Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Pulang ke Indonesia


__ADS_3

Hari ini Randy dan Kinan akan kembali ke Indonesia. Semua barang sudah di packing dan di masukkan ke dalam mobil oleh pengawal yang membantunya karena Sofi sedang mengurus yang lainnya.


"Sudah beres Fi?" Tanya Randy.


"Sudah Pak, pesawat sudah standby dari tiga puluh menit yang lalu. Apakah kita akan berangkat sekarang?" Tanya Sofi.


"Baiklah. . . Aku akan memanggil Kinan dulu." Ujar Randy.


"Baik Pak." Ujar Sofi.


Tiga puluh menit kemudian mereka keluar dari apartemen dan segera menuju Bandara yang harus mereka tempuh selama 2 jam. Sofi sibuk menghubungi pengawal yang lainnya untuk menyiapkan mobil dan yang lainnya sebagai penyambutan kepulangan Kinan dan Randy.


Sesampainya di Bandara, mereka telah di tunggu oleh Gerry, Ghea dan juga Frans. Randy tidak menyangka jika Gerry dan Frans benar-benar mengantarnya meski hanya bertemu di Bandara.


"Hai Randy. . . Kau terkejut? Tidak usah malu-malu kami kemari hanya ingin bertemu isterimu yang selalu kau sembunyikan wajahnya." Ujar Freans.


"Aku pikir kalian hanya terbawa mabuk saja. Terimakasih Frans, Gerry, Ghea. . " Ujar Randy. "Sayang. . kemarilah. ada yang ingin berkenalan denganmu. " Ujar Randy memanggil isterinya yang masih berada di dalam mobil karena sedang memoles sedikit bibirnya dikarenakan belum sempat saat di apartemen.


"Wow. .. She is beautiful, does she have mixed blood? (Dia memang cantik, apakah dia ada darah campuran?)." Tanya Faris pada Randy setelah melihat kecantikan Kinan.


"His grandfather is Dutch, (Kakeknya orang Belanda)." Jawab Randy. "Sayang. .kenalkan dia Frans. . yang melindungiku dari wanita itu. Dan mereka kau sudah tahu sendiri kan?" Ujar Randy memperkenalkan Frans pada Kinan.


"Hallo. . .Saya Kinan." Ujar Kinan dengan ramah.


"Hallo Kinan, ik ben Frans. Leuk je te ontmoeten (Hallo Kinan, saya Frans. senang bertemu denganmu)" Ujar Frans mencoba memancing Kinan untuk menggunakan bahasa kakeknya.


"Leuk je te ontmoeten, Frans (Senang bertemu denganmu juga Frans). " Ujar Kinan menanggapinya.


"Ternyata Randy benar kau ada keturunan Belanda. . " Ujar Frans terkekeh.


"Tapi aku baru tahu dia bisa berbahasa Belanda." Ujar Randy dengan jujur.


"Mau sampai kapan kita panas-panasan disini. . Ayo kita minum kopi dulu sebelum kalian kembali." Ujar Gerry.


Merekapun pergi minum kopi sebelum Randy dan Kinan naik ke pesawat pribadi. Sedangkan Sofi memilih untuk tidak ikut tetapi menyiapkan segala sesuatunya di pesawat seperti snack, dan juga makanan yang akan mereka sajikan nanti.


"Kapan kau akan lahiran Ghe? Lucu sekali. . ." Ujar Kinan kepada Ghea.


"Bulan depan Kin, kau segeralah menyusul supaya anak kita tidak jauh beda umurnya." Ujar Ghea.


"Sedang kita usahakan Ghe." Mereka berdua tertawa membuat ketiga pria yang duduknya agak jauh dengan mereka mengalihkan pandangannya pada Kinan dan Ghea.


"Kau lihat Ger, isterimu bisa tertawa lepas dengan Kinan. Kau pindah saja ke Indonesia." Ujar Randy.


"Kenapa tidak kau saja yang pindah ke sini Ran?" Ujar Gerry.


"Cihh. .Randy pindah kesini sama saja dia membahayakan isterinya, ada i*lis disini." Ujar Frans.

__ADS_1


"Dan kau Frans, mau sampai kapan berkelana menjelajahi perempuan?" Ujar Randy.


"Aku sedang fokus dengan bisnisku dulu Ran, dulu aku pikir wanita itu baik tapi ternyata dia menjual diri demi uang tak seberapa." Ujar Frans.


"Setidaknya kau sudah merasakannya Frans." Ujar Gerry terkekeh.


"Untung kau belum menikahinya Frans." Ujar Randy ikut menggodanya.


Sementara itu. . .


"Oma. .Kapan Mami dan Papi pulang?" Tanya Alina pada Bunda.


"Besok siang sampai rumah Nak, perjalanan dari sana ke Indonesia kurang lebih hampir 21 jam. . tapi karena Mami dan Pakai pesawat pribadi mungkin bisa lebih cepat lagi." Ujar Bunda.


"Lama sekali ya Oma. Sekarang masih pagi kan Oma? Masih lama." Ujar Alina.


"Iya nak ini baru jam 5 pagi, Nana mau tidur sama Opa atau ikut Oma ke kamar Nenek Buyut?" Tanya Bunda.


"Ikut Oma. . " Ujar Alina.


"Ya susah yuk. ." Ajak Bunda menggandeng tangan Alina.


