
Pak Revan dan Chandra masuk ke mobil masing-masing karena tadi mereka datang ke TKP juga membawa mobil masing-masing. Sedangkan mobil Pak Randy akan di ambil Pak Parjo.
Jarak dari kantor polisi ke Rumah Sakit tidak jauh. Dalam waktu tak kurang dari 20 menit mereka sudah memasuki area Rumah Sakit dan segera memarkirkan mobilnya di tempat yang kosong.
Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal di dalam mobil, Pak Revan dan Chandra segera turun dan segera masuk ke bagian IGD untuk menanyakan keberadaan pasien atas nama Tn. Randy Putra Ardhana.
"Om, tida usah tanya. Lihat ...!" ujarnya menunjuk ke tirai nomor 9.
_______
"Ah, ya ...! Itu mereka. Ayo Chan ...!" ajak Pak Revan pada Chandra untuk segera menghampiri tirai nomor 9.
"Sayang ...!" panggilnya pada Chandra saat sudah di dekat tirai nomor 9.
"Hi ... Sayang ...! Kamu udah datang? Syukurlah," ujarnya seraya memeluk Chandra.
"Hmm, maaf ya. Tadi aku sama Om Revan harus ke rumah mendiang Tante Erika dan juga kantor polisi dulu," ujarnya menjelaskan.
"Ta-tante Erika?" Tanya Alina.
"Kemungkinan besar ini ulah Tante Erika, tapi sayangnya Sopir dan Tante Erika tidak tertolong. Yang selamat cuma anaknya, itupun kondisinya kritis ...!"
"Ja-jadi ini ulah Erika lagi?" sahut Mami yang sudah bangun sejak beberapa saat lalu.
"Mami udah sadar, syukurlah. Minum dulu Mam," ujar Vannya yang dengan sigap segera meraih botol minum di atas meja kecil.
"Iya Mih, minum dulu ya ...!" ucap Chandra.
"Makasih Sayang," ucap Mami mengusap pipi Vannya.
Mami segera menenggak minuman dalam botol beberapa kali tegukan. Setelah sedikit tenang, ia meminta Chandra dan Revan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi hari ini.
"Chandra ... Revan ...! Sekarang kalian ceritakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Mami.
"Om saja yang jelaskan ...!" ucap Chandra mempersilahkan Revan untuk menjelaskan pada Mami.
"Hmm, baiklah ...!"
"Erika mengirim putrinya yang bernama Aura untuk bekerja di Perusahaan, dan bahkan nama Ibu yang di cantumkan dalam data diri Aura bukan nama Erika melainkan nama Ibu tirinya yang baru 5 tahun menikah dengan Pak Ruli,"
"Dan bukan hanya itu, beberapa tahun sebelum mengirim Aura. Erika pernah berniat untuk mencelakai Vin di jalan. Untunglah Tuhan tidak menghendaki niat jahatnya, bahkan dialah yang celakan sendiri dan jadi lumpuh,"
"Sampai pada suatu hari, Erika memberikan kertas yang berisi penyerahan kepemilikan Perusahaan atas nama Erika. Tak sengaja, Dewi dan Vin membaca kertas itu karena terjatuh saat Vin hendak menandatanganinya,"
"Setelah Vin membacanya, ia tetap membubuhkan tanda tangan disana. Dan siang tadi, Erika datang ke Perusahaan hendak mengambil alih semuanya, tapi ternyata tanda tangan itu palsu," ujar Revan menjelaskan apa yang dia tau.
"Mungkin Papi mendatangi rumah Nyonya Erika untuk meminta agar mereka tidak mengganggunya lagi,"
"Dan saat melihat Papi sedang menyeberang jalan, mungkin tergagas pikiran jahatnya untuk membunuh Papi," ucapnya.
__ADS_1
"Astaga ...! Jahat sekali mereka ...!" gumam Mamah yang sejak tadi mendengarkan penjelasan dari keduannya.
"Oh ya ... bagaimana kondisi Papi?" tanya Chandra.
"Papi di bawa ke ruang operasi Kak ...! Ada penggumpalan darah di otak. Jadi harus segera dilakukan tindakan," jawab Vannya menjelaskan.
"Semoga Papi baik-baik saja," gumam Chandra.
"Ya udah, ayo kita kesana sekarang ...!" ajak Mami.
"Mami dah kuat?" tanya Alina.
"Udah Nak, kan ada kalian yang menguatkan Mami. Yuk ...!" ajaknya bersemangat.
Mamah Irene dan Vannya memapah Mami berjalan ke Ruang Operasi. Dari jauh terlihat ada Vin dan Paph duduk di kursi panjang depan Ruang Operasi. Melihat kedatangan yang lain, Vin dan Papah segera berdiri memberikan tempat duduk untuk yang perempuan.
"Mami udah sehat?" tanya Vin.
"Udah Sayang, bagaimana? Apa belum selesai" tanya Mami.
