Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Mengungkapkan


__ADS_3

"Mau pulang gak?" celetuk Rico yang sudah berdiri di depannya.


"Iishh ...! Kamu balas dendam kagetin aku?" gumamnya seraya mendongakkan kepalanya menatap Rico yang berdiri di depannya tanpa ekspresi.


"Salah siapa kamu bengong? Udah sore malah bengong, untung aja gak ada yang berani masuk ke tubuhmu,"


"Emang kenapa?" tanya Dewi.


"Tentu saja mereka takut sama kamu, karena kamu suka mukul orang tanpa alasan," sahutnya.


"Aaiiishhhh ...!" Rico segera lari menghidari pukulan Dewi menggunakan tas kerjanya yang sudah dilayangkan ke arahnya.


___________


"Hey ...! Tunggu aku astaga ...!" teriak Dewi memanggil Rico.


Sesampainya di lobby, Mobil Rico sudah berhenti tepat di hadapannya berdiri. Tanpa di minta masuk, Dewi segera masuk dengan sendirinya dan memasang seatbelt.


"Emang ada Aura memintamu menginap di rumahnya? Kamu hati-hati, aku takut dia akan menjebakmu ...!" ujarnya.


"Apa kamu berpikir seperti itu? Kamu tenang aja, aku akan berhati-hati kok ...! Toh ini demi kamu bukan? Kamu mau dekat sama Aura, jadi ini satu-satunya cara biar aku bisa deketin kamu sama Aura Ric," jawab Dewi dengan tenang.


"Kamu melakukan ini demi itu?" tanyanya.


"Hmm, apa suaraku kurang jelas?"


"Kenapa kamu melakukannya? Padahal kita cuka teman," ucapnya.


"Karena aku mau kedua temanku bahagia. Kamu mau kamu bahagia dengan gadis pilihanmu, dan aku juga mau Aura bahagia bersama pria yang mencintainya," jawab Dewi dengan sederhana.


"Makasih ya Wi, kamu bahkan berani mengambil resiko. Semoga saja Aura tidak macam-macam sama kamu, harusnya aku yang berjuang buat dapetin dia ...!" ujarnya.


"Aku hanya melakukannya sedikit. Setelah kamu ngobrol sama Aura, itulah waktumu untuk berjuang. Jangan pernah menyerah sampai kamu bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan Ric. Sekalipun Aura ketus, karena wanita tidak bisa menerima dbegitu saja. Harus ada alasan yang kuat untuk kita menerimanya,"


"Hmm, aku akan berjuang," jawabnya.


Sesampainya di pekarangan rumah yang luas, Dewi dna Rico segera turun dari mobil. Di sana terlihat Aura sudah menunggunya, duduk di atas kursi roda dengan pakaian yang menjuntai panjang memperlihatkan keanggunannya.


"Hai Ra ...! Maaf ya kalau lama," sapa Dewi.


"Akhirnya kalian datang, aku kira kamu tidak jadi kesini Wi," ucapnya.


"Mana ada aku tidak jadi kesini. Tadi aku nungguin kang ojek Ra, jadi lama deh ...!" jawabnya.


"Hallo Ra, bagaimana kabarmu?" tanya Rico.


"Hay Rico, aku baik-baik saja. Seperti yang kamu lihat," ucapnya.


"Syukurlah ...!"

__ADS_1


"Ra, aku mau mandi dulu ya. Bolehkan?" tanya Dewi.


"Boleh dong, ayo aku antar ke dalam ...!" sahutnya


"Tidak perlu, aku bisa minta di antar Bibi. Kamu disini aja, temani Rico ya ...!"


" ... ." Tidak ada suara yang menyahut. Keduanya terlihat canggung, membuat Dewi ingin tertawa tapi masih di tahannya.


Dewi segera masuk ke dalam rumah, mencari Bibi untuk menanyakan letak kamar mandinya. Bibi segera mengantar ke kamar Aura, karena sebelumnya Aura sudah berpesan padanya.


Sementara itu, di teras suasana hening. Tidak ada suara sediktpun yang keluar dari mulut mereka. Rico mencuri pandang secara diam-diam untuk memastikan apakah mood Aura hari ini sedang baik, supaya dia bisa tenang meninggalkan Dewi di rumahnya.


"Udah lama jadian sama Dewi?" tanya Aura untuk memecah kesunyian.


"Siapa?"


"Kamu lah, masa iya aku. Aku kan masih normal," ujarnya.


"Heheh ...! Aku kira siapa. Aku sama Dewi cuma teman, mana bisa kita pacaran," jawabnya.


"Kenapa tidak bisa?"


"Ya karena kita gak ada rasa lebih dari seorang teman. Kamu bagaimana? Udah ada pasangan?" tanya Rico.


"Heh ...! Aku? Ada pasangan? Tidak mungkin Ric, apalagi sekarang kondisiku yang seperti ini, tidak ada pria yang melirikku. Dulu aku pernah suka sama teman kuliah, tapi dia udah menikah dan punya anak," ujarnya seketika teringat dengan wajah pria yang sudah mencuri hatinya selama ini.


