
"Hei, adik kecil. Siapa namamu?" seraya mengusap rambut Madav dengan lembut.
"Aku bukan adik kecil Om, aku Madav ...! Om sama saja seperti Paman, selalu memanggilku Tuan Kecil," gumamnya.
"Ya Tuhan, menggemaskan sekali anak ini," puji Dewi.
_________
"Baiklah, Madav ...! Nama yang bagus, seperti anaknya yang tampan. Aku Om Rico," tangan kanannya di ulurkan sebagai tanda perkenalan.
"Hai Om," ucapnya dengan manis.
"Udah kan? Aku harus segera bawa dia kembali sebelum orangtuanya mencarinya dan mengira aku adalah penculik," celetuk Dewi.
"Ah, silakan ...!"
Dewi menggandeng Madav membawanya masuk kembali ke gedung Perusahaan. Lagi-lagi mereka menjadi pusat perhatian semua orang, lebih tepatnya Madav yang ramah dan selalu melempar senyum kepada siapapun.
Sementara itu,
Suasana klinik lumayan ramai, pasien berdatangan dengan berbagai keluhan dan riwayat sakitnya. Beberapa perawat tampak sibuk dengan pasien-pasien di atas bed beberapa diantaranya sibuk menganamnesa pasien yang baru datang dan yang lainnya.
Alina yang datang sejak pagi tadi turut membantu Dokter Stef dan Dokter Fani yang di sibukkan dengan mereka. Ya, setidaknya itu yang bisa mengalihkan perhatiannya dari kesedihan.
Rasa kehilangan masih melekat dalam dirinya. Bahkan beberapa hari ini sering sekali ia mimpi di datangi Papi, dan paginya selalu menangis karena teringat Papi sudah tiada beberapa hari yang lalu.
Setelah meminta izin Chandra, akhirnya Alina di izinkan untuk ke klinik dengan beberapa syarat yang di berikan kepadanya.
"Dokter, ada pasien baru yang datang dengan riwayat sakit pada bagian perut sebelah kanan. Dokter Stef dan Dokter Fani sedang ada pasien lain. Ini rekam medik dsri pasien Dok," menyerahkan selembar kertas berisi data diri pasien dan anamnesa yang di dapatkan.
"Baik, Sus. Ayo kesana ...!" ujarnya setelah melihat isi rekam medik untuk beberapa saat.
Bed 3
Setelah hand hyegene 6 langkah dengan alkohol selama 10-20 detik, Alina dan perawat segera masuk ke tirai nomor 3. Di sana pasien sudah merintih kesakitan dan mengaduh beberapa kali.
"Selamat pagi Pak Ahmad," sapa Alina dengan ramah.
__ADS_1
"Pagi, Dok ...!" jawabnya serya menyeringai memegani bagian perutnya sebelah kanan.
"Maaf Bapak, saya periksa dulu ya ...! Saya angkat sedikit bajunya, tarik nafas dan hembuskan pelan-pelan ya Pak,"
"Sakit Dok," terus menyeracau kesakitan.
"Bapak, kalau boleh tau tingkat nyeri yang Bapak rasakan kalau dari 1 sampai 10, Bapak pilih no berapa? Kalau 1-3 ada nyeri ringan, 4-6 nyeri sedang, 7-10 nyeri sekali ...!"
"7 Dok," dengan terbata-bata menjawabnya.
"Ada rasa mual atau riwayat muntah beberapa menit yang lalu tidak Pak?" tanyanya lagi.
"Ada Dok, tadi di rumah saya muntah 4x," jawabnya.
"Suster siapkan NaCL 0,9% 25 ml, peralatan infus, ondancentron 4mg/2ml, dan panthoprazole 40 mg injection ya ...!"
"Baik Dok," dengan cepat perawat segera bergegas ke tempat sediaan oat dan peralatan medis.
"Bapak, Tekanan Darahnya Normal ya 120/80 mmHg. Untuk sementara waktu kami lakukan observasi mungkin sekitar 1-2 jam, untuk memantau kondisi Bapak. Apa Bapak bersedia?" dengan sopan Alina meminta persetujuan dari pasien yang datang seorang diri.