Alina ikut Bunda untuk mengecek keadaan Nenek, dan memastikan Nenek bisa tidur dengan nyenyak. Sudah sebulan ini Nenek di diagnosa dimensia oleh dokter, kadang malam hari dia bangun dan pergi dari kamar mengelilingi rumah.


Sama seperti pagi ini, saat Bunda membuka kunci pintu kamarnya Nenek sedang duduk di tepi kasurnya. Bunda menggandenga Alina untuk mendekati Nenek dan mengajaknya ngobrol.


"Ibu bingung, tadi mau keluar tapi pintunya rusak tidak bisa terbuka. Kamu panggil tukang ya untuk memperbaiki pintunya. Biar ibu tidak perlu teriak-teriak panggil kamu minta di bukain pintunya." Ujar Nenek.


"Kenapa Nenek buyut tidak lewat jendela saja?Kan ada jendela Nek." Celetuk Alina memberikan ide kepada Nenek.


"Ahh. . benar juga. Kenapa aku tidak kepikiran tadi. . Terimakasih anak manis." Ujar Nenek mengekus pipi Alina.


"Memang ibu mau kemana?" Tanya Bunda lagi.


"Ibu ingin jalan-jalan. sudah tidak ngantuk." Ujar Nenek lagi.


"Ya sudah, ayo saya antar ibu ke teras belakang saja ya. Ibu jalan-jalan di bebatuan kecil supaya peredaran darah ibu lancar." Ujar Bunda dengan sabarnya. " Nana. . temani Nenek buyut nanti ya Nak."Ujar Bunda pada Alina.


"Iya Oma. . . "Jawab Alina dengan semangatnya.


"Ibu mau apa?" Tanya Bunda saat melihat Nenek mendekati jendela.


"Mau lewat jendela Nak." Ujar Nenek.


"Ibu. . pintu kamar kan sudah terbuka. Kita lewat pintu saja ya." Ujar Bunda.


Bunda menggandeng Nenek dan membawanga ke teras belakang yang dekat dapur supaya Bunda bisa sekalian memantau Nenek bersama Alina.

__ADS_1


"Ibu, jalan-jalan disini saja ya, jangan jauh-jauh. . .Supaya saya bisa melihat Ibu juga Nana dari dapur." Ujar Bunda dengan lembut.


"Iya, ibu tidak kemana-mana. Ibu hanya disini." Ujarnya pelan.


"Nana sayang, temani Nenek buyut ya Nak. Oma mau beres-beres rumah dulu." Ujar Bunda pada Alina.


"Iya Oma." Ucap Alina.


Bunda meninggalkan Nenek dan Alina di teras belakang yang ada taman kecilnya, Ayah sengaja menambahkan bebatuan kecil supaya Nenek bisa jalan-jalan disana untuk melancarkan aliran darahnya. Kebetulan Sus Ani sedang cuti karena orangtuanya sakit, jadi Bunda mengerjakan sendiri segala sesuatunya.


Sementara itu. . . .


"Terimakasih sudah menyempatkan waktunya untuk mengantar kami, padahal kalian sangat sibuk." Ujar Randy.


"Tidak perlu sungkan. . .sering-seringlah main kemari bersama Kinan Ran, dan juga si kecil." Ujar Gerry.


"Sering-seringlah kita join dalam urusan bisnis, supaya aku sering kemari." Ujar Randy.


"Asal jangan libatkan wanita itu lagi Ger. . atau kau akan aku gantung di patung liberty." Celetuk Frans.


"Baiklah itu kesalahanku." Ujar Gerry.


"Ghea, kabari aku kalau baby sudah lahir." Ujar Kinan mengelus perut Ghea.


"Pasti Kin, kau juga kabari aku kalau sudah ada tanda-tanda soal calon menantuku." Ujar Ghea.


"Hei kalian mau melibatkan anak untuk masalah bisnis?" Ujar Frans pada Ghea dan Kinan.


"Tidak Frans, hanya bercanda. Siapa tahu malaikat sedang lewat dan mencatatnya." Ujar Kinan.


"Astaga. . .kalau kalian besanan, lalu aku dengan siapa?" Ujar Frans


"Kau tidak perlu memikirkan besan dulu Frans. . pikirkan dulu mana wanita yang akan menjadi pendampingmu. Lalu kau punya anak, anak besar barulah kau pikirkan mana besanmu." Ujar Gerry.


"Astaga. . .baiklah akan aku cari besok." Ujar Frans.


"Aku tunggu undangan darimu Frans." Randy menepuk pundak Frans.


"Kinan, bel me als Randy pijn doet. Ik zal je genezen (Kinan, kalau Randy menyakitimu hubungi aku. Aku akan menyembuhkanmu)" Ujar Frans.


"Hoe kon hij me pijn doen Frans. (Mana mungkin dia menyakitiku Frans.)" Ujar Kinan.


"Sepertinya kau memintaku untuk memisahkan nyawa dan ragamu Frans." Ujar Randy.


"Tenang Ran, Nyawaku sudah di asuransikan. . .Pergilah kawan." Ujar Frans.


Randy dan Kinan bergandengan meninggalkan ketiga temannya. Ghea,Gerry dan Frans melambaikan tangannya pada Randy dan Kinan yang sudah semakin jauh.

__ADS_1


__ADS_2