
Selesai sarapan dengan semangkuk bakso, Alina dan Mamah Iren berencana untuk pergi ke Mall. Karena sudah lama mereka tidak pergi berdua, setelah Chandra pergi satu jam kemudian disusul Alina dan Mamah Iren yang ikut pergi meninggalkan rumahnya.
Jarak rumah dengan pusat perbelanjaan tidak terlalu jauh, hanya butuh waktu 30 menit untuk sampai disana. Tapi Alina yang memang tidak ada hobi berbelanja membuatnya jarang sekali pergi kesana.
Sesampainya di parkiran pusat perbelanjaan, mereka segera turun dari mobil dan bergandengan tangan menuju pintu utama. Meski masih pagi, pusat perbelanjaan telah ramai oleh pengunjung.
"Ramai sekali ... Mamah kira kalau kita datang lebih pagi tidak akan seramai ini, tapi ternyata dugaan Mamah salah, Nak!" kedua matanya menyusuri lantai satu melihat orang yang lalu lalang disana.
"Mungkin mereka berburu diskon, Mah. Lagian ini kan tempat umum, jadi wajar saja kalau ramai,"
"Hmm ... Kita mau kemana dulu Mah?"
"Kita keatas saja, Mamah mau cuci mata disana. Ayo, Sayang!" lagi-lagi tangannya segera menggandeng tangan menantunya seperti seorang Ibu yang ingin menjaga anaknya di tempat keramaian.
Mereka menaiki eskalator menuju lantai 2, menyusuri sepanjang lantai dua mencari toko yang sekiranya tidak ramai orang. Bukan karena malas berbaur dengan orang banyak, tapi supaya lebih leluasa saja.
Akhirnya pilihan jatuh psda sebuah toko tas branded di sudut lantai dua, sepertinya tidak terlalu banyak pengunjung disana.
"Akhirnya, ada juga yang tidak terlalu banyak pengunjung. Ayo, Nak!" dengan semangat 45 Mamah Iren menggandeng Alina menuju sebuah Toko tas branded.
Wijaya's Group
Sebuah mobil berhenti tepat di depan lobby, seorang petugas lari kecil setelah melihat siapa yang datang. Dengan perlahan, ia membukakan pintu mobil dan menyambutnya dengan sopan.
"Selamat pagi, Pak!" dengan senyum terbaiknya yang kini terpasang di sudut bibirnya.
"Pagi," menyerahkan kunci mobil pada petugas supaya mobil di pindahkan ke parkiran VIP di lantai dua.
Dengan langkah gagah, ia berjalan meninggalkan lobby menuju ruang kerjanya di lantai 17. Dua orang resepsionis berdiri dari duduknya, menyambutnya dengan sopan dan memberikan senyum termanisnya.
Ia hanya menganggukan kepalanya untuk membalas sambutan mereka. Langkah kakinya berjalan mendekati lift khusus di dekat meja resepsionis. Seorang petugas yang berdiri di depan lift segera menekan tombol untuk membuka pintu lift.
"Terimakasih," Ucapnya sebelum masuk ke dalam lift.
Beberapa menit kemudian, pintu lift kembali tertutup. Terlihat sebuah angka 15 di atas pintu, tak sampai 5 menit ia telah sampai di lantai 15 dimana lift langsung menuju ruang kerjanya.
"Selamat pagi, Pak!" sapa seorang sekretaris cantik di depan pintu lift.
"Pagi, Valent!"
Dengan sigap, Valent segera membawakan tas kerjanya dan mengikutinya dari belakang menuju meja kerja. Beberapa berkas telah berada diatas meja kerjanya, dengan sopan Valent memundurkan kursi dan mempersilakan atasannya untuk duduk.
"Jam berapa jadwal meeting hari ini?"
"Jam 13.00 di DPS Resto Pak! Hari ini ada seorang mahasiswi tingkat akhir yang datang untuk menandatangani perjanjian magang selama beberapa bulan di sini, ini adalah beberapa berkas berikut dengan CV,"
"Ah! Baiklah, suruh dia kemari. Biar aku saja yang langsung interview, rasanya sudah lama aku tidak interview orang," dengan senyum manisnya ia meminta sekretarisnya untuk memanggilkan mahasiswi yang hendak magang.
"Baik, Pak. Kalau begitu, saya permisi dulu," pamit ya seraya menganggukan sedikit kepalanya.