"Tentu saja masih, bahkan aku rela pulang pergi dengan jarak yang cukup jauh cuma karena biar bisa ketmeu sama dia. Tapi sekarang tidak bisa Ric," ujarnya.


"Seberapa besar kamu mencintainya? Apa tidak ada sedikit ruang untuk pria lain?"


"Aku tidak tau seberapa besar rasa ini buat dia. Yang pasti setiap aku melakukan apapun, aku selalu mengingatnya Ric. Ruang untuk pria lain?"


"Aku tidak yakin, ada pria yang tulus padaku. Sejak dulu pun tidak ada yang menyapaku dengan tulus, mereka hanya menyapaku saat butuh bantuan aja Ric," imbuhnya.


"Terus apa yang buat kamu bisa cinta sama pria itu?"


"Karena dia baik, dan selalu menyapaku saat berpapasan. Bahkan dia pernah membantuku saat aku sedang dalam kesusahan, tapi sayangnya dia tidak mencintaiku," jawabnya.


"Haruskah aku berjuang untuk itu? Sedangkan dia mencintai pria lain," batin Rico.


"Kenapa kamu gak jadian aja sama Dewi sih? Kalian serasi tau," celetuk Aura berusaha mengalihkan perhatian.


"Bagaimana kami bisa jadian, kalau tidak ada rasa di antara kami Ra. Dan aku mencintai wanita lain," ucapnya.


"Benarkah? Sudah sejauh mana hubungan kalian?"


"Belum ada hubungan,"


"Maksudmu ... kamu hanya melihatnya dari jauh tanpa mau mendekatinya? Terus gimana cewek itu bisa tau kalau kamu sendiri gak mau deketin dia Ric?"

__ADS_1


"Sama sepertimu, bedanya aku mencintai gadis yang mencintai orang lain. Dan dia belum menikah," jawabnya.


"Wah, masih ada peluang dong ...! Ingat kata pepatah, sebelum ada janur kuning yang melengkung, masih halal untukmu menikung,"


"Astaga, pepatah dari mana itu?"


"Tidak tau, hanya pernah dengar. Tapi ada benarnya, jangan sampai kamu menyesal Ric sebelum dia dimiliki orang lain," Rico dan Aura saling berpandangan, menatap kedua mata mereka masing-masing tanpa berkedip.


"Mau kah kamu jadi pendampingku?" ujar Rico tanpa berkedip menatap kedua mata Aura.


Lidah Aura kelu tak mampu mengeluarkan satu katapun dari mulutnya. Bahkan dia tak mampu berkedip untuk menghindari kontak mata dengan Rico.


"Ra, aku mencintaimu ...! Kamu lah wanita yang aku cintai," ujarnya memperjelas kalimatnya.


"A-apa ini karena kejadian di ruang kerjaku beberapa minggu lalu? Aku ... aku minta maaf karena waktu itu," dengan susah payah Aura menyuarakan apa yang ada di dalam kepalanya.


"Tidak sama sekali, jauh sebelum ada kejadian itu. Aku tidak tau, kenapa aku bisa mencintaimu. Padahal kamu tidak pernah melirikku sedikitpun," gumamnya.


"... ."


"Apa tidak ada ruang untukku meski cuma sedikit Ra? Tidak apa kamu belum bisa mencintaiku, aku akan sabar menunggumu. Tapi kasih aku kesempatan untuk aku bisa membuktikan apa yang sudah aku ucapkan,"


"A-aku tidak bisa menjawabnya sekarang Ric," sahut Aura segera menundukkan wajahnya.


"Kapan kamu bisa menjawabnya?"


"Aku tidak tau,"


"Baiklah, aku akan sabar menunggumu Ra ...!"


"Astaga ...! Sepertinya terjadi kecanggungan di antara mereka. Apa Rico udah nembak Aura? Terus Aura nolak? Apa gimana sih? Aku telat datangnya," batin Dewi yang baru saja datang dan mengintip dari balik pintu rumah Aura.


"Hei ...! Kamu masih disini Ric? Aku kira udah pulang," celetuk Dewi yang sengaja ikut begabung untuk mencairkan suasana.


"Iya ini mau pulang. Tapi nunggu kamu dulu, takut kamu nyari kang ojekmu yang tampan ini," sahutnya dengan percaya diri.


"Aiiihh ...! Mana ada konsep begitu,"


"Yaudah, aku pulang dulu ya Ra. Jaga kesehatan," ujar Rico pada Aura.


"Hmm, iya Ric. Hati-hati ya, makasih udah anterin Dewi kesini ...!" jawabnya dengan sedikit canggung.


"Aku gak disuruh jaga kesehatan?" ucap Dewi menimpali.


"Wi aku pulang ya, jangan main baku hantam sama Aura. Jangan bar-bar jadi cewek," ucapnya mengusap kepala Dewi dengan pelan.


"Astaga ...! Tidak ada manis-manisnya sama sekali," celetuk Dewi.


Aura hanya tersenyum melihat kedua temannya yang seperti kucing dan tikus. Setelah kepergian Rico, Dewi duduk di dekat Aura menatap wajah Aura yang sejak tadi tersenyum dan tidak seperti Aura yang biasa Dewi lihat.

__ADS_1


__ADS_2