Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Kurir Paket


__ADS_3

"Kalau begitu hukum saja putrinya. Pasti buah jatuh tidak jauh dari pohonnya," celetuk Mamah Maya dengan kesal.


"Kami masih mendalami kasus ini Bu. Dan hari ini tim kami juga mendatangi Nona Aura untuk mendapat informasi dari pihak sana,"


"Semoga hukum bisa ditegakkan Pak ...! Jangan sampai yang bersalah bisa bebas berkeliaran,"


__________


"Kalau begitu, apakah saya boleh melihat pasien Bu?" tanyanya meminta izin.


"Oh silakan Pak," ujarnya.


Mereka bergegas masuk ke dalam, memakai pakaian yang sudah di sediakan pihak Rumah Sakit untuk menjenguk pasien.


"Aiihhh ...! Aku kenapa jadi kesal sendiri ke putri nya Erika sih? Astaga ... Tuhan, maafkan hambamu ini," gumam Mamah Maya yang merasa kesal.


"Aku juga sepertimu May, tapi kita bisa apa. Kita gak tau putrinya salah atau tidak," ujar Mami Kinan.


"Tenang saja, Tuhan tidak tidur Bu. Pasti mereka akan mendapat balasan yang setimpal," celetuk Mamah Irene.


Tiba-tiba berdiri dua wanita paruh baya di hadapan Kinan yang sedang melihat ke arah lantai. Saat kepala mendongak, ternyata dua sahabatnya disana. Kinan masih tak percaya, dia hanya diam dan menatap wajah keduanya secara bergantian.


"Kin ...!" ucap Lila.


"Hei, kamu kenapa? Apa kamu lihat kami seperti bidadari?" celetuk Devi seraya menggandeng putranya yang masih berusia 12 tahun.


"Ka-kalian ...? Apa aku tidak salah lihat?" gumamnya tak percaya.


"Bangunlah kalau kamu lagi mimpi, kami datang untukmu. Apa kamu tidak ingin memeluk kami?" ujar Devi.


"Dev ... Lila ...? Makasih," ucapnya seraya memeluk sahabatnya satu persatu.


"Sudah lama kita tidak ketemu, tapi sekarang kita ketemu di tempat ini tempat yang sama seperti beberapa tahun yang lalu," ujar Lila.


"Hmm, akupun tidak menginginkan ini. Tapi kita bisa apa," ujar Kinan.


"Sudah, jangan sedih-sedih lagi ... kalian datang bukan untuk membuat besan kami semakin sedih," celetuk Mamah Maya seraya merangkul Mamah Irene.


"Astaga besan dong ...!" sahut Lila.


"Iya yang udah punya besan ...! Sebentar lagi ada cucu juga kan?" ujar Devi.

__ADS_1


"Hmm, tahun ini aku ada punya dua cucu," ujar Mami Kinan.


"Nana mengandung kembar?" tanya Devi.


"Tidak, eh belum tau. Vannya juga sudah menyusul Nana," jawabnya.


"Wah, selamat Kin ...! May ...! Bu Irene ...! Anak mereka juga cucu kami kan," ujar Lila.


"Tentu saja La, Nana kan anak kita semua ...!" sahut Mamah Maya.


"Ada Polisi di dalam?" tanya Devi.


"Hmm, sedang melihat kondisi Mas Randy," jawab Mami Kinan.


"Setelah ini kami boleh lihat kan?" tanya Lila.


"Tentu saja," sahut Mami Kinan.


Tak lama setelah itu, dua polisi yang tadi masuk untuk melihat kondisi Randy sudah keluar dan segera berpamitan untuk melanjutkan urusannya di kantor. Lila dan Devi segera masuk untuk melihat kondisi Randy.


"Ya Tuhan, kenapa bisa seperti ini? Kenapa lagi-lagi harus keluarga Kinan yang mengalami ini? Aku gak nyangka Pak Randy akan seperti sekarang ini," ujar Lila.


"Iya La, mereka orang-orang yang baik. Semoga ada keajaiban Tuhan yang di turunkan untuk memperseatukan mereka dalam keadaan yang baik," sahut Devi.


"Bapak terlalu baik, itulah yang membuat orang terkadang iri jika melihatnya. Tapi kami yakin, orang yang menyayangi Bapak jauh lebih banyak dari mereka yang menaruh rasa iri dan dengki," imbuh Devi.


