Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Penemuan Mayat


__ADS_3

"Gimana Ric?" tanya Vannya meminta pendapat Rico.


"Bagus kok," jawabnya.


"Okay, Mbak kita beli yang ini ya ...!" ujar Dewi.


"Baik Kak, silakan di tunggu ya," ucapnya dengan ramah.


_____________


Setelah membayar mini cooper, Dewi dan Rico segera pergi melanjutkan mencari cenderamata untuk Pak Arsen dan Bu Tyas. Entah apa yang akan dia beli nanti, setidaknya mengikuti langkah kaki kemana dia akan pergi.


Setelah hampir satu jam mereka mengelilingi mall. Mereka memutuskan untuk membeli jam tangan couple saja, dan miniatur kecil khas ibukota sebagai kenang-kenangan dari Ardhana Group.


Semua yang mereka cari, sudah terbeli. Dewi emmgajak Rico ke lantai 3 untuk mengisi perut setelah beberpaa jam marathon mengelilingi mall. Kebab menjadi pilihannya saat itu, mereka memesan dua porsi dan juga ice lecy.


"Wi, coba buka group chat alumni ...!" pinta Rico pada Dewi.


"Ada apa emang? Mau ada acara reuni?" tanya Dewi yang masih mengunyak makanan.


"Tidak, lihat sendiri aja ...!" ujarnya yang masih fokus menggulir layar ponsel miliknya.


Berita penemuan mayat suda menyebar luas di seluruh penjuru kota. Ciri-ciri mayat yang di temukan sama persis dengan ciri-ciri Ilham saat hilang. Dewi terpekik dna hampir berteriak, untun saja Rico dnegan cepat membungkam mulutnya sebelum suara nyaring memenuhi gedung berlantai 5.


"Jangan berteriak," ujar Rico setengah berbisik.


"I-ini benar Ric? Ilham yang mereka temukan di hutan itu? Ba-bagaimana bisa?" ucapnya.


"Kau juga tidak tau banyak tentang itu, tapi ciri-ciri semua mengarah pada Ilham. Kita tunggu saja hasil otopsi," ujar Rico.


"Walaupun aku tidak suka dan kesal sekali padanya, tapi aku merasa kasihan. Usianya masih muda, dan harus meninggal dengan cara yang seperti itu, keluarganya pasti sangat terpukul," gumam Dewi.


"Hmm, tapi ini sudah garisnya untuk Ilham pergi dengan kondisi seperti itu. Kita tidak tau apa yang sudah dia lakukan selama hidupnya, sampai dia bisa meninggal dengan mengenaskan," ujarnya.


"Astaga ...! Badanku terasa lemas. Sepertinga tulang dalam tubuhku hilang begitu saja,"


"Mau aku carikan tulangmu?" sahut Rico.


"Aiihhh ...? Bukan gitu maksudku ...!" ujar Dewi.


"Udah kan makannya? Ayo kita harus segera pergi dari sini," ujar Rico.

__ADS_1


"Udah kok ...! Yuk ...!" sahutnya.


Dewi dan Rico berjalan beriringan menuruni anak tangga menuju basemant. Tanpa menunggu lama, mereka sudah menemukan lokasi parkir mobilnya. Setelah memasukkan semua barang belanjaan ke dalam mobil, mereka segera masuk dan memasang seatbelt.


Keadaan di dalam Hutan ...


Beberapa polisi sudah berjaga disana, mayat sudah berhasil di turunkan. Kondisi perut robek karena tersangkut kayu tajam yang tepat mengenai perut bagian kirinya.


Darah sudah mengering menyiram pohon yang menjadi tempatnya tewas. Bau anyir memenuhi hutan tua yang hamoir tidak pernah di sambangi warga sekitar karena lokasinya yang terlalu jauh.


Namun pagi ini, ada salah seorang warga yang tak sengaja lewat dan melihat ada orang yang terduduk do atas pohon, dan saat di panggil tidak menyahut sama sekali.


Karena merasa panik, ia segera kembali ke perkampungan untuk memanggil warga yang lain dan menolongnya takut terjadi apa-apa. Salah satu dsri mereka menghubungi kepolisian untuk melaporkan apa yang di temukan rekannya di dalam hutan.


Mereka berbodong-bondong menuju lokasi dimana telrihat ada seseorang di atas pohon. Saat mereka sudah dekat dengan lokasi. Bau anyir menyerbak menusuk indera penciuman mereka.


"Lihat, ada darah yang sudah kering di sepanjang kayu itu," tunjuk seorang warga yang melihatnya.


"Astaghfirulloh, sepertinya dia sudah meninggal. Sebaiknya kita tetap disini, menunggu polisi datang," sahut yang lain.


