
Mereka tiba di jakarta jam 9 pagi dengan perjalanan selama 19 jam. Mereka sudah di sambut oleh keluarganya di pintu keluar, dari kejauhan terlihat Alina yang sudah tidak sabar ingin memeluk Kinan. Saat mereka sudah mendekat, Alina segera berlari dan memanggil Kinan.
"Mamiii. . . . ." Teriak Alina sambil berlari mendekatinya.
"Sayang. . . . Mami kangen nak. . . kamu tambah berat sekarang. . .CUP. ." Kinan mengangkat Alina dan menciuminya berkali-kali.
"Nana juga kangen Mami. . .jangan tinggalin Nana lagi Mami. . " Ujar Alina memeluk Kinan dengan sangat erat.
"Tidak Nak. . . Mami tidak akan lagi meninggalkanmu. . " Ujar Kinan membelai Alina dengan lembut.
"Sepertinya tidak ada yang kangen Papi. . "Ujar Randy saat sudah dekat.
"Papi, Nana kangen Papi." Ujar Alina.
"Papi juga kangen Nana. . .kangen sekali. . ." Ujar Randy mengambil Alina dari gendongan Kinan.
"Papi. . .mana adik Nana?" Tanya Alina pada Randy.
"Di perut Mamimu Nak." Ujar Randy sekenanya.
"Kau bohong pada Nana?" Ujar Kinan berbisik pada Randy.
"Lalu aku harus bilang apa sayang? Masa iya aku harus bilang ketinggalan di pesawat." Ujar Randy.
"Adik Nana ada berapa Papi? Tabya Alina lagi.
"Satu dulu ya Sayang, besok kalau sudahbbesar di tambah lagi." Ujar Randy lagi.
"Welcome back sayang. . . .Akhirnya kalian pulang juga. . . Bagimana kabarmu Nak?" Mamah memeluk Kinan.
"Seperti yang Mamah lihat, berat badan kami semakin bertambah karena hobby kami hanya makan dan makan." Ujar Kinan.
"Dia tidak membuatmu nangis kan?" Tanya Mamah.
"Astaga. . . Dia isteriku, mana mungkin aku membuatnya mwnangis Mah. ." Ujar Randy yang masih menggendong Alina.
"Mamah kan hanya bertanya, iya kan Kin?" Ujar Mamah.
"Cih. . .Mamah durhaka." Ujar Randy.
"Apa kau bilang? Baru pulang sudah membuat Mamah hipertensi lagi Nak?" Ujar Mamah menjewer Randy.
__ADS_1
"Ahh. . Mah. . jangan jewer aku di depan Nana." Randy menurunkan Alina dari gendongannya lalu memluk Mamah. "Randy sayang Mamah.. ..CUP. ."Randy mencium kening Mamah.
"Kau bisa manis juga dengan Mamahmu? Atau kau hanya acting di depan isterimu? Mamah juga menyayangimu. . .meskipun kamu selalu buat Mamah marah-marah tapi tidak ada kamu rasanya sepi sekali." Ujar Mamah.
"Hai Pah. . . Bagaimana kabar Papah?" Tabya Kinan mencium punggung tangan Papah.
"Papah sehat nak, Papah senang kalian sudah pulang." Ujar Papah mengusap kepala Kinan.
"Hai Kakak ipar. . ."Ujar Rayna.
"Hay Ray. . .Kau tidak kuliah?" Tanya Kinan memeluk adik iparnya.
Bunda dan Ayah tidak ikut menjemput Kinan dan Randy di Bandara karena harus menjaga Nenek di rumah dan tidak mungkin meninggalkan Nenek yang sudah dimensia. Kinan memakluminya, karena dia tahu sendiri bagaimana keadaan Neneknya belakangan ini.
Setelah melepas rasa kangen, mereka menuju lobby untuk segera meninggalkan Bandara dan langsung menuju rumah Randy dan Kinan yang baru. Namun saat Kinan hendak masuk mobil tiba-tiba sebuah tangan menarik tangannya dan memohon didepannya.
"Kinan, tolong saya. . . Tolong kembalikan saham itu. ."Ujarnya memohon.
"Sa. . .ham? Saya tidak mengerti. . .Maaf anda siapa?" Tanya Kinan karena Randy dan yang lainnya masih di belakang karena Alina meminta beli sesuatu.
"Saya Harun . . . .Tolong katakan pada suamimu untuk mengembalikan saham itu. . ." Ujarnya lagi.
"Ta. . tapi saya tidak tahu apa-apa. Maafkan saya." Ujar Kinan.
"Bicaralah pada suamimu untuk mengembalikan saham itu. . . Aku Mohon Kinan, hanya kamu yang bisa membantuku saat ini." Ujarnya lagi.