"Belum Mih, Operasi kali ini membutuhkan waktu yang lumayan lama karena harus melakukan pembedahan pada tengkorak kepala kan. Mami sabar ya ...!" ujar Vin memeluk Mami di sisi kanan dan Vannya di siai kiri.
"Sayang, temani aku ke Om Kea yuk ...!" bisiknya pelan.
"Hmm," sahutnya.
Tapi Alina tidak ada pilihan lain, hanya Om Kea satu-satunya yang bisa menenangkan Mami setelah Papi. Alina tidak bisa melihat Mami dalam keadaan seperti ini.
Tokk ... tokk ...!
"Masu ...!"
"Om, lagi sibuk?" tanya Alina.
"Hay, kalian rupanya. Ayo masuk," ucapnya dengan ramah.
"Makasih Om, maaf ya kami ganggu," ujar Chandra setelah menjabat tangan Om Kea.
"Tidak kok ...! Ini baru aja selesai. Kalian baru aja check up kandungan?" Tanya Om Kea.
"Enggak Om, tapi kami lagi nunggu Papi," ujar Alina mulai menangis.
Sejak tadi dia berusaha untuk tetap kuat di depan Mami, karena tidak ingin menambah suasana semakin kalut. Chandra memeluknya dan membiarkan isterinya untuk menumpahkan semuanya.
Om Kea berpindah duduk di samping Alina, membelai rambutnya yang panjang. Menenangkan keponakannnya, Om Kea seakan sudah paham keadaan sedang tidak baik-baik saja saat ini.
"Om ... Pa-Papi ... Papi kritis, saat ini sedang di dalam Ruang Operasi," ujarnya bersusah payah berusaha menjelaskan semuanya.
"Apa yang terjadi?" tanyanya.
__ADS_1
"Papi di tabrak Om ...! Dan pelakunya sama dengan yang sudah membuat Ibu Nana tiada, hiks!"
"Nana takut kehilangan Papi, kejadian yang paling Nana takutkan sejak dulu sekarang kejadian lagi. Dan korbannya orang-orang yang Nana sayang," imbuhnya lagi.
"Nak takdir Tuhan gak ada yang bisa menghindar, kita doakan yang terbaik buat Papimu ya. Randy ormag yang kuat, Om yakin dia akan sembuh,"
"Sekarang Mami kamu dimana?" tanyanya.
"Mami dari tadi nangis, Nana gak tega Om. Dulu aku belum paham arti kehilangan, tapi sekarang aku takut untuk kehilangan lagi," ujarnya terisak.
"Sttt ...! Tenanglah, kamu gak akan kehilangan siapapun. Jangan nangis lagi ya, Om akan ikut kalian. Om tau kalian kesini untuk ajak Om kesana kan? Sekarang tenangkan dulu dirimu, ingat kamu sednag hamil," ucapnya seraya memeluk Alina dan mengusap kepalanya.
Di sisi lain ....
Aura terpaksa harus kehilangan salah satu kakinya karena tulang sudah remuk. Beberapa perawat dan Dokter dengan sigap segera melakukan prosedur tindakan setelah mendapat persetujuan dari Pak Ruli Ayah kandung Aura.
Tindakam berlangsung selama 3 jam, Pak Ruli sudah tiba di Rumah Sakit satu jam sebelum tindakan selesai. Disana sudah ada beberapa polisi yang berjaga.
"Selamat sore, Pak Ruli ...!" sapanya.
"Selamat Sore Pak," sahutnya tak kalah tegas.
"Sebelumnya kami minta maaf karena arus wbrjaga disini. Mungkin Bapak akan merasa tidak nyaman, tapicini sudah merupakan prosedur yang harus kami lakukan terhadap dugaan tersangka," ujarnya menjelaskan.
"Te-tersangka?" tanyanya terkejut.
"Masih dugaan Pak, karena kami belum mendapat keterangan dari Pihak Nona Aura," ujarnya.
"Baik Pak. Lakukan saja jika itu memang sudah prosedurnya. Tapi saya yakin, anak saya bukan tersangka," jawabnya.
"Terimakasih Pak,"
Sementara itu,
"Kin," panggil Om Keanu dengan lembut.
"Bang ... Mas Randy ... dia ...!" uajrnya segwra berdiri dan berhambur memeluk tubuh Om Keanu.
"Sttt ...! Semua akan baik-baik saja. Tenanglah ...!" ujarnya berusaha menenangkan Mami.
"Aku takut Bang," ujarnya terisak.
"Randy tidak akan semudah itu menyerah. Kamu tau itu kan?" ujarnya.
"Hmm," gumamnya seraya mengangguk pelan.
Lampu sudah padam menandakan tindakan di dalam sana sudah berakhir. Tak ada yang berani bersuara, hingga pintu terbuka dan terlihat seorang Dokter keluar dengan wajah tanpa ekspresi.
"Dok, semua baik-baik aja kan?" tanya Revan.
__ADS_1