Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Mata Ternodai


__ADS_3

"Iya Sayang, kalian ...! Kamu, Mami, dan yang lainnya," sahut Chandra.


"Hmm, seru juga kalau kita liburan rama-ramai Mas. Aplagi kalau anak kita udah lahir, pasti lebih seru ...!"


"Pastinya, tapi buat percobaan kita liburan sebelum baby lahir,"


"Hmm, iya Mas. Yang penting sekarang Mas semangat kerjanya, dan jangan lupa makan sesibuk apapun kerjaanmu Ma. Harya bisa di cari, tapi kesehatan tidak bisa di beli ...!" ucap Alina.


"Iya Bu Dokter, siap ...!" sahutnya.


"Ya udah, Mas mandi gih. Udah jam 6 nih," ujarnya.


"Iya Sayang, aku mandi ya ...!" ucapnya.


"Mau kopi gak?" tanya Alina sebelum Chandra menghilang di balik pintu kamar mandi.


"Mau dong," sahutnya.


"Okay ...!" ujarnya seraya bergegas pergi dari ruang ganti dan turun ke dapur.


"Pagi Mbok Jum ...!" sapa Alina yang melihat Mbok Jum tengah menyibukkan diri di depan kompor listrik.


"Pagi Nyonya, ada yang bisa saya bantu?" ujarnya menawarkan diri.


"Tidak Bi. Lanjutkan saja masaknya ya ...! Cuma bikin kopi kok," seraya meraih cangkir di atas dal lemari.


"Iya Nyonya,"


"Mbok, siang nanti jangan lupa antar makan ke klinik ya. Minuman jangan lupa, sama buah yang banyak ...!" ujar Alina mengingatkan.


"Siap Nyonya ...! Kalau itu Mbok selalu ingat kok, semoga apa yang Nyonya berikan menajdi berkah buat kita semua Nya ...!"


"Aamiin Mbok. Apa yang kita berikan saat ini tidak sebandinh dengan semangat dan tenaga mereka yang sudah di kerahkan untuk melayani pasien yang datang dalam kondisi yang beraneka macam. Apalagi kalau pasien datangnya barengan,"


"Aku bersyukur punya mereka Mbok," ucap Alina seraa menuangkan gula ke dalam cangkir.


"Coba aja Mbok bisa bantu Nyonya, pasti selesai bebenah Mbok langsung ke klinik buat bantu," celetuknya.


"Kata siapa Mbok tidak bisa bantu. Mbok udah banti kita kok, Mbok masakin kita buat gantiin tenaga yang udah terkuras. Itu udah lebih dari cukup Mbok. Apalagi masakan Mbok enak semua," ucap Alina.


"Ah Nyonya emang paling bisa kalau bikin Mbok GR," sahutnya malu-malu.


"Emang itu kenyataannya Mbok. Kalau masakan Mbok tidak enak, mana mungkin bisa bekerja sama keluarga Chandra dalam waktu yang lama. Bahkan sampai Chandra menikah, dia tetap mau Mbok yang masakin buat dia," ujar Alina.

__ADS_1


"Saya kan hanya memberikan apa yang sudah Tuan dan Nyonya besar berikan kepada saya. Mereka sudah membayar saya dengan mahal, ya saya harus mememberikan yang terbaik juga Nyonya ...!" jawabnya dengan lembut. Senyuman selalu terpancar di wajahnya yang sudah tidak lagi muda.


"Mbok aku ke depan dulu ya," ucapnya yang sudah selesai membuatkan kopi untuk Chandra.


"Iya Nyonya,"


Setelah meletakkan secangkir kopi di atas meja makam. Alina bergegas ke teras untuk menghirup udara pagi yang masih segar. Dari kejauhan dia bisa melihat beberapa perawat sudah datang dan sepertinya sednag menyiapkan semuanya.


Mulai dari membersihkan trolli yang akan mereka, dengan menyemprotkan desinfektan yang sudah di sediakan. Lainnya yang tidak terlihat oleh Alina adalah mengecek sediaan obat dan peralatan di ruang penyimpanan obat dan peralatan medis lainnya.


"Entah apa yang membangkitkan semangat mereka, pagi-pagi sekali mereka sudah tiba di klinik. Menyiapkan semuanya sebelum jam buka, makasih yang sudah setia menemaniku sejak klinik pertama kali beroperasi," batinnya dengan perasaan bangga.


"Sayang, kamu dimana?" panggil Chandra dari dalam rumah.


