Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Tirai Nomor 9


__ADS_3

"Di suruh? Apa maksudnya?" ujar Chandra tak mengerti.


"Yang lain coba periksa apakah ada penumpang lain di dalam. Pak Chandra dan Pak Revan sebaiknya mundur dulu 5 langkah ya. Sepertinya ini adalah perbuatan yang di sengaja," ujar Pak Polisi.


Tak menunggu lama, pintu mobil bagian belakang terbuka. Lagi-lagi penumpang di dalamnya sudah tak bernyawa. Wajahnya juga terkena serpihan kaca sehingga rusak tak bisa ia kenali.


"Pak ...! Penumpang satunya masih ada denyut nadi," teriak anggotanya dari sebelah kiri sana.


Chandra berlari mendekati sumber suara tersebut untuk melihat siapa penumpang disana. Tapi dia tak bisa mengenalinya. Tak berapa lama setelah itu, Pak Revan datang menyusulnya.


"A-Aura ...!" Ujarnya tak percaya.


____________


"Aura?" tanya Chandra mencoba menegaskan.


"Ya Chan, aku mengenali pakaiannya. Karena beberpaa menit yang laku kami baru saja bertemu. Dan yang satunya lagi pasti Nyonya Erika," ujar Pak Revan dengan yakin.


"Astaga ...! Lagi-lagi kejadian di masa lalu berulang kembali," ujarnya tak percaya.


Polisi segera membawa Aura ke Rumah Sakit untuk segera di lakukan perawatan dan bisa segera di lakukan pemeriksaan atas kejadian yang menimpa Pak Randy. Sementara itu yang lain, membawa jenazah Nyonya Erika dan sang sopir ke kediaman Nyonya Erika yang jaraknya tak jauh dari kokasi kejadian.


Setelah memberikan anggaran untuk proses pemakaman keduanya, Chandra dan Pak Revan segera berlalu pergi ke Rumah Sakit menyusul Vin dan Vannya yang sudah ke sana lebih dulu bersama Papi Randy.


...**RUANG IGD...


...RS PERMATA UNGU**...


Perawat terlihat lalu lalang dengan pasien yang berdatangan tanpa mengenal waktu. Ada yang datang dengan bahagia karena mengantar keluarganya untuk melahirkan ada pula yang berduka mengantar keluarganya yang sudah tak bernyawa.


Suara bising di sekelilingnya tak di hiraukan, saat ini yang ada ia pikirkan hanyalah sosok pria yang selalu menjadi panutannya sejak kecil. Pria yang penuh dengan wibawa di matanya.


Baru kali ini Vin melihat wajah Papi dalam kondisi yang berlumuran darah. Dunianya serasa hancur, manakala melihat pria yang biasanya selalu memasang senyum lebar di wajahnya kini terbaring lemah tak berdaya.


"Sayang," panggil Vannya dengan perlahan.


"I-iya? Astaga ...! Maafkan aku Sayang, aku sudah mengabaikanmu. Maafkan aku Sayang," ujarnya menyesal.

__ADS_1


"Gak apa-apa. Aku tau kok, kamu pasti sangat terpukul. Kita doakan saja yang terbaik buat Papi, minumlah ...! Tadi aku ke minimarket sebentar," ujarnya menyodorkan sebotol air mineral berukuran 600ml.


"Bahkan aku tidak melihatmu pergi. Maaf Sayang," ujarnya berkali-kali.


"Hey, udah ...! Aku paham dengan kondisimu sekarang. Ayo minum dulu," ucapnya.


"Hmm, makasih ...!"


Vin segera menenggak minuman dalam botol sampai habis setengahnya. Vannya menyuapi roti pada suaminya, meski Vin sudah menolah namun Vannya tetap memaksanya. Tanpa berkata-kata, Vin hanya membuka mata dan mengunyah dengan pelan seperti anak kecil yang sedang malas mengunyah.


Tak lama kemudian, pintu ruang tindakan terbuka. Keluar seorang Dokter berusia paruh baya dengan rambut yang sebagian sudah berwarna putih di beberapa sudut kepalanya.


"Dok ... bagaimana kondisi Papi?" Tanya Vin yang langsung menghampirinya.


"Saat ini kami baru memberikan penolongan pertama, seelah ini pasien akan kami pindahkan ke ruang Operasi karena terjadi penggumpalan darah di otaknya. Jika ini di biarkan akan berakibat fatal untuk pasien," ujarnya menjelaskan.


"Lakukan yang terbaik untuk Papi saya Dok ...! Tolong selamatkan dia," ucap Vin memohon.


