
"Haiihhh. . .kata-katamu mengingatkanku pada lekasihnya Mami yang sudah mengusirku supaya dia bisa berpacaran dengan Mami saat ini." Ujar Alina.
Vin hanya menggelengkan kepalanya mendengarkan penuturan dari Alina. Vin duduk di samping Alina dan langsung merebahkan badannya di sofa dengan kepala berbantalan paha Alina.
"Kamu pasti capek ya. .Kasihan sekali adiku ini." Ujar Alina mengelus kepala adiknya dengan lembut.
"Hmm. . .Kakak tau? Ini adalah pertama kalinya aku mendapatkan klien. Dan sepertinya pertemuan kali ini berhasil. Semoga aku tidak mengecewakan Papi." Ujar Vin.
"Kamu pasti bisa Sayang. . .Papi, Mami dan Kakak bangga padamu." Ujar Alina.
"Kak. . boleh aku bertanya sesuatu padamu?" Tanya Vin langsung bangun dan duduk kembali di samping Alina.
"Hmm. . tanya apa?" Tanya Alina.
"Bagaimana hubungan kakak dengan. . " Ujar Vin yang langsung di jawab Alina.
"Kami putus Dek. . .Dia menghianatiku. Akh melihat dengan kepalaku sendiri dia tidur dengan teman kakak. Untunglah Kakak selama dengan dia tidak pernah melakukan perbuatan yang lebih." Ujar Alina dengan wajah yang sedijit kecewa.
Alina menceritakan semuanya pada Vin saat pertama kali dia memergoki kekasihnya yang menginap di apartement temannya.
[Flashback On]
Aku tinggal di sebuah apartemen mewah (mansion). Aku tinggal sendirian disana, supaya aku bisa memiliki privasi dari orang lain dan juga bisa berisitirahat setelah pulang kuliah atau pulang sesi foto.
Pagi itu, ada jadwal kuliah pagi. Aku biasanya berangkat dengan Wakana teman dekatku sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di Universitas di Kota Tokyo.
Seperti biasa, sebelum berangkat Aku selalu mengirim sebuah pesan WhatsApp pada Wakana untuk janjian ketemu di halte. Tapi tak seperti biasanya, pagi itu Wakana tidak membalasnya.
Karena khawatir dengannya Aku akhirnya memilih untuk menyambangi apartemen sahabatku yang letaknya hanya 3km dari apartemen**ku saat ini.
Ting tong. . .
Seorang gadis cantik membuka pintu apartemen. Terlihat wajah kagetnya saat melihat kedatanganku pagi itu. Aku menyapanya, dan dia hanya tersenyum seperti orang yang salah tingkah.
__ADS_1
" Ohayogozaimasu. . " Sapaku padanya saat melihatnya membuka pintu
" Ohayō Nana. . " Jawabnya dengan ekspresi salah tingkah.
" Mōshiwakearimasenga, watashi kara no messēji ni henshin shinai node wanai ka to shinpaideshita. ( Maaf aku datang, karena aku khawatir kamu tidak membalas pesan dariku.)" Ucapku menjelaskan kepadanya.
" Hontōdesuka? Kesa denwa no rokku o kaijo shite imasen. .( Benarkah? Maaf aku belum membuka ponsel pagi ini)" Jawabnya dengan canggung.
" Daijōbu? Naze anata no kao wa totemo usuidesu ka? Iri tte mo īdesu ka? ( Apakah kamu baik-baik saja? Kenapa wajahmu pucat sekali? bolehkah aku masuk?)" Tanyaku dengan khawatir.
Wakana bilang tidak apa-apa. Dia hanya menggeser dari tempatnya berdiri memberiku jalan untuk masuk ke apartemennya.
Aku melihat seorang pria masig tertidur di atas kasurnya dengan berbalut selimut. Aku seperti mengenalnya, kakiku berjalan mendekatinya tanpa aku minta.
Deggg. . .
Aku tak percaya, Gin yang tak lain adalah pria yang sudah hampir 4 tahun mengisi hatiku. Kakiku seketika menjadi lemas, aku tak menyangka jika Gin dan Wakana mengkhianatiku.
Hatiku merasakan sakit saat itu juga, air mataku sudah lebih dulu mengalir. Aku segera mengambil tasku yang terjatuh karena aku kaget tadi. Aku segera pergi keluar tak memperdulikan Wakana yang memanggilku.
