Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Nikah Online


__ADS_3

Alina segera berjalan menuju tirai 1 dimana pasien baru berada disana. Terlihat selang oksigen telah terpasang seperti yang perawat katakan tadi. alian segera mengeluarkan stetoskop dan mendekatkannya pada dada pasien.


"Selamat pagi anak manis. . . Maaf ya dokter baru datang, boleh dokter dekatkan ini disini?" Tanya Alina dengan manisnya.


"hmm. . ." Jawabnya mengangguk.


"Goodgirl. . ." Ujar Alina mendekatkan stetoskop seraya mendengarkan suara nafas pasien.


"Maaf Bu, kalau boleh tau sejak kapan anak Ibu memiliki riwayat asma?" Tanya Alina.


"Sudah sejak dia berusia 4 tahun Dok, tadi dia sedang main di luar. Ternyata ada tetangga saya yang sedang membakar sampah di samping rumah. Saya baru tau anak saya asmanya kambuh setelah tetangga meneriaki memanggil nama saya Dok." Ujar Ibu pasien.


"Hmm . . .Kalau begitu nanti saya akan membuatkan resep untuk anak Ibu, dan juga obat yang bisa di bawa kemana-kemana untuk berjaga-jaga jika asma anak Ibu kambuh." Ujar Alina.


"Terimakasih Dokter. Tapi anak saya tidak perlu rawat inap kan Dok?" Tanya Ibu pasien lagi.


"Tidak Bu, tapi kami akan observasi dulu 1-2 jam ya." Ujar Alina.


"Terimakasih Dokter. . ." Ujarnya.


Setelah bercakap-cakap dengan ibu pasien, Alina segera kembali ke nurse station dan melakukan dokumentasi terhadap pasien yang baru dia datangi. Tangannya dengan cekatan menuliskan beberapa catatan di dalamnya sambil sesekali bertanya stok obat dengan menghubungi bagian farmasi Rumah Sakit.


"Dokter, ini obat untuk pasien Pak Chandra Azhari." Ujar Perawat.


"Berikan saja padanya Sus, dan jelaskan aturan minum juga pakainya." Ujar Alina dengan menyunggingkan sedikit senyumnya.


''Tapi Dok. . . pasiennya yang . . .ee. . . ." Ujarnya dengan bingung.


"Yang mana Sus? terus kenapa kalau Suster yang memberikannya? Toh kita kan sama-sama bekerja disini." Ujar Alina.


"Pasien tirai 15 Dok, saya tidak berani." Ujarnya.


"Jadi nama pria itu Chandra. Huhh..baiklah. . .aku saja yang kesana." Ujar Alina memasukkan ponsel ke dalam kantong jasnya.


" Ya sudah biar aku saja Sus. Ini resep Obat untuk pasien anak di tirai 1 ya . . lakukan observasi 1-2 jam. .kalau keadaan sudah stabil pasien boleh pulang." Ujar Alina.


"Baik Dokter. . ." Ujar Perawat menerima kertas kecil berisi resep obat.

__ADS_1


"Dokter Nana memang baik, udah cantik, terkenal, ramah, baik, tidak sombong pula. . .MasyaAllah Ukhti. . ." Batin Perawat sambil membawa kertas resep.


***


"Permisi Pak Chandra. . .ini obat yang harus bapak minum dan oleskan sehari 3x, sebelum mengoleskan obat sebaiknya Bapak mencuci tangan terlebih dahulu ya Pak. Jika keadaan sudah membaik bisa di kurangi sehari 2x saja." Ujar Alina.


"Olesan berikutnya jam berapa?" Tanyanya tanpa menoleh.


"O . olesan???" Tanya Alina.


"Bukannya saya baru di olesi sekali?? Berarti masih kurang 2x lagi kan. Olesan kedua jam berapa?" Ujarnya mengulang pertanyaan.


"Hah??? Oh. . .Maaf. . .pemberian salep yang pertama pukul 8, jadi selanjutnya nanti jam 2 Pak." Ujar Alina.


"Kalau begitu kau bawa saja obatnya. Kau yang mengolesi lagi." Pintanya.


"Maaf tapi saya masih ada jadwal shift.." Ujar Alina mencari alasan.


"Kalau begitu biarkan saya disini dulu. Sampai Dokter selesai shift." Ucapnya lagi.


"Baiklah. . .kalau begitu sekarang Bapak minum obatnya dulu. . . " Ujar Alina mengambilkan satu butir obat berwarna putih.


