Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Gara-gara Ponsel


__ADS_3

"Sayang, kata Dokter Stef kamu harus istirahat. Usia kandunganmu masih rentan," ujarnya memegangi isterinya.


"A-aku hamil? Cobaan apa lagi ini? Disaat aku tau suamiku ada hubungan dengan wanita lain. Justru Tuhan membiarkan aku untuk mengandung,"


"Pergilah, biarkan aku sendiri untuk saat ini. Please!" ujarnya.


_________


"Ta-tapi Sayang!" ucapnya.


"Pergi!" teriaknya lagi.


Vin segera keluar tanpa berkata sepatah katapun. Meninggalkan Vannya sendiri di kamar sampai dia memanggilnya untuk kembali. Vin memilih pergi ke ruang kerjanya dan menenangkan dirinya disana.


"Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia tidak ingin melihatku?" ujarnya menjambak rambutnya sendiri.


Perasaannya benar-benar hancur. Di satu sisi dia bahagia mendengar kabar saat ini isterina sedang mengandung, tapi di sisi lain dia merasa bingung atas perubahan isterinya.


"Sayang! Aku salah apa? Apa aku bau?" gumamnya lagi.


...VIN POV...


Aku membuka ponselku yang tadinya aku cari karena harus menghubungi Dewi sekretarisku. Di histori terlihat aplikasi yang di buka terakhir adalah pesan. Aku segera membukanya untuk mencari tau ada apa sebenarnya. Dan aku menemukannya, sebuah pesan masuk dari Aura staff sekretaris yang saat ini sedang di Kalimantan.


"Ja-jadi Vannya membacanya. Pasti dia salah paham. Ah! Kenapa harus seperti ini. Kenapa ponsel kita tertukar,"


"Ya Tuhan ... kasih petunjuk untukku. Apa yang harus aku lakukan sekarang?"


Tring!!


Apa? Dia menghubungiku, astaga masalah apa lagi ini. Bukankah dia di Kalimantan, lalu kenapa memintaku untuk datang di Cafe. Akhirnya aku memutuskan untuk mengangkatnya saja.


"Ha-halo Pak! Maaf mengganggu," ucapnya dari seberang sana.


"Apa kau lupa ini hari apa?" tanyaku dengan dingin


"Hiks," tiba-tiba terdengar suara isakan di ujung telepon.

__ADS_1


"Kenapa menangis? Bahkan aku belum selesai memarahimu," ujarku.


"Pak, saya mohon. Temui saya di Star Cafe besok jam 10 pagi," ujarnya mengiba.


"Kenapa tidak yang lain saja Aura? Toh besok hari minggu, saya ada urusan lain ... ." ujarku berbohong.


"Ini antara hidup dan matiku Pak! Please," ucapnya.


Aku tak menjawabnya, aku tidak tau lagi harus berkata apa untuk menjelaskannya. Aku benar-benar tidak bisa, aku tidak ingin Vannya tambah salah paham padaku. Tapi mendengar isakannya membuat hatiku sedikit merasa iba.


"Pak, saya mohon. Tidak akan lama. Saya janji," ujarnya merayu.


"Lihat saja besok. Ya sudah aku mau tidur," jawabnku segera mematikan ponsel yang ada dalam genggamanku.


Apa ini ada hubungannya dengan Ibu tirinya yang meninggal tempo hari? Lalu apa hubungannya denganku? Arrgh! Sial! Aku malah jadi penasaran, lalu apa yang harus aku lakukan sekarang.


Suara hujan dan petir menemani kegalauanku malam ini. Kamar kami terkunci dari dalam, aku memanggil Vannya tapi tidak ada jawaban dari dalam. Aku memutuskan untuk kembali ke ruang kerjaku mencari cara supaya isteriku tidak marah lagi.


Sementara itu,


Setelah Vin pergi dan menutup pintu kamarnya, Vannya dengan susah payah berjalan merambat berpegangan pada tembok untuk mendekat ke pintu dan menguncinya dari dalam.


Dia tidak ingin melihat wajah suaminya untuk saat ini, rasanya hancur tak beraturan. Dadanya terasa sesak tak mampu bersuara sedikit pun kecuali hanya menangis dan menangis.


