
"Makasih ya, Kak!"
"Sama-sama, Sayang! Bilangin Tante sama Om aku gak mampir ya, nanti sore kesini lagi kok," Celetuknya dengan wajah yang berseri.
"Iya, iya Kak! Lagian aku kan gak minta Kakak mampir," Jawab Vannya.
"Iya, sebenarnya kamu ingin aku mampir. Tapi kamu malu kan?"
"Hmm, sudah sana Kakak pulang! Istirahat,"
"Iya,Sayang! aku pulang dulu ya. Kamu juga istirahat, sampai ketemu lagi nanti,"
Setelah berpamitan pada sang pujaan hatinya,Vin segera menginjakkan gas meninggalkan halaman rumah Vannya. Di sepanjang jalan, ia terus tersenyum tak beralasan.
"Step by step pasti akan bisa kita lewati berdua, aku janji aku akan menjaga mu sampai akhir hayat,"
Setibanya di rumah, terlihat sebuah mobil hitam yang ia kenal baru saja berhenti di garasi rumahnya yang luas. Vin segera turun untuk menyapanya, kebetulan sudah lama mereka tidak saling bertegur sapa karena kesibukkan masing-masing.
"Hai, Kak! baru datang? mana kak Nana?" karena biasanya Chandra datang bersama Alina.
"Kakakmu sudah datang lebih dulu, ini dia minta kakak belikan martabak kenangan. Tolong bantu aku bawa semua ini ya!"
"Oh, OK Kak!"
Ada 3 kantong plastik di kursi belakang, Vin hanya menggelengkan kepalanya. Mungkinkah itu permintaan Kakak nya? Sebanyak itu yang ia minta? Untuk apa?
Dua pria berwajah tampan berjalan dengan pakaian rapih menenteng kantong plastik dengan langkah tegapnya. Untung saja saat ini mereka sudah di rumah, mungkin kalau di tempat umum akan banyak sekali orang yang melihat mereka dengan tatapan heran.
"Vin, yang kamu bawa kasih saja sama orang di dapur. Yang ini untuk kakakmu, aku ke kamar dulu ya!" ucapnya setelah mereka sampai di ujung anak tangga.
"Ok Kak!" seperti seorang adik yang di suruh Kakaknya. Vin berjalan menuju dapur dengan dua kantong plastik di kedua tangannya.
"Sayang ... Kamu bawa apa Nak?" Tanya Tante Sofi.
"Martabak Kenangan Tante, Kak Chandra beli ini. Kak Nana yang minta," ujar Vin seraya berjalan menuju dapur.
"Nak Chandra sudah datang?" Tanya Mami yang baru saja keluar dari dapur.
"Iya Mam, tapi dia langsung ke kamar. Sebelum kak Nana berubah jadi singa,"
"Hus! kamu ini. Sama kakakmu kok bilang kaya gitu, sudah sana taruh di meja dapur. Setelah itu mandi, istirahat!"
"Siap, Mam!"
Setelah dua kantong plastik mendarat di meja dapur, Vin segera kembali handak menuju kamarnya. Tapi dia berbelok sebentar untuk menemui Tante Irene yang sedang duduk bersama Mami dan Tante Sofi.
" Sore, Tante!" mencium punggung tangan kanan Tante Irene.
"Sore, ganteng! Wah, ini ya calon manten nya. Semoga lancar ya Nak!" Ucapnya dengan tulus.
"Aamiin, Tante! Makasih ya, sudah datang membantu kami,"
"Iya Nak! Kalian kan juga keluarga Tante,"
__ADS_1
Terjadi obrolan hangat untuk beberapa saat di ruang itu. Mereka memang sangat akrab, seperti sudah lama saling mengenal. Dan Vin pun tak sungkan lagi memeluk Tante Irene seperti pada Maminya sendiri.
...Sementara itu,...
...di Lantai dua kamar paling ujung...
"Astaga, dingin sekali. Ini di kamar atau di kutub sih?" batinnya saat memasuki kamar yang tak ada orang. Hanya terdengar suara air dari dalam kamar mandi si sudut ruangan.
