Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Kami Bahagia


__ADS_3

"Udah Mbok?" tanya Vannya setelah selesai.


"Sudah Non!" jawabnya.


"Ya udah, yuk bawa kesana ... ." ajaknya.


Mereka segera membawa rujak dan juga minuman ke ruang tengah dimana yang lainnya sedang disana saat ini.


"Akhirnya datang," ujar Vannya bersemangat.


Vannya duduk di samping Vin, mereka melanjutkan obrolan sambil menikmati rujak segar dengan sambal yang pedas. Sesekali terdengar gelak tawa disana, akhirnya rumah mereka terasa ramai meski hanya sebentar.


Dan Alina merasa terharu, di sambangi adiknya yang kini sudah menikah dan memiliki kehidupan baru bersama keluara kecilnya. Begitupun dengan Vin, meski dulu tak menyukai Chandra karena sudah membuat Kakaknya koma, tapi sekarang perasaan benci sirna saat melihat Kakak perempuannya bergelayut manja pada suaminya.


Setelah menghabiskan rujak, dan menunggu waktu makn siang tiba. Alina mengajak Vannya pergi ke taman belakang menghabiskan waktu berdua tanpa pasangan masing-masing.


Mereka duduk di gazebo sambil menikmati semilir angin yang berhembus disana. Pepohonan yang belum terlalu tinggi terlihat sesekali bergoyang terkena hembusan angin yang sedikit besar.


"Van, kamu bahagia kan sama adikku?" tanya Alina.


"Bahagia Kak. Emang ada apa?" tanya Vannya.


"Syukurlah, aku senang saja mendengarnya. Aku tidak mau keluargaku tidak bahagia, aku ingin semuanya bahagia. Begitupun denganmu," ujarnya.


"Kak, tidak perlu mencemaskan kami. Aku dan Kak Vin bahagia, dia sangat dewasa dan selalu mengalah saat aku sedang kesal," jawab Vannya meyakinkan Kakak iparnya.


"Iya Van, aku percaya. Makasih ya, udah mau jadi pendamping adikku yang kadang menyebalkan itu. Tapi dia cukup dewasa sekarang," ujar Alina dengan banga.


"Hmm, aku juga merasa beruntung bisa memilikinya Kak. Dulu saat aku masih kuliah, banak sekali teman-temanku yang mengidolakannya. Dulu aku dengan bangganya bilang Kak Vin kakakku. Dan sekarang aku bisa bilang dengan bangga, dia adalah suamiku ... ." ujar Vannya malu-malu.


"Hahah! Ya ... aku sendiri tidak percaya saat tau Vin akan melamarmu. Karena dulu kalian cuma saling diam, dan tidak pernah saling sapa. Aku pikir dia hanya sedang bercanda," ucap Alina.


"Jodoh tidak ada yang tau Kak. Kalau aku tau kelak akan menikah dengan Kak Vin pasti aku akan jaga image deh," celetuk Vannya tertawa.


"Ah iya juga ya, aku saja saat bertemu dengan Chandra dia sebagai pasienku. Dan kamu tau? Dia snagat menyebalkan," ujar Alina.


Keduanya melanjutkan obrolan, saling menceritakan tentang pertama kalinya mereka bertemu dengan pasangan masing-masing. Sedangkan Vin dan Chandra kini berada di ruang kerja Chandra di lantai dua.

__ADS_1


Apalagi yang akan mereka bicarakan selain urusan bisnis. Tidak mungkin bukan jika mereka ikut bergosip seperti para isteri di luar sana. Suasana tidak tegang, tapi udara di dalam cukup dingin karena AC yang di nyalakan sejak pagi tadi.


"Vin, sepertinya Aura bukan wanita biasa," celetuk Chandra.


"Maksud Kakak?" tanya Vin tak mengerti.


"Dia anak pengusaha, tapi kenapa dia masih mau bekerja di Perusahaanmu? Bahkan Ibu kandungnya pun masih hidup, dan dia memilih untuk ikut dengan Ibu tirinya," ujar Chandra.


"Nyonya Mayang maksudmu?" tanya Vin.


"Itu Ibu tirinya," jawab Chandra.


"Benarkah? tapi di cv Aura tertulis nama kedua orangtuanya Nyonya Mayang dan Tuan Ruli Hermawan," ujar Vin.


"Hmm, bukannya tidak percaya padanya. Tapi sebaiknya kamu berhati-hati. Meski dia tidak berulah," ujar Chandra.


