Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Gadisku


__ADS_3

Makan malam telah usai, kini tiba waktunya untuk dua sejoli berpisah. Malam semakin larut, bulan di langit gelap telah semakin meninggi layaknya matahari di siang hari.


Setelah berpamitan pada Mamah Maya dan Papah Revan, Vannya mengantar calon tunangannya sampai teras depan rumahnya.


"Aku pulang dulu ya, mau istirahatlah! Supaya besok pagi tidak terlambat," tatapan matanya membuat Vannya salah tingkah.


"Hmm ... Iya Kak! Hati-hati di jalan, kalau sudah sampai rumah segera kabari aku!" wajahnya kini semakin merona, entah angin apa hang membuatnya dirinya banyak bicara malam ini.


"Baiklah, aku akan mengabarimu calon ibu dari anak-anakku," senyumnya mengembang membuat Vannya semakin salah tingkah.


Mobil sport telah berlalu meninggalkan rumahnya. Setelah memastikan mobil telah melaju menjauhi rumahnya, Vannya segera berbalik masuk ke dalam rumah untuk beristirahat.


Semua orang sudah masuk ke kamar, waktu telah menunjukkan pukul 10 malam. Sebelum masuk ke dunia mimpinya, Vannya terlebih dulu melakukan ritual malamnya memanjakan wajahnya dengan skincare yang ia miliki.


Selesai dengan ritualnya, gadis yang masih berusia 19 tahun itu segera beranjak ke atas kasur. Mematikan lampu kamar dan hanya di terangi lampu kecil di atas nakas samping kasurnya.


Di Tempat yang Berbeda...


"Sayang! Si Adek kemana ya," dengan cemas Kinan yang sejak tadi mondar-mondar dari ruang tamu ke ruang tengah.


"Dia sudah besar, sayang! Mungkin ada acara dengan temannya, biarkan saja. Kita kasih kebebasan untuknya, toh selama ini dia tidak peenah melanggar batasan yang kita terapan bukan?" dengan santainya Randy masih sibuk dengan ponselnya.


"Iya aku tau, dia sudah besar. Tapi biar bagaimanapun, aku tetap khawatir. Bahkan ponselnya mati sayang!" Di lihat ya berkali-kali layar ponselnya berharap panggilan di angkat oleh putra bungsunya.


"Mungkin sedang di jalan, kemarilah! Duduk disini!" menepuk sofa di sampingnya meminta Kinan untuk segera duduk.


Tanpa protes, Kinan duduk di samping suaminya dengan beberapa kali mengecek ponselnya lagi. Dengan perlahan, Randy mengambil ponsel Kinan dan menjauhkannya supaya perhatian teralihkan.


"Sudah ... Sebentar lagi dia akan pulang! Biarkan sekali-kali dia pulang larut malam, aku pastikan dia akan pulang dengan selamat," Tangannya mengusap punggung Kinan untuk memberikan sedikit ketenangan.


15 menit telah berlalu...


Sebuah mobil memasuki gerbang rumahnya, beberapa penjaga berdiri. Menganggukan kepalanya dengan sopan saat mobil melewatinya.


Lampu rumah masih banyak yang menyala, kedua orangtuanya masih terjaga menunggu kepulangannya. Setelah memasuki pintu utama, dia segera di sambut dengan pertanyaan beruntun yang diberikan Maminya.


"Sorry, Mam! Aku lupa tidak melihat ponselku, sepertinya daya habis jadi aku tidak tau Mami meneleponku,"dengan senyum manisnya Vin duduk di hadapan kedua orangtuanya.


"Lalu, kamu darimana Nak? Kenapa tidak bilang Mami atau Papi kalau kamu mau pulang selarut ini?" dengan perlahan Kinan bertanya lagi pada putranya.

__ADS_1


"Dari rumah Tante Maya, Mam!"


"Kau tidak mengencaninya kan?" Dengan penuh curiga Kinan menatap putranya dengan tajam.


Bukannya menjawab, Vin malah tertawa. Membuat Kinan semakin bingung melihat tingkah putranya. Entah angin apa yang membuatnya curiga pada Vin, tiba-tiba terbesit pertanyaan macam itu di benaknya.


"Mas! Lihat, bukannya dijawab malah dia ketawa," dengan raut wajah yang tak bisa di jelaskan.


"Boy! Ada perlu apa kau main ke rumah Revan? Apakah mereka mengundangmu untuk makan malam?" dengan santai Randy bertanya pada Vin yang saat ini masih tersenyum tak jelas.