Pria itu hanya diam dan memainkan ponselnya tanpa memperdulikan Alina yang sudah memasang senyum manis di wajahnya yang cantik.


"Haiihh Astaga. . . Sebenarnya dia itu siapa si??? Sombong sekali jadi orang. . Apakah dia makhluk dari planet lain??? Astaga. . ." Ujarnya mengumpat dalam hati.


[Disisi Lain. . ]


Chandra masih berada di atas ranjang UGD, tirai sedikit terbuka membuatnya bisa mengintip aktivitas dokter dan perawat di luar tirai.


Pandangannya tertuju pada seorang gadis cantik berjas putih yang saat ini sedang berdiri dengan sebuah buku berwarna hijau di kedua tangannya. Dia tampak sedang membaca beberapa tulisan di dalamnya.


Seorang perawat yang lain tampak mendekatinya dan mendengarkan setiap ucapan yang terucap dari bibir gadis berparas cantik yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertamanya.


Jantung berdegup cukup kencang tatkala melihat senyum yang merekah di wajah gadis yang saat ini sudah berada di dekat tirai namun sedang berbicara dengan dokter lain.


"Apakah dia tidak capek dari tadi mondar mandir kaya setrikaan. Aku saja yang melihatnya capek. Kakinya terbuat dari apa si." Ujar Chandra.

__ADS_1


Tringg. . .


[Opah sakit keras, dia memintamu untuk segera menikah. Dia ingin melihatmu menikah dengan wanita pilihanmu kalau kamu memilikinya. Kalau belum Opah akan menikahkanmu dengan cucu temannya. Sore ini juga pulang bawa calon isterimu atau kau akan menikah bukan dengan wanita pilihanmu]


Sebuah pesan masuk dari Papahnya, Chandra tak membalasnya hanya membacanya beberapa saat.


"*Astaga. . . .Apa Opah pikir menikah itu gampang??? Memang si gampang hanya mengucapkan sumpah, tapi tanggungjawab setelah menikah itu berat. Opah kan juga pernah merasakan sendiri bagaimana setelah dia menikah dulu.


Lagian belum ada wanita lain di hatiku selain mendiang Elvita. Mana ada wanita yang bisa menggantikannya. Dia begitu sempurna untukku.Tapi sayang, Tuhan tak memberikanku kesempatan untuk mengikatnya dengan tali pernikahan.


Aku tidak mau menikah karena di jodohkan. Aku belum pernah bertemu dengan wanita yang Opah maksud. Meakipun Opah bilang dia cantik, tapi aku tetap akan menikah karena perjodohan.


Ini kan bukan jaman siti nurbaya lagi. Apa Opah pikir aku tidak laku sampai-sampai aku harus di jodohkan. Aiih aku tudak mau. No way.... " Ujarnya berdebat dengan dirinya sendiri.


tringg. .


[Sayang. . .bisakah kamu kesini sekarang?? Opah menunggumu. Mamah tunggu satu jam tidak sampai juga kamu Mamah nikahkan secara online]


"Astaga. . . .Nikah Online. . . Apa-apaan ini." Ujar Chandra kesal*.


*tringg. . .


[Opah di rawat di Rumah Sakit Permata, lantai 3. Tadi pagi tiba-tiba drop jadi Om dan Tante membawanya ke Rumah Sakit.]


"Inikan Rumah Sakit Permata. Huhh baiklah. . . ." Ujarnta segera turun dari ranjang dan menghampiri Alina yang sedang mengobrol dengan Dokter lainnya*.


"Apakah sedang ada pasien?" Tanyanya.


"Bapak lihat saja sendiri. Aku sedang mengobrol dengan temanku, berarti sedang tidak ada pasien baru." Jawab Alina.


"Kalau begitu ikut sebentar. Antar aku ke lantai 3." Ujarnya.


"Tapi ini masih jam shiff . . Mana bisa aku meninggalkannya." Ujar Alina.


Chandra tak memperdulikannya, dia menggandeng tangan Alina dan berjalan di sepanjang koridor Rumah Sakit untuk menuju lift.


Alina berusaha untuk melepaskan tangannya, tapi usahanya sia-sia. Genggaman tangannya lebih kuat. Alina sudah lelah melawan,akhirnya dia pasrah dan mengikuti kemana pria asing itu membawanya.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


》Semoga kalian suka dengan cerita di coretan ini. . . ♡♡


__ADS_2