
"Hmm, enak Sayang. Sering-seringlah keramasi aku," ujarnya tanpa membuka matanya menikmati pijatan lembut dari tangan halus isterinya.
"Okey, sering-seringlah Kakak bilang lelah dan sejenisnya lalu ikuti aku saat mau mandi," ujarnya tanpa ekspresi.
"Apa kamu mau mandi dengan memakai baju?" tanya Vin membuat wajah Vannya bersemu merah.
__________
"A-aku kan bantu Kakak keramas dulu," jawabnya.
"Kenapa tidak mandi bersama saja?" ujarnya lagi.
"Ta-tapi Kak,"
"Apa kamu tidak mau menuruti apa kata suamimu?" ucapnya perlahan.
"Apa ini jebakan? Ah sudahlah, sebaiknya aku turuti saja. Daripada suamiku mandi dengan wanita lain," batinnya.
Tanpa banyak bicara, perlahan Vin melucuti pakaiannya dan Vannya. Mereka melakukan mandi bersama dengan di selingi beberapa gerakan yang tak bisa di jelaskan.
Setelah hampir dua jam lamanya, akhirnya mereka selesai mandi dan segera berganti pakaian sebelum ART memanggil mereka untuk makan malam.
"Kak, turun yuk!" ajaknya mengandeng tangan Vin.
"Hmm," mengikutinya keluar dari kamar.
Di meja makan sudah terhidang berbagai menu makanan yang menggugah selera. Cumi asam pedas manis dan tempe goreng tanpa tepung kesukaan Vannya sejak dulu.
Tak lupa buah-buahan juga sudah terhidang di sana, jeruk, apel, pear, pisang, dan juga satu kotak strawberry yang manis sesuai permintaan Vannya saat sesampainya di rumah tadi.
Vannya memotong apel untuk Vin, dan kemudian menyendokkan nasi serta lauk untuk suaminya. Setelah melayaninya dan memastikan tidak ada yang kelupaan termasuk minum, Vannya mengambil nasi dan lauk untuknya sendiri.
"Selamat makan, Kak!" ucapnya dengan manis.
"Terimakasih. Selamat makan, Sayang!" balasnya tak kalah manisnya.
"Hmm," sembari menyuapkan sesendok nasi dan lauk serta strawberry.
__ADS_1
"Astaga! Sayang," ujarnya terkejut.
"Kenapa Kak?" tanyanya dengan cuek.
"Apakah lauknya kurang? Sehingga strawberry kamu jadikan lauk juga?" tanyanya.
"Hehe! Tapi ini enak Kak, mau mencoba?" ujarnya menawarkan.
"Tidak ... tidak!" ujarnya menolak.
Mereka melanjutkan makan malamnya tanpa berbicara, dan sesekali Vin melirik isterinya yang melahap makananya dengan lauk strawberry.
Di Tempat Lain,
Setelah turun dari pesawat dia harus menunggu sopir menjemputnya di Bandara. Sudah 30 menit dia duduk di bangku panjang, tapi tidak terlihat batang hidung sang sopir yang sudah terbiasa telat itu.
"Maaf Nona, saya terlambat!" ujarnya dengan nafas tersengal.
"Cih! Berapa kali aku harus memaafkanmu bo*oh? Cepat bawa koperku," bentaknya kesal.
Ia segera berjalan menuju mobil tanpa menghiraukan sopir yang nafasnya sudah senin-kamis karena baru saja lari dan tanpa istirahat harus jalan lagi membawa dua koper berukuran besar.
Sesampainya di rumah, Aura segera masuk dan berlalu menuju kamarnya. Baru mau membuka pintu, sudah terdengar umpatan pedas dari wanita yang tak oantas di panggil seorang Ibu.
"Dasar anak tidak tau diri. Tidak malu kamu pulang ke rumah?" ucapnya dengan pedas.
"Bu, aku lelah. Sebaiknya besok saja kau memarahiku,' sahut Aura tak ingin menanggapi Ibunya yang saat ini menatapnya dengan tajam.
"Apa yang wanita itu berikan padamu? Hingga kamu berani padaku? Kau pikir kamu siapa berani melawan ibumu?"
