Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Alina sayang. . .


__ADS_3

"Sofi lepaskan dia, kali saja dia ingin menyampaikan pesan terakhirnya."Ujar Randy pada Sofi.


"Dasar anak tidak tahu diri, sejak kecil sudah Pram rawat ketika orangtuamu pergi. Tapi ini balasanmu padaku?"Ujar Tante Dona.


"Om Pram yang merawatku, buka Tante kan? Bukankah uang jajanku juga Tante yang menghabiskan untuk pergi dengan teman-teman Tante? Lalu apa lagi yang harus aku berikan untuk Tante? Oh iya. . Mobil juga sudah aku belikan karena aku masih menghormati Om Pram, tapi ternyata mobilnya Tante gunakan untuk menabrak calon isteriku."Ujar Randy dengan santai.


"Kau seharusnya berterimakasih karena Mas Harun menjodohkanmu dengan putrinya. Dia sederajat denganmu daripada gadis itu. Kau sudah mematahkan hati Erika. . "Ujar Tante Dona.


"Sepertinya bukan hanya itu alasan Tante, tapi karena Tante jadi tidak bisa lagi ikut menikmati uang yang telah di gelapkan Om Harun."Ujar Randy.


"Penggelapan uang?"Tanya Om Pram terkejut


"Iya Om, isteri Om dan kakak Ipar Om telah menggelapkan uang perusahaan. Ya.. meskipun hanya 50 milyar, dan mereka memanfaatkan Erika sebagai senjata untuk menguras harta Ardhana Group."Ujar Randy dengan santainya.


Semuanya terkejut karena tidak menyangka Tante Dona sejahat itu. Sedangkan Tante Dona hanya diam tanpa ekspresi seolah dia merasa benar. Sofi yang masih terbawa suasana tak segan-segan menampar Tante Dona untuk kesekian kalinya.


"Sofi. . . Puaskan amarahmu, setelah itu kita pegi menemui pelaku yang lain."Ujar Randy.


"Huhhh.... tidak akan ada puasnya Pak. Tapi setidaknya masih ada satu lagi yang harus aku berikan pelajaran."Ujar Sofi mengepalkan kedua tangannya lagi.


Astaga. . .anak ini. . Sepertinya dia benar-benar menyayangi Kinan dan Lia. . -Batin Randy.


"Baiklah. . Om, Dev, Rista nikmati waktu kalian bersama Tante Dona." Ujar Randy tersenyum licik melihat Tante Dona yang masih membuang wajahnya.


Randy dan Sofi segera meluncur menuju lokasi Erika, setelah mendapat pesan dari orang kepercayaanya untuk membuntuti Erika.


"Kau masih ingin memukul anak kecil itu nanti?"Tanya Randy.


"Hmm.. kalau boleh Pak. Meski dia tidak ikut dalam mobil itu tapi saya yakin, dialah otak dari kejadian ini."Ujar Sofi.


"Ok, sebelumnya kita korek dulu. Kalau perlu kita pancing supaya dia mengakui."Ujar Randy.


"Caranya Pak?"Tanya Sofi.


"Nanti kau akan tahu."Ujar Randy.


RS. Permata.....


"Maya. .. "Panggil Revan.


"Van.. kau datang kesini? Ada apa?"Tanya Maya langsung mengusap air matanya sejak tadi melihat Lia yang sedang berjuang di ruang ICU.


"Aku membawa mereka, Bu Sofi yang menyuruhku."Ujar Revan lirih.


Astaga. . Nak. . Kamu cantik sekali. .Doakan Ibumu yang sedang berjuang disana ya. . -Batin Maya mengusap kepala Alina yang sedang tertidur di gendongan pengasuh.

__ADS_1


"Bu, bolehkah saya melihat Ibu Lia?"Tanya Susternya memohon.


"Masuklah, biar saya menggendong gadis kecil ini. Kasihan jika dia masuk akan terganggu dengan suara alat di dalam. " Ujar Maya.


"Baik Bu."Melepas gendongannya.


"sstt.... tidurlah Nak... " Ujar Maya menimang Alina dengan pelan.


"Bu Lia. . ini saya Ani. Saya datang bersama Nana Bu. Nana terus mencari Ibu, saya tidak tahu bagaimana harus beralasan lagi Bu. Cepat sadar Bu."Ujar Ani menangis.


Sus. . terimakasih sudah menjaga Nana dengan baik. Aku ingin memeluk dan menggendong Nana. . Tapi badanku sangat sakit, aku tidak bisa bangun... -Ucap Lia dalam hati dan air matanya keluar.


"Bu. .Ibu wanita yang kuat. Tapi saya tidak bisa melihat ibu seperti ini. Lebih baik ibu memarahi saya saja. . Asalkan ibu bangun."Ujar Ani lagi.


"Lia, kau tak ingin melihat putrimu? Dia disini. . dia sedang melihatmu Li, aku harus berkata apa padanya Li. .bangunlah. Jangan buat aku bingung. . ."Ujar Maya yang sudah masuk dengan Alina di dekapannya.


"Ibu. . Ibu bobok?Nana mau ikut bobok sama Ibu."Ujar Alina dengan polosnya.