__ADS_1
Ruang Tunggu, Lantai 12.
Seorang gadis sedang duduk menghadap tirai jendela, memandangi keadaan sekitar sambil menunggu seorang pegawai datang memanggilnya. Rasa cemas, takut bercampur senang saling beradu di dalam hatinya.
Meski semalaman sudah belajar, tapi perasaan cemas masih berhasil menguasai dirinya. Apalagi ini adalah Perusahaan yang bukan abal-abal, tentu saja ia tidak asal dalam menjawab setiap pertanyaan HRD.
"Kenapa lama sekali? Aku jadi tambah takut, bagaimana kalau nanti HRD nya galak. Huh! Van, buang jauh-jauh buruk sangkamu. Kamu harus percaya diri, ayo semangat Van! Ayo ... Tapi, aku tetap takut,"
Tokk Tokk tokk*!
"Selamat Pagi, Nona Vannya. Pak Chandra sudah menunggu anda di lantai 15, mari ikut saya," dengan sopan Valent mempersiapkan Vannya untuk mengikutinya.
"Bukankah Pak Chandra itu CEO? Saya kan harusnya menemui HRD, Bu!" dengan bingung Vannya bertanya pad Valent.
"Ya, tapi barusan Pak Chandra yang meminta saya untuk memanggil Nona, karena kebetulan HRD kami sedang berhalangan hadir hari ini,"
"Oh, baiklah," dengan pasrah Vannya mengikuti Valent meninggalkan ruang tunggu di lantai 12.
"Astaga! Apalagi ini? Semoga saja aku tidak salah bicara, HRD saja sudah terlihat seram dalam bayanganku, apalagi CEO. Van, awas kalau kamu nanti malu-maluin ya, pokoknya awas!" batinnya berperang memaki dirinya sendiri.
Jantungnya terus berdebar mengalahkan suara langkah derap kakinya yang saat ini telah menginjak lantai 15. Suasana sangat hening, entah dimana semua pegawai. Atau mungkin di lantai 15 ini khusus untuk CEO?
Banyak pertanyaan turut berkecamuk dalam kepalanya, ingin rasanya Vannya berbalik badan lari meninggalkan gedung ini. Tapi sudah terlambat, bahkan saat ini ia sudah berdiri tepat di depan pintu bertuliskan CEO ROOM.
"Silakan, Nona Vannya!" suara Valent berhasil membuat Vannya kaget di buatnya meski dengan intonasi yang begitu lembut.
"I-iya Bu, terimakasih," dengan gugup Vannya memasuki ruangan yang bernuansa putih dan terkesan sangat luas.
"Silakan Duduk!" kursi berputar memperlihatkan sosok pria yang sedang duduk disana dengan setelan jas membuatnya terlihat begitu berkarisma.
"Te-terimakasih Pak!" dengan gugup Vannya mendekati kursi di seberang Pak Chandra.
"Selamat datang, di Perusahaan kami. Apa yang membuat Nona tertarik untuk magang di Perusahaan kami?" Ucapnya dengan santai dan kedua katanya menatap Vannya.
Dengan tarikan nafas panjang, Vannya berusaha keras menjawab setiap pertanyaan yang Pak Chandra berikan. Berbekal dengan pengalaman dan cerita dari Mamahnya, Vannya dengan percaya diri menyampaikan ketertarikannya untuk magang di Wijaya's Group.
Tak butuh waktu lama, kurang lebih 45 menit sesi interview telah berlalu.
"Selamat bergabung di Perusahaan kami, semoga kedepannya kita bisa bekerjasama dengan baik," dengan mengulurkan tangan kanannya di hadapan Vannya.
"Terimakasih, Pak! Apakah ini berarti saya di terima untuk magang di Perusahaan ini?" Tanya Vannya meyakinkan pernyataan Pak Chandra untuk kedua kalinya.
"Ya, kami ingin memberikan kesempatan untuk mahasiswi berprestasi seperti Nona. Saya harap, kedepannya Perusahaan ini akan semakin maju dengan adanya ide-ide baru seperti yang Nona ceritakan tadi,"
"Sekali lagi, saya ucapkan terimakasih Pak! Saya akan bekerja dengan sungguh-sungguh selama waktu yang sudah Bapak berikan untuk saya magang,"
Tak lama kemudian, pintu terbuka. Valent masuk dengan senyuman mengembang di wajahnya, Pak Chandra memintanya untuk mengantar Vannya menilik bagian yang akan ia tempati selama magang.
