
Setelah melewati gerbang rumah yang menjulang tinggi, dan memastikan situasi aman untuk menyeberang iapun melangkahkan kakinya untuk mulai menapaki jalan menuju mobilnya yang ia perkirkan tak jauh dari rumah Nyonya Erika.
Saat hampir sampai ke bahu jalan, tiba-tiba sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi menyenggol tubuhnya dan membuat tubuhnya terbanting cukup keras di atas kerasnya aspal.
Brukkk ...!
_______
"Papi ...!" teriaknya dengan sangat keras.
Mobil segera menepi, Vannya segera turun dan hendak lari untuk menolong pria paruhbaya yang sudah bersimbah darah. Namun Chandra menahannya, ia meminta Vannya untuk tetap di tempat menghubungi petugas medis saja karena melihat kondisi Vannya yang sedang berbadan dua.
Chandra segera mendekati Papi, memastikan denyut nadi masih terasa. Dua jari ia tempelkan di leher bagian kanannya untuk mencari denyut nadi disana, ternyata masih ada.
"Pih, bertahanlah ...!" ujar Chandra.
"Pih ...!" teriak Vin yang baru sampai di lokasi.
Tak lama setelah itu, mobil ambulance datang dan segera memasukkan Papi ke dalam mobil. Vin dan Vannya ikut masuk ke dalam ambulance, sednagkan Chandra dan Pak Revan mengurus pelaku yang sudah menabrak Papi.
Untung saja, mobil yang menabrak Papi kehilangan keseimbangan dan menabrak pohon besar. Dengan langkah cepat mereka segera mendekati mobil itu dan melihat siapa orang yang ada di dalamnya.
Di sisi lain ....
Prang ...!
Tiba-tiba gelas yang sedang Mami pegang terjatuh dan pecah begitu saja. Alina yang sedang berada di ruang tengah segera bergegas ke dapur di susul Mamah Irene. Terlihat Mami masih terdiam dan syok.
"Mami ... Mami kenapa?" tanya Alina dengan panik.
"Mbok tolong bereskan ya ... hati-hati jangan sampai terluka Mbok ...!" ucap Mamah Irene dengan lembut.
"Nana Sayang, kita bawa Mami kamu ke depan dulu ya. Mungkin dia masih syok," imbuh Mamah dengam begitu sabar.
"I-iya Mah ...!" sahutnya.
"Ayo Mih kita ke depan saja, biar Mbok Jum yang membereskan," ajak Alina dengan pelan.
Mamah dan Alina segera memapah Mami yang masih syok. Rasanya semakin tidak karuan, apalagi saat gelas yang dia pegang terjatuh begitu saja. Air mata yang sejak tadi di bendung lolos begitu saja membasahi wajahnya.
"Mami kenapa nangis? Apa ada yang terluka? Katakan padaku Mam," ujar Alina berusaha meyakinkan Maminya.
__ADS_1
"Ada apa ini?" tanya Papah.
"Pah, coba hubungi Chandra ...! Tanyakan apa dia sudah bertemu dengan Pak Randy," ucap Mamah pada Papah.
"Nyonya, minum dulu ... biar tenang ...!" Ujar Mbok Jum yang datang membawa segelas air di tangan kanannya dari dapur.
"Mam ...! Ayo minum dulu," ucap Alina mendekatkan segelas air yang di berikan Mbok Jum tadi ke mulut Mami.
Perlahan air dalam gelas yang di peganginya sudah habis, tangisnya semakin pecah menyisakkan kesedihan di hatinya. Mulutnya susah sekali untuk berucap, hanya menangis yang bisa dilakukan saat ini.
"Bu, tarik nafas dulu ... tenangkan dulu semuanya ya. Tidak akan terjadi apa-apa. Pak Randy pasti baik-baik saja," ujar Mamah Irene.
"Tidak Bu Irene, perasaanku ...!" ujarnya tak mampu meneruskan kata-katanya.
"Mami, apa yang di katakan Mamah benar. Semua akan baik-baik saja. Mungkin tadi Mami sedang kurang fokus, makanya Mami tak sengaja menjatuhkan gelasnya. Tapi tenanglah," sahut Alina menggenggam tangan Mami Kinan.
"Bagaimana Mami bisa tenang Nak, sampai sekarang Papi kalian belum juga ada kabar. Setidaknya Papi kalian mengirimkan pesan kalau udah sampai," ucapnya.
"Mungkin Papi sibuk Mih, atau mungkin ponselnya mati. Bisa aja kan," ucapnya berusaha menenangkan.