"Aku anak yang kau lahirkan, dan Ibu Mayang menyayangiku, tidak seperti Ibu yang selalu mengumpatku," sahut Aura kesal.
"Dia terlalu memanjakanmu, hingga membuatmu menjadi gadis bo*oh! Tapi di rumah ini kau harus ikuti aturan yang ada. Besok pagi kau harus menemuinya," ucapnya.
"Beso hari minggu. Tentu saja libur," sahutnya.
"Diam! Gunakan otakmu, cari alasan!" bentaknya.
__ADS_1
"Aiiishh! Terserahlah,"
Brakkk!!
"Anak tidak tau diuntung! Berani sekali dia membanting pintu di depanku!" gumamnya.
"Antar aku ke kamar!" suruhnya pada pelayan.
Tanpa menjawab, pelayan segera mengantarnya ke kamar dan membantunya pindah ke atas kasur.
...AURA POV...
"Aaargh! Kenapa bukan dia saja yang mati? Mulutnya terlalu pedas untuk bicara," teriakku yang terduduk di balik pintu.
"Aku hanya mencintai Arsen! Tidak ada yang lain, tapi Ibu menyuruhku mendekati pria lain yang tidak aku sukai,"
Aku tinggal bersama Ibu kandungku hingga usiaku menginjak 18 tahun. Dan setelahnya aku ikut dengan Ayah yang menikah lagi dengan Ibu Mayang. Aku dibesarkan oleh Ibuku sendiri dengan keras.
Hampir setiap hari dia memarahiku karena kesalahan yang tidak sengaja aku perbuat. Dan bahkan, ketika dia melihat berita di surat kabar atau televisi maupun media sosial yang mengabarkan pria yang ia cintai hidup bahagia bersama keluarganya.
Entah apa yang ada di dalam pikirannya, padahal dia sendiri sudah memiliki suami dan anak. Tapi aku seperti tak di anggap, bahkan dia hanya berpura-pura baik padaku saat di depan Ayahku.
Selebihnya, saat Ayah kerja dan mengharuskannya pergi keluar kota untuk beberapa hari aku tak henti-hentinya ia marahi dengan alasan yang tidak jelas. Dan dia lumpuh karena ulahnya sendiri yang berniat ingin menghabisi orang lain tapi justru mobilnya menabrak truk dan membuatnya terjepit.
Setelah kejadian itu, dia frustasi dan siapa saja di marahi termasuk Ayah yang tidak tau apa-apa. Bahkan dia sendiri yang mengucapkan talak pada Ayahku hingga pada akhirnya Ayah bertemu dengan Ibu Mayang dan membawaku keluar dari neraka.
Lalu kenapa aku mau kembali ke rumah ini? Karena aku sudah berjanji pada mendiang Opah untuk sering mengunjungi Ibu selagi masih ada. Dan selain itu, Ibu pernah menolongku membayarkan hutang yang lumayan besar karena aku terjerumus dalam perjudian saat sekolah.
Sebagai gantinya, aku harus menuruti apa yang dia minta tanpa Ayahku tau. Dan satu-satunya yang dia minta adalah aku harus mendekati putra dari pria yang cintainya.
Sementara itu,
Bulan berbentuk bulat dengan sempurna, awan hitam beberapa kali hampir menelannya tapi bulan berhasil lolos dan memancarkan cahayanya dari atas sana menyinari langit yang gelap.
Malam ini bintang tidak terlihat dengan jelas, mungkin mereka iri atau insecure dengan kecantikan bulan yang tak ada tandingannya itu. Atau mungkin bintang sedang marah pada langit, entahlah hanya tebakan saja.
Tak bosan-bosannya Alina duduk di balkon kamar memandangi bulan di atas sana. Dia merasa seperti sedang bersama Ayah dan Ibu saat melihatnya. Seulas senyum tak mampu di sembunyikan dari wajahnya yang cantik.
__ADS_1
"Entah kenapa, aku tidak pernah bosan melihatmu. Meski terkadang aku kesal saat melihat langit dan kamu tidak ada disana," gumam Alina.
"Karena ada masanya bulan merasa iri pada isteriku yang lebih cantik," celetuk Chandra yang sudah berdiri di ambang pintu menatap isterinya dengan tatapan yang penuh makna.