"Iya Kak! Saat ini dia masih di Kalimantan karena Nyonya Mayang meninggal terbakar di gedung tua yang lokasi jauh dari rumah,"


"Ya aku sudah mendengarnya, semoga saja kebenarna akan terungkap. Apapun itu alasannya,"


"Sejauh ini tidak ada, masing-masing divisi bekerja sesuai dengan wewenangnya tanpa keluar jalur,"jawabnya.


"Syukurlah, kalau ada apa-apa kabari aku. Wijaya Group siap membantu," ujar Chandra.


"Hmm, terimakasih Kak!" ucapnya.


"Bagaimana dengan rencana anak Perusahaan yang akan kau dirikan di kota Bandung?" tanya Chandra.


"Ah ya, itu ... masih 50% Kak. Mungkin nanti akan aku kirimkan beberapa orang yang sudah lama bekerja di pusat untuk menjadi orang kepercayaan disana," ujar Vin.


"Hmm, apapun yang kamu lakukan aku akan mendukungmu Vin! Tapi ingat, jangan sampai kau salah pilih dan akan menghancurkan semuanya," ucap Chandra mengingatkan adik iparnya.


"Iya Kak! Mohon bimbingannya," jawab Vin dengan senyum simpulnya.


"Astaga! Tidak isteri tidak suami, sama saja minta bimbingan ... emang aku Dosen pembimbing," celetuk Chandra tertawa lebar.


"Eh? Iyakah? Vannya meminta bimbingan untuk apa?"" tanya Vin.

__ADS_1


"Untuk tidak terlalu cemburu padamu," jawab Chandra.


Vin hanya tersenyum, wajahnya bersemu merah mendengarnya. Dia jadi teringat dengan kejadian siang kemarin saat Vannya cemburu tanpa alasan.


Sementara itu di tempat yang berbeda,


Seorang wanita paruhbaya tampak duduk di sudut kamarnya yang bernuansa cokelat susu. Sejak pagi dia hanya duduk di atas kursi roda memandangi taman area rumah yang terlihat dari balik kaca jendela di depannya.


Ya, dia lumpuh setelah mengalami kecelakaan 5 tahun lalu. Dan di tahun yang bersamaan dia harus kehilangan suaminya menikah dengan wanita lain yang tak juga teman arisannya.


Bukan hanya suami yang di rebut, melainkan putri semata wayangnya. Karena melihat dia sudah lumpuh tak berdaya, membuatnya enggan untuk tinggal bersama dan memilih ikut dengan Ayahnya bersama ibu tirinya.


Meski begitu, bukan berarti hubungannya dengan Ibu kandung putus begitu saja. Bahkan bisa di bilang dia menjadi kambing hitam dalam masalah pribadi Ibu Kandungnya di masa lalu.


Sudah hampir 3 hari putrinya tak menjawab teleponnya, ia merasa gusar dan kesal karena menganggap putrinya sudah mengabaikan dirinya. Sejak pagi entah sudah berapa kali dia mendial up nomor putrinya, tapi masih sama tidak ada jawaban.


"Dasar anak tak berguna! Berani sekali dia mengabaikanku, apa yang sudah dia makan dari wanita tua itu," ujarnya kesal meremas ujung bajunya.


Tring!


Tanpa melihat nama yang tertera di layar ponselnya, ia segera menggeser tombol berwarna hijau dan memarahinya habis-habisan. Bahkan kata-kata kasarpun keluar dari mulutnya.


*Obrolan di telepon


"Apa kau lupa siapa Ibumu? Apa yang sudah dia berikan padamu hingga kau berani melupakan Ibumu? Dasar anak booh, kau pikir lahir dari rahim siapa? Apa kau lahir dari pohon pisang?" makinya tanpa mau mendengar penjelasannya.


"I-ibu, maafkan aku. Kami semua sedang berduka, Ibu Ma ... ." ujarnya berusaha menjelaskan.


"Tutup mulutmu! Sekali lagi kau ucapkan nama wanita itu, jangan harap nyawamu masih ada dalam tubuhmu! Apa yang kamu lakukan disana? Lamban sekali!"


"Yang harus kau urus disini bukan disana, cepat kembali atau pria itu akan ku habisi?" ancamnya dengan nada tinggi.


"Aiishh! Ibu kandung rasa ibu tiri," celetuknya spontan.


"Apa kau bilang? katakan sekali lagi!" bentaknya.


"Ti-tidak. Baiklah aku akan kembali segera," jawabnya ketakutan dan segera menutup teleponnya*.

__ADS_1


__ADS_2