Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Khawatir


__ADS_3

"Ada apa kau ingin bertemu denganku? Apakah Papahmu berubah pikiran dan menyuruhmu datang menemuiku agar aku memaafkannya?"Tanya Om Harus dengan sombong.


"Tidak, Aku menemui Om karena keinginanku sendiri, dan bukan karena aku mau di jodohkan dengan anak Om."Ujar Randy membuang muka.


"Lalu untuk apa kau menemuiku? Hanya membuang-buang waktu saja."Ujar Om Harun tersenyum masam.


"Aku tahu rencana Om dan Erika. . Aku tidka maslaah untuk itu, aku hanya minta satu hal pada Om untuk mengajari putri anda agar bersikap sopan pada isteriku, jika tidak. . . ."Ujar Randy terputus.


"Jika tidak apa? Kau mau mengancamku?"Tanya Harun.


"Aku akan menarik semua saham yang ada pada perusahaan , bukankan sahamku 51% disitu? Bahkan aku bisa memenjarakan putri Om karena telah berkata kasar juga menampar calon isteriku. Aku sudah memiliki banyak bukti."Ujar Randy dengan tenang.


"Kau pikir aku takut dengan ancamanmu?"Ujar Om Harun masih tetap pada pendirin.


" Baiklah, sepertinya memang tidak takut. Jangan salahkan saya jika terjadi sesuatu pada kehidupan Om." Randy kesal.


Tringggg....


"Maaf Pak, biar saya yang angkat, dari Lia." Ujar Sofi pelan.


Randy hanya mengangguk dannmembuka ponselnya yang lain khusus untuk masalah pekerjaan. Randy menghubungi orang kepercayaannya untuk mwncabut saham di beberapa perusahaan milik Om Harun.


"Pak . . . . "Sofi memanggilnya namun wajahnya sangat pucat.


"Ada apa Sofi? Apa yang terjadi?" Randy ikut khawatir dan menjauh dari Om Harun agar tidak mendengarnya.


"Ki... Kinan sa... ma Lia. . Pak. . "Ujar Sofi dengan terbata-bata.


"Iya, mereka kenapa? Apa yang teejadi pada mereka Sofi? Kenapa kau ketakutan sekali?"Tanya Randy semakin khawatir setelah Sofi menyebutkan nama Kinan.


"Huhhhhh. . ."Menarik nafas panjang. "Mereka kecelakaan Pak, sampai sekarang belum sadarkan diri."Tangis Sofi pecah.


"A...apa?? Kenapa bisa terjadi? Ayo kita segera kesana Sofi, jangan menangis, mereka akan baik-baik saja. kau tenanglah."Ujar Randy berusaha menenangkan Sofi meski dia sendiri hatinya sangat hancur.


Tanpa bersuara lagi, Sofi segera mengemasi berkas di meja yang sama dengan Om Harun dan pergi tanpa pamit. Sofi terus berlari untuk segera sampai mobil agar mereka segera pergi menyusul Kinan dan Lia yang ssat ini terbaring di Rumah Sakit.


••Cek cctv di jalan tempat dimana Lia dan Kinan kecelakaan. ••


Randy mengirimi sebuah pesan kepada seorang ahli IT kepercayaannya untuk melihat apa yang terjadi sebelum mereka kecelakaan. Karena Randy tahu, Lia tidak mungkin kebut-kebutan tanpa alasan.


Di sepanjang perjalanan Randy selalu terbayang wajah Kinan saat tertawa dan ngambek. Apalagi tadi sore mereka sempat menghabiskan waktunya bersama. Masih terbayang jelas saat Kinan khawatir dan ingin menangis melepas kepergian Randy untuk menemui Om Harun.


Sayang. . . Bertahanlah. .Kita akan segera menikah. . Masih banyak keinginan kita yang belum tercapai sayang. . Kau ingin aku menghubungimu setelah aku bertemu Om Harun kan? - Batin Randy.

__ADS_1


Sesampainya di Rumah Sakit Sofi dan Randy segera berlari mencari dimana Kinan dan Lia berada. Disana sudah ada Bunda dan Ayah yang sedang duduk di kursi tunggu ruang tindakan. Randy segera menghampiri dan menanyakan keadaan Kinan.


"Ayah. . .Bunda. . Bagaimana keadaan calon isteriku? Dia baik-baik saja kan?"Tabya Randy.


"Nak. . .Kinan masih di dalam ruang tindakan. Dia mendapatkan beberapa jahitan di wajahnya. Sedangkan Lia harus menjalani operasi karena terjadi pembekuan darah di otaknya."Ujar Bunda dengan tegar.


"Bunda maafkan saya tidak bisa menjaga Kinan dengan baik, seharusnya saya mengantar Kinan sampai rumah. . Mafkan saya."Ujar Randy.


"Sudah nak sudah. . . Kinan anak yang kuat, dia tidak akan kenapa-kenapa. Dia akan sedih kalau melihatmu seperti ini. . "Ujar Ayah mengusap punggung Randy.


Tak berapa lama dokter keluar dari ruang tindakan, Randy dan yang lainnya segera menghampirinya dan menanyakan kondisi Kinan saat ini.


"Dokter bagaimana keadaan calon isteri saya?"Tanya Randy.


"Iya dok bagaimana kondisi anak kami?"Tanya Bunda.


