Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Ikhlaskan Aku?


__ADS_3

"Astaga ...! Rico, aku takut ...!" pekik Dewi menutup wajahnya dengan bahu Rico.


"Tenanglah, ada aku. Toh ada petugas yang memabawanya kan, kecuali kalau brankar berisi jenazah itu jalan sendiri. Aku pasti takut dan udahbkari duluan ninggalin kamu," celetuk Rico.


"Aihh ...! Tega sekali ninggalin. Apa mereka sudah lewat?" tanya Dewi yang masih bersembunyi di bahu Rico.


"Udah Wi, udah jauh kok mereka. Ayo pulang sebelum mereka yang terlihat muncul disini," ujarnya semakin membuat Dewi ketakutan.


"Iiishhh ...! kamu ini," gumam Dewi.


"Ayo, sini tanganmu biar gak takut," jemarinya saling bersentuhan menyatukan dua tangan mereka selama perjalanan dari lorong sampai parkiran Rumah Sakit.


___________


"Kamu kenapa?" tanya Rico saat melihat wajah Dewi murung.


"Sekarang sahabatku juga di Rumah Sakit Ric, isteri Pak Vin. Tadi siang aku dapat kabar dia pendarahan," ujar Dewi.


"Kamu mau menjenguknya? Ayo aku temani," ucap Rico menawarkan diri.


"Besok saja. Ini sudah malam. Toh katana mereka mau pindah Rumah Sakit," ujarnya.


"Ya udah, kalau besok kamu mau kesana ... bilang aku aja. Aku mau kok anterin kamu, kan kita teman ...!" ujarnya.


"Hmm, makasih ya Ric. Udah mau jadi temanku," ucap Dewi.


"Astaga Wi, kamu ini. Aku dari dulu selalu jadi teman kamu kok, dari pertama kita magang malah ...!" sahut Rico.


Sementara itu ....


"Apa yang terjadi sama Vannya?" tanya Mami Kinan.


"Ada yang mengganggunya Mam, tapi udah diurus kok. Dan kondisi Vannya juga calon anak kami baik-baik saja saat ini, hanya perlu bedrest," jawab Vin.


"Ya Tuhan, ada-ada aja sih ...! Untung aja kamu gak apa-apa Nak," ujar Mami.


"Iya Mih, aku gak apa-apa kok," jawab Vannya.


"Ya udah, Mami disini aja ya. Jagain Vannya," ucapnya.


"Gak Mih, Mami sama Mamah pulang aja. Biar aku di sini sama Kak Vin ...!" ucap Vannya.


"Vannya benar. Kalian pulang aja, besok gantian deh jagain Vannya sama Papi," ucap Vin.

__ADS_1


"Tapi kan kamu capek Nak, seharian kerja masa iya malamnya stay di sini," timpal Mamah Maya.


"Gak apa-apa Mah, lagian kalau aku pulang pun percuma. Mana bisa aku tidur tanpa isteriku," jawab Vin.


"Astaga ...! Iya deh iya, ya udah kami pulang. Tapi kalau ada apa-apa kabari kami ya ...!" ucapnya.


"Iya Mah,"


"Van, Mami sama Mamah pulang ya ...! Kamu baik-baik disini. Besok kami kesini lagi," ujarnya.


"Iya Mah, Mih , Mamah Irene. Makasih banyak ya ...!" ucap Vannya.


Setelah itu mereka bergegas pergi, namun sebelumna ke ruang ICU untuk berpamitan pada Papi Randy. Mami Kinan yang masuk ke dalam untuk berpamitan.


"Mas, aku pulang dulu ya ...! Lekas sembuh, malam ini yang jagain Mas ... Vin ya ...! Kebetulan Vannya juga dirawat di sini," ucap Mami.


"Mas, aku kesepian kalau gak ada Mas. Mau sampai kapan Mas terbaring di sini?" ucap Mami menggenggam tangan Papi.


(Hati-hati isteriku, maunya pun aku segera membuka mata ini. Tapi susah sekali rasanya, jangan bersedih ...! Kalau memang ini sudah waktunya untuk kita berpisah, ikhlaskan aku Sayang ...!) Gumam Papi dalam hatinya.


Mami segera keluar, karena hari sudah semakin malam. Dan kasihan Alina yang di rumah sendirian, meski ada Mbok Jum yang menemaninya. Mamah Irene dan Mamah Maya segera memapah Mami menggandengnya berjalan meninggalkan area Rumah Sakit untuk hari ini.


Sementara itu,


Selepas mandi, ia duduk di depan TV. Namun mata tertuju pada benda berbentuk pipih di tangannya. Sejak siang ia belum membuka ponselnya, karena ia ikut sibuk seharian di klinik.