Dengan lembut namun jelas, Valent terus menjelaskan bagian-bagian yang ada di lantai 14. Lebih tepatnya, dimana para staffnya bekerja. Beberapa staff yang sedang sibuk dengan pekerjaannya, sesekali meliriknya dan melempar senyum ramah pada Vannya.
__ADS_1
"Di sinilah tempatmu bekerja nantinya, saya harap kamu bisa bekerja sama dengan baik selama disini. Jika ada yang belum kamu mengerti, jangan sungkan untuk bertanya kepada siapapun. Disini tidak ada yang namanya senior dan Junior, kita semua sama," ungkapnya dengan jelas.
" Terimakasih, Bu Valent!"
" Dan satu lagi, saya belum menikah. Semua yang disini memanggil nama, tidak ada yang Ibu,"
" Tapi tidak sopan jika saya memanggil nama,"
" Bagaimana kalau Kakak? Apakah Boleh?" lanjutnya.
" Silakan, asalkan jangan Ibu. Karena umur kita juga tidak terpaut banyak, anggap lah kita adalah temanmu, mengerti?"
" Siap, Kak!"
" Karyawan disini sangat ramah, begitupun dengan Kak Valent. Dia terlihat sangat berwibawa, cantik dan elegan. Tapi senyuman tak pernah pudar di wajahnya setiap dia berbincang dengan siapapun, syukurlah aku bertemu dengan mereka. Semoga aku tidak mengecewakan mereka kedepannya,"
Selesai menilik bagian tempatnya magang, Vannya berpamitan pulang karena urusan telah selesai. Valent mengantarnya sampai lift di lantai 14, dan kembali bekerja mempersiapkan beberapa berkas untuk meeting siang nanti.
****
Tiin!
Suara klakson mobil terdengar nyaring di area halaman Perusahaan, Vannya yang penasaran menyapu seluruh bagian halaman Perusahaan untuk melihat apa yang terjadi disana.
Seorang pria tampan, melempar senyum manis padanya. Seketika dirinya ikut tersenyum, Vin yang tak lain calon tunangannya datang untuk menjemputnya. Vannya segera menghampirinya.
"Hai, sayang! Gimana hari ini? Lancar?" Tanya Vin setelah Vannya berdiri di depan pintu mobil.
"Lancar, Kak! Ternyata staff disini ramah-ramah ya, mereka bahkan tak sungkan melemparkan senyum padaku. Walaupun tadinya aku sempat insecure, setelah tau harus berhadapan langsung dengan Pak Chandra," Dengan semangat Vannya menceritakan semuanya setelah duduk di saling kursi kemudi.
" Apa para pria disana juga melirikmu? Katakan di lantai berapa mereka? Biar aku datangi mereka," Vin cemburu jika ada pria lain yang melirik calon tunangannya.
" Kak! Jangan macam-macam deh, mereka senyum sewajarnya. Lagian di hatiku kan cuma ada Kak Vin," dengan malu-malu Vannya mengatakan dengan sejujurnya.
" Benarkah? Kamu sedang tidak menghiburku kan? Supaya aku tidak masuk kesana?" Ujar Vin yang wajahnya langsung bersemi merah rasa malu dan senang bercampur menjadi satu saat ini.
" Ih, Kak Vin. Udah ah, ayo kita pergi dari sini aja," dngan wajah yang juga bersemi merah Vannya berusaha mengalihkan pembicaraan.
" Tidak perlu malu, Sayang! Bahkan dalam hitungan jam kita akan resmi menjadi tunangan,"
"Iya, Kak! Kan baru tunangan,"
"Jadi kamu mau kita langsung menikah? Oke, siapa takut. Kalau gitu kita sekalian fitting baju untuk nikahan kita. Aku kabarin Mami dulu buat persiapan pernikahan kita ya," dengan semangat Vin segera merogoh ponsel di dashboard mobil.
.
.
.
__ADS_1
Akhirnya kembali setelah sebulan lebih menghilang🤣
Cerita udah ga nyambung kan? Entahlah, pengen bikin cerita baru lagi tapi belum masih nabung bab di draft, dan belum tau mau di up apa gak😁