"Iya, Sayang ...! Aku disini," sahut Alina seraya bergegas masuk ke dalam rumah sebelum Chandra memanggilnya untuk yang kesekian kalinya.


"Kamu darimana?" tanya Chandra.


"Dari teras, liat mereka yang pagi-pagi udah datang ...!" ujarnya.


"Rajin sekali. Dari jam berapa mereka pergi meninggalkan rumah ...!" gumamnya seraya duduk di meja makan.


"Itu dia yang lagi aku pikirkan. Padahal klinik buka jam 8, tapi mereka sudah datang 2 jam sebelumnya," ujarnya.


"Hmm, bagaimana aku bisa mengecewakan mereka setelah apa yang mereka berikan ke aku Sayang. Makasih ya, kalau bukan karena kamu yang buatkan aku klinik, pasti aku gak akan pernah ketemu sama mereka,"


"Sama-sama Sayang ...! Kamu boleh setiap hari ke klinik, tapi kamu harus ingat dengan kondisimu sekarang ...!" ujarnya.


"Iya Sayang, aku pasti ingat ...! Wah, makanan sudah siap ...! Makasih ya Mbok," ujar Alina.


"Sama-sama Nyonya ...!" sahutnya dengan ramah.


"Mbok istirahat dulu," ucap Chandra.


"Iya Tuan ...! Kalau istirahat terus kapan pekerjaan akan selesai ...!" sahutnya.


__________


Sementara itu, setelah selesai sarapan. Vin, Vannya dan Dewi berpamitan untuk berangkat ke kantor. Vin mengantarkan Vannya terlebih dahulu sebelum dia dan Dewi menuju kantornya.


Di sepanjang perjalanan, Dewi dan Vannya saling bertukar cerita satu sama lain. Menceritakan kabar yang mereka dengar dari teman alumni dan lain sebagainya.


"Yah, udah sampai aja sih ...!" gumamnya.

__ADS_1


"Apa mau putar balik lagi? Kita antar Dewi dulu, setelah itu kesini lagi antar kamu?" tawar Vin pada isterinya.


"Hmm, tidak perlu. Wi ... kalau ada waktu kita ketemu lagi ya ...!" ujarnya.


"Siap, Bu Bos ...!" sahut Dewi.


"Aiihh ...! Bu Bos apaan," celetuknya.


"Kan kamu isteri Pak Vin ... dan Pak Vin itu Bosku," ujarnya.


"Tapi panggil namaku aja. Yang Bos kan suamiku, bukan aku ...!"


"Iya Van, iya ...! Semangat kerjanya ya. Bumil jangan kecapean," pesan Dewi pada sahabatnya.


"Hmm, kamu juga ya Wi. Salam buat Rico, kemarin kayaknya aku liat dia sama kamu kan?" ujarnya.


"Iya Van, nanti aku sampaikan ...!"


"Sayang, aku kerja dulu. Kamu semangat kerjanya ya ...!" ucap Vannya sebelum turun dari mobil.


"Iya Sayang, kamu juga. Jangan capek-capek ...! Ingat anak kita," ucapnya seraya mengusap perut Vannya yang sudah lumayan menyembul.


"Iya ...!" ujarnya seraya meraih gagang pintu mobil.


settt ...!


cupp ...!


Ciuman hangat mendarat di pipi kanan Vannya, membuat Dewi yang sejak tadi sedang melihat kedianya dengan tatapan kagum, seketika merasa malu karena melihat adegan itu. Meski hanya cium di pipi.


"Astaga ...! Pagi-pagi mataku sudah ternodai," batin Dewi dengan cepat segera mengalihkan pandangannya ke arah yang lain.


"Sayang, ada Dewi ih ...! Kasihan dia," celetuk Vannya yang juga malu karena ada Dewi di dalam mobil.


"Biarin aja, siapa tau setelah ini dia cepar-cepat menikah," sahutnya.


"Aiiihhh ...! Aku tidak dengar ... aku tidak dengar ... anggap saja tadi itu burem ...!" batin Dewi lagi mencoba menguatkan hatinya.


"Kamu ini ...! Wi, maaf ya ...!" ujar Vannya.


"I-iya Van gak apa-apa ...!" sahut Dewi dengan sedikit canggung.


"Tuhkan gak apa-apa katanya Sayang," timpal Vin.

__ADS_1


"Tapi, kalau mau kaya gitu kasih aba-apa Pak. Biar saya gak lihat ...!" ujar Dewi dengan perlahan. Suaranya hamoir tidak terdengar.


__ADS_2