"Pih, Mih! Aku sudah dewasa," ucapannya terhenti membuat kedua orangtuanya semakin penasaran dibuatnya.


"Lalu?" dengan tak sabar Kinan ingin mendengar perkataan putranya.


"Sudah sejak lama aku memendam perasaan ini Mam! Bahkan saat aku masih kuliah dulu, dan sampai saat ini perasaan ini masih sama tak ada yang berubah sedikitpun,"


"Dan ... ."


"Dan Revan memarahimu karena kamu menyukai istrinya? Kali ini Mami berpihak pada Revan, Maya itu teman baik Mami! Jadi kamu jangan macam-macam Nak! Cari wanita lain yang usianya tidak jauh beda denganmu! Kalau kamu suka sama yang lebih dewasa, tidak masalah. Tapi jangan jadi pebinor!" Tanya jeda Kinan memberikan wejangan pada Vin.


"Mami, dengarkan aku dulu ... Aku belum selesai. Aku emang sayang sama Tante Maya, aku sudah menganggapnya seperti Mami ketigaku,"


"Lalu?" Kinan semakin penasaran.


"Aku ingin Papih dan Mamih besok sore datang ke rumahnya. Aku ingin meminang Vannya bukan Tante Maya," seketika wajahnya berpaling tak berani menatap kedua orangtuanya.


"Kau sudah yakin dengan keputusanmu? Jangan sampai, sekarang kamu hanya sedang bucin. Dan memberikan harapan palsu sama anak orang. Mami tidak mau kamu jadi lelaki buaya yang suka memainkan banyak cewe, apalagi itu Vannya sekalipun," dengan tegas Mami memberikan peringatan pada Vin.


"Apa Mami tidak percaya denganku?" kali ini Vin memberanikan diri untuk menatap kedua mata Maminya.


"Baiklah, besok sore kami akan datang untuk melamar Vannya untukmu. Kau siapkan semuanya sendiri, belajar mandiri termasuk untuk acaramu sendiri. Papih percayakan smeuanya padamu Nak!" dengan rasa bangga Randy menatap putranya yang kini sudah beranjak dewasa.


"Makasih Pih, Mih!" Vin memeluk kedua orangtuanya secara bergantian.


Setelah obrolan itu, Vin segera masuk ke kamarnya untuk membersihkan badannya sebelum kalam berganti menjadi pagi. Tak lupa ponselnya ia charg sebelum pergi mandi.


15 menit kemudian, setelah mandi Vin segera naik ke atas ranjangnya. Melemahkan otot-otot di tubuhnya setelah seharian oenuh beraktivitas di luar rumah.


Setelah mengecek daya sudah lebih dari 80%, Vin segera mengaktifkan ponselnya untuk mengabari Vannya meski saat ini dia sudah terlelap sejak beberapa menit bahkan satu jam yang lalu.

__ADS_1


Gadisku💘


Sayang!


Aku sudah tiba di rumah sejak satu yang lalu,


Maaf tidak langsung mengabarimu,


Daya ponsel habis, dan aku langsung menemui kedua orangtuaku untuk menyampaikan maksud baikku,


Besok kami akan datang ke rumahmu😍


Selamat tidur Sayang!


Have a nice dream❤️


Setelah mengirim beberapa kalimat dalam bentuk tulisan, Vin segera mematikan kembali ponselnya dan segera beranjak tidur. Berharap ja bisa bertemu dengan gadisnya di alam mimpi.


Keesokan Harinya


Jam 06.00 WIB


Ini pertama kali dalam hidupnya, pagi-pagi mengecek WhatsApp berharap pesan masuk dari seseorang di seberang sana. Dan ternyata benar, sebuah nama tertera dingan jelas di dalam daftar chat


Setelah membaca sebuah pesan yang semalam masuk, Vannya hanya tersenyum malu. Meski saat ini dia di dalam kamar seorang diri.


"Ternyata seperti ini rasanya punya kekasih, hatiku bahkan langsung berdebar hanya dengan membaca chat darinya. Astaga!"


.


.


.


.


Sebelumnya Maaf kalau ada kesalahan nama, setelah ngetik dapat setengah bab baru sadar salah menyebutkan nama tetangga sebelah.


InsyaAllah sudah langsung di edit, tapi mungkin masih ada yg masih nyempil. 🤣🤣🤣

__ADS_1


Jangan lupa Like, Komen, Rate 5 dan juga vote seikhlasnya. 😍😍😍


Happy Reading 😘😘


__ADS_2