Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Tidak Mau Dimadu


__ADS_3

Vin segera keluar dari mobil, dan masuk ke dalam Cafe. Disana sudah terlihat Aura berdiri melambaikan tangan padanya. Dengan cepat Vin mendekatinya dan duduk di hadapannya.


"Ada apa?" tanyanya.


"Maaf Pak, karena saya sudah mengganggu waktu libur Bapak," ucapnya merasa bersalah.


"Lalu kenapa kamu masih saja memintaku untuk datang?"


"Sa-saya terpaksa Pak, karena I-ibu ... Hiks!" tangisnya mulai pecah.


"Kenapa kamu menangis? Diamlah, jangan sampai orang lain mengira aku yang sudah membuatmu menangis," ujarnya berkata dengan pelan.


Sementara itu di tempat sama, di sudut yang berbeda ada seseorang yang melihat keduanya. Ia menatap tanpa ekspresi, kedua matanya seolah enggan untuk berkedip menelaah apa yang sebenarnya terjadi saat ini.


Hari ini harusnya libur, tapi mendadak ada kabar yang kurang mengenakan. Salah satu rekan kerjanya sedang berduka, dan iapun memilih untuk menghadirinya sebagai rasa hormatnya.


Namun, saat perjalanan menuju pulang, tiba-tiba tanpa sengaja melintas mobil yang ia kenal. Dan tak ada oarang lain di dalamnya, karena penasaran ia memilih untuk berputar balik dan mengikuti mobil yang baru saja melintas di depannya.


Setelah situasi aman, ia ikut turun dan masuk ke sebuah Cafe. Benar saja, ia sedang menemui seseorang di sini. Jarak tempatnya duduk tidak terlalu jauh, tapi tertutup skat yang lumayan tinggi hingga membuatnya aman.


"Apa yang sedang mereka bicarakan?" gumamnya penasaran.


Ia menyandarkan kepalanya pada skat yang membatasi antara tempatnya duduk dengan tempat Vin bersama Aura. Saat sedang bersusah payah mendengarkan, tiba-tiba seorang pelayan datang membuatnya terkejut.


"Selamat pagi, Pak! Silakan," sapanya menyodorkan buku menu.


"Si-siapa yang memanggilmu?" tanyanya bingung.


"Bapak mengangkat tangan, bukankah itu sedang memanggil saya," ujarnya menunjuk sebelah tangannya yang diangkat ke atas seperti sedang melambai memanggil pelayan.


"Oh, astaga! Hmm, baiklah. Aku pesan espresso dan pancake pisang pisang," ucapnya.


"Baik Pak! Apa ada yang lain lagi?" tanyanya dengan sopan.


"Tidak perlu, pergilah!" ucapnya perlahan.


Setelah pelayan pergi, ia kembali mendekatkan telinganya ke bilik skat pembatas. Samar-samar mulai terdengar meski tidak jelas dan hanya sepotong-potong.


"Tarik nafas, dan mulailah cerita ... ." ucapnya berusaha menenangkan.


"Sa-saya di paksa Ibu untuk mendekati Pria yang sudah menikah, dan saya tidak menyukainya," ucapnya terisak.


"Apa kamu sudah membicarakan pada Ibumu sebelumnya?" tanya Vin.


"Su-sudah Pak! Tapi Ibu saya terus memaksa, dan mengancam akan membunuh saya jika menolak," ujarnya sedikit membumbui drama.


"Pak, tolong saya ... ." menggenggam tangan Vin.


"Apa yang bisa saya bantu?" tanyanya dengan bingung, hendak melepas tangannya tapi Aura memegangnya dengan erat.

__ADS_1


"Bapak pura-pura jadi kekasih saya," jawabnya lirih.


"Eh? Mana mungkin? Saya tidak bisa, isteri saya sedang ... ."


"Pak, saya mohon. Cuma Bapak yang saya percaya," ujarnya mengiba berharap Vin akan mengiyakannya.


"Saya tau Bapak sudah menikah. Saya juga tau siapa isteri Bapak, tapi ini jalan satu-satunya ... ." kembali terisak.


______


"Hmm, jadi dia berbohong lagi pada Vin. Bukankah memang Ibu kandungnya yang memintanya untuk mendekati Vin? Kira-kira ada masalah apa Ibunya dengan Vin?" batinnya semakin penasaran.


"Permisi, Pak! Pesanannya," ucapnya mengagetkan.


"Astaga! Kenapa tiba-tiba sudah disini," celetuknya merubah posisi duduknya.


"Silakan Tuan!" ujarnya dengan sopan.


"Hmm,"


Tring!!


"Astaga! Siapa lagi yang mengagetkanku?" batinnya kesal.


