selama ini. Ya ... aku sudah mencintaimu sejak dulu sampai sekarang ...!


"Kenapa Sayang?" tanya Vin yang sudah bangun dan memeluknya dari belakang.


"Eh ... I-ini Ilham ...!" ujarnya terbata.


"Ngapain lagi dia?" tanyanya.


"Tapi kamu jangan salah paham? Aku gak pernah komunikasi sama dia setelah lulus SMP. Dan aku gak punya nomornya, serius ...!" jawabnya berusaha menjelaskan.


"Boleh aku lihat?" tanyanya.


"Hmm," Menyerahkan ponselnya dan mendekap Vin dengan erat.


Vin membaca isi pesan dari Ilham, tak ada ekpresi yang di gambarkan dari wajahnya. Vannya hanya bisa diam dan berharap semua akan baik-baik saja.


"Berani sekali dia mengganggu isteriku ...! Harusnya dia tau apa yang akan terjadi kalau menggangu isteri seorang Vin," batinnya terus menggulir layar ponsel Vannya.


"Sayang, blok saja nomornya. Supaya dia tidak bisa menghubungiku lagi dan kamu akan tenang," ujar Vannya.


"Biarin aja Sayang, akan aku pastikan dia gak berani lagi ganggu kamu walapun nomornya tidak di blok," jawabnya.


"Apa rencanamu?" tanya Vannya.


"Hmm, mana mungkin aku bocorkan. Aku menyayangimu, aku gak akan orang kain mengganggumu. Bahkan aku akan mencongkel matanuya yang udah berani menatap isteriku lebih dari satu menit," pungkasnya.


Keduanya saling berc*uman, jemari Vin dengan nakal mulai menyusuri setiap jengkal tubuh Vannya yang masih tertutup baju tidur berbahan satin dengan model tali.

__ADS_1


Entah saat kapan Vin menarik tali sebagai pertahanan terakhir Vannya menutupi tubuhnya. Kini srmua sudah terbuka, jemari Vin dengan lincah semakin aktif menyusuri bagian tubuh yang kenyal.


Hasrat keduanya sudah berada di ujung tanduk entah siapa yang memulainya lebih dulu. Yang pasti saat ini keduanya sudah menyatu dan beradu untuk mencapai puncak kenikmatan bersama.


Peluh tak bisa di hindari, membuat badan mereka yang tak tertutup sehelai benangpun tampak mengkilat, tersorot lampu duduk di atas nakas samping kanan ranjang.


"Ennghh ... sa-sayanghh ...!" hanya itunyangbterucap dari bibir mungilnya.


Kenikmatan hampir sampai, mereka semakin mempercepat gerakan sampai tak kurang dari 10 menit lamanya. Desah nafasnya saling beradu memecah keheningan di dalam kamar di pagi hari.


"Ahhh ...!" teriak Vannya saat ia sudah sampai di puncak kenikmatan.


Tak lama kemudian disusul oleh Vin yang segera menumpahkan ca**** kenikmatan setelah hampir 60 menit lamanya mereka bergulat dengan hasrat yang sama-sama tinggi.


"Ahhh ...! Cupp ...!" Sebuah kecupan mendarat di kening Vannya yang masih basah oleh keringat.


Sesat kemudian mereka kembali memejamkan matanya dan saling berpelukan dalam balutan selimut yang menutupi tubuh keduanya yang masih tanpa berbusana.


Mereka tidak tidur, melainkan masih ada sisa kenikmatan yang sayang jika di lewatkan begitu saja.


"Sayang, aku mandi dulu ya ...!" bisik Vannya.


"Gak kebalik?" sahut Vannya.


"Hmm, gak ... ayo kita mandi," ujarnya segera turun dari kasur dan menggendong tubuh Vannya.


Vin segera menyalakan shower, mereka berdiri di bawah guyuran shower dengan air yang dingin. Dan lagi-lagi mereka melakukannya sekali lagi di dalam kamar mandi.


"Makasih Sayang ...!" bisik Vin setelah mencapai puncak kenikmatan untuk kedua kalinya pagi itu.


"Hmm, udahkah? Ayo segera sudahi mandinya, nanti kita terlambat ...!" ujar Vannya dnegan wajah yang bersemu merah.


Setelah membilas tubuhnya dnegan bersih, Vannya dan Vin segera keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian yang kebetulan sudah di siapkan oleh Alina sejak semalam saat meminta keduanya untuk menginap di rumahnya.


Sementara itu,


Di sudut ruangan yang berbeda...

__ADS_1


"Sayang, kamu hari ini ke klinik lagi?" tanya Chandra memwluk tubuh isterinya yang baru saja merapikan tempat tidurnya.


"Gak tau, lihat sikon aja nanti. Kenapa?" tanya Alina.


"Gak apa-apa ... tanya aja," jawab Chandra tanpa melepas pelukannya.


"Hmm, mau sampai kapan kita akan seperti ini? Oakai sepatumu, setelah ini kita turun dan sarapan," ujar Vannya.


"Hmm, sebentar ... aku masih ingin memeluk iateriku yang cantik," ujarnya semakin mengeratkan pelukannya.


"Astaga! Kayak anak kecil aja," gumam Alina yang tak bergeming mengubaj posisinya dan membiarkan Chandra terus memeluknya.


"Hmm, udah. Yuk," ujar Chandra setelah memeluk Alina selama hampir 15 menit lamanya.


"Apa kamu gak mau pakai sepatu?" tanya Vannya saat melihat Chandra hendak melangkah pergi keluar dari kamar tanpa menggunakan sepatu.


"Aku lupa, maafkan ...!" sahutnya seraya mundur dan duduk di kursi kecil dan meraih sepatu di dekat kursi tempatnya duduk saat ini.


Di Dapur,


Mami dan Mamah tamoak sibuk saling membantu satu sama lain menyiapkam sarapan. Meski sudah ada Mbok Jum dan asisten rumah tangga lain. Namanya seorang Ibu pasti ingin menyiapkan sesuatu yang di sukai anak-anak mereka meski saat ini anak-anaknya sudah menikah.


Mami dan Mamah saling membantu menyiapkan bumbu yang mereka butuhkan untuk di taburkan ke dalam masakan yang saat ini masih berada di atas wajan.


Bau harum khas masakan mulai menyeruak tercium oleh ornag yang berada di rumah itu. Dalam waktu 30 menit masakan sudah siap untuk di hidangkan. Mamah Irene segera menyiapkan teh dan kopi sesuai selera mereka.


Setelah semua siap dan sudah tersaji di meja makan, Mamah Irene segera memanggil suaminya dan besanya yang saat ini sedang berada di taman belakang melakukan sedikit pemanasan untuk merenggangkan otot mereka yang sudah tidak muda lagi.


"Pah ... sarapan sudah siap. Pak Randy, sarapan sudah siap ...!" panggil Mamah Irene setelah melihat dua pria berusia paruh baya sedang melakukan gerakan pemanasan.


"Iya, sebentar lagi kami akan menyusul ...!" Sahutnya secara bersamaan.


"Astaga ...! Apa-apaan ini? Apa mereka sudah janjian sebelumnya akan menajwab secara bersamaan seperti ini?" gumam Mamah Irene sambil menggelengkan pelanya dengan pelan.


"Baiklah, cepat selesaikan aktivitas kalian sebelum kopi menjadi dingin," imbuhnya seperti seorang Ibu yang sedang memanggil anak-anaknnya untuk sarapan.


"Baiklah ...!" lagi-lagi mereka menjawab secara bersamaan.

__ADS_1


"Aiiishhh ...! Serasa seperti sedang memamggil si kembar saja.


__ADS_2