Di letakan nya plastik berisi martabak pesanan isterinya. Chandra segera mencari keberadaan remote untuk menambah temperatur suhu supaya lebih hangat. Tak berapa lama kemudian, terdengar suara pintu kamar mandi terbuka.
Chandra segera masuk ke dalam closet room menemui isterinya. Dan benar saja, Alina sudah keluar dari kamar mandi dengan memakai kimono dan handuk menggulung di atas kepalnya.
"Hai, Sayang!" tangannya melingkar di pinggang kecil isterinya yang sedang berdiri di depan lemari pakaian.
"Hai, kamu sudah pulang?" tanpa mengalihkan pandangannya yang sedang memilih pakaian untuknya.
"Haih, kamu bahkan tidak mau melihatku," gerutunya dengan manja.
"Haha, maaf Sayang. Tapi aku sedang mencari baju yang cocok. Tunggu ya!"
"Semua baju yang kamu pakai akan terlihat cocok, Sayang! Karena kamu cantik, dan semua yang melekat pada tubuhmu akan terlihat cantik, cup!" sebuah ciuman mendarat di pipi kanannya.
"Makasih, Sayang! Apa kamu tidak bosan terus memujiku?" Ujarnya membalikkan badan.
"Mana ada kata bosan untuk memuji isteri ku sendiri, kamu memang cantik. Aku berkata jujur."
"Iya sayang, makasih. Sudah sana mandi, kamu bau sekali ... ."
"Bau, tapi kamu suka kan?"
"Enghh! udah Sayang. Kamu harus mandi,"
"Iya iya, aku mandi. Pesanan mu di atas meja ya,"
"Makasih ya,"
Chandra segera berlalu masuk ke kamar mandi. Sedangkan Alina lanjut berganti pakaian yang sempat tertunda karena kedatangan suaminya. Tak lupa ia menyalakan hairdryer mengeringkan rambut panjangnya.
Setelah rambut kering dan di tata rapih, tak lupa ia memoleskan sedikit liptint di bibirnya. Setelah penampilan di rasa cukup, Alina segera pergi meninggalkan closet room dan mencari kantong plastik yang kata suaminya di atas meja.
"Hmm ... pasti enak. Udah lama aku tidak makan ini,"
Alina segera membuka bungkusan martabak dan melahapnya. Rasanya masih sama seperti dulu, manis legit. Entah sudah berapa potong yang ia makan, hanya tersisa satu potong di dalam bungkusnya.
Chandra hanya menggelengkan kepalanya, melihat isterinya yang sangat lahap memakan martabak kenangan.
"Astaga! Seenak itukah martabak kenangan di ujung gang sana? Dia selalu terlihat lucu saat sedang makan makanan yang ia suka,"
"Yah, aku tidak kebagian," celetuk Chandra dari arah belakang.
"Siapa bilang, tuh masih ada satu," menunjuk potongan terakhir yang masih di dalam bungkus.
"Hanya satu? Berapa banyak yang sudah kamu makan?" Tanya Chandra seperti sedang mengintrogasi anak kecil yang diam-diam memakan permen.
__ADS_1
"Aku tidak menghitungnya. Memang martabak ada berapa potong? Ya sudah, kalau masih kurang ... Ayo kita beli lagi,"
"Makanlah, habiskan saja. Di bawah masih banyak," ujarnya menahan Alina yang sudah bangun dari tempat duduknya.
"Benarkah? ini untukku?" seperti anak kecil yang senang saat tau makanan kesukaannya adalah miliknya.
"Iya, aku belikan itu kan untukmu. Makanlah,"
"Makasih, Sayang! Cup!" Tanpa malu-malu Alina mendaratkan ci*man di pipi Chandra. Setelah itu ia melanjutkan makan potongan terakhir yang masih tersisa.
Sementara itu, Chandra duduk di sofa yang terletak di sudut kamarnya sembari membuka ponsel untuk mengecek laporan yang dikirimkan sekretarisnya.
...Vannya POV...
Setelah menemui Tante Devi dan Tante Lila yang sibuk membantu Mamahnya, Vannya berpamitan untuk masuk ke kamar. Karena seharian berada di luar membuatnya merasa gerah dan ingin berganti dengan pakaian rumahan.