"Iya Dok,"
Setelahbitu perawat mengaturnya lagi dnegan mengalirkan cairan untuk mengisi selang infus sebelum di pasang ke pasien. Setelah beres, ia segera menyiapkan diri untuk memasang infus di punggung tangan sebelah kiri.
"Bapak, saya pasang infusnya ya ...! Akan sakit sedikit, Bapak cukup tarik nafas panjang saja. Saya oasnag ya Pak," ujarnya.
Hanya dengan sekali tusuk, perawat berhasil menemukan vena dan tidak terjadi pembengkakan karen vena pecah. Perawat segera menyambut jarum dan meninggalkan jarum karetbdi dalam vena untuk di sambungkan dengan selang infus supaya cairan dan obat bisa masuk nantinya.
"Dokter, infus sudah terpasang dengan tetesan infus 25x per menit,"
"Baik Sus, selanjutnya berikan terapi obatnya ya ...!"
"Baik Dok,"
Dengan sigap perawat segera memasukkan cairan obat yang sudah ia siapkan di dalam spuit berukuran 5 ml melewati selang infus.
"Bapak, saya akan memasukkan obatnya melalui selang infus, akan terasa sedikit sakit atau perih. Ini adalah reaksi dari obat ya Pak," ujarnya seraya memberitahukan efek saat obat mulai masuk ke dalam tubuhnya secara perlahan.
__ADS_1
"Ahh ...! perih sus," pekiknya.
"Iya Pak, tarik nafas panjang ya. Setelah obat masuk perihnya akan hilang kok,"
Panthoprazole 40 mg injection sudah masuk, perawat segera merapikan peralatan di atas troli dan bergegas pergi membawanya ke ruangan kecil tempat dimana ia membuang bekas alat yang sudah terpakai dan membersihkan troli.
"Bapak, infus sudah terpasang, obat juga sudah di masukkan. Mungkin efeknya belum terasa, untuk itu kita pantau 1-2 jam dulu ya Pak, kalau ada keluhan lain silakan Bapak tekan tombol di samping untuk memanggil kami,"
"Baik Dok. Terimakasih ...!"
Alina segera kembali ke ruang jaga Dokter dan Perawat. Ia kembali melakukan hand hygiene 6 langkah dengan sabun dan di air yang mengalir. Setelah itu ia mengeringkang tangannya dengan handuk kecil yang sudah di sediakan dan setelah selesai ia memasukannya ke tempat handuk kecil yang sudah terpakai.
"Dokter, inin rekam medik pasien yang tadi,", ucap perawat seraya menyerahkan rekam medik yang sudah ia lengkapi.
"Makasih ya Sus," Alina segera duduk di kursi dan mengisinya.
___________
"Klinik hari ini ramai ya, ada apa dengan hari ini?" celetuk Dokter Stef yangbbaru saja duduk di sampinh Alina.
"Mana aku tau, aku bukan paranormal ...!" sahutnya dengan terkekeh.
"Aiishhh ...! benar juga sih. Tapi untung kamu datan Na, jadi setidaknya smeua pasien dapat penanganan yang cepat tanpa harus menunggu lama,"
"Iya Stef, aku bingung juga mau ngapain di rumah. Mami di rumah Vannya dan Vin, Mamah dan Papah mertua juga sudah kembali ke rumah," seraya menutup buku rekam medik yang sudah ia isi.
"Ya sudah, kesini saja tiap pagi. Biar kamu ada teman ngobrol, walaupun kadang obrolan tak berfaedah," gumam Dokter Stef.
"Huh ...! Tak berfaedah, tapi bisa menghibur ...!" sahutnya.
"Hahah ...! syukurlah kalau terhibur. Setidaknya kita bisa meringankan bebanmu sedikit. Beban kebingungan yang melanda,"
"Mana ada begitu?"
"Wih ...! Ramai sekali, awas aja kalau gak ada adu tinju. Gak jadi ramai nanti," timpal Dokter Fani yang baru datang setelah memberikan tindakan kepada pasien.
"Hahah ...! Mana ada cowok lawan cewek, aku kan gentle. Yang ada nanti aku di serang emak-emak, matilah aku kalau gitu," celetuknya.
__ADS_1
Di sela-sela kesibukan mereka dalam melayani pasien selalu ada cara untuk mereka menghibur diri. Melepas ketegangan dalam dirinya dengan obrolan receh yang tak berfaedah itu.