"Sayang. . Ibu lagi bobok, jangan di ganggu dulu ya. Nana mau pegang tangan ibu?"Tanya Maya.


"Boleh tante?"Tanya Alina dengan bahasanya yang masih belum jelas.


"Boleh sayang. . Ayo pegang."Maya mendekatkan tangan Lia dan Alina.


"Ibu, ini Nana. Ibu cepat bangun ya. Kata Tante.. Nana tidak boleh ganggu Ibu bobok." Ujar Alina terus menggenggam tangan Lia.


Maya aku juga ingin bermain dengan Nana.. tapi mataku tidak mau terbuka..-Ucap Lia dalam hati.


"Tante... ibu nangis."Ujar Alina menunjuk air mata Lia yang menetes.


"Iya sayang. . .Ibu lagi mimpi indah.. Sekarang Nana ikut tante ketemu teman Ibu yang lain ya. Dia orang baik, teman baiknya Ibu Nana."Ucap Maya.


"Aunty Kinan?"Tanya Nana dengan mata berbinar.


"Kamu tahu Aunty Kinan?"Tanya Maya?


"Ibu Lia sering bercerita tentang Nona Kinan ke Nana Bu."Ujar Ani pada Maya.


"Oh. . Baiklah.. sus aku titip Lia ya. Aku ingin membawa Nana ke Kinan."Ujar Maya pada sus Ani.


"Baik Bu."Jawab Ani.


Maya dan Revan segera menuju ruang rawat Kinan di lantai 3. Alina hanya diam berada dalam gendongan Maya, sesekali matanya tertuju pada lampu-lampu di setiap lorong yang menyala.


"Nana suka dengan lampu-lampu itu?"Tanya Maya

__ADS_1


"Hmmm..."Alina menganggukan kepalanya.


"Kamu lucu sekali sayang. . . Pasti Aunty Kinan menyukaimu."Ujar Maya.


"Ibu juga berkata seperti itu. . "Ujar Alima dengan imutnya.


Revan hanya tersenyum mendengar percakapan Alina dan Maya. Sesampainya di depan kamar Kinan, Maya segera mengetuk pintunya. Dan Bunda yang membukakan pintu untuk mereka.


"Selamat siang Bunda. . Maaf saya mengganggu."Ujar Maya dengan sopan.


"Siang Maya. . .ini siapa? Cantik sekali?"Tanya Bunda mengelus pipi Alina.


"Nana. . "Jawab Alina.


"Namanya Alina Bun. . anaknya Lia."Ujar Maya menjelaskan.


Seketika Bunda menangis, teringat dengan Maya yang tadi ia lihat masih tak sadarkan diri di ICU. Mendengar nama Alina membuat Kinan segera mengalihkan perhatiannya pada Maya.


"Alina. . . Maya bawa dia kesini." Ujar Kinan.


"Sayang. . ini Aunty Kinan. Nana ingin bertemu dengan Aunty kan?"Tanya Maya.


"Halo Aunty. . "Sapa Alina dengan lucunya.


"Halo sayang. . .Aunty boleh peluk Nana?"Tanya Kinan.


"Hmm.. "Jawab Alina.


Maya menurunkan Alina dari gendongannya ke atas bed. Kinan memeluk Alina dengan erat dan mengecup pucuk kepalanya berkali-kali. Kinan teringat dengan Lia yang selalu bercerita tentang tumbuh kembang putrinya tanpa kehadiran Ayahnya.


"Nana sayang . . doakan ibu agar cepat sembuh ya. . Ibu sangat menyayangimu Nak. Setiap hari Ibu selalu bercerita tentang Nana. . "Ujar Kinan memeluk Alina.


"Tapi Ibu lagi bobok. Nana tidak mau ganggu Ibu bobok." Ujar Alina.


"Anak pintar. . .Untuk sementara Nana main sama Aunty ya. Disini ada Opa dan Oma." Ujar Kinan.


"Nana punya Opa?Oma?"Tanya Alina dengan polos.


"Hmm.... Nana punya Opa dan Oma sekarang." Ujar Kinan.


"Horee.... Nana punya Opa, punya Oma." Ujar Alina dengan senang.


Alina sedang bermain dengan Bunda, Ayah, Mamah, Papah dan Rayna. Sedangkan Maya, Kinan dan Revan melihatnya dengan sedih.


"Lia wanita yang kuat, dia membesarkan anaknya sendiri, sejak meninggalnya Ayah Alina 6 bulan yang lalu. Mertuanya juga membencinya karena sejak dulu mereka tidak suka dengan Maya, dan menuduh Maya yang membunuhnya." Ujar Kinan terisak.

__ADS_1


Maya hanya menangis tak mampu berkata-kata untuk menjawab Kinan. Melihat sahabatnya menangis, Kinan segera memeluk Maya dengan erat dan menenangkannya.


"Aku tahu apa yang kamu rasakan May. Kita doakan supaya Lia segera sadar, dan kita main bersama Nana ya. Aku tahu, pasti saat ini Lia sedang berusaha untuk bisa bangun melawan sakitnya." Ujar Kinan.


__ADS_2