"Kenapa Kak Vin tidak berusaha membujukku? Apa dia sedang berbalas pesan dengan Aura atau sedang berbincang melalui telepon?"


"Aiishh! Dasar laki-laki tidak bisa lihat wanita bening dikit saja,"


"Kak Vin jahat. Dia bahkan tak perduli denganku yang sedang mengandung calon anaknya. Apa dia akan tetap memilih wanita lain?"


Vannya terus berkata dengan dirinya sendiir. Tak lama kemudian terdengar suara dari luar. Ya, itu adalah suara Vin yang sedang memanggil Vannya. Tapi Vannya diam saja.


......VANNYA POV......


"Vannya Sayang, apa kamu sudah tidur?" tanyanya dari balik pintu.


Aku diam saja, suaraku serasa hilang begitu saja. Hanya isakan tangis yang tidak mungkin terdengar sampai luar kamar. Badanku masih terasa lemas, aku masih syok dengan kenyataan yang baru saja aku hadapi.

__ADS_1


Aku tidak tau apa yanh harus aku lakukan kedepannya. Apalagi saat ini kondisinya berbeda, ada janin dalam kandunganku. Apakah aku akan kuat menghadaoi kenyataan pahit ini?


Badanku akan bengkak, dan mungkin tidak akan menatik lagi untuknya. Sudah ku pastikan Kak Vin akan lebih memilih wanita itu, apalagi mereka bertemu setiap hari.


Hiks! Apa aku harus rela di madu? Ah tidak!! Aku tidak akan rela berbagi suami dengan wanita lain. Mana ada wanita yang akan dengan suka rela di madu oleh pria yang di cintainya.


Tidak ada yang bisa aku ajak ngobrol sekarang. Aku hanya bisa menangis dan berharap ini cuma mimpi buruk.


Entah berapa lama aku terjaga dengan bersandar di kepala ranjang. Yang pasti aku tertidur dalam posisi setengah duduk. Rasa kantukku mengalahkan rasa resah yang saat ini melandaku.


________


Samar-samar terdengar suara seperti orang yang sednag mengepel di jarak yang tidak terlalu jauh dengan keberadaanku saat ini. Perlahan Vin mulai membuka matanya, dia tertidur di ruang kerja semalaman.


Vin segera beranjak bangun, berharap pagi ini isterinya sudah mau ia temui. Namun, di kamar sudah tidak ada orang. Mungkin sedang di basemant, Vi memilih untuk mandi dulu sebelum menemui Vannya.


Setelah mandi Vin segera turun, dan hendak menyusul Vannya. Tapi ternyata Vannya sudah berpesan pada ART agar Vin tidak menemuinya untuk saat ini. Pupus sudah harapannya untuk melihat isterinya pagi ini.


"Pak, kopinya sudah siap. Sarapan juga sudah siap. Bu Vannya sudah sarapan lebih dulu," ucapnya dengan sopan.


"Hmm, makasih Bi. Tolong pastikan isteriku tidak luoa makan ya," ucapnya.


"Baik, Pak!"


Vin duduk di meja makan, nasi dan lauk di atas piringnya terasa hambar. Bukan masakannya yang hambar, tapi hatinya yang sedang kacau. Baru kali ini Vannya marah sampai tidak mau melihatnya.


drrtt ... drtt ... .


• Pak, jangan lupa nanti jam 10,


"Astaga! Haruskah aku pergi untuk menemuinya?" batinnya dengan bingung.


Setelah kopi dalam gelas habis, Vin pergi meninggalkan rumah. Mungkin saat ini Aura membutuhkan bantuannya, atau mungkin ada sesuatu yang harus mereka bicarakan mengenai masalah pekerjaan karena kemarin dia baru saja perjalanan bisnis.


Tidak ada rasa curiga sama sekali dalam Vin. Dia selalu percaya pada staff nya dan tidak ingin berburuk sangka. Jarak rumah ke lokasi yang mereka sepakati tidak terlalu jauh, setelah menempuh perjalanan selama hampir 2 jam mobil Vin mulai memasuki area perkiran.


"Semoga aku tidak melakukan kesalahan lagi. Maaf Sayang! Ini hanya profesional sesama rekan kerja. Semoga kamu bisa mengerti. Di hatiku cuma ada kamu, tidak ada yang lain,"

__ADS_1


__ADS_2