"Maaf sebaiknya Om bicarakan sendiri pada Mas Randy. Saya yakin Mas Randy akan mengembalikannya kalau Om bicara secara baik-baik." Ujar Kinan.
"Dasar wanita sombong. . .Mentang-mentang sudah menikah dengan Randy kau berani memerintahku. . kau pikir kau cantik? Apa susahnya bilang pada suamimu, banyak sekali alasan." Ujarnya berubah menjadi marah.
"Sebaiknya jaga ucapan anda. Saham itu milik Pak Randy, bukan milik anda. Bukankah sudah kami berikan pilihan waktu itu? Lalu anda yang menolak?" Ujar Sofi berdiri di depan Kinan.
"Minggir kamu, aku tidak ada urusan denganmu. Aku sedang bicara dengannya." Ujarnya langsung melayangkan tangannya ke arah Kinan.
"Putri anda boleh saja pernah menampar Kinan, tapi anda jangan sekali-sekali menyentuhnya. . ."Ujar Sofi berubah menjadi garang. Dan Sofi menggerakan tangannya untuk memberikan isyarat yang tak lama kemudian muncul beberapa orang dengan badan tegapnya.
"Cih.. . .Kau berani melawanku?"Ujar Harun.
"Seharusnya anda berubah menjadi lebih baik, putri anda sudah mendekam di penjara dan anda menambah masalah. Apakah anda ingin menemanimya di dalam jeruji besi?" Ujar Sofi tersenyum sini. "Tangkap dia, dan bawa ke gudang. Tingkatkan penjagaan, jangan sampai dia lepas." Ujar Sofi.
"Apa yang terjadi? Saham apa?" Tanya Kinan pada Sofi.
__ADS_1
"Saham milik Pak Randy yang di investasikan di perusahaan Pak Harun, tapi mereka menggelapkan uang sebanyak 50 milyar bersama Ibu Dona." Ujar Sofi.
Melihat keributan di Lobby Randy segera mempercepat langkahnya dan menurunkan Alina dari gendongannya. Randy tidak tahu siapa yang dibawa pengawal, yang ada di pikiran Randy hanya Kinan yang masuk ke mobil lebih dulu.
"Ada apa ini? Siapa yang dibawa mereka?" Tanya Randy.
"Pak Harun, dia meminta Kinan untuk membujuk Bapak supaya memberikan saham lagi." Ujar Sofi.
"Tapi kamu tidak apa-apa kan sayang? Maafkan aku tidak menemanimu. . " Ujar Randy mencium kening Kinan dan memeluknya.
Pak saya bukan obat nyamuk. . .-Batin Sofi.
"Ehmm. . " Sofi bersuara supaya Randy sadar masih ada dia disana.
"Kau batuk Sofi? Segeralah ke dokter. . " Ujar Randy tanpa melepaskan pelukannya pada Kinan.
"Pak Harun saat ini di bawa ke gudang. Karena saya yakin dia tidak akan tinggal diam jika dibiarkan begitu saja." Ujar Sofi.
"Good Job, Sofi. . . Sepertinya kau lebih pantas menjadi bodyguard sekarang." Ujar Randy.
"Mas. . naikkan gaji Sofi ya. . " Ujar Kinan.
"Atas permintaan isteriku, aku naikkan gajimu 50%." Ujar Randy.
"Terimakasih Pak. Kalau begitu saya permisi dulu." Ujar Sofi.
Silakan di lanjut pelukannya Pak. . . -Batin Sofi.
"Ada apa Ran?" Tanya Papah.
"Teman Papah hampir saja memukul isteriku. Untung saja Sofi melihatnya. Jadi dia dengan sigap menahan tangan Om Harun" Ujar Randy menjelaskan.
"Lalu kemana dia sekarang?" Tanya Papah.
"Di gudang hotel tempat kami resepsi." Ujar Randy.
"Ada perlu apa dia kemari? Apa dia masih belum terima kalau kalian sudah menikah?" Ujar Mamah sambil menggendong Alina.
" Aku menarik semua sahamku di Perusahaannya, tapi sebelumnya sudah aku berikan pilihan. Tapi dia menolak. Jadi bukan salahku." Ujar Randy.
"Hmm. . .sudah-sudah sebaiknya kita segera pulang. . Kasihan Nana sepertinya mengantuk." Ujar Kinan mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
" Sebaiknya Nana ikut kami saja. Toh di rumah kalian belum ada art kan? Biar kami yang menjaga Nana sampai ada art." Ujar Mamah.
"Mamah memang terbaik, tahu saja anaknya ingin membuatkan adik untuk Nana." Ujar Randy membuat wajah Kinan bersemu merah.