"Nona Kinan mengalami trauma pada kepala, untung saja benturan di kepalanya tidak cukup keras. Hanya saja saat ini dia masih belum sadarkan diri mungkin sampai besok pagi. "Ujar Dokter.


"Apakah kami boleh melihatnya dok?"Tanya Ayah.


"Sebaiknya nanti saja setelah Nona Kinan kami pindahkan ke ruang rawat. Saat ini perawat sedang membersihkan bekas darah di tubuhnya."Ujar Dokter lagi.


"Baik dok, terimakasih."Ujar Randy.


"Bunda, Ayah, saya akan melihat kondisi Lia dulu. Tolong kabari saya jika Kinan sudah di pindahkan ke ruang rawat."Ujar Randy yang juga baru ingat.


"Iya Nak. . pergilah. Dia juga butuh kita."Ujar Bunda.


Randy dan Sofi segera berlari menuju ruang operasi untuk menunggu Lia disana. Lampu masih menyala, operasi masih belum selesai. Randy meminta Sofi untuk meminta ponsel Lia pada perawat yang tadi menghubunginya karena dia harus menghubungi keluarga Lia untuk memberitahukan kondisi Lia saat ini.


Sofi segera berlari mencari nurse station IGD, setelah mendapatkan ponsel Lia dia ingat harus meminta Maya datang untuk menemaninya karena dia harus berbagi tugas dengan Pak Randy yang harus mengecek kondisi Kjnan juga.


"Hallo Re. . ."Ucap Sofi menghubungi Revan.


"Hallo Bu Sofi? Ada apa malam-malam menghubungiku?" Tanya Revan.


"Kau bisa jemput Maya sekarang di rumah? Antarkan dia ke RS. Permata sekarang Aku akan menceritakannya nanti." Ujar Sofi.


"Baik Bu." Jawab Revan.


Sofi membuka ponsel Lia untuk mencari kontak yang bisa ia hubungi. Sofi membuka WhatsApp untuk melihat siapa yang sering ia hubungi. Setelah menemukan, ia segera menghubunginya.


"Selamat malam. . . Benar ini dengan keluarga Lia?" Tanya Sofi dengan sopan.

__ADS_1


"Selamat Malam, iya saya suster yang mengasuh Putri Ibu Lia. Maaf ini dengan siapa?" Tanya Pengasuh dari seberang sana.


"Maaf adakah anggota keluarga Lia yang lain disana?" Tanya Sofi lagi.


"Tidak ada Bu, kami hanya tinggal bertiga setelah suami Ibu Lia meninggal. Ibu Lia tidak punya saudara dan orangtuanya sudah meninggal."Ujar Pengasuh menjelaskan.


"Ohh... baiklah... Saya hanya ingin mengabarkan Lia mengalami kecelakaan. Kamu tidak perlu datang ke RS, tolong rawat anak Lia selama Lia dirawat di RS. Tidak perlu khawatir, kami akan menjaga Lia sebaik mungkin."Ujar Sofi.


"Baik Bu, tolong selamatkan Ibu Lia. Kasihan Putrinya yang tidak punya siapa-siapa lagi Bu. "Ujar pengasuh menangis terisak.


"Ya tentu saja. Kau tak perlu khawatir. Kalau ada apa-apa di rumah hubungi aku." Ujar Sofi.


"Baik Bu." Telepon terputus.


Lia. . kamu harus bertahan demi putrimu. . Dia hanya punya kamu Lia. . - Batin Sofi.


"Sofiii......... "Teriak Maya berlari menghampirinya


"May... "Sofi kembali menangis karena teringat kondisi Lia.


"Apa yang terjadi? Siapa yang sakit?"Maya mengguncang tubuh Sofi untuk menceritakan padanya.


"Lia dan Kinan May, Mereka kecelakaan."Ujar Sofi terisak.


"A...apa? Lalu bagaimana kondisinya? Dimana mereka? Aku ingin melihatnya Fi... "Ujar Maya.


"Tenanglah, ini RS Maya "Ujar Revan berdiri di belakang.


"Lia sedang menjalani operasi, dan Kinan baru saja selesai tindakan hanya saja belum sadarkan diri." Sofi menjelaskan.


"May. . sadar May. . " Revan panik melihat Maya yang jatuh pingsan.


"Tolong. . dokter. . perawat. . . tolong kami."Teriak Sofi.


Maya di bawa ke ruang IGD, Revan menunggu Maya yang masih pingsan. Sedangkan Sofi pergi ke ruang Operasi karena Pak Randy sedang menunggu Lia disana. Maya teringat dengan kecelakaan yang merenggut kedua orangtuanya, mendengar kedua sahabatnya juga megalami kecelakaan membuatnya hilang kendali. Maya tidak ingin kehilangan orang yang dia sayang untuk kedua kalinya.


"Tidaak...."Teriak Maya yang langsung bangun.


"May.. ..kau sudah sadar? Aku panggilkan dokter dulu." Ujar Revan bangun dari duduknya.


"Tidak Van, aku baik-baik saja. Sebaiknya kita menyusul Sofi sekarang."Ujar Maya.


"Baiklah aku bantu kau jalan ya."Ujar Revan.

__ADS_1


"Iya Re."Jawab Maya.


__ADS_2