Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Terpana


__ADS_3

Tepat pukul 5.45 sarapan dan secangkir kopi untuk suaminya sudah siap. Vannya segera naik ke kamar untuk bergegas mandi sebelum membangunkan suaminya.


Tapi dugaannya salah, sesampainya di kamar justru ia melihat Vin sudah rapih dengan jas dan dasi yang terpasang di lehernya. Vannya sejenaj terdiam, terpana melihat ketampanan suaminya.


"Astaga! Kenapa suamiku semakin tampan sih? Apa ini karena aku sudah lama tidak melihatnya atau memang dia semakin tampan. Kamu beruntung sekali Van, memiliki pria sepertinya. Baik, sopan, sayang, pengertian, dewasa, tampan pula. Awas saja kalau kamu menyakitinya Van," batinnya tanpa berkedip.


"Cupp!! Kenapa masih berdiri di depan pintu? Mandi gih, katanya kamu mau berangkat lebih pagi," ujarnya setelah mengecup pipi Vannya yang chubby.


"I-iya Kak, ya sudah aku mandi dulu ya. Kopi udah siap, turun dulu saja," ucapnya menahan rasa malu karena tertangkap basah bengong.


"Makasih isteriku,"


"Sama-sama suamiku," jawabnya seraya bergegas meninggalkan Vin.


"Dia lucu sekali kalau lagi malu," batinnya menahan tawa sejak tadi.


Vin segera turun ke meja makan, di sana sudah terdapat satu gulung koran yang biasa dia baca setiap paginya. Sambil menunggu isterinya yang masih mandi, mungkin menikmati secangkir kopi sambil membaca berita di koran adalah cara yang tepat membuang kebosanan di pagi hari.


Akhirnya setelah satu pekan tak menikmati suasa pagi bersama isteri, ia bisa kembali merasakannya. Secangkir kopi buatannya membuat semangatnya bangkit dan bergairah untuk melakukan aktivitas yang sebenarnya di butuh libur setelah perjalanan bisnis beberapa hari.


Dengan perlahan dia meneguk kopi yang asap masih mengepul, sangat nikmat. Apalagi jika isteri yang membuatkan, rasanya lebih nikmat dari apapun di luar sana yang harganya lebih mahal.


"Kak, kok belum mulai sarapannya?" ujar Vannya seraya menuruni anak tangga.


Pagi ini Vannya mengenakan blazer berwarna abu-abu di padukan dengan manset berwarna hitam. Higheels dengan tinggi 5 cm membuat badannya terlihat feminim, apalagi rambutnya yang di sanggul dan di hiasi dengan jeputan kecil berbentuk mutiara membuatnya terlihat sangat anggun.


"Cantik sekali isteriku," pujinya berdecak kagum melihat wajah sang isteri yang terlihat sangat berseri.


"Ih Kakak, jangan lihat aku terus. Atau aku akan jatuh karena malu," ujarnya.


"Untuk apa malu, kamu emang cantik sayang!"


"Iya Kak, makasih. Okey aku cantik. Ayo kita mulai sarapannya, karena perut tidak akan kenyang hanya dengan saling melempar pujian," ucapnya mengalihkan pembicaraan.


Mereka memulai sarapan dengan tenang tanpa suara sedikitpun. Vannya merasa senang melihat suaminya lahap menyantap makanan hasil masakannya. Meski rasanya tak seenak di luaran sana.


Selesai sarapan, mereka segera bergegas untuk berangkat bekerja. Vannya memastikan pintu sudah terkunci, kompor tidak menyala dan banyak hal lain yang dia cek sebelum benar-benar meninggalkan rumahnya.

__ADS_1


"Kak, tadi Mamah telepon. Kita di undang makan malam di rumah, kebetulan hari ini Papah ulang tahun. Apa Kakak mau datang?" tanyanya memecah kesunyian di sepanjang perjalanan.


"Kenapa kamu tanya seperti itu Sayang? Tentu saja aku mau, setelah pulang kerja aku akan menjemputmu. Dan kita cari hadiah buat Papah ya," ucapnya dengan lembut membuat Vannya terharu karenanya.


"Makasih ya Kak, aku cuma takut Kakak capek. Jadi agak ragu aja," ujarnya beralasan.


