
Di sisi lain ...
"Kak, lagi apa? Boleh Mami masuk?" tanyanya dari balik pintu.
"Masuk aja Mam," sahutnya dari dalam kamar.
"Makasih Kak,"
"Ada apa Mam? Sini duduk," ajaknya pada Mami yang masih berdiri di pintu.
"Tidak, Mami cuma kangen sama kamu Nak! Udah lama kan kamu gak main kesini sejak Adikmu menikah," uajrnya sembari duduk di samping Alina yang sedang menyalakan TV.
"Iya Mam, maaf ya. Soalnya kata Chandra aku gak boleh sergi bepergian, takut ada apa-apa dengan kandunganku," ucap Alina merasa bersalah.
"Iya Kak. Mami tau kok, melihat kamu, Chandra dan kandunganmu baik-baik aja udah bikin Mami senang. Oh iya, Chandra udah lagi dalam perjalanan mau kesini atau gimana? Ini udah waktunya dia pulang kan?" tanya Mami membuat Alina tersadar jika waktu sudah menunjukkan pukul 18.15 WIB.
"Eh, iya Mam! Harusnya sih sudah hampir sampai. Coba aku hubungi dia dulu ya," ujar Alina meraih ponselnya di sampingnya.
"Iya Nak,"
Alina menghubungi Chandra untuk menanyakan domana keberadaanya saat ini, tapi nomornya tidak bisa di hubungi. Mungkin daya beterainya habis dan Chandra lupa meng-chargnya, begitu pikirnya.
"Gimana Kak?" tanya Mami.
"Ponselnya mati Mam, mungkin daya baterainya habis. Pasti sebentar lagi sampai kok," jawabnya berusaha tap tenang.
"Ya, mungkin saja,"
Mereka melanjutkan obrolan antara seorang Ibu dengan putrinya. Inilah yang Kinan rindukan selama ini, putri kecilnya kini telah menjelma menjadi wanita dewasa dna sebentar lagi akan menjadi seorang Ibu.
Selama obrolan berlangsung, keduanya tak pernah melepaskan genggaman tangannya. Gelak tawa mengiringi obrolan mereka sebelum waktu makan malam tiba.
"Nak, maaf ya Mami belum siap untuk melepaskanmu seutuhnya. Walapun kamu sudah bertemu dengan Nak Chandra yang sangat menyayangimu, tapi bagi Mami kamu adalah putri kecil Mami. Rasanya seperti mimpi Nak, dulu kamu masih kecil kemanapun Mami dan Papi pergi kamu selalu ikut. Tapi sebentar lagi kamu akan menjadi seorang Ibu, Mami akan jadi Oma ... ." buliran bening menetes begitu saja dari sudut matanya.
"Mam, kenapa menangis? Apa Papi udah nyakitin Mami? Apa yang Papi lakukan? Biar nanti Nana yang tegur Papi," tanya Alina seraya mengusap air mata Mami dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Heh? Siapa yang membuat isteriku menangis? Sayang, kamu kenapa? Apa kalian sedang menonton drakor?" celetuk Randy baru masuk.
"Aishh, Papi ini masuk ga ketuk pintu. Kita gak nonton drakor kok. Tapi tiba-tiba Mami nangis, apa Papi yang udah bikin Mami sedih ya?" timpal Alina curiga pada Papinya.
"Mana mungkin Kak. Mana pernah Papimu yang tampan ini membuat belahan jiwanya menangis," sahut Papi.
"Hillih, bucin. Terus Mami kenapa Mam?" tanya Alina sekali lagi dengan cemas.
"Aku gak apa-apa Mas. Sayang, Mami gak apa-apa. Mami cuma terharu aja, sebentar lagi putri Mami akan menjadi seorang Ibu,"
"Jaga baik-baik calon cucu Mami ya," imbuhnya terisak.
"Iya Mam, Nana sama Chandra pasti akan menjaga baby dengan sangat baik. Satu yang Nana minta dari Papi dan juga Mami ... harus tetap sehat, kalau ada apa-apa kabari Nana," ucap Alina menggenggam kedua tangan Papi dan Maminya dengan erat.
"Begitupun denganmu Nak, jangan ada yang kamu sembunyikan dari Papi juga Mami," ujar Papi menimpali.