Alina segera menghubungi nomor Vin untuk menanyakan kondisi Vannya saat ini.


"Hallo Vin ...! Bagaimana keadaan Vannya? Coba mana dia? Aku mau bicara ...!" ucap Alina setelah panggilan terhubung.


"Vannya tidur Kak, keadaan sudah membaik ...!" jawabnya.


"Syukurlah ...! Bagaimana kejadiannya? Kenapa bisa seperti itu? Kamu jangan minta jatah sama dia dulu deh ...! Kan udah tau Vannya lagi hamil muda, tahan dulu hasratmu ...!" ujarnya.


"Heh? Siapa yang minta jatah? Toh kejadiannya di Perusahaan, aku tidak disana saat kejadian," ujarmya mengelak.


"Haha ...! Astaga ... aku hanya bercanda Sayang. Oh iya bagaimana keadaan Papi? Apakah belum ada perubahan?" tanya Alina.


Suasana seketika menjadi hening, air mata yang sejak tadi sudah bersarang akhirnya lolos begitu saja dari pelupuk matanya. Dadanya sesak, sulit untuk berkata-kata lagi.


"Belum Kak," jawabnya singkat.


"Hmm," sahut Alina yang tidak mampu menjawab.

__ADS_1


"Kita berdoa saja ya untuk kesembuhan Papi. Semoga Tuhan segera menyadarkan Papi," ucapnya.


"Iya Vin, Kakak selalu berdoa yang terbaik untuk Papi. Kakak yakin, Papi juga sedang berjuang untuk cepat sadar. Seperti Kakak dulu," ucapnya setelah beberapa saat mengumpulkan kekuatan untuk bersuara.


"Dan kamu ... yang sabar ya, jaga Vannya baik-baik ...!" imbuhnya terisak.


"Iya Kak, Kakak juga jaga kesehatan ya. Aku percaya kelak kita akan bisa bersama lagi dengan anggota keluarga yang lengkap, bersama anak-anak kita nantinya,"


"Hmm, pasti ...!" sahut Alina.


"*Yaudah, kamu istirahat gih ...! Kamu kan pasti capek. Ini juga kayaknya Chandra sama yang lain dah pulang kok. Kamu tenang aja ya ... kalau ada apa-apa kabari Kakak,"


"Iya Kak, makasih ya* ...!"


Telepon terputus, Alina segera berlalu ke washtafel depan kamar mandi bawah tangga untuk mencuci wajahnya yang sembab. Setelah memastikan wajahnya terlihat segar, Alina keluar untuk menemui yang lainnya.


Dan betapa terkejutnya dia. Saat melihat Tante Maya juga ikut dengan yang lain. Sudah lama Alina tidak bertemu dengannya setelah pernikahan Vin dan Vannya beberapa bulan yang lalu.


"Tante ...!" sapa Alina segera mencium punggung tangannya dan memeluknya dengan erat.


"Hai Sayang, bagaimana kabarmu Nak? Sudah lama Tante tidak melihatmu," ucapnya seraya mengusap wajah Alina, gadis kecil yang dulunya menjadi primadona semua orang.


"Baik Tante ... bagaimana kabar Tante?" tanya Alina.


"Tante juga sehat Nak. Maaf ya Tante numpang tidur malam ini," ujarnya.


"Hais ...! Tante apa-apaan sih. Kita kan keluarga, aku justru senang kalau Tante sudi menginap di rumah ki yang sederhana ini," ujar Alina.


"Tentu saja mau Nak, ada salam dari Tante Lila dan Tante Devi," ujarnya.


"Tante ketemu sama Tante Lila dan Tante Devi? Wah, aku sudah lama tidak berjumpa dengan mereka," sahutnya.


"Tadi mereka datang ke Rumah Sakit Kak," ujar Mami.


"Iya kah? Kenapa Mami tidak kabari aku? Tau gitu kan aku kesana," celetuk Alina.


"Sayang, ajak masuk dulu. Ataunkita mau semalaman berbincang disini?" tegur Chandra.


"Eh iya, maaf lupa. Tante ayo masuk," ajak Alina.


Tante Maya segera diantar Mamah ke kamar untuk membersihkan badannya dan siap-siap makan malam. Sementara itu, Alina membantu Mbok Jum menyiapkan makam malam karena tidak tau lagi mau ngapain.


Setelah makan malam siap, Alina segera memanggil yang lain dan mengajaknya makan malam.

__ADS_1


"*Ahh ...! Rumahku tambah ramai, andai saja Papi, Vannya, Vin dan yang lain juga ada disini. Pasti suasana akan lebih hangat,"


"Pih, cepat sadar ya ...! Nana kangen Papi* ...!"


__ADS_2