"Gak ada kata capek kalau buat keluarga Sayang, kalau kamu mau apa-apa cerita sama aku. Pasti aku akan mengusahakannya,"


"Iya Kak,"


Sesampainya di Perusahaan tempat Vannya bekerja, mereka terdiam sejenak sebelum Vannya berpamitan pada suaminya.


"Kak, aku kerja dulu ya. Kakak hati-hati di jalan, semangat kerjanya dan semoga hari ini lancar," ucapnya mencium telapak tangan suaminya.


"Iya Sayang! Begitupun denganmu, semangat kerjanya ... ."


Vannya bergegas keluar dari mobil dan melambaikan tangannya pada Vin. Setelah mobil pergi meninggalkan area Perusahaan, Vannya segera berlalu masuk ke gedung Perusahaan.


"Van," panggil seseorang.


"Hari ini kamu langsung ke ruang kerja Kak Vallent kan?" ujarnya.


"Astaga, aku hampir lupa kalau hari ini menggantikan Kak Vallent. Untuk ketemu Mbak Eni disini," ujarnya menyeringai.


"Hahah! Kamu ini, saking bahagianya sampai lupa hari ini gantiin Kak Vallent. Ya sudah gih, sebelum Pak Chandra datang," ucapnya.


"Iya Mbak, aku duluan ya. Kalau kangen samperin aku aja Mbak," celetuknya.


"Okey Van, nanti aku pasti kesana antar berkas," ujarnya.


Vannya segera masuk ke dalam lift menuju lantai 7. Sesampainya di depan ruang kerjanya, Vannya segera masuk dan menaruh tas di atas meja. Sejenak dia terdiam, mengingat kembali apa yangbharus ia lakukan saat baru datang.


"Ah, ya! Aku harus buatkan Pak Chandra kopi,"


Vannya segera pergi ke pantry, disana ia bertemu dengan beberapa OB yang baru saja selesai membersihkan ruangan sebelum para penghuni datang. Dengan ramah Vannya menyapanya, dan mereka menyambutnya dengan hangat.


"Selamat pagi," sapanya dengan ramah.

__ADS_1


"Pagi Kak Vannya, ada yang bisa kami bantu?" ujarnya menawakan diri.


"Tidak, aku mau buatkan Pak Chandra kopi karena hari ini aku menggantikan Kak Vallent Pak," ucapnya menjelaskan.


"Oh begitu, silakan Kak!"


"Terimakasih,"


Sementara itu,


"Sayang, nanti aku ke rumah Mami ya. Udah lama aku gak main," ucap Alina selesai sarapan.


"Iya, nanti pulang kerja aku langsung kesana. Mau menginap atau pulang?" tanyanya.


"Belum tau nanti, setidaknya kesana dulu aja. Kasian Mami pasti kesepian,"


"Iya Sayang, nanti kamu hati-hati ya. Kabari aku kalau sudah sampai di rumah Mami. Sampaikan salamku untuk Mami," ucapnya.


"Iya Sayang, makasih ya. Ya udah gih berangkat, hati-hati di jalan Sayang!"


"Iya, aku berangkat dulu, Cupp!" sebuah kecupan mendarat di kening isterinya.


Alina mengantarkan suaminya sampai pintu depan, setelah mobil tak terlihat lagi ia segera masuk dan bersiap-siap pergi ke rumah Maminya.


"Sebaiknya aku sekarang mandi, setelah itu bersiap-siap ke rumah Mami. Aku kangen masakan Mami, untung aja rumah kami tidak terlalu jauh,"


Selesai mandi dan bersiap-siap, Alina segera turun membawa tas kecil.


"Mbok, aku mau ke rumah Mami dulu ya. Tidak usah siapkan makan siang, sepertinya aku akan makan siang disana. Kalau ada apa-apa segera kabari aku ya Mbok," ucapnya.


"Iya Nyonya, hati-hati di jalan. Salam untuk Nyonya Besar," ujarnya berjalan dibelakang mengikuti Alina.


"Iya Mbok, nanti aku sampaikan salamnya. Ya sudah aku pergi dulu ya Mbok, Ayo Pak!"


"Iya Nyonya,"


Mobil perlahan meninggalkan area rumah. Alina di antarkan Pak Parjo, sopir pribadinya yang sudah bekerja dengan keluarga besar Wijaya selama 15 tahun. Karena kejujurannya membuat Chandra ingin Pak Parjo bekerja dengannya mengantar kemanapun Alina pergi.

__ADS_1


__ADS_2