Sesampainya di kamar, ia tak langsung mengganti baju nya. Melainkan merebahkan tubuhnya di atas kasur empuknya. Rasa lelah dan penat bercampur menjadi satu, tapi rasa bahagia telah menghilangkan semuanya.
Dalam hitungan jam, ia akan resmi menjadi tunangan seorang pengusaha muda yang banyak di puja oleh para wanita di luar sana. Termasuk teman-temannya kuliahnya, mungkin kalau mereka tau hari ini Vannya akan bertunangan dengan pria pujaannya. Mereka akan histeris dan memukulnya tanpa ampun.
Tring!
Sebuah panggilan masuk, terlihat nama Dewi di layar ponselnya. Vannya segera menggeser tombol berwarna hijau sebelum panggilan berakhir.
" Hallo *Van, bagaimana pertemuan mu hari ini dengan HRD Wijaya's Group?" tanyanya dari seberang sana.
" Hallo Dew! Bukan HRD yang aku temui Dew! Tapi CEO nya langsung, karena HRD kebetulan sedang berhalangan hadir. Bagaimana denganmu Dew?" tanya balik Vannya pada sahabatnya.
"Ya, lancar si Van. Tapi ... aku tidak melihat si tampan itu. Padahal aku berharapnya bisa bertemu melihatnya, meski dari jauh ...." meski tak melihat wajahnya, Vannya bisa tau kalau sahabatnya sedang kecewa saat ini.
"Sabar ya Dew! Mungkin dia sibuk, jadi seharian di dalam ruang kerjanya," hibur Vannya.
"Iya Van, masih banyak waktu untuk aku bisa melihatnya. Oh iya bagaimana pertemuan mu dengan CEO itu? Apakah dia tampan?" Tanyanya dengan semangat.
"Ya, sudah pasti tampan. Dan sangat baik, aku pikir CEO akan sombong dan galak. Tapi itu semua tidak berlaku untuk Pak Chandra,"
"Setampan apa?" celetuknya.
"Hus! Kamu ini, Pak Chandra sudah menikah. Dan isterinya itu Kak Alina,"
"Maksud kamu Alina yang model cantik itu kan? Tapi sekarang udah tidak kelihatan lagi di majalah maupun TV. Mungkin karena sudah menikah, jadi pensiun kali ya,"
"Kak Alina sekarang fokus ke karirnya jadi dokter Dew. kalau kamu mau minta foto, sakit lah dulu. Terus datang ke klinik nya, nanti aku kasih tau alamatnya,"
"Ahahahah, astaga! Aku tidak mau sakit, tapi supaya aku bisa bertemu dengan calon Kakak ipar, aku rela deh sakit," celetuknya lagi*.
Vannya dan Dewi ngobrol melalui telepon cukup lama. Rasanya seperti sedang mengobrol secara langsung, menanggapi Dewi yang hobi sekali menggosip.
Setelah obrolan selesai, Vannya segera pergi untuk mandi karena hari sudah semakin sore. Dan Mamah sudah mengingatkan untuk dirinya bersiap-siap, sebentar lagi MUA akan datang untuk merias dirinya.
Dan baju dari Tante Ane juga sudah sampai 30 menit yang lalu saat dirinya masih asyik mengobrol dnegan Dewi di seberang sana.
"Dew! Maaf ya aku tidak bilang padamu, kalau hari ini aku akan bertunangan. Bukannya aku tidak menganggapmu, tapi karena Mamah yang minta hanya kerabat dekat yang datang. Dan kalau aku bilang, kamu pasti akan tetap datang. Sekali lagi, maafkan aku," ucapnya sembari melihat fotonya dengan Dewi di gallery ponselnya.
__ADS_1
"Semoga acara sore ini lancar, tanpa halangan. Aku pasrahkan padamu, Ya Tuhan. Semoga Kak Vin dan aku bisa melanjutkan hubungan ini ke jenjang selanjutnya, meski aku belum tau kapan waktu itu akan datang. Dan aku juga mencintainya sejak dulu, saat aku masih duduk di bangku SMP. Aku pikir apa yang aku rasakan hanya cinta sesaat, tapi nyatanya rasa ini masih melekat. Semua atas rencana-Mu, aku percaya itu,"