Aku pikir Gin tidak akan pernah mengkhianatiku. Karena dia selalu memberikan support dan menjadi penyemangatku saat aku mengeluh capek atau apapun.
Ponselku tak berhenti berdering. Aku diamkan saja sampai ponselku mati karena baterai habis. Untung saja hati itu tudak ada jadwal foto, setidaknya aku tidak perlu bersusah payah mengatur mood ku yang berantakan karena kejadian pagi ini.
Dan sejak kejadian itu aku tak pernah lagi bertemu dengan Wakana maupun Gin. Aku tak perduli bagaimana keadaan mereka saat ini. Aku ganya ingin fokus kuliah dan menyelesaikan pendidikanku suoaya aku bisa segera kembali ke Indonesia dan melupakan semua kenangan pahit selama 6 bulan setelah kejadian itu.
[Flashback Off]
" Tapi Kakak tidak berbuat lebih kan selama berpacaran dengannya?" Tanya Vin setelah Alina selesai menceritakan semuanya.
"Astaga. . . Apakah aku sehina itu? Apa kamu pikir aku akan melakukannya? Yang ada aku akan di bakar hidup-hidup sama Papi dan Mami." Ujar Alina.
"Syukurlah. . .setidaknya Kakak masih bisa menjaga kehormatan Kakak. Aku yakin Kakak akan bertemu dengan pria yang jauh lebih baik darinya." Ujar Vin.
__ADS_1
"Hmm. . .saat ini aku belum ingin membuka hatiku untuk pria manapun. Bukan karena akh belum move on. . Tapi karena aku ingin menikmati kesendirianku. Lagian ada Mami, Papi dan kamu yang sudah mengisi hari-hariku saat ini." Ujar Alina.
"Haihh. . .Kakak sudah hampir kepala 3, mau sampai kapan kakak menjomblo? " Ujar Vin.
"Astaga. . .Kau ini. Bisakah kata-kata jomblonya tidak usah kau sebut?" Ujar Alina.
"Tapi kan memang benar. . .Kakak itu jomblo . .Lalu apa salahnya Kak?" Tanya Vin lagi.
"Haiihhh. . . Pokoknya aku belun ingin menjalin hubungan yang serius dengan siapapun. Titik. " Ujar Alina.
" Boleh saja Kakak berkata seperti itu, Tapi Tuhan lebih tau semuanya. . .Rencana-Nya jauh lebih indah dari apa yang sudah Kakak rencanakan. Siapa tau satu jam bahkan satu detik kemudian Kakak berubah pikiran." Ujar Vin dengan bijaknya.
"Apa kau benar Adikku??? Coba sini aku cek. . . " Ujar Alina mendekatkan punggung tangannya ke dahi Vin dan membandingkannya dengan suhu badannya sendiri.
"Haiihhh. . . ." Ujar Vin.
"Suhu badan normal 36,2 . . Kau dapat dari mana kata-kata bijak itu?" Ujar Alina.
"Astaga . . . Aku sudah besar Kak. . .Meski Kakak lebih tua dariku, tapi setidaknya aku ada hak untuk mengingatkan Kakak jika itu untuk kebaikan. Dan aku tidak ingin karena Kakak terlalu fokus kerja akhirnya Kakak melupakan umur yang . ." Ujar Vin yang langsung di potong Alina.
"Yang sudah tua maksudmu?? Aku baru 25 tahun. . . untuk sampai di kepala tiga masih 5 tahun lagi. . .tenang saja." Ujar Alina.
Tiba-tiba ponselnya berdering, sebuah panggilan masuk datang dari Kinan yang sudah menunggu Alina dan Vin di ruang kerja Randy.
"Hallo Mam. . . ada apa? Apakah sudah selesaj pacarannya??" Tanya Alina pada Kinan.
"Mami dan Papi sudah sejak tadi menunggu kalian untuk makan siang sayang. . . Lekaslah kemari sebelum makan siang berganti menjadi makan sore." Ujar Kinan.
"Hmmm. . . Okey Mam. . .kami akan segera kesana." Ujar Alina mengakhiri panggilan.
Dilihat jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 2 siang Itu berarti Alina sudah selama 1,5 jam bersama Vin di ruang kerjanya.
"Ayok. . .Mami dan Papi sudah menunggu disana." Ujar Alina mengambil tas kecilnya yang dia letakkan di pojok sofa.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
♡KEKASIH KONTRAK TILL JANNAH EPS. 155♡