*Obrolan di Telepon


"Hallo," ujarnya berbisik.


"Aku... aku di Star Cafe. Ada apa Van?"


"Kebetulan kalau begitu. Kak Vin juga sedang disana sepertinya, semalam Aura mengirimi pesan peadanga untuk bertemu disana. Kak, tolong laporkan apa yang terjadi disana ya Kak!" Ucapnya dengan sedih.


"Van, kamu menangis? Ada apa? Kamu bertengkar dengan suamimu?" tanyanya.


"*Kak, aku hamil... ." ucapnya.


"Wah! Selamat ya Dek! Lalu kenapa kamu menangis? Bukankah ini kabar baik?" ujarnya.


"Tapi, tapi Kak Vin main di belakangku. Aku tidak bisa di duakan Kak," jawabnya sendu.


"Hey! Aku kan sudah bilang, jangan berburuk sangka dulu sebelum ada bukti. Siapa tau ada alasan lain. Tenanglah," ucapnya berusaha menenangkan Vannya


"Tapi aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri Kak. Aura mengirimkan sebuah pesan pada Kak Vin. Sekarang Kak Vin tidak di rumah, pasti dia sedang menemuinya," ujarnya.


"Van... ingat dengan kandunganmu. Jangan sampau kamu stress dan akan berdampak pada kehamilanmu. Begini... aku akan mengurusnya. Kamu percaya padaku kan?"


"Ta-tapi Kak!" mencoba mengelak.


"Van! Aku adalah Kakakmu sekaligus atasanmu, kau harus menuruti kata-kataku. Mengerti?" ujarnya menyela sebelum Vannya melanjutkan perkataannya di seberang sana.

__ADS_1


"Hmm, i-iya Kak. Tapi, Kakak janji bantu aku ya Kak! A-aku tidak mau dimadu,"


"Akan aku usahakan. Ya sudah, aku akan mencari dimana keberadaannya sekarang. Tenanglah!" ucapnya.


"Hmm, iya Kak! Makasih ya*,"


Telepon berakhir, Chandra meneguk kopi yang masih mengepul di hadapannya. Sejenak dia terdiam, dan mencari cara supaya keadaan tidak seburuk seperti apa yang dia pikirkan.


"Astaga! Van, malang sekali nasibmu.


...VIN POV...


Haisss!!!


Apa-apaan ini. Kenapa harus aku yang Aura minta untuk jadi kekasihnya meski hanya bohongan. Biar bagaimanapun aku tidak akan mau menyakiti isteriku. Di hatiku cuma ada Vannya seorang, apalagi sekarang dia sedang mengandung calon anakku.


Biar bagaimanapun, aku harus menolaknya. Tapi aku tidak boleh menyakiti perasaan Aura. Kata Mami, aku tidak boleh menyakiti perasaan wanita. Aiih! Kenapa sih kamu harus wanita Ur!


Tring!


• Setujui saja Vin! Aku ada rencana bagus untuk ini.


Sebuah pesan masuk dari Kak Chandra. Darimana dia bisa tau dengan ini? Apakah ini ada hubungannya dengan Kak Chandra? Atau jangan-jangan pria yang di maksud itu Kak Chandra?


"Bagaimana Pak?" tanyanya lagi dengan tatapan memelas.


Tring!


• Percaya padaku. Aku tau saat ini Vannya sedang hamil. Tak perlu kamu cari dimana aku, aku di sini bisa melihatmu tapi kamu tidak akan tau dimana aku.


Haihh!!


Apa-apaan ini Kak Chandra malah seperti sedang mengajakku main petak umpet. Bagaimana bisa aku bilang iya, nanti kalau Vannya tau habislah riwayatku. Tapi aku juga tidak bisa membiarkan rumah tangga Kak Nana dan Kak Chandra berantakan begitupun dengan keluarga kecilku.


Semoga saja apa yang Kak Chandra katakan padaku benar adanya. Semoga dia ada jalan yang baik untuk menyelesaikan masalah ini.


Sayang, maaf. Aku terpaksa, kalau kamu marah... marahi saja Kak Chandra karena dia yang menyuruhku. Aku mencintaimu Sayang, sungguh! Aku tidak bohong.


"Pak?" ucapnya membuatku tersentak.


"Eh? Iya... ." jawabku spontan. Entah apa yang mulutku ucapkan ini.


"Jadi Bapak mau kan?" tanyanya dengan wajah berseri.


"Hmm," aku hanya mengangguk.


"Terimakasih Pak," ucapnya menggengam lagi tanganku dengan erat.


"Tapi dengan syarat," ucapku.

__ADS_1


"A-apa itu?" tanyanya.


__ADS_2