
"Ra, kamu kenapa?" tanya Dewi.
"A-aku tidak apa-apa ... emang aku kenapa?" tanya balik Aura dengan gugup.
"Aiih ...! Tidak apa-apa tapi dari tadi kamu senyum-senyum sendiri. Ayo masuk, takutnya kamu tambah kesambet nanti," Dewi bangun dari duduknya, membuka kunci roda dan mengajak Aura masuk ke dalam rumah.
_________
Di sisi lain ....
Suara mesin mobil mulai terdengar memasuki halaman rumah berlantai 3. Setelah memarkan mobilnya, Vin segera turun dan mengambil *paperba*g di kursi belakang yang dia beli tadi pagi.
Seorang wanita paruh baya tampak berdiri di depam pintu memasanh senyum terbaiknya untuk menyambut putranya yang baru saja kembali dari pekerjaan. Ya, dulu dia sering melakukan ini setiap sore menunggu suaminya kembali dari kerja.
Dan sekarang kembali ia lakukan pada putranya. Meski tak sama, setidaknya bisa mengobati sedikit kerinduan pada momen itu. Tanpa berkata-kata Vin langsung memeluk Mami, seolah paham dengan apa yang sedang Mami rasakan.
"Mam, aku pulang ...!" ujarnya dengan pelan.
"Iya Sayang, kamu pasti capek. Ayo masuk,"
"Mami ngapain disini? Kenapa tidak istirahat saja di dalam?" tanya Vin.
"Biarkan Mami melakukan ini Sayang, dulu setiap sore Mami melakukan ini untuk menunggu Papi mu,"
"Baiklah, lakukan apa saja yang Mami inginkan. Ayo masuk, aku ada sesuatu untuk Mami," ujarnya seraya merangkul Mami mengajaknya masuk ke dalam rumah.
"Sesuatu apa?"
"Kita lihat di dalam ya," ujarnya.
Tak lama kemudian, Vannya juga turun dari kamarnya. Mencium punggung tangan suaminya dan segera duduk di sampingnya memeluk Mami dari arah samping. Dua paperbag yang Vin bawa, di serahkan pada Vannya dan Mami untuk membukanya.
"Apa ini Kak?" tanya Vannya.
"Buka aja, udah lama aku tidak membelikan kalian hadiah," ucapnya.
"Nak, ini terlalu mahal. Harusnya kamu tabung saja untuk calon anakmu nanti," ujar Mami saat melihat apa isi di dalam paperbag yang putranya berikan.
__ADS_1
"Mam, kapan lagi aku belikan ini. Toh ini juga tidak seberapa, aku masih ada simpanan untuk kita kedepan. Simpan ya Mam, untuk tabungan Mami ...!" ucap Vin.
"Makasih Sayang,"
"Sama-sama Mam. Izinkan Vin dan Vannya buat berbakti sama Mami, kami tidak akan pilih kasih kepada siapapun. Kami juga akan melakukan hal yang sama pada Mamah Maya," ujarnya.
"Mami bangga Nak, sama kalian. Mami beruntung menjadi Ibu dari kalian. Makasih," memeluk Vannya dan Vin secara bersamaan.
"Kami yang beruntung, bisa terlahir di tengah-tengah keluarga kita Mam,"
Untuk beberapa saat mereka ngobrol di sana, sampai akhirnya Vin pamit ke kamar untuk mandi, Mami juga kembali ke kamarnya untuk menyimpan hadiah dari putranya. Begitupun Vannya yang tak lama setelah mereka pergi, ikut menyusul suaminya ke atas.
Terdengar suara shower dari dalam kamar mandi, tas kerja tergelat begitu saja di atas kasur. Dengan cepat Vannya segera memindahkannya ke ata meja di sudut kamarnya.
"Astaga ...! Udah berapa kali dibilangin, masih saja lupa ...!" gerutunya.
"Makasih Sayang, selalu bikin aku merasa bangga dan beruntung bisa kenal sama Kakak. Apalagi memiliki Kakak seutuhnya, kelak akan aku ceritakan bagaimana cara kamu mencintai keluargamu pada anak kita. Supaya anak kita mencontoh hal baik darimu," gumam Vannya seraya duduk di kursi dekat jendela kamar.