Air mata menetes dari sudut mata mereka, rasa kesedihan yang mereka rasakan adalah bentuk kasih sayang dan penghormatan untuk Pak Randy dan keluarga.


Di sisi lain ....


"Kakak mau kemana?" tanya Vannya.


"Aku mau ke Rumah Sakit dimana Aura dirawat saat imi, baru saja dari kepolisian mengabarkan jika mereka sedang dalam perjalanan ke RS untuk meminta keterangan dari Aura," ujarnya.


"Ah, kalau begitu apakah aku perlu ikut?" tanyanya lagi


"Tidak usah, kamu disini saja. Nanti aku kabari ya. Aku titip Perusahaan padamu, kalau ada apa-apa segera kabari aku," ujarnya.


"Hmm, baik Kak ...! Hati-hati di jalan, sampaikan salamku untuk Aura. Semoga dia bisa ikhlas menerima keadaannya yang sekarang," ucap Vannya.


"Hmm, akan aku sampaikan," Chandra segera pergi meninggalkan Vannya di meja kerjanya.

__ADS_1


"Semoga saja Aura kooperatif dan masala ini cepat selesai. Hah ...! Aku lapar, aku makan buah yang ku bawa dari rumah dulu deh. Waktu makan siang masih 1 jam lagi," gumam Vannya bicara pada dirinya sendiri.


Vannya kembali memeriksa beberapa laporan yang masih lumayan banyak sambil sesekali memakan buah yang dia bawa. Tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu, seorang kurir paket datang dengan sebuket bunga besar di pelukannya.


"Selamat pagi," sapanya.


"Pagi, paket buat siapa Pak?" tanya Vannya.


"Buat Bu Vannya," jawabnya.


"Dari siapa Pak?" tanya Vannya.


"Dari Dokter Ilham Bu, apa Bu Vannya ada?"


"Ya, saya Vannya. Tapi mohon maaf, saya tidak bisa menerima paketnya. Sampaikan maaf saya padanya ya Pak," ucap Vannya dengan sopan.


"Tapi Bu," ucapnya seraya menutup pintu.


"Eh? Kenapa pintu di tutup? Buka saja Pak, dan bawa kembali bunga itu ya," ucap Vannya.


"Tidak bisa Bu, karena ini di tujukan untuk Ibu. Dan alamat yang kami terima ya disini," ujarnya seraya berjalan maju mendekati meja kerja Vannya.


"Tapi saya tidak bisa menerimanya," ujarnya.


"Kalau begitu, tolong tanyakan alamat Dokter Ilhamnya agar saya bisa langsung mengantarnya kesana," ujarnya.


"Baiklah, tapi tolong Bapak tetap disitu. Jangan mendekat ...! Sa-saya akan menghubungi Dokter Ilham, silakan duduk di sofa ya Pak," ucapnya.


Tapi bukannya duduk di sofa malah ia duduk di kursi hadapan Vannya. Membuat Vannya merasa kesal karenanya, ia segera meraih ponsel di atas meja kerja untuk mencari nomor Dokter Ilham.


Sementara itu,


Chandra segera bergegas menuju Rumah Sakit Sumber Warad dimana Aura berada disana. Jarak Rumah Sakit dengan Perusahaan hanya membutuhkan waktu 30 menit perjalanan.


Sesampainya di sana, Chandra segera bergegas menuju ruang perawatan Aura di lantai 3. Di lorong masuk sudah terlihat beberapa polisi yang berjaga disana. Mereka menyambut Chandra dengan ramah dan mempersilakannya untuk segera ke Ruang Perawatan.


"Apakah saya terlambat?" tanya Chandra setelah sampai di depan pintu.


"Belum Pak, baru saja penyidik datang. Dan masih berusaha mengajak saksi untuk bicara secara baik-baik karena psikisnya masih terguncang," jawabnya.


"Hmm, baiklah, terimakasih infonya,"

__ADS_1


Chandra perlahan mengintip dari balik dua badan besar di dalam ruangan. Di sana terlihat Aura masih enggan untuk bersuara dan memilih untuk membuang muka ke tembok.


"Nona Aura, mohon untuk kooperatif ya ...! Kami hanya meminta Nona menjawab iya atau tidak,"


__ADS_2