Tak lama setelah itu, Papah kembali dengan wajah yang tak bisa di jelaskan. Mamah Irene segera menghampirinya untuk menanyakan apa yang terjadi, kenapa wajahnya seperti ada kabar yang tidak baik.
"Pah, ada apa? Papah dah telepon sama Chandra?" tanya Mamah mengecilkan suaranya.
"Lalu kenapa Papah seperti orang bingung? Apa yang dikatakan Chandra? Apa dia sudah bertemu dengan Pak Randy?" tanya Mamah secara berturut-turut seolah tak memberinya kesempatan pada Papah untuk menjawab.
"Cha-Chandra bilang, Pak Rendy ... ditabrak Mah ...!" Ujarnya.
"A-apa?" jawabnya dengan terkejut.
"Mas Rendy ...!" Teriak Mami histeris.
Alina hanya bisa menangis seraya memeluk Mami. Hatinya hancur mendengar kabar buruk yang menimpa Papi. Pria yang sudah menjadi cinta keduanya setelah Ayah Hans.
Sementara itu ...
Saat Chandra hampir sampai di mobil yang menabrak pohon itu. Tiba-tiba ponselnya berdering, sebuah panggilan masuk dari Papah. Chandra segera mengangkatnya.
*Obrolan di Telepon
"*Hallo Chan ... Nak kamu dimana? Bagaimana apa kamu udah ketemu sama Pak Randy?" tanya Papah.
__ADS_1
"Iya Pah ...! Saat ini Papi di bawa ke Rumah Sakit. Dia terserempet mobil dan kondisinya kritis. Aku masih di TKP karena mobil yang menyempet Papi menabrak pohon, aku mau urus pelakunya dulu ya Pah,"
"Titip Nana sama Mami. Saat ini Papi di bawa ke Rumah Sakit Permata Ungu," ujarnya.
"A-apa? Pak Rendy ditabrak? Astaga ... Baik Nak, urus semuanya. Kalau dia sengaja melakukan itu pastikan dia di jebloskan ke dalam penjara,"
"Iya Pah. Akan aku pastikan*,"
Telepon terputus, dan Chandra segera mendekati mobil yang sudah berada di depan matanya. Namun langkahnya kembali terhenti.
"Chandra ...! Tunggu Nak, polisi datang. Sebaiknya biar polisi saja yang memeriksa," ujar Pak Revan padanya.
"Hmm, Om benar," sahutnya.
Chandra berbalik badan menyambut kedatangan beberapa polisi di sana.
"Selamat sore, Pak ...!" Sapanya seraya mengulurkan tangannya.
"Sore Pak, syukurlah Bapak segera datang ...!" ujar Pak Revan.
"Iya Pak, karena beberapa menit yang lalu warga yang mengabari saya bahwa telah terjadi insiden disin," jawabnya.
"Benar Pak, kebetulan yang menjadi korban adalah keluarga kami. Saat ini korban sudah di larikan ke Rumah Sakit," ujarnya.
"Semoga keluarga Bapak baik-baik saja. Kalau begitu mari kita periksa siapa pemilik mobil tersebut," ujarnya.
Chandra dan Pak Revan memilih untuk berjalan di belakang Pak Polisi. Setelah mendapat isyarat dari Pak Polisi, Chandra dan Pak Revan pun sudah menganggukkan kepalanya sebagai tanda persetujuan, akhirnya pintu mobil terbuka.
Cklekkk ...!
Sang sopir sudah di temukan dalam kondisi yang mengenaskan karena kepalanya menghantam dashboard mobil dengan cukup keras dan serpihan kaca yang mengenai kepalanya.
"Bu-bukan saya Pak. Sa-saya ha ... nya di su-suruh ...!" ujarnya terbata-bata dan kemudian menghembuskan nafas untuk yang terakhir kalinya.
"Di suruh? Apa maksudnya?" ujar Chandra tak mengerti.
"Yang lain coba periksa apakah ada penumpang lain di dalam. Pak Chandra dan Pak Revan sebaiknya mundur dulu 5 langkah ya. Sepertinya ini adalah perbuatan yang di sengaja," ujar Pak Polisi.
Tak menunggu lama, pintu mobil bagian belakang terbuka. Lagi-lagi penumpang di dalamnya sudah tak bernyawa. Wajahnya juga terkena serpihan kaca sehingga rusak tak bisa ia kenali.
"Pak ...! Penumpang satunya masih ada denyut nadi," teriak anggotanya dari sebelah kiri sana.
__ADS_1
Chandra berlari mendekati sumber suara tersebut untuk melihat siapa penumpang disana. Tapi dia tak bisa mengenalinya. Tak berapa lama setelah itu, Pak Revan datang menyusulnya.
"A-Aura ...!" Ujarnya tak percaya.