Entah berapa lama ia terduduk di sana, hingga akhirnya tertidur bersandar pada sandaran kursi yang empuk. Vin yangbbaru saja selesai mandi dengan rambut yang masih setengah basah hanya tersenyum melihatbm isterinya yang seringkali tertidur dimanapun.
Dengan hati-hati Vin memindahkan isterinya ke atas kasur agar posisinya lebih nyaman dan badan tidak sakit karena tidur dalam posisi yang tidak nyaman.
"Tidurlah sepuasmu, sebelum kamu kerja besok Sayang," gumamnya.
Tring ...!
Vin segera beranjak pergi ke balkon, menghindari syara yang akan mengganggu isterinya yang sednag tertidur pulas. Tertulis nama orang yang di tugaskan menajga Ilham di dalam hutan sana.
Obrolan di Telepon ...
"*Ada apa?" tanya Vin.
"Maaf Pak, apakah kita jadi memindahkan dia ke RSJ?" tanyanya dengan hati-hati.
"Tentu saja jadi, apa ada masalah disana?" tanya Vin lagi.
"Tidak Pak, baru saja Pak Chandra meminta kami untuk membawanya ke pusat rehabilitasi yang sudah beliau percayakan. Menurut Bapak bagaimana?" ujarnya meminta keputusan dari Vin.
__ADS_1
"Hmm, tapi tempat terjamin kan? Dia tidak akan bisa kabur dari sana kecuali ada pihak keluarga yang mengambil?" tanyanya untuk memastikan.
"Iya Pak, kata Pak Chandra di sana penjagaan aman. Dan mungkin kami juga akan di tugaskan disana untuk mengawasinya," jelasnya.
"Baiklah, lakukan saja. Pastikan tidak ada warga yang melihat atau curiga pada kalian. Katakan saja pasien mengamuk dan ada korban dari perilakunya," pintanya.
"Baik Pak, akan kami laksanakan ...!"
"Pastikan kalian tutup kedua matanya, dan mulutnga agar tidak bersuara dan mengundang perhatian banyak orang sebelum masuk ke dalam mobil,"
"Baik Pak," jawabnya dengan tegas.
"Hmm, ya sudah ...! Selebihnya saya percayakan pada kalian berdua. Terimakasih*,"
Telepon segera terputus. Vin kembali masuk ke dalam kamar. Vannya masih tertidur di sana, Vin ikut duduk di atas ranjang membelai rambut isterinya yang terurai panjang hampir menutupi sebagian wajahnya.
Di Tengah Hutan ...
Ilham masih tertidur, mereka bergantian untuk makan mengisi tenaga sebelum membawa Ilham keluar dari hutan dan mengantarnya ke pusat rehabilitasi di Ibukota.
Gerimis turun lumayan deras, udara dingin menjalari sebagian tubuhnya menyelinap masuk melalui celah baju yang mereka pakai.
"Bagaimana katanya?" seraya mengunyak makanan yang baru saja di suapnya.
"Pak Vin setuju, selepas maghrib kita mulai lakukan rencana," jawabnya.
"Baiklah. Kau juga makan dulu, dia aman tidak akan bsia kemana-kemana. Lagian tangan dan kaki sudah diikat," ujarnya terus mengunyah.
"Bagaimana bisa tidak ada orang yang tau atau menemukan Ilham? Padahal berita kehilangan sudah menyebar di media sosial," gumamnya.
"Siapa dulu yang melakukan ini. Kalau sampai ada orang yang tau, tamatlah riwayat kita. Mereka akn mengira ... kita yang melakukan ini. Pak Vin dan Pak Chandra tentu saja tidak akan terlibat,"
"Meski kita membocorkannya sekalipun. Mereka sudah memeperhitungkan segala sesuatunya dengan matang-matang," imbuhnya.
"Kau benar. Baru kali ini aku berpihak pada tindakan semacam penculikan. Pak Vin melakukan ini bukan karena jabatan yang dimiliki, melainkan untuk melindungi isterinya, dan memberi pelajaran bagi yang sudah berani mengusik Bu Vannya," jawabnya.
"Kau benar, aku melihat dengan maa kepalaku sendiri saat Pak Chandra membawa Bu Vannya yang sudah terkulai lemah. Mungkin jika aku di posisi Pak Vin juga akan melakukan hal yang sama. Bahkan membunuhnya secara langsung," ujarnya dengan geram.
__ADS_1