20 menit sudah berlalu, akhirnya polisi datang dan segera memasang alat untuk mengambil mayat yang tersangkut di atas pohon dengan ketinggian 45 meter. Setelah mayat berhasil di turunkan, mereka segera mengidentifikasi secara umum sebelum di masukkan ke dalam kantong jenazah dan membawanya ke Rumah Sakit untuk di lakukan proses otopsi.


Di sekitar lokasi kejadian sudah di tandai dengan garis polisi berwarna kuning, dan memberikan peringatan supaya tidak ada orang lain yang melewati garis tersebut.


"Sayang, udah siap?" tanya Tyas yang baru kelyar dari ruang ganti.


"Kita udah siap sejak tadi, iya kan Sayang?" ujar Arsen pada putranya.


"Hmm, kita mau kemana Ibu?" tanya Madav.


"Kita mau menjenguk Kakek dan Paman Madav, mereka pasti senang melihat kita datang," ucapnya.


"Emang Kakek sama Paman dimana? Kenapa mereka tidak pernah datang ke rumah?" tanyanya.


"Nanti kamu akan tau sendiri Nak, sekarang ayo kita berangkat," ajak Arsen pada putranya untuk mengalihkan pembicaraan, dan agar isterinya tidak sedih karena pertanyan putranya.


Amanda dan Kemal sudah bersiap di lorong, menunggu Arsen, Tyas dan Madav keluar dari kamar. Seperti biasa, Madav langsung lari menghampiri Amanda dan menggandeng tangannya.


"Lihat, sepertinya Madav lebih nyaman sama dia daripada kita Mas," celetuk Tyas pada suaminya.


"Yaudah kita bikin lagi biar nyaman sama kita," sahutnya dengan enteng.

__ADS_1


"Astaga ...!"


Mereka segera beranjak pergi meninggalkan hotel, menuju sebuah perkampungan kecil yang masih sama seperti beberapa tahun lalu. Tidak ada perubahan yang mereka lihat, hanya warna cat saja yang berbeda.


Mobil terparkir di depan rumah tua yang sudah tak berpenghuni. Mereka melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki, karena lokasi sudah dekat dna hanya butu waktu 10 menit dengan berjalan kaki.


Kemal sudah membawa dua bungkus bunga tabur, dua buket bunga dan beberapa botol air mawar yang di belinya pagi tadi sebelum mereka berangkat ke lokasi.


Tyas segera bersimpuh di antara dua gundukan tanah yang masih terawat.


Hujan pagi tadi, membuat tanah di area pemakaman seidkit basah. Suasana sangat hening, Tyas masih terdiam memandangi dua batu nisan di depannya. Nama Ayah dan adik laki-lakinya tertulis di sana.


...TYAS POV...


Hai Yah, Andi ...! Aku datang lagi, maaf tidak pernah mengunjungi kalian selama ini karena jarak yang memaksa. Hari ini, aku datang bersama suamiku dan putraku.


Mas Arsen sangat baik Yah, dia menjaga putrimu dengan sangat baik. Dia menyayangi putrimu dnegan sangat tulus. Seperti Ayah, yang selalu menyayangiku dalam keadaan apapun.


Andai kalian masih ada, mungkin kebahagiaanku akan bertambah. Di kelilingi orang yang aku sayangi. Ayah, banyak sekali hal yang ingin aku ceritakan sama Ayah. Tapi sepertinya waktu tidak berpihak, besok pagi kami hatus kembali ke rumah.


Tapi aku janji, suatu saat aku akan kembali lagi untuk mengunjungi kalian. Aku tau, raga tak mampu lagi bersentuhan. Tapi hati kita masih terikat satu sama lain. Dimanapun aku berada, selalu ada nama kalian yang aku panjatkan.


_________


"Ayah, dimana Kakek dan Paman? Kenapa kita ke skni?" tanya Madav yang sejak tadi sudah ingin bertanya.


"Sayang, kemarilah ...! Ini Kakek dan Pamanmu. Mereka juga sangat menyayangimu Nak," ucap Tyas.


"Mana Bu? Aku tidak melihat ada Kakek dan Paman?" tanyanya lagi.


"Mereka ada di dalam hatimu. Kamu tidak bisa melihatnya, tapi bisa merasakan keberadaannya," ucap Tyas.


"Mereka lagi tidur ya Bu?" tanya Madav lagi dengan polosnya.


"Iya Sayang," air mata tak mampu lagi terbendung. Mengalir begitu saja membasahi kedua pipinya.


"Kenapa mereka tidur disini? Ibu kenapa menangis? Madav nakal ya Bu? Maafkan Madav Ibu," tangan kecilnya mengusap air mata di wajah Ibunya.


"Madav Sayang, ikut Kakak yuk ...!" ajak Amanda.


"Madav, sama Kakak dulu ya ...!" ucap Arsen.

__ADS_1


"Hmm, Ibu jangan nangis lagi," ucapnya.


"Iya Nak," sahutnya dengan lembut.


__ADS_2