"Hmm, pasti Pi," ucapnya seraya mengangguk dengan pelan.
"Sudah waktunya makan malam, ayo kita turun ... ." ajak Mami.
"Tentu saja, karena bukan cuma kamu yang makan. Tapi si baby juga," jawab Mami.
Sementara itu,
Erina sengaja memesan satu bioskop khusus untuknya dengan Chandra. Bahkan dia meminta bantuan kawannya untuk mengurus semuanya, termasuk menggangti film yang akan di putar.
Ia sudah mempersiapkan dari jauh hari sebelum erbang ke Indonesia. Erlina memilih film semi romantis, Chandrapun terkejut karena yang dia tau mereka akan menonton film *action.
"Bagaimana bisa salah menayangkan film. Bahkan ini tidak pantas untuk di tayangkan, bagaimana kalau pengunjung lainnya membawa anak di bawah umur," batin Chandra*.
"Eh? Bukankah kita mau nonton action ya Chan? Kok bisa?" tanyanya pura-pura terkejut.
"Mungkin mereka tidak lihat, kita keluar saja yuk!" ajaknya.
"Chan, kamu kan udah janji mau temani aku. Waktu tinggal 1 jam lagi kita bersama, udah disini aja. Toh kita tidak akan macam-macam kan?" ujar Erlina mencoba menahan Chandra.
__ADS_1
"Tapi,"
"Ssstt! Kita lihat saja, sayang kan kita sudah capek-capek lewat tangga darurat tapi gak jadi. Bahkan kakiku masih pegal," rengeknya seraya memijit kakinya.
"Hmm, ya udah ... jangan sentuh aku," ujarnya.
"Okey Chan, tapi kalau kamu mau sentuh aku boleh kok. Walaupun cuma pegang tangan," mengedipkan sebelah matanya.
"Kita lihat aja Chan, apa kamu akan kuat selama satu jam berada di tempat ini dengan tayangan seperti itu? Dan gedung ini sengaja aku pesan untuk kita berdua, aku akan menyerahkan segalanya untukmu," batin Erlina licik.
"Hah! Film macam apa ini? Membuatku mengantuk saja, tapi aku jangan sampai lengah. Jangan sampai Erlina menyentuhku," batin Chandra waspada.
Film berjalan hampir setengahnya, namun Chandra masih bersikap tenang seperti sedang tidak menyaksikan apa-apa. Sementara itu, Erlina semakin gusar karena terbawa suasana namun tidak ada pergerakan dari Chandra seperti yang dia inginkan.
Sesekali Erlina melirik ke samping, memastikan apakah Chandra diam-diam meliriknya. Tapi di lyar dugaan, Chandra fokus menonton tanpa ekspresi yang tidak bisa di jelaskan.
"Aish! Kenapa Chandra masih tenang-tenang aja sih? Bukankah pria lebih mudah ter******* ya. Atau jangan-jangan dia tidak tertarik pada lawan jenis semenjak di tinggal Erlita?" Batin Erlina yang semakin merasa tidak nyaman dengan posisi duduknya.
"Chan," ujarnya perlahan seraya tangannya ia letakkan di atas paha Chandra.
"Sstt ... jangan berisik. Katamu kalau menonton tidak boleh sambil ngobrol kan, nanti akan memecah konsentrasimu," sahut Chandra tanpa memalingkan wajahnya.
Dan sampai film berakhir, tidak terjadi apa-apa. Erlina merasa kecewa dan merutuki dirinya sendiri yang tidak mampu memancing Chandra untuk berbuat lebih padanya.
"Ayo kita pulang, aku ada urusan lain ... ." ujar Chandra segera bangkit dari duduknya.
Tanpa menjawab, Erlina hanya mengikuti Chandra dari belakang. Dia sedang memikirkan cara supaya bisa membuat Chandra bermalam dengannya malam ini dan melancarkan aksinya.
"Kenapa tidak ada penonton lain? Apa mereka tidak jadi masuk karena film yang di putar tidak sesuai dengan judul yang tertera pada tiket?" batin Chandra berhenti sejenak memandangi seisi gedung yang tampak kosong.
*DUGG!!
"Awwhh*! Kenapa berhenti Chan? Ada apa?" tanya Erlina.
"Kenapa cuma kita yang menonton?" celetuk Chandra masih bingung.
__ADS_1