"Saya akan berusaha melakukan yang terbaik untuk pasien, tapi Tuhan lah yang Maha Menghendaki. Kami butuh bantuan doa dari kalian," ujarnya dengan senyum ramah.


5 menit kemudian, beberapa perawat dari dalam sudah mendorong brankar yang terdapat Pak Randy di atasnya. Kondisinya sudah terlihat lebih bersih daripada saat tadi masuk ke Rumah Sakit.


"Pih, bertahanlah ...! Kami tidak bisa hidup tanpa Papi ...!" ujar Vin menitikkan air matanya.


"Sayang, Papi pasti kuat ...!" sahut Vannya perlahan.


Perawat segera mendorong brankar menuju Ruang Operasi. Saat Vin dan Vanna hendak ikut menyusul, terdengar suara yangbtak asing dari arah belakang. Dengan cepat Vin segera berbalik dan melihatnya.


Seorang wanita cantik berusia paruh baya, sudah terlihat beberapa kerutan di wajahnya. Matanya sembab, wajahnya di penuhi kekhawatiran yang mendalam.


Tanpa berkata-kata, Vin mendekapnya dan membisikkan beberapa kalimat untuk menguatkan wanita yang sudah menemani Papi selama hampir 27 tahun lamanya.


"Jangan menangis, Mami harus kuat. Kita berdoa yang terbaik buat Papi, baru saja Papi dipindahkan ke Ruang Operasi karena terjadi penggumpalan darah di otaknya" bisik Vin terus mendekap tubuh Mami.


"Mas ...!" teriak Mami histeris.


"Mam ... Mami bangun Mam ...!" panggil Vin yang menahan tubuh Mami agar tak terjatuh

__ADS_1


"Vin, bawa Mami kesini ...!" panggil Alina menunjukkan bed kosong di IGD.


"Dokter, Suster ...! Tolong bantu kami," teriak Alina dengan lantang.


"Kalian disini jagain Mami ya ...! Biar aku yang kesana," ujar Vin.


"Om ikut kamu Vin," sahut Papah.


"Hmm, baik Om ...!"


"Kalau ada apa-apa sama Bu Kinan, kabari kami ya ...!" ujar Papah.


"Iya Pah ...!" sahut Alina.


Di sisi lain ...


Chandra dan Pak Revan lebih dulu ke kantor polisi terdekat karena polisi butuh saksi atas kejadian yang menimpa Pak Randy. Kebetulan Chandra yang melihatnya, karena bertepatan saat mobilnya berhenti di belakang mobil Pak Randy.


Chandra menceritakan semua yang dia lihat dengan mata kepalanya. Tidak ada yang di kurangi maupun di tambahkan. Setelah hampir 2 jam lamanya, akhirnya laporan sudah selesai dan Chandra di perbolehkan untuk melanjutkan perjalanan.


"Om ... bagaimana bisa Aura satu mobil dengan Nyonya Erika? Bukankah masih jam kerja? Atau Aura izin pulang lebih awal?" tanya Chandra.


"Jadi, tadi siang Erika datang ke Perusahaan untuk mengusir kita semua. Katanya Perusahaan sudah menjadi miliknya, tapi saat aku lihat tandatangan Vin ternyata itu tandatangan palsu,"


"Keburukannya sudah terbuka dengan sendirinya tanpa kita bersusah payah sedikitpun, dan pastinya Aura di tarik Ibunya untuk ikut pulang. Tapi aku tidak habis pikir, kenapa Pak Randy datang ke rumah Erika?" ujar Pak Revan bersandar pada mobil di area parkiran kantor polisi.


"Karena Papi juga tau masalah ini Om. Beberapa hari yang lalu, tidak sengaja Papi dengar saat aku menyebut nama Nyonya Erika. Tapi, aku sendiri gak tidak tau kalau Papi akan mendatangi rumah Nyonya Erika," ucap Chandra.


"Hmm begitu. Baiklah sebaiknya kita segera ke Rumah Sakit saja," ujarnya.


Pak Revan dan Chandra masuk ke mobil masing-masing karena tadi mereka datang ke TKP juga membawa mobil masing-masing. Sedangkan mobil Pak Randy akan di ambil Pak Parjo.


Jarak dari kantor polisi ke Rumah Sakit tidak jauh. Dalam waktu tak kurang dari 20 menit mereka sudah memasuki area Rumah Sakit dan segera memarkirkan mobilnya di tempat yang kosong.


Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal di dalam mobil, Pak Revan dan Chandra segera turun dan segera masuk ke bagian IGD untuk menanyakan keberadaan pasien atas nama Tn. Randy Putra Ardhana.


"Om, tida usah tanya. Lihat ...!" ujarnya menunjuk ke tirai nomor